Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Satu
"Apa benar kamu membelikan Ares motor?! " tanya bu Hindun dengan tidak sabarnya, saat Pak Galih baru sampai di dalam rumah ibunya itu.
"Iya bu." jawab pak Galih tanpa mengelak sedikit pun, di sembunyikan seperti apa pun ibunya akan tetap tau.
"Apa apaan kamu ini, kenapa harus membelikan anak itu, nanti kerjaannya malah keluyuran terus." hasut bu Hindun tidak suka mendengar jawaban sang anak.
"Bu, Ares sudah besar, sudah sepatutnya aku membelikan dia motor, dia juga bisa mengantar adik adiknya ke sekolah dengan motornya." terang Ares.
"Kenapa kamu nggak minta izin dulu sama ibu, apa itu pantas atau tidak kamu belikan anak mu itu." ucap bu Hindun menjadi jadi.
"Aku nggak harus minta izin sama ibu untuk membelikan anak anakku hadiah bu, mereka berhak mendapatkannya, apa lagi uang yang aku pakai untuk membelikan hadiah itu uang ku sendiri." ucap Pak Galih.
Bu Hindun terkejut mendengar ucapan anaknya itu, baru kali ini anaknya menentang ucapannya, tidak seperti biasanya yang selalu menurut dengan ucapannya.
"Galih, kamu berubah." ucap bu Hindun sedih.
Pak Galih menghela nafas pelan.
"Aku nggak berubah bu, aku masih Galih anak ibu, hanya saja sekarang aku baru sadar dengan kesalahanku, selama ini aku sudah menyia nyiakan dan menelantarkan anak istriku, betapa bejatnya aku sebagai seorang bapak, membuat buah hati dan istriku selama ini hidup tersiksa, padahal aku punya banyak uang, aku bisa membahagiakan Ibu, adik dan keponakanku, tapi istri dan anak anakku terlantar selama ini." ucap pak Galih penuh sesak menahan rasa bersalah dalam dadanya.
"Itu wajar kamu lakukan, ibu, adik dan keponakanmu itu bukan orang lain, dia keluarga mu." ucap bu Hindun belum juga mau mengalah.
"Aku tau itu, tapi istriku perempuan yang aku cintai dan aku ambil alih tanggung jawabnya dari orang tuanya, namun setelah aku dapatkan anak gadis orang, justru aku menyia nyiakannya, dan anak anakku adalah darah daging ku, yang selama ini aku telantarkan, apa yang ku berikan saat ini, tidak sebanding dengan luka yang telah aku torehkan di hati mereka, mungkin akan menjadi trauma bagi anak anakku." ucap pak Galih berkaca kaca.
Bu Hindun memangku tangan dan melengoskan kepalanya merasa tidak suka dengan ucapan anak laki lakinya itu.
"Lalu, setelah ini kamu akan menelantarkan ibu?!" kesal bu Hindun.
"Tidak bu, aku akan selalu berbakti kepada ibu, ibu akan selalu mendapat jatah bulanan dari ku, dan aku akan tetap datang setiap hari kerumah ini, hanya saja mungkin tidak akan lama seperti biasanya, karena ada anak anak dan istriku menungguku di rumah." ucap pak Galih.
"Lalu, bagaimana dengan adik dan keponakanmu, mereka juga tanggung jawab mu." ucap bu Hindun tidak puas.
"Sejujurnya adik bukan lagi tanggung jawab kita, karena dia sudah menikah, otomatis dia sudah menjadi tanggung jawab suaminya, dan keponakan ku, aku akan memberi sekedarnya aja, karena dia mempunyai ayah yang masih sehat dan juga mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka." ucap pak Galih bijak.
"Lalu, bagaimana dengan mobil mu itu?! " tanya bu Hindun ketus.
"Itu mobil ku, sudah pasti akan ku bawa pulang, tapi klau ibu ingin pergi kemana mana, ibu bisa pakai, aku tidak akan melarang ibu untuk memakainya." ucap pak Galih mantap.
"Terserah kamu, mungkin kamu sudah termakan guna guna wanita miskin itu." sinis bu Hindun tidak Terima.
Pak Galih hanya bisa geleng geleng kepala mendengar tuduhan ibunya itu, ibunya memang keras kepala, dari awal memang tidak suka anaknya menikahi bu Soraya.
"Ya sudah bu, aku pulang dulu, sudah malam juga." ucap pak Galih melirik jam mahal di pergelangan tangannya.
Bu Hindun tidak menjawab, dia hanya diam dan menatap punggung anaknya yang mulai keluar dari rumahnya itu.
Sebelum pulang kerumah, pak Galih mampir membeli buah Anggur dan jeruk untuk anak-anak dan istrinya, dia sangat tau klau anak anaknya menyukai buah buahan.
"Papa pulang? " ujar pak Galih saat sampai di rumah.
"Wahhh.... Papa beli buah." girang Gibran menghampiri sang papa.
"Iya, buah kesukaan kalian." ucap Pak Galih memberikan kantong berisi buah ketangan Gibran.
"Makasih papa." ucap Gibran.
"Sama sama, di cuci dulu buahnya." titah pak Galih.
"Siap! " seru Gibran yang sudah berlari menuju dapur untuk mencuci buah anggur.
Pak Galih geleng geleng melihat tingkah anaknya itu.
Bu Soraya menghampiri pak Galih, lalu mencium tangan sang suami penuh takzim, dan pak Galih tidak mau ketinggalan, dia pun mengecup sayang dahi sang istri.
Ares dan Laras tersenyum bahagia melihat keluarganya yang sudah mulai rukun.
"Bersihkan diri dulu mas, abis itu kita makan malam bersama, anak anak sudah menunggu dari tadi." ucap bu Soraya.
"Baik sayang." ucap pak Galih merangkul pundak sang istri.
"Cieee... Gandengan terus." ledek Laras.
"Iri bos." seru pak Galih menaik turunkan alisnya.
Laras hanya memajukan bibirnya lalu menjulingkan matanya.
Pak Galih terkekeh melihat wajah kesal sang anak.
"Mas, kamu ini suka sekali menggoda anak mu." ucap bu Soraya mencubit perut sang suami.
"Aduhhh.... Sakit sayang." keluh pak Galih mengusap usap perutnya yang terasa perih ulah capit kepiting dari sang istri.
"Emang enak." cibir bu Soraya berjalan mendahului suaminya itu.
Pak Galih mengikuti istrinya ke dalam nama tidur mereka.
Sesampai di dalam kamar, pak Galih lansung menutup pintu kamar, lalu menghampiri sang istri yang sedang sibuk mengambil pakaian ganti untuknya.
Happp....
Pak Galih lansung memeluk pinggang sang istri dari belakang.
"Sayang, liburan sekolah anak anak kita pulang ke kampung mu ya, kamu pasti sudah sangat merindukan orang tua mu." ucap pak Galih penuh sesal dan rasa bersalah, telah membiarkan sang istri tidak mengunjungi orang tuanya.
Bu Soraya tertegun mendengar ucapan dari suaminya itu, matanya lansung berkaca kaca.
Tau istrinya pasti merasa sedih, pak Galih memutar tubuhnya istrinya dan memegang pundak sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Maaf kan, sudah menjauhkan kamu dari orang tuamu." ucap pak Galih dengan rasa bersalah yang mendalam.
"Mas benaran mau ajak aku pulang kampung?! " tanya bu Soraya dengan mata yang sudah banjir air mata.
Dengan cepat pak Galih menganggukan kepalanya, "Tentu saja sayang, mas akan ambil cuti dua minggu, pasti di kasih, soalnya selama ini mas kan jarang sekali ambil cuti." ucap pak Galih mantap.
"Mas nggak bohong kan?! " tanya bu Soraya lagi, dia takut suaminya hanya memberi janji palsu.
"Nggak sayang, mas janji sama kamu, pas liburan sekolah anak anak kita pulang ke kampung halaman kamu." ucap pak Galih lagi.
Bu Soraya menganggukkan kepalanya, semoga saja ucapan suaminya itu benar, dia memang sudah sangat merindukan orang tuanya, tapi apa lah daya, suaminya selama ini oleng, lupa tangung jawabnya.
Bersambung....
moga lekas pulih pa galih... cuma istri dn ankmu yg sllu da dihatimu disaat drimu susah dn sakit....
tenang jangan kawatir duwitmu di minta, bu soraya lebih dari mampu untuk mengobati pak galih😏