NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Rencana Liar

.........

...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka. ...

...Tidak untuk ditiru....

.........

...Happy Reading...

.........

Malam merayap terlalu lambat di sel nomor 407. Ketika jarum jam dinding di koridor luar yang hanya terlihat separuh dari celah jeruji menunjukkan pukul dua dini hari, dunia seolah-olah telah mati. Suara angin musim dingin yang menghantam dinding luar lapas terdengar seperti lolongan serigala yang kelaparan. Di dalam ruangan sempit itu, hawa dingin terasa semakin menusuk, merayap dari celah-celah ubin semen langsung ke dalam sumsum tulang.

Marysa masih bergeming di posisi yang sama sejak tiga jam lalu. Dia duduk bersandar pada dinding yang lembap, menekuk kedua lututnya dekat ke dada. Di sekelilingnya, lima tahanan lain telah tenggelam dalam mimpi masing-masing. Chae-won mendengkur berat di ranjang atas, sebuah suara monoton yang biasanya membuat orang waras menjadi gila jika mendengarnya terus-menerus.

Namun, fokus Marysa tidak ada di sana. Sepasang matanya yang kelam menatap kosong ke langit-langit sel yang dipenuhi bercak jamur abu-abu. Pikiran-pikiran di kepalanya berputar dengan kecepatan yang menakutkan, bertolak belakang dengan tubuhnya yang tampak sekeras patung batu.

Sore tadi, rasa sesak itu hampir membunuhnya. Dan malam ini, dalam kesunyian yang mencekam, sebuah gagasan gila, liar, dan berbahaya mendadak muncul dan berakar di dalam benaknya.

Aku harus keluar dari tempat ini.

Ide itu datang bukan karena dia takut pada pukulan Chae-won, bukan pula karena dia tidak tahan dengan makanan penjara yang hambar atau kerja paksa yang menguras tenaga. Jiwa Marysa telah ditempa oleh kekerasan yang jauh lebih brutal sejak dia masih mengenakan seragam sekolah. Penjara ini, dengan segala kebuasannya, hanyalah taman bermain kecil jika dibandingkan dengan ruang bawah tanah kediaman klan ayahnya dulu.

Dia ingin keluar karena satu alasan tunggal: Herry.

Selama dia mengira pria itu masih sendiri, mengunci diri dalam tugas dan lencana emasnya, Marysa rela membusuk di sini. Dia rela menjadi piala kemenangan Herry, membiarkan dirinya menjadi batu pijakan agar karier pria itu melesat ke puncak tertinggi. Namun, kenyataan bahwa Herry akan bersanding dengan wanita lain bahwa pria itu akan memberikan sisa hidupnya, senyumannya, dan masa depannya kepada putri seorang pejabat tinggi telah mengubah segalanya.

Marysa tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ego seorang pemimpin mafia yang telah ditekan habis-habisan selama dua minggu ini mendadak bangkit, memberontak dengan kekuatan penuh. Dia mungkin telah merelakan ingatannya dihapus dari kepala Herry, tetapi dia menolak untuk dihapus sepenuhnya dari takdir pria itu. Jika dia tetap berada di dalam sel ini, dia hanya akan menjadi sejarah yang terlupakan. Dia akan menjadi berkas kasus yang berdebu di lemari arsip pusat kepolisian, sementara Herry berjalan menuju altar pernikahan dengan setelan jas yang rapi.

Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang dengan wanita lain, Herry. Tidak setelah apa yang kita lalui, tidak setelah darah yang kutumpahkan untuk menyelamatkan nyawamu, batin Marysa. Matanya yang kosong mendadak berkilat tajam di balik kegelapan. Kilat berbahaya yang dulu selalu membuat musuh-musuh Klan Baekje gemetar ketakutan.

Namun, melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Cheongju bukanlah perkara mudah. Tempat ini dirancang untuk menampung kriminal kelas kakap dengan pengamanan tingkat tinggi.

Marysa mulai memetakan struktur bangunan yang telah dia amati selama dua minggu terakhir ke dalam layar imajinasinya. Pandangannya yang kosong sebenarnya sedang memindai setiap detail memori visual yang dia miliki.

Pertama, dinding pembatas luar. Dinding itu tingginya enam meter, terbuat dari beton bertulang yang dilapisi kawat berduri berarus listrik tegangan tinggi di bagian puncaknya. Di setiap sudut halaman, terdapat menara pengawas yang dijaga oleh sipir bersenjata laras panjang dengan senapan runduk yang siap memuntahkan peluru dalam hitungan detik jika mendeteksi pergerakan asing. Melompat atau memanjat dinding pada malam hari adalah tindakan bunuh diri yang konyol.

Kedua, sistem penguncian. Setiap pintu sel menggunakan sistem penguncian elektronik ganda yang dikendalikan langsung dari ruang kontrol pusat di lantai satu. Kunci manual hanya digunakan sebagai cadangan oleh kepala sipir saat jam patroli tertentu. Untuk bisa membuka pintu sel ini tanpa memicu alarm, dia membutuhkan kartu akses utama atau memicu malfungsi pada sistem sirkuit pusat.

Marysa mengembuskan napas perlahan, meraba sudut bibirnya yang membiru dan terasa kaku. Rasa sakit di rusuknya kembali berdenyut, seolah mengingatkannya bahwa fisiknya saat ini sedang tidak berada dalam kondisi prima. Dia tidak bisa menggunakan cara-cara kekerasan murni. Dia tidak bisa memicu kerusuhan massal karena dia tidak lagi memiliki anak buah di tempat ini yang bisa dia gerakkan sebagai umpan. Dia sendirian.

Satu-satunya celah adalah saat rotasi luar, pikir Marysa, menganalisis dengan dingin.

Setiap hari Selasa, sebuah truk tangki besar dari perusahaan penyedia air bersih distrik masuk ke dalam area halaman belakang lapas untuk mengisi ulang tangki cadangan bawah tanah. Truk itu melewati pintu gerbang sekunder yang dijaga oleh sistem pemindai berat dan pemeriksaan visual manual oleh petugas pos luar. Pemeriksaan di pos luar sering kali longgar di bagian kolong truk jika petugasnya adalah sipir-sipir tua yang malas merunduk di tengah udara musim dingin yang membekukan.

Atau, jalur medis. Marysa tahu bahwa jika seorang tahanan mengalami cedera internal yang cukup parah yang tidak bisa ditangani oleh klinik lapas yang minim peralatan, mereka akan dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa atau Rumah Sakit Umum Cheongju dengan pengawalan minimal dua sipir menggunakan ambulans penjara. Jalur transit dari ambulans menuju ruang gawat darurat adalah titik paling rapuh dari seluruh rantai pengamanan negara.

"Kamu mau mati dengan cara bagaimana, Marysa?" sebuah bisikan sinis dari masa lalu, suara mendiang ayahnya, seolah kembali berdengung di telinganya. "Rencana yang bagus tidak pernah mengandalkan keberuntungan. Rencana yang bagus dibentuk dari eksploitasi kelemahan manusia."

Marysa menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman kecut yang biasa dia gunakan untuk menutupi kegetiran hatinya. Kelemahan manusia di tempat ini adalah rutinitas dan rasa bosan. Para sipir itu telah bekerja bertahun-tahun melihat tahanan yang sama, melakukan hal yang sama, hingga mereka kehilangan kewaspadaan alaminya. dan Mereka menganggap Marysa, Tahanan Baru atau Ratu Mafia telah patah, telah menyerah setelah melihat bagaimana dia membiarkan dirinya dipukuli oleh Chae-won tanpa pernah melawan balik. Mereka mengira sang ratu mafia telah kehilangan taringnya.

Biarkan mereka berpikir begitu, batin Marysa. Dia sengaja membangun reputasi sebagai tahanan yang pasrah justru untuk momen seperti ini. Menjadi tidak terlihat dan dianggap tidak berdaya adalah keuntungan taktis terbesar yang dia miliki saat ini.

Namun, di balik semua perhitungan logis itu, ada bagian dari jiwanya yang terasa sangat hancur. Kenapa dia harus sampai pada titik ini? Kenapa dia harus merencanakan pelarian berbahaya yang bisa saja berakhir dengan sebutir peluru menembus kepalanya, hanya untuk menemui seorang pria yang bahkan tidak mengingat namanya?

Ingatan tentang ibunya kembali merayap masuk, mencoba meredakan ketegangan yang mulai mengeras di dalam otot-otot tubuh Marysa. "Tersenyumlah, Sayang... pikiran menumpuk itu sangat bahaya."

Marysa menelan ludahnya yang terasa pahit. Ibunya benar. Jika dia terus duduk di sudut sel ini, memikirkan Herry yang sedang memasangkan cincin ke jari wanita lain, pikiran itu akan benar-benar membunuhnya sebelum masa hukumannya selesai. Tch! Selesai? Ia dipenjara Seumur Hidup. Kegilaan emosional ini harus diubah menjadi energi kinetik. Rasa sakit ini harus diubah menjadi rencana aksi.

Dia akan kabur.

Jika aku harus menjadi monster dalam hidupmu agar kamu mengingatku, Herry... maka aku akan menjadi monster itu, tekad Marysa bulat.

Dia tidak peduli jika tindakan ini akan membuat Herry semakin membencinya, atau jika pria itu sendiri yang nantinya akan kembali memburunya dengan senjata api di tangan. Baginya, diburu oleh Herry dengan penuh gairah kebencian jauh lebih baik daripada ditatap dengan pandangan asing dan acuh seperti yang dia terima di ruang binatu. Kebencian adalah sebuah emosi yang kuat, itu berarti Herry harus memikirkan dirinya, harus menyebut namanya, dan harus memfokuskan seluruh energinya untuk menangkapnya kembali.

Langkah kaki petugas sipir yang melakukan patroli berkala terdengar mendekat dari ujung koridor. Bunyi ketukan sepatu boots beradu dengan lantai beton, disertai gemerincing gantungan kunci besi yang monoton.

Marysa dengan cepat memejamkan matanya, mengatur ritme napasnya agar terlihat seolah-olah dia telah tertidur pulas seperti tahanan lainnya. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin, menutupi wajahnya dengan beberapa helai rambut hitam yang berantakan.

Lampu senter sipir menembus celah jeruji besi sel nomor 407, cahayanya yang putih terang menyapu ruangan selama beberapa detik, memeriksa posisi setiap tahanan, sebelum akhirnya beralih ke sel berikutnya. Begitu langkah kaki sipir kembali menjauh dan kesunyian kembali menguasai koridor, Marysa membuka matanya kembali.

Pandangannya tidak lagi sekosong sebelumnya. Di dalam kegelapan malam yang pekat, sepasang mata kelam milik ratu mafia itu kini telah dipenuhi oleh rencana yang matang, dingin, dan mematikan.

...

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!