Raina menelan ludah. Dia ingin kabur, tapi melihat luka lebar di perut manusia itu membuatnya mengurungkan langkah.
"Pergi, atau kau ku bunuh!" Manusia setengah hewan mengerang berat, namun Raina tahu dia menahan sakitnya.
"K-kau.. terluka. Biarkan aku menyembuhkanmu." Lanjut Raina. Walau takut, dia tetap ingin melakukan itu.
"Aku bilang, pergi, manusia sialan!" Pekiknya berang, membuat Raina lagi-lagi menelan ludah.
"Aku.. aku akan menyembuhkan lukamu... Elian."
Manusia setengah hewan itu berhenti mengerang saat namanya disebut.
"Aku punya kekuatan. Aku bisa menyembuhkan lukamu." Tangan Raina terulur. Perlahan ia mencoba menyentuh luka yang menganga di perut Elian. Namun Elian menepisnya sampai tangan Raina terluka.
Mata Elian seketika terbelalak saat luka yang ia baru goreskan di tangan Rayna langsung mengecil hingga nyaris menghilang seluruhnya.
Gadis itu memiliki kekuatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Raina
"Tigri..."
Pria itu tertawa lebar saat Raina berhasil menebaknya. Namun dalam tawa Tigri, dia merasakan kekuatan besar Raina seolah tengah menusuknya. Besar sekali.
Raina menatap tajam Tigri dengan tubuh yang mengalirkan rasa panas. Tubuhnya seolah terbakar bersamaan dengan amarah yang muncul. Entah apa yang terjadi pada dirinya tatkala ia teringat bagaimana Tigri telah menghancurkan keluarganya.
"Raina... akhirnya kau mengingatku." Suara Tigri terdengar berat dan taringnya muncul. Senyum culasnya terlihat, saat ia tak sabar ingin membawa Raina bersamanya. Kekuatan gadis itu yang diinginkannya. Sangat besar, dan Tigri yakin kekuatan ini belum semua keluar dari tubuh Raina.
Tangan Raina mengepal keras. Melihat senyuman Tigri mengingatkannya pada sang ayah yang menangis saat menceritakan bagaimana sang ibu mati di tangan pria itu.
Tiba-tiba saja panas di tubuh Raina semakin menyebar, sampai gadis itu tidak sadar bahwa tubuhnya telah mengeluarkan api.
Senyum miring Tigri terulas. "Luar biasa. Ini yang membuatku menginginkan kekuatanmu sejak dulu. Benar, kau adalah savior yang akan membantuku menghadapi kekacauan dunia ini." Tigri tertawa, lalu berubah bentuk menjadi harimau besar. Matanya merah menyala, bersiap menerkam Raina.
Rasa ingin membunuh Tigri sangat tinggi. Raina yang terbakar hampir saja kehilangan kendali ketika melihat Tigri berlari hendak menyerangnya, kalau saja seekor Serigala tidak datang melompat menghalangi Tigri.
Erangan berat terdengar. Serigala itu terus menyerang Tigri yang berusaha bangkit dari serangan Elian.
Pertarungan terjadi tepat di depan Raina. Ia melihat bagaimana Elian terus menyerang sementara Tigri tampak kewalahan dengan apa yang Elian berikan padanya.
"Yang Mulia.."
Raina menoleh pada Robin yang memintanya untuk ikut.
"Tapi...." Raina merasa berat meninggalkan Elian disana. Dia ingin sekali membantu karena api dalam dirinya berkobar seolah minta dikeluarkan.
"Ini perintah dari Yang Mulia Elian."
Raina tahu dia sudah melakukan kesalahan. Maka dia pun menurut dan mengikuti Robin.
Sampai di halaman mansion, Raina ternyata telah ditunggu-tunggu oleh Viga. Gadis itu tampak khawatir dan segera berlari ketika Raina datang.
"Yang Mulia.."
"Aku tidak apa-apa." Tukas Raina, menoleh ke arah dimana ia tadi pergi. Tidak terdengar apa-apa. Ada rasa khawatir terhadap Elian.
"Jangan risau, Yang Mulia." Robin tahu apa yang menjadi pikiran Raina. "Saya yakin dia bisa mengatasi ini."
Raina menghadap Robin. "Cepat katakan padaku, siapa Tigri, dan kenapa Elian membencinya padahal itu pamannya. Aku ingin tahu!"
Robin diam sesaat mendengar pertanyaan-pertanyaan Raina. Dia tidak tahu apakah ia harus menceritakan ini. Pasalnya, jika Ratunya tidak tahu, artinya sang Raja belum memberitahunya. Bukankah lancang jika dia yang menceritakan itu?
"Robin, kau harus mengatakannya padaku!"
Dibalik semua pertanyaan itu, Robin merasa, Raina menyimpan sesuatu dalam dirinya terhadap Tigri. Maka dia memutuskan untuk menceritakan semuanya.
Mulai dari hutan Densy dan Sierra sebenarnya masih satu, namun peperangan di zaman dahulu membuatnya harus terpecah. Dulu, William, kakek dari Elian adalah raja hutan yang mencakup keseluruhan antara Densy dan Sierra. Lalu adiknya, Ghara Olimpus, ingin menguasai hutan seperti William. Dia berusaha merebut kekuasaan sampai akhirnya William berhasil membunuhnya. Namun, Tigri yang merupakan anak Ghara, tidak terima dengan apa yang dilakukan William pada ayahnya. Tigri membawa pasukan untuk melenyapkan William. Sayangnya, peperangan itu bisa dengan mudah diatasi oleh William. Namun karena merasa bersalah telah membunuh saudara kandungnya, membuat William menyerahkan separuh kekuasaan dengan membagi hutan menjadi dua, dan bukit Sierra-lah yang menjadi perbatasannya.
Walau begitu, Tigri tetap tidak ingin hutan dibagi. Dia ingin menguasai semuanya, namun juga sadar bahwa dirinya tak bisa mengalahkan kekuatan William. Maka Tigri saat itu mengetahui ada seorang anak yang akan lahir dengan kekuatan sempurna. Dia mengejarnya untuk mendapatkan kekuatan itu supaya bisa mengalahkan William.
Namun lagi-lagi dia harus dikalahkan William hingga bertahun-tahun tidak keluar demi penyembuhan diri.
"Dan belakangan kami baru tahu, kalau yang dimaksud oleh Tigri adalah Yang Mulia Ratu." Jelas Robin panjang lebar, tepat bersamaan dengan Elian yang baru saja datang dengan langkah lebar menatap tajam pada Raina.
Tentu kehadiran penguasa hutan itu membuat Viga dan Robin pamit pergi. Elian datang dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya. Bulu-bulu hingga taring pria itu masih begitu jelas terlihat. Raina tentu merasa sangat takut. Apalagi tatapan tajam itu tidak lepas darinya hingga sampai Elian di depannya, dia langsung meluapkan amarahnya.
"Kau sudah gila? Tidak bisakah kau mendengar apa yang telah kuperintahkan padamu? Kau merasa hebat dengan menghadapi makhluk itu sendiri? Aku sudah bilang, batasmu ada di barier itu. Apa kau mau mati?"
Raina menunduk takut mendengar suara berat dengan erangan dari Elian. Dia tahu kesalahannya. Hanya saja, dia tidak sangka kalau Elian akan memarahinya seperti sekarang. Apalagi mata pria itu menyala merah. Raina bergetar takut.
"Kalau kau tidak mau mendengar perintahku, maka keluar dari tempatku!"
Setelah mengatakan itu, Elian melebarkan langkah kaki masuk ke dalam mansion, meninggalkan Raina yang terisak sendiri.
Gadis itu sedih lantaran Elian mengusirnya seperti itu. Sebenarnya dibentak begitu sudah membuatnya sakit hati. Seumur-umur, Damian tidak pernah begitu padanya. Namun Raina sadar, kalau itu memang kesalahannya.
Maka gadis itu mengangkat kepala. Satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah meminta maaf. Raina berjalan masuk. Di dalam terasa amat sepi. Semua makhluk yang biasa membantu di dalam sudah tak ada lagi. Raina menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, tetapi Elian tidak ada disana.
Raina mengecek ke beberapa tempat, entah dimana Elian, tidak ada dimana pun. Tinggal satu tempat. Balkon belakang mansion. Viga pernah bilang, Elian sering menyendiri disana. Maka Raina melangkahkan kakinya menuju belakang mansion, dan ternyata benar. Pria itu ada disana.
Elian berdiri menatap rembulan. Dia membelakangi Raina yang sudah dari tadi menatapnya. Ingin mendekat, namun ada rasa takut di hati Raina. Terlebih kuku-kuku Elian masih terlihat. Bulu di tangan dan ekornya juga masih ada. Tanda bahwa gejolak amarah dalam tubuh Elian sangat besar terasa.
Dengan memberanikan diri, Raina melangkah mendekat dengan perlahan. Berdiri tepat di belakang Elian yang menyadari kehadirannya.
"Maaf..."
Kata itu keluar. Raina menunduk takut. "Aku tidak bermaksud melanggar perintahmu. Tadi aku mendengar suara rintihan kesakitan. Aku pikir ada yang butuh pertolongan. Jadi...."
Raina menghentikan Kalimatnya, karena ia pikir, alasan apapun tidak membenarkannya keluar dari batas yang telah ditentukan. Elian bergeming.
"Elian..."
Satu-satunya hal yang harus Raina lakukan adalah menyentuhnya agar amarah pria itu menghilang.
Dengan telunjuknya, Riana memberanikan diri menyentuh tangan Elian. Ujung jari gadis itu berhasil membuat kuku tajam dan bulu-bulu Elian perlahan menghilang.
Terdengar pula helaan napas Elian. Gejolak amarah telah pergi dari dirinya. Timbul rasa sesal karena telah membentak dan mengusir gadis itu.
"Jangan lakukan lagi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Damian jika kau mati di tangan Tigri."
Raina tersenyum kecil mendengar suara bernada rendah itu. Sentuhannya mampu mengubah Elian dengan instan.
"Iya. Aku janji." Raina maju selangkah. Ia melingkarkan kedua tangan di pinggang suaminya, memeluknya dari belakang. "Terima kasih sudah menyelamatkan aku untuk yang kesekian kali. Aku berhutang budi padamu."
Hening, tidak ada jawaban sampai Raina melepaskan pelukan dan pergi dari sana. Ketegangan Elian seketika meluruh. Ia perlahan melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan.
To Be Continued....
sayang aja gak dilanjutin semangat kakk
ayo erina km bisa melewati ini...dan terimalah elian serta bantu dia tuk melewati fase itu
ih makin demen deh klo mereka romantis n saling menyayangi bgtu😍😍😍
apakah Elian menemukan cara tanpa mengorbankan Erina untuk tetap mendpatkan wujud manusianya