Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani Mengatur Jalan Hidup Renald?
Sepulang dari rumah Diana, Bayu terus melajukan kendaraan roda empatnya dengan cepat. Klakson yang terdengar bertubi-tubi dari segala arah di jalan raya, sama sekali tak ia pedulikan. Ia justru semakin menekan pedal gas mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatan dengan wajah dipenuhi amarah.
Malam ini sebenarnya ia sama sekali tak berniat untuk datang ke undangan makan malam keluarga dari calon tunangannya itu. Namun karena Diana mengatakan bahwa Kinara dan Renald juga turut diundang, oleh karena itulah ia mengiyakan undangan itu.
Tujuannya hanya satu yaitu membuat Kinara menyesal telah memutuskannya. Sejak awal, niatnya memang ingin memanas-manasi Kinara dengan cara bermesra-mesraan dengan Diana di hadapannya.
Ia berharap Kinara akan cemburu. Namun, kenyataannya jauh dari yang ia bayangkan—rencana itu sama sekali tidak berjalan sesuai keinginannya.
Keberadaannya di sana sama sekali tidak dihargai. Semua perhatian hanya tertuju pada Renald, dan itu cukup membuat ia merasa tersisihkan.
“Sialan mereka semua!” Geramnya, meninju setir mobil.
Ia enggan pulang ke rumah. Jika kembali, ia hanya akan menghadapi amarah Papanya yang masih belum reda karena kegagalannya mendapatkan kerjasama dengan Merta Dirga Group. Ia butuh tempat untuk melampiaskan semua kekesalan yang menumpuk di dadanya.
Tak lama, ia sudah tiba di salah satu klub malam langganannya. Dentuman musik keras menyambut, seolah mengaduk-aduk isi kepalanya yang sudah penuh amarah. Tanpa pikir panjang, Bayu langsung memesan minuman dan meneguknya tanpa henti.
Setiap tegukan alkohol justru membuat emosinya semakin bergejolak. Bayangan Renald dan Kinara terus menghantui pikirannya. Ia merasa dipermalukan.
Jika ada orang yang harus disalahkan, pikirnya, itu adalah Kinara.
“Iya, ini semua gara-gara dia. Gara-gara wanita sial itu, aku dipermalukan seperti ini!" Gumamnya, seringaian mulai terbentuk di bibirnya.
Di tengah amarahnya, seorang wanita berpakaian minim menghampiri. “Hai… sendirian aja ya?” Godanya genit.
Bayu menoleh, matanya menatap liar, tubuhnya sudah dipenuhi pengaruh alkohol. Tanpa menjawab, ia langsung menarik tangan wanita itu dan membawanya ke ruangan khusus yang memang tersedia di klub tersebut.
Malam itu, Bayu kembali mengulang kesalahan yang sama. Bedanya, kali ini ia melakukannya dengan penuh kesadaran. Tak ada penyesalan, tak ada keraguan. Hanya pelampiasan nafsu dan amarah yang meledak-ledak.
Dan di dalam kepalanya, satu tekad semakin kuat: ia akan membuat Kinara benar-benar hancur.
•••
Pagi itu, cahaya matahari menelusup lembut melalui celah tirai kamar, membangunkan Kinara dari tidur panjangnya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah pergulatan panjang tadi malam.
Matanya setengah terpejam, sementara nafasnya teratur, menunjukkan betapa ia ingin tetap terlelap. Namun pelukan erat seseorang membuatnya sulit bergerak.
Renald yang sejak tadi malam tidur dengan memeluknya, langsung terjaga begitu merasakan gerakan dari seseorang yang berada dalam pelukannya. Bukannya melepaskan, pelukannya justru semakin erat, seolah tak ingin membiarkan gadis itu pergi meski hanya sebentar.
“Renald, lepaskan… aku mau ke kamar mandi." Ucap Kinara dengan suara serak, mencoba melepaskan diri.
Namun Renald hanya menundukkan wajahnya, menempelkan bibirnya di dekat telinga Kinara, dan berbisik pelan, “Ssstt… diam saja.”
Pelan namun pasti, sentuhan Renald mulai bergerak. Lembut, teratur, dan penuh kendali. Kinara berusaha menepis, tapi tubuhnya justru merespons di luar kendali pikirannya.
Wajahnya memerah, matanya terbelalak penuh kebingungan, tak percaya pada reaksi dirinya sendiri.
Renald tersenyum tipis. “Kamu basah…Mau lagi ya?” Ucapnya menggoda dengan mata masih terpejam.
Kinara menoleh dengan bingung. “Ah... nggak.” Suaranya terdengar panik bercampur malu, membuat Renald semakin gemas.
“Di sini basah,” Renald kembali menyentuh bagian sensitif itu. Tatapannya menajam, bibirnya terangkat penuh kemenangan. “Itu artinya kamu menginginkanku lagi”
“Nggak… itu…” Kinara mencoba mencari alasan, tapi kata-katanya terputus. Pipinya semakin memerah, napasnya tidak beraturan.
Ia mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik selimut namun Renald dengan cepat kini sudah mengambil kendali di atasnya. Ia menatap wanita yang akhir-akhir ini terus bersamanya itu dalam-dalam, berusaha menahan diri untuk tidak sepenuhnya melanjutkan.
Namun justru usaha Kinara melepaskan diri membuat situasi di antara mereka semakin panas. Tubuhnya semakin menggeliat, dan itu membuat Renald kehilangan kendali.
“Ren… aku mohon, jang—” kalimat Kinara terputus ketika bibir Renald kembali menutupnya, mengunci semua kata-kata yang ingin keluar.
Wajah Kinara memerah, matanya sayu, seolah terpedaya oleh hasrat yang perlahan menguasai keduanya. Sesekali Kinara berucap lirih, “jangan…,” namun suaranya lebih terdengar seperti rengekan manja daripada penolakan.
Renald semakin bersemangat. “Jangan apa, sayang? Jangan berhenti?” ucapnya menggoda.
Kinara menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menahan rasa malu yang bercampur dengan kenikmatan yang ia rasakan. Ia kewalahan menghadapi intensitas Renald, namun pria itu tampaknya memang tidak berniat menuntaskan semuanya pagi itu.
Satu jam berlalu, hingga akhirnya Kinara tergeletak lelah, meringkuk seperti kucing kecil tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Wajahnya masih memerah, matanya terpejam, napasnya teratur namun berat.
Renald menatapnya penuh arti. Bibirnya melengkung dalam senyum kecil yang jarang sekali terlihat di wajah dinginnya. Ia meraih selimut dan menutup tubuh Kinara dengan hati-hati, lalu mengecup keningnya lembut.
Jika saja Kinara sadar betapa lembutnya perlakuan kecil itu, mungkin ia akan merasa tersanjung. Dan mungkin, ia akan semakin jatuh dalam pesona pria yang terkenal tegas dan dingin di mata dunia luar, namun menjadi sosok hangat ketika bersamanya.
Tanpa disadari, Renald sudah kehilangan sebagian dari dirinya. Semua sikap keras dan dingin itu luluh ketika ia berada di hadapan Kinara.
Sementara itu di rumah Arbian...
Setelah kejadian makan malam tadi malam, Arbian memilih untuk tidak terlalu memikirkannya lagi. Ucapan dari istrinya semalam terus terngiang di pikirannya.
Siang ini dengan semangat ia mencoba menghubungi Kinara. Jarang sekali dalam hidupnya ia menelepon putrinya itu dan hal itu bisa dihitung dengan jari. Namun karena kali ini ia membutuhkan sesuatu, oleh karena itulah ia mencoba untuk menghubungi Kinara.
Ponsel di nakas Kinara bergetar. Kinara yang masih terlelap mendengarnya samar-samar. Setengah malas, ia membuka mata dan melihat siapa yang menelepon. Wajahnya langsung berubah datar.
Klik. Ia menolak panggilan itu tanpa ragu.
Di seberang, Arbian mendengus marah. “Kurang ajar! Orang tua telepon, malah ditolak!”
Rani yang baru saja datang membawa secangkir kopi menatap suaminya. “Kenapa, Pa?” tanyanya lembut.
Dengan wajah merah padam, Arbian mencomot cangkir itu. “Ini loh anak kurang ajar itu! Papa telpon, malah ditolak mentah-mentah.”
Rani meletakkan tangannya di bahu suaminya, mencoba menenangkan. “Ssstt… sudah, Pa. Nanti sore kita hubungi lagi. Malamnya sekalian saja suruh Kinara datang ke rumah.”
Nada suaranya tenang, namun matanya menyimpan kilatan yang berbeda. Jika di depan Arbian ia tampak seperti ibu yang penuh perhatian pada Kinara, sebenarnya itu hanyalah topeng. Hati kecilnya penuh perhitungan.
“Sekalian kan nanti malam juga ada Diana Pa. Kita omongin keinginan kita sama Diana dan juga Kinara, supaya rencana kita cepat terlaksana.” Ucap Rani.
“Mama juga sebenarnya kasihan sama Kinara, Pa... Dari awal kan Bayu itu punya hubungan sama Kinara. Tapi kenapa malah sukanya sama Diana? Mama nggak tega lihat Kinara diperlakukan begitu.” Rani pura-pura menunduk, bahunya mulai bergetar.
Air mata mengalir, namun jelas terlihat dibuat-buat. Rani pandai memainkan peran, seolah ia benar-benar mengasihani Kinara.
Arbian menatap istrinya penuh iba. “Sudahlah, Ma. Benar kata Mama, nanti malam kita luruskan semuanya. Bayu kita kembalikan ke Kinara, dan Renald… dia harus bersama Diana. Itu lebih baik.”
Ucapannya tegas, seolah ia memiliki kendali penuh atas hidup orang lain.
Jika saja Renald mendengar percakapan itu, mungkin ia akan tertawa sumbang. Siapa mereka, berani-beraninya mengatur jalan hidupnya? Dan belum tentu juga Kinara mau menerima Bayu kembali.