Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Pergantian alam ghaib
Sangat jelas sekali kalau makhluk lain tidak akan berhenti mengganggu. Sebagian garis besar anak indigo tidak mau disebut menjadi anak yang pembangkang. Dia bisa menghentikan batas kepergian di alam manusia tapi tidak di alam lain. Tidak ada yang mengetahui apa yang di rasakan anak Indigo. Berada yang di posisi tersulit bernafas di bumi.
Sejarah panjang terpotong pada lembaran kertas berita di perpustakaan lama. Renovasi besar-besaran setelah masa penyelamatan kerajaan Mandra Sukmo. Benda-benda peninggal masa lalu yang tidak berarti apapun. Sepeninggal ibu suri dari ratu Mahaswari, nilai-nilai benda pusaka dan simbol negeri lenyap begitu saja.
Penghuni Istana berpendapat jika Perpustakaan tidak di jaga. Tapi ucapan itu di patahkan sang putri melihat lebih dekat bahkan pernah menjelajah waktu dunia mistis. Perpustakaan yang terlihat bertingkat atau luas. Bangunan ruang kecil bergaya klasik bersarang jaring laba-laba dan serangga yang sesekali lewat di antara buku.
Krekkk_
“Putri, mari saya temani” Pati datang dari belakang.
“Aku ingin membaca buku dan melihat-lihat di dalamnya sendiri. Tinggalkan saja aku, engkau beristirahatlah..”
Sang putri tersenyum menggiringnya keluar. Pati menunggu di balik pohon berharap dia tidak mengalami hal yang sama semasa kecil. Ingatan yang terhapus kejadian yang membingungkan puluhan dayang mencarinya.
“Pati, engkau masih ingat kalau sang ratu tidak akan memaafkan para dayang jika tidak sanggup menjaganya? Sebaiknya kau menjadi pengikut ku, aku akan menobatkan mu sebagai pejabat tertinggi.”
“Maaf hamba harus pergi Yang Mulia___”
Ogok tidak henti mencuci pikirannya, menunggu pondasi penjaga istana goyah supaya mudah memusnahkannya. Mengunci sang putri dari luar dua penjaga di suap dengan beberapa koin emas supaya tutup mulut.
“Hahaha, malam akan semakin larut dan kau akan di makan setan” umpat Ogok berlari meninggalkan Istana.
Keluar masuk istana sesuka hati, orang luar tidak akan berani masuk kalau penghuni tidak memberikan izin. Ogok mengetahui seluk beluk jalan pintas istana dan memiliki kunci cadangan. Di sisi lain, sang putri terperangah melihat isi ruangan bagai di negeri dongeng. Seekor burung hantu berdiri tegak menghentakkan kaki di depannya. Tubuh sang putri sedikit terhempas, kepakan melibas angina di sekitar.
“Selamat datang sang putri. Hamba adalah Owel si penjaga semua benda kerajaan baik di dalam maupun ruangan. Maaf hamba membuat putri terkena hempasan angin dari sayap hamba. Maaf pula hamba tidak bisa mengantarkan ke semua bidang tiap bilik rak buku. Tapi hamba akan datang jika putri membutuhkan sesuatu. Dimana pun putri berhenti di ruangan ini maka hamba mengetahuinya.”
Suara makhluk penjaga terdengar menyeramkan. Dia membungkukkan tubuh memberi hormat, menekuk tangan kanan membuka lebar sayap. Sang putri membalasnya dengan membungkuk. Sang putri perlahan di bantunya tegak bersandar di dekat pilar.
“Tidak apa-apa, saya hanya terbentur kecil. Saya akan berjalan-jalan menikmati tempat yang mengagumkan ini. Aku pasti akan memanggil mu jika membutuhkan sesuatu..”
Suasana tidak jauh berbeda ketika menembus alam lain. Seribu anak tangga raksasa meliuk-liuk berlantai sedingin es beku. Dari selipan ventilasi udara, kelelawar putih berterbangan menembus lubang
udara. Persis di penglihatan indera ke enam, salah satu hewan jelmaan makhluk halus itu di sebut sebagai hewan penjaga. Sorot sepasang mata menyala melihat sang putri, Aluna siap siaga melihat hewan-hewan itu mengawasinya.
Dia meneruskan langkah ke bagian atas anak tangga. Patung-patung berjajar terpahat bahan kayu bercampur lapisan emas. Pemandangan paling menantang melihat kepala hewan bertanduk di bagian dinding. Luna mendekat ke salah satunya, banyak hewan-hewan kecil menggeliat di dalamnya.
“Luna..Luna..”
Panggilan suara menggema, Luna menjauh berlari ke sisi bagian ruangan bercat nuansa hijau.
Mengarungi penglihatan ghaib, Luna terhenti di pojok baca yang terdapat meja dan kursi ukiran merak. Dia mendengar lagi suara yang tadi memanggil, wanita memakai pakaian kerajaan tersenyum berjalan duduk di kursi. Sampai lagi di garis takdir yang tidak terbaca. Perpustakaan itu membuka energi memperjelas mata bati dalam berpindah ke kehidupan berikutnya.
......................
Masehi tergantung bulan purnama bersinar teramat terang benderang. Kaki mungil berjalan tertatih menangis tersedu-sedu mencari tempat persembunyian. Tubuhnya yang berkeringat, di basuh sang ibu yang semakin panik menyentuh badan anaknya sangat panas.
“Tidak bisa di sanggah, apa yang di lihat Luna sedikit banyak mempengaruhi kesehatannya..”
Wanita berperawakan ramping itu di sebut dengan buyut. Kulitnya kuning langsat, rambut tipis di ikat menggunakan kain perca yang di gulung berbentuk sanggul. Empat puluh sebelum menjelang kematiannya, buyut memberikan pesan supaya lebih memperhatikan penjagaan pada Aluna.
Aluna ku ini tidak bisa bahagia menjalani hidup normal. Tapi percayalah dari atas sana buyut akan tersenyum bahagia melihat semua impian dan cita-citanya di masa depan terkabul. Tolong jaga Aluna ku, Mahaswari.
Pesan yang tidak selalu di ingat terucap ketika ibu menyekar tempat peristirahatan terakhir buyut.
Masa-masa sulit Aluna di masa lampau tidak mengurungkan semangatnya mencari tau dan menggali ilmu keinginan tahuan apapun aktivitas sehari-hari. Daya ingat motorik meningkat pesat. Di umur lima tahun, Aluna menangis menunjuk dua orang anak sekolah yang berjalan melewati rambu-rambu lalu lintas.
“Bu_Bu_” suara bocah cilik yang menggemaskan.
Andika dan Dewi mencubit kecil pipinya. Luna menepis lalu menggelengkan kepala saat gangguan kejahilan lain dari kedua sepupunya. Sepulang dari TPU, mereka beristirahat di ruangan TV. Mahaswari yang sibuk mengemasi barang-barang terhenti mendengar pengaduan dari Dewi.
“Dewi melihat Luna menunjukkan pada anak sekolah itu tante. Luna bilang mau sekolah..”
“Sekolah? Kata sekolah tidak pernah terucap. Bagaimana dia bisa tau kata itu? Kamu salah dengan kali Dew”
“Saya nggak salah dengar. Andika juga dengar, terus tadi Luna senyum ke jalan yang sepi..”
“Dewi, kamu taukan sepupu kamu bisa lihat makhluk halus. Sudah cepat kemasi koper kamu, Andika sudah selesai tuh” ucap Mahaswari melihat air mukanya yang masam.
Andika yang terlebih dahulu selesai berkemas. Dia menyiapkan dua hari sebelum hari kepulangan. Mahaswari terkejut mendapati Aluna berada di atas lemari hias. Ukuran Lemari yang tinggi dekat lampu gantung membuatnya berteriak sekuat-kuatnya.
“Argghh! Aluna! Kenapa kamu bisa sampai sana nak?”
“Ada apa bu? Atas mana?” Ukran terbangun mengusap mata.
Secepatnya mengambil tangga, membujuk Luna untuk tidak bergerak. Tidak terkira ketakutan mereka menyaksikan Luna merangkak turun bak spiderman yang menempel di dinding. Di bawah, Mahaswari dan kedua keponakan memasang posisi menangkap. Ukran melompat dari tangga, dia menggapai tubuh anaknya. Tidak terkira lagi ketakutan seisi rumah.
“Luna, sekali lagi kamu tidak boleh memanjat benda apapun tanpa seijin dari ibu. Paham?” kata Mahaswari sedikit membentak.
Gerimis menggenangi wajahnya, isak tangis tanpa suara. Di dalam pelukan Mahaswari mengusap punggung anaknya.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.