Miranti, seorang pengusaha restoran yang sedang berada di puncak kejayaan. Meskipun cara yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan itu harus melalui berbagai ritual ilmu hitam, Miranti tetap bahagia dan menikmati kekayaan dan kejayaannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Hingga akhirnya, di luar dugaan telah terjadi kesalahan dalam pelaksanaan ritual, hingga keadaan menjadi tak terkendali.
Perjanjian yang awalnya hanya akan mengorbankan anggota keluarganya saja, kini merembet pada orang lain. Korban pun berjatuhan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENARI SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Meta terbelalak dan terpaku melihat tengkorak kepala manusia terletak dalam sebuah nampan kaca, dan ditabur dengan bunga-bunga.
Tidak hanya Meta, Miranti pun syok karena dipergoki oleh Meta.
Miranti kalang kabut, lalu menarik kasar tangan Meta yang terdiam kaku di tempatnya.
Meta mencoba meronta tapi Miranti terlalu kuat untuk dilawan.
"Sini kamu!" bentak Miranti. Meta yang mencoba menahan tubuhnya, terpeleset karena tarikan Miranti yang sangat kuat.
Tubuh ringkih gadis yang dilanda ketakutan itu diseret oleh Miranti ke dalam dapur.
"Ampun Bu." Meta memohon dengan suara yang bergetar karena takut.
Miranti yang sudah dikuasai amarah tidak peduli dengan tangisan Meta. Dia menampar gadis itu dengan sangat kuat, Meta menjerit kesakitan.
Meta kehilangan nyali dan tidak mampu melawan. Tenaganya hilang karena terlalu takut.
Miranti mendudukkan Meta pada sebuah kursi dan mengikatnya, lalu menelpon Mirna agar membantunya.
Mirna datang dan mengunci pintu dapur agar Meta tidak bisa kabur. Meta kembali meronta, berharap bisa melepaskan diri, tapi ikatan itu terlalu kuat.
Meta melihat ketika Miranti menenteng sebuah nampan dan meletakkan di atas meja. Kemudian Miranti menggeser kursi Meta mendekati meja makan.
"Kamu tahu ini apa, Meta?" tanya Miranti sambil tersenyum.
Meta menggeleng, namun matanya menatap awas pada isi nampan yang ditunjukkan oleh Miranti.
Miranti menunjuk satu per satu isi nampan itu.
"Ini, hati dan jantungnya Putri," ujarnya sambil tersenyum menatap Meta.
Meta menggeleng berusaha menampik ucapan Miranti, dia tidak ingin mempercayai ucapan bosnya itu.
"Kamu tidak percaya? Apa aku pembohong?" Miranti mendekatkan wajahnya ke wajah Meta.
Meta semakin ketakutan, air matanya mengalir dengan deras.
Lalu Miranti menunjukkan organ tubuh yang lain.
"Ini, bola mata Putri." Miranti mengangkat kedua bola mata dan menyodorkan ke hadapan Meta.
Perut Meta langsung mual dan ingin muntah melihat bola mata yang sudah tidak sempurna bentuknya. Ditambah dengan aroma sup daging yang kini membuatnya jijik.
Lalu Miranti mengangkat tulang hasta yang diikat dengan usus. "Ini tulang tangannya Putri, dan ini ususnya." Miranti menyeringai menakutkan.
Kemudian Miranti melangkah ke tempat memasak, dan kembali ke meja dengan membawa nampan yang yang berisi tengkorak kepala.
"Naah, ini kepala Putri," ujarnya sambil mengamati ekspresi Meta yang sangat ketakutan. Miranti tertawa geli melihat ekspresi Meta tersebut.
Meta sudah tidak bisa menahan amukan di perutnya. Dia benar-benar muntah, tapi beruntung perutnya sedang kosong, jadi tidak ada isi perut yang keluar.
"Buuu, kumohon. Jangan sakiti aku." Meta memohon dengan kepayahan.
Miranti tertawa. "Owh, kamu belum makan, ya?" tanya Miranti lemah lembut, tapi dingin.
Miranti mengambil semangkuk sup dan meletakkan di depan Meta.
Meta menggeleng menolak sup itu.
"Ini sup terenak yang pernah kalian cicipi dulu. Bumbunya spesial, dimasak dengan semua benda-benda itu. Makanya sangat nikmat." Miranti kembali menunjuk semua organ tubuh Putri.
Meta teringat kembali, bahwa dia dan karyawan yang lain pernah memakan sup yang dimasak oleh Miranti sekitar beberapa bulan yang lalu, dan sup itu juga dibagi-bagi secara gratis pada pengunjung restoran dengan alasan sebagai bonus karena telah berkunjung.
"Sekarang Meta mau lagi, kan?" Miranti mulai menyuapi Meta.
Meta mengatupkan bibirnya, dia tidak ingin makan sup itu. Tetapi Miranti terus memaksa, bahkan menjambak rambut Meta tanpa belas kasih.
Mirna juga membantu memegangi kepala Meta sehingga gadis itu tidak berkutik.
Mau tidak mau, Meta harus menelannya. Lagi-lagi Meta muntah dan mengeluarkan isi perut yang hanya berupa cairan.
Miranti sangat girang melihat reaksi Meta, dia tertawa terbahak-bahak.
"Enak, kan?" tanya Miranti di sela tawanya.
Meta terus muntah-muntah, air matanya semakin deras, napasnya tersengal.
"Bu, tolong jangan sakiti saya," isak Meta memohon.
"Apa?! Menolong kamu?" Miranti mulai berteriak.
Tangannya kembali menjambak rambut Meta dengan lebih kasar. Meta menjerit kesakitan.
"Heh! Kamu lihat itu!" Miranti menunjuk organ Putri. "Aku mampu mengorbankan anak kandungku! Terus kamu berpikir aku akan melepaskanmu?!" Miranti memaki Meta penuh kemarahan.
"Ma. Ambil pisau!" perintah Miranti pada Mirna.
Meta semakin menggigil, dia meronta dan berusaha melepaskan ikatan, tapi itu mustahil untuk dilepaskan.
Miranti meraih pisau dari tangan Mirna. Dia memamerkan pisau daging yang sangat tajam itu di depan mata Meta.
"Buu...to-tolong...lepas...kan sa-saya. Sa-saya tidak...akan bicara pada...siapa...pun. Sa-saya janji...saya a...kan pergi dari ko-kota ini." Meta terbata-bata nyaris tidak sanggup bicara.
"Tenang saja, sayang. Ini tidak akan sakit," sahut Miranti lembut.
Lalu Miranti menarik rambut Meta dan menarik kepalanya ke belakang, hingga gadis itu mendongak.
Mirna mengambil sebuah cermin yang tergantung di dinding dapur. Cermin itu biasanya digunakan oleh karyawan. Mirna memposisikan cermin itu tepat di depan wajah Meta.
"Lihat wajahmu di cermin sayang," ujar Miranti. Seperti seorang psikopat, Miranti ingin agar Meta melihat proses kematiannya.
Meta melirik ke dalam cermin, dan tampak wajahnya yang berurai airmata. Tampak juga sebuah pisau daging yang besar dan tajam menempel di lehernya.
Meta pasrah dalam ketakutan.
Wajahnya yang bersimbah airmata terlihat sangat pucat pasi.
Meta memejamkan mata ketika Miranti dengan sangat sadis menggorok lehernya.
Meta mengerang dan berteriak, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, kakinya dihentakkan karena kesakitan. Seluruh tubuhnya berguncang hebat ketika pisau itu terus menyayat lehernya tanpa ampun.
Darah segar menyembur membasahi tubuh Meta yang kini menggelepar. Miranti puas melihat Meta yang kesakitan meradang nyawa.
Dia tidak menghabisi Meta begitu saja, tetapi merebahkan kursi di lantai, dan membiarkan gadis malang itu menanggung sakit yang teramat sangat dalam keadaan yang masih terikat.
Darah membanjiri lantai dapur, tapi Miranti tidak peduli.
Dia menelpon Pak Cik untuk membantunya membereskan Meta yang sudah sekarat, lalu melanjutkan ritual.
Miranti sukses dgn jalur demit ,