Sosok wanita Cantik dan Ceria bermata biru menjalani harinya dengan semua masalah yang ada, Kisah misteri dan juga Asmara yang datang silih berganti ikut menyertai.
Teman dan musuh tak bisa terlihat dengan nyata, bahkan cinta dan obsesi sulit untuk dibedakan.
Lalu bagaimana semua bisa terlewati, bahkan kematian menyertai perjalanannya, bagaimana kisah ketegangan penuh trik dan intrik akan berakhir, dan misteri terungkap dengan segala tipu daya, bahkan kekonyolan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Aftan berlari mengejar kepergian Ailina, sampai di halaman depan mengedarkan pandangan ke semua penjuru dan kenyataannya Ailina tetap tak ditemukan.
"Cepat sekali Ailina pergi" gumam Aftan segera kembali masuk menuju garasi dan menghidupkan mobilnya.
Sambil mengemudi dengan kecepatan sedang, Aftan sudah berhasil menghubungi Ailina dan meminta alamat dimana dirinya bisa ditemui saat ini.
Setelah itu Aftan menghubungi seseorang, memastikan kembali bahwa kabar yang baru saja dia dapatkan benar adanya, kali ini tak ingin salah sama sekali, karena itu akan berakibat fatal, apalagi hubungannya dengan rasa pertemanan yang baru saja terjalin.
Aftan segera berjalan masuk di sebuah gedung megah dimana banyak tenaga medis dan pasien yang sedang di tangani, menuju ruangan perawatan yang letaknya sedikit jauh di dalam dan melewati beberapa tempat.
"Bagaimana keadaan prof.Mark?" Tanya Aftan saat Ailina sudah mendekat untuk menyambutnya.
"Harus di rawat" ucap Ailina.
"Arsy?" Tanya Aftan.
"Ada, dan dia_"
"Aku sudah tau, dan mendapat kabar dari orang-orang yang selama ini aku suruh untuk menyelidiki" sahut Aftan.
"Kenapa kak Aftan melakukan hal itu?" Tanya Ailina.
"Apapun yang berdekatan dan bersinggungan dengan kita, butuh kejelasan, aku tidak ingin sesuatu terjadi dengan kita, ingat siapa kita Ai, dari kecil begitu banyak musuh yang ingin menghancurkan dan mencelakakan kita dan juga keluarga Nugraha" ucap Aftan membuat Ailina terdiam sesaat.
"Lalu, apa alasan Arsy?" Tanya Aftan lagi.
"Dia tidak mau berbicara apapun, hanya ingin aku mengetahuinya sendiri" jawab Ailina.
"Begitu juga profesor Mark?" Sambung Aftan.
Ailina terdiam, nampak dipikirannya terjadi kekacauan, tak bisa menjawab apa yang Atan inginkan, sungguh Ailina tak pernah menyangka kalau ternyata Arsy adalah anak dari sang Profesor Mark.
Lalu untuk apa semua seolah disembunyikan, bahkan pihak kampus sendiri tak menyadari, buktinya, tak pernah ada desas desus ataupun kabar kedekatan keduanya, sampai apa yang Arsy alami di kampus seolah Prof Mark tak peduli.
"Apa yang sebenarnya terjadi kak?" Tanya Ailina.
"Itu pertanyaan untuk Arsy dan juga prof Mark" jawab Aftan.
Ailina terdiam kembali, masih berpikiran positif saja untuk menenangkan hatinya, lalu Aftan melewati dirinya masuk menjenguk Profesor Mark didalam sana.
Arsy nampak terkejut, lalu memberikan sapaan ke Aftan yang terus bergerak maju dan kini ada disisi tempat tidur.
"Bagaimana keadaan profesor?" Tanya Aftan setelah memberi salam.
"Sudah lebih baik" jawab prof Mark berusaha tersenyum dan ingin duduk namun di tahan oleh Aftan mengingat keadaannya harus beristirahat.
"Maaf, kalian pasti terkejut" ucap Profesor Mark melihat Arsy sebentar, lalu beralih ke Aftan kembali.
Aftan hanya tersenyum, lalu meletakkan barang bawaan yang berisi buah-buahan dari hasil beli saat diperjalanan tadi, kursi yang berada sedikit jauh di dekatkan dan kini duduk disamping Prof Mark.
"Jadi anda_"
"Hem, aku orang tua tunggal Arsy" sahut Prof Mark.
"Lalu apa anda tau apa yang terjadi dengan Arsy selama ini?" Tanya Aftan.
"Kak Aftan, Daddy sakit, sebaiknya jangan membicarakan sesuatu yang membuatnya terbebani" sahut Arsy mencoba menghalangi niat Aftan.
"Maaf" jawab Aftan dengan sopan.
"Tidak apa-apa, mereka temanmu Arsy dan berhak untuk tau hal ini" ucap Prof Mark.
Sesaat percakapan terhenti, Ailina masuk bersama dengan seorang perawat yang hendak memberikan beberapa obat yang dilewatkan infus untuk proses pengobatan.
Sejenak Aftan dan Ailina saling pandang, Ailina kini duduk di samping Arsy yang sedari tadi di sofa yang berada dalam ruang yang sama.
"Maaf, bukan maksud kami untuk menutupi semua ini, hanya saja, aku tidak ingin semua orang memandang sebelah mata kemampuan Arsy masuk ke universitas ini" ucap Prof Mark.
"Daddy tidak ingin nantinya dikira aku masuk universitas karena posisinya" sahut Arsy.
Aftan mengerutkan kening, tak menjawab ataupun bertanya lagi, banyak sekali sesuatu yang kurang pas dari semua penjelasan yang diberikan, namun dirinya hanya diam dan mendengarkan.
Begitu juga dengan Ailina yang mempunyai pemikiran sama, apapun yang mereka ungkapkan seolah ada sesuatu yang sengaja ditutupi, entah itu apa dan Ailina untuk saat ini masih belum bisa meraba dengan pasti.
"Kami tidak masalah, terimakasih sudah mau menceritakan hal ini" sahut Ailina.
"Yang terpenting Prof Mark segera sehat kembali" ucap Aftan melanjutkan.
"Terimakasih kalian sudah mau menjadi teman Arsy, tolong bantu aku menjaganya" ucap Prof Mark sambil menatap Arsy yang nampak diam saja.
"Tentu saja" ucap Aftan.
"Syukurlah aku merasa lega, dengan adanya kalian berdua Arsy akan baik-baik saja" sahut Prof Mark membuat Aftan sedikit terkejut.
"Kalau boleh saya tau, apa yang terjadi dengan Prof Mark?" Tanya Aftan lagi.
Profesor Mark menarik nafas dalam, lalu menceritakan kalau dirinya sedang cekcok dengan beberapa pemuda dan akhirnya tersinggung lalu menyerangnya.
Ailina mengerutkan alisnya, lalu teringat akan ucap Prof Mark beberapa bulan yang lalu, di mana dirinya pernah terlibat dalam sebuah perusahaan elit untuk mencari dan merekrut orang-orang berpotensi untuk melakukan sebuah penelitian yang ilegal.
"Apa mungkin, hal ini ada hubungannya dengan yang pernah Prof ceritakan?" Tanya Ailina.
"Sudah-sudah, kalian tidak usah berpikir yang tidak-tidak, aku rasa ini hanya salah paham saja" sahut Prof Mark seolah tidak ingin membahas apapun.
Waktu menunjukkan malam menjelang, Ailina dan Aftan segera pamit untuk pulang, dan Arsy mengucapkan terimakasih atas kedatangan dua teman yang saat ini dia miliki.
Didalam mobil Ailina masih terdiam, perjalanan semakin sepi, hingga Aftan menjulurkan tangan mencari tombol untuk menghidupkan apapun yang bisa didengar dengan lirih.
"Apa kak Aftan tidak merasa aneh?" Tanya Ailina.
"Hem" sahut Aftan yang enggan untuk bicara.
"Ck, aku merasa mereka menutupi sesuatu dari kita" ucap Ailina.
"Hem" jawab Aftan lagi.
"Kenapa aku jadi merasa tidak tenang ya kak?"
"Hem" jawab Aftan ketiga kali.
"Kak Aftan bisa nggak sih jawabnya yang bener, ham Hem saja dari tadi" Protes Ailina yang mulai kesal sendiri.
"Untuk apa menjawab mu, percuma saja bicara dengan seseorang yang juga tengah menutupi sesuatu" sahut Aftan membuat Ailina seketika terkejut.
"Maksud kak Aftan apa?" Tanya Ailina yang masih belum mengerti dan tidak merasa salah sama sekali.
"Memangnya apa yang pernah Prof Mark ceritakan padamu, dan seingat ku, kamu tidak pernah menceritakan hal itu" jawab Aftan.
Ailina terkejut dan baru menyadari sesuatu, lupa bahwa itu juga sebuah rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapapun, dan tentu saja Aftan dengan cepat bisa merespon hal itu, kakak sepupunya adalah laki-laki yang sangat detail dan cermat dalam mengamati sesuatu.
"Oh itu_" Ailina masih bingung harus berkata apa dan haruskah menjelaskannya.
Aftan masih terdiam, menunggu dan tidak memaksa Ailina sama sekali untuk segera menjelaskan, di saat seperti ini, tanda Aftan sangat serius akan sesuatu yang sedang diinginkan.
Ailina nampak diam setelah beberapa menit tak bisa berpikir lanjut atau di hentikan, rahasia yang dijaganya rasanya masih bingung apa ia harus Aftan tau juga.
Hingga sampai di Apartemen miliknya, Aftan masih terdiam.
"Ck, masuklah kak, kita sholat dulu, setelah itu akan menceritakan sesuatu" akhirnya Ailina memutuskan untuk memberi tahu.
Aftan masuk dan berjalan melewati dirinya, menuju ke kamar satunya yang sudah biasa ia gunakan saat berada di Apartemen Ailina.
"Astagfirullah!" Ailina terkejut saat dirinya baru saja keluar dari kamar setelah membersihkan diri dan beribadah.
"Kak Aftan mengagetkanku saja" lanjut Ailina melihat Aftan sudah berada didepan kamarnya.
"Penasaran menunggu ceritamu, berani-beraninya merahasiakan sesuatu dariku" gumam Aftan terdengar di telinga Ailina.
Mata indah itu hanya berkedip sesaat, lalu mengekor kemana langkah Aftan dan berakhir duduk di sofa tengah, bersiap untuk menceritakan.
Yuk jangan lupa kasih Author HADIAH VOTE LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.
kalau brian nugraha itu turunan alex
penasaran in q nya😊😊