Bella terpaksa menikah dengan putra keluarga Prayoga Grup, Nugi tanpa cinta. Karena itu akan membantu memulihkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut.
Ini membuat Nugi yang punya kehidupan bebas memberi tawaran nikah kontrak pada Bella. Tanpa menjadikan semuanya rumit, Bella setuju. Semuanya aman, hingga Bella hamil padahal hati keduanya belum menyatu.
Bagiamana kisah pernikahan kontrak ini?
Novel ini kolab dengan author Isshabell
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Nugi baru keluar dari Klub malam. Wajahnya memerah karena minuman tadi. Untung saja dia masih bisa mengendarai mobilnya untuk pulang meski sedikit sempoyongan. Jalanan yang sepi mendukung keadaannya yang tidak benar-benar dalam kondisi baik. Ini memudahkannya tiba di rumah dengan selamat.
Setelah memarkir mobilnya di halaman rumah, Nugi pun berjalan dengan sempoyongan masuk ke dalam rumahnya.
Keadaan rumah sepi karena ini sudah waktunya untuk semua orang tidur. Pendek kata, ia mampu tiba di kamar tidurnya tanpa hambatan apapun. Tidak ada mama yang menginterogasi dirinya, atau Bella yang menatap tajam padanya seolah dirinya adalah musuh.
Nugi melepas pakaiannya bermaksud mengganti pakaian karena gerah. Saat itu bola matanya tertambat pada Bella yang sedang tertidur pulas. Dia mengerjap berulang kali untuk menjernihkan matanya dari rasa mabuk yang ada. Dia ingin melihat perempuan itu dari dekat .
Tubuh setengah telanjang Nugi berjalan mendekati Bella yang tidur seraya memiringkan tubuhnya. Selimutnya tak lagi menutupi tubuhnya karena terjatuh di atas lantai.
Kini Nugi sudah berada di dekat sofa. Ia menatap perempuan ini agak lama.
"Kamu. Perempuan aneh yang terus saja menjauhi ku. Meskipun hubungan kita ini hanya kontrak, tapi kenapa aku tidak suka melihat mu dengan pria lain?" tanya Nugi lirih. Dia memandangi wajah Bella yang terlihat polos tanpa dosa.
Setengah membungkuk, Nugi mendekatkan wajahnya. Hidungnya menyentuh permukaan pipi Bella. Nugi menghentikan sentuhannya ketika wanita ini menggeliat pelan.
“Aku sampai harus memaksa alkohol untuk menghapus rasa kesal ku karena kamu dengan pria lain. Namun ternyata itu tidak berguna,” lirih Nugi lagi. Pria ini mencoba mendekatkan lagi wajahnya pada wajah Bella, tapi kelopak mata perempuan ini perlahan terbuka. Nugi menjauhkan tubuhnya. Bersandar pada dinding dan menundukkan pandangan menatap perempuan itu bangun dari tidurnya.
“Siapa?” tanya Bella di sela tidurnya. Bella duduk seraya mengucek matanya berulang kali. Nugi hanya berdiri sambil bersandar pada dinding di dekat sofa. Perlahan pandangan Bella yang kabur terlihat jelas. “Nugi?” tanya perempuan ini terkejut. Ia langsung waspada. Apalagi ketika melihat pria itu setengah telanjang.
“Kenapa kamu ada di sana? Bahkan dengan keadaan seperti itu. Ini jam berapa? Seharusnya kamu sudah tidur.” Beruntun pertanyaan meluncur dari bibir mungil itu.
Nugi tersenyum dengan tubuhnya sedikit goyah. Bella mengerutkan keningnya. Matanya juga menyipit. Ia merasa keadaan Nugi saat ini tidak baik. Kaki Bella berdiri dan mendekati Nugi. Wajah dan mata Nugi merah. Awalnya Bella mengira pria ini demam.
“Ada apa denganmu?”
“Aku lelah,” sahut Nugi dengan tubuh tidak mampu berdiri tegak. Bella langsung menutup hidung dengan tangan kanannya, karena mencium bau alkohol yang keluar dari mulut Nugi.
"Kamu mabuk?" tanya Bella dengan nada bicara tegas. Tangannya mengibas udara di sekitar mereka. Mengusir aroma alkohol yang memenuhi ruang indra penciumannya. “Kenapa harus pulang dalam keadaan mabuk? Kalau mama tahu kamu seperti ini, mungkin aku akan terlihat buruk di depan beliau,” omel Bella setengah menggerutu. “Kalau begini aku yang harus repot.”
Nugi tersenyum simpul mendengar omelan perempuan ini. Mungkin karena mabuk, dia justru merasa senang mendengar Bella menggerutu. Dalam indra pendengarannya, omelan itu terdengar seperti sebuah perhatian.
“Kenapa repot? Bukannya kamu hanya perlu tinggal diam dan tidak peduli seperti biasanya?” Nugi bicara dengan mata sayu dan merah seraya melangkah perlahan mendekat pada perempuan ini.
“Aku ingin tidak peduli, tapi kalau mama melihat kamu seperti ini, apa mama tidak menyalahkan ku? Kenapa putra kesayangannya sampai mabuk-mabukan ...” tuding Bella.
Kini Nugi berdiri tepat di depan Bella.
“Kenapa malah berdiri di sini? Cepatlah tidur,” kata Bella seraya menjauh dari Nugi. Namun pria ini segera menangkap tangan Bella. Ini membuat Bella gagal menjauh. Ia menunduk melihat ke arah tangannya. Lalu mendongak dengan tatapan tajamnya pada Nugi. “Lepaskan tanganku,” desis Bella.
“Perkataan mu benar. Keadaan ku sekarang adalah karena dirimu. Kamulah yang membuat ku seperti ini Bella,” ujar Nugi dengan tatap penuh marah dan sedih yang terlihat melebur bersamaan.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Menyingkir dari ku, Nugi,“ pinta Bella tidak ingin berteriak. Karena jika dia melakukan itu, akan memalukan di depan mertua. Tidak mungkin pasangan yang baru saja menikah berteriak layaknya orang bertengkar. Itu menandakan ada yang tidak beres dengan hubungan mereka. Dan paling menakutkan kontrak mereka akan diketahui oleh keluarga Nugi.
“Kamu yang membuat perasaanku kacau.” Nugi tidak memedulikan pengusiran Bella. Dia tetap mencengkeram lengan Bella dengan tetap terus mendorong tubuh itu. Hingga terpaksa Bella mundur karena tidak ingin tubuhnya makin berdekatan dengan pria ini.
Bella berusaha memberontak sambil terus menghindari kedekatan tubuh mereka. Nugi terus saja mendorong langkah Bella hingga berhenti di dekat ranjang.
“Menyingkir Nugi.”
Nugi mendekatkan wajahnya pada daun telinga Bella. “Tidak. Aku tidak mau menyingkir Bella. Aku ingin tidur denganmu malam ini,” bisik Nugi membuat Bella melebarkan mata terkejut dan panik.
Bruk! Setelah itu, Nugi mendorong tubuh Bella hingga terbaring di atas ranjang. Dengan bola matanya berkabut serta napas yang memburu, Nugi memenjarakan tubuh Bella. Kedua tangan pria ini berada di sisi kanan dan kiri.
“Jangan bertingkah aneh, Nugi. Kamu harus tahu ini adalah aku, Bella. Jadi menyingkirlah dan kembali normal,” ujar Bella dengan suara tertahan. Ia marah sekaligus panik dan takut.
“Justru karena kamu Bella, aku bisa bertindak seperti ini,” ucap Nugi parau. Sepertinya alkohol tadi makin membuat gejolak di tubuhnya bangkit.
“Kamu membenciku karena mengusik kehidupan bebas mu, Nugi. Kamu tidak mungkin menginginkan aku. Kamu hanya sedang kalut, jadi tolong menjauh dan bebaskan aku,” mohon Bella. Ia tahu apa yang akan di lakukan pria ini padanya. Nugi pasti akan memaksakan kehendaknya.
"Aku ingin melalui malam ini bersamamu Bella ...," ujar Nugi. Tubuhnya merunduk dan mulai menciumi tubuh Bella.
"Tidak." Perempuan ini terus menerus berusaha untuk berontak dari cengkeraman tangan Nugi, tapi tangan Nugi lebih kuat. Bola mata Bella berkaca-kaca. Lalu perlahan air mata jatuh membasahi pipinya. "Lepaskan aku. Ku mohon ...," lirih Bella di sela isak tangis yang menderanya. Ia terus menerus memohon agar pria ini tidak memuaskan hasrat pada dirinya.
Namun Nugi sudah tidak bisa berpikir waras. Pikirannya sudah terbungkus oleh hawa nafsu. Sampai akhirnya Bella pun tak berdaya. Ia pasrah. Bella memejamkan mata karena tidak mau melihat pria ini memperlakukan dirinya layaknya istri sungguhan di atas ranjang itu. Nugi berhasil melakukannya. Kehormatan yang ia jaga kini direnggut oleh pria ini.
...____...
good job thor 👍