"Aku sudah menyesal dan menyadari kesalahanku. Aku bahkan sudah meminta maaf dan mencoba menebus kesalahanku. Tapi, kenapa seolah-olah karma ini masih terus saja terjadi? Apa memang kesalahanku tidak bisa dimaafkan?"
Renatta meratapi nasibnya yang kini berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu bergelimang harta. Ia harus bekerja mati-matian untuk menghidupi kehidupan keluarganya.
Papanya yang dituduh korupsi, mamanya yang koma di rumah sakit, serta kakaknya yang memiliki kondisi fisik yang lemah. Satu-satunya yang bisa diharapkan hanyalah dirinya yang masih sehat.
Suatu hari, ia bertemu lagi dengan orang yang selalu ia bully di jaman SMA. Wanita itu tampak masih takut padanya meski Renatta sudah berulang kali meminta maaf.
Tak hanya itu, Renatta juga bertemu lagi dengan cinta pertamanya yaitu Regan di tempat kerjanya. Laki-laki itu masih membencinya karena dirinya adalah penyebab utama cita-cita laki-laki itu hancur.
Bagaimanakah kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoyota, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Sama-sama menyedihkan
Setelah sampai di depan rumah Renatta, wanita itu masih belum bangun juga. Regan jadi kesal sendiri. Karena sedari tadi ia sudah coba membangunkan Renatta dengan memanggil-manggil wanita itu dan menggoyangkan bahu Renatta tapi tidak berhasil juga.
"Kebo banget tidurnya. Aih!"
Karena tidak sabar, Regan langsung mencubit hidung Renatta agar wanita itu tak bernapas dan langsung bangun. Benar saja, hal itu berhasil membuat Renatta bangun.
"Kejamnya Bapak. Kalau bangunin orang tuh yang baik dong Pak. Kalau tiba-tiba saya mati gimana Pak? Bapak loh yang akan jadi tersangkanya? Emang mau?"
"Makanya kalau tidur jangan kaya orang mati!"
"Namanya juga cape sama lelah Pak. Terima kasih sudah mengantar. Hati-hati di jalan Pak."
Renatta pun keluar dari mobil Regan sambil terus memegang hidungnya yang sedikit memerah karena ulah Regan.
Regan kemudian melajukan mobilnya dengan cepat menjauh dari sana.
"Dasar! Laki-laki berdarah dingin! Giliran sama Amanda aja lembut! Sama aku kaya ibu tiri."
Ketika melihat ke arah rumah, Renatta tampak terheran-heran karena lampunya tidak ada yang menyala. Renatta membuka pintunya tapi rupanya terkunci. Ia pun mengambil kunci yang biasanya kakaknya taruh di bawah pot bunga.
"Kakak pergi kemana sih? Kenapa nggak bilang-bilang?"
Renatta membuka pintu rumahnya dengan kunci, kemudian menyalakan semua lampu yang ada di dalam maupun luar rumah. Tapi ketika melihat ke meja makan, Renatta melihat sup ayam dan perkedel kentang yang sudah tersaji di atas meja.
Pas sekali, Renatta yang sudah merasa lelah ini seketika jadi lapar ketika melihat makanan yang dibuatkan oleh kakaknya. Ia pun mengambil mangkok dan sendok lalu mengambil sup dan perkedelnya.
"Euughhhh."
Renatta bersendawa karena saking kenyangnya. Karena sudah bertenaga lagi, ia pun mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Rupanya terdapat pesan dari kakaknya yang berpamitan padanya lewat pesan.
"Kirain, kakak pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Rupanya aku saja yang nggak sadar karena tadi tidur."
*
*
Keesokan harinya, Renatta keluar dari rumah pagi-pagi sekali. Ia berlari kecil sampai ke taman kota. Disana sudah berkumpul banyak orang yang sedang olahraga pagi juga sepertinya. Ada yang menggunakan sepeda, ada yang jalan kaki, dan ada juga yang menggunakan skateboard.
Matanya tiba-tiba menyipit ketika melihat bayangan orang yang dikenalinya. Tak jauh darinya, ada Amanda dan Devan yang sedang berdiri bersampingan dengan outfit pakaian olahraga.
"Kenapa harus ada mereka sih? Aku kan masih belum bisa melihat mereka. Aku masih harus mengatur hatiku supaya tidak menangis tiba-tiba. Tapi, kalau pergi sekarang, nggak mau juga."
Renatta memilih untuk bersembunyi di belakang orang-orang yang berlari. Ia bahkan menggunakan handuk kecilnya untuk menutupi wajahnya.
"Jangan lihat, tolong jangan lihat," gumam Renatta.
Tubuh mereka berdekatan kurang lebih 1 meter. Untungnya, Renatta tak terlihat ketika ada yang berlari di sebelahnya. Renatta bernapas lega lalu setelahnya berlari dengan kencang sampai ke ujung taman.
Napasnya tersengal karena saking kencangnya berlari. Ia pun membungkukkan badannya dan memijat lututnya. Setelah merasa lebih baik, Renatta meluruskan kakinya dan menyandarkan kepalanya ke dahan pohon.
Matanya kembali melihat ke area sekitar. Ia bernapas lega ketika tak melihat Devan dan Amanda lagi.
"Slamet, slamet."
"Slamet dari siapa?"
"Astaga! Mengangetkan saja!" ucap Renatta yang terkejut ketika mendengar seseorang tiba-tiba berbicara padanya. Ketika ia mendongak, rupanya orang itu adalah Regan dengan mengenakan pakaian olahraga.
"Bapak ngapain disini?" tanya Renatta dengan polosnya. Padahal seharusnya wanita itu tahu apa yang dilakukan oleh Regan.
"Kamu itu bodoh apa b*go? Jelas-jelas aku pakai baju olahraga. Kamu pasti sudah tahu aku sedang apa disini!"
Renatta mengerucutkan bibirnya.
"Iya saya emang bodoh. Puas Bapak?"
Regan diam tanpa kata dan malah duduk di sebelahnya.
"Ngapain Bapak dekat-dekat saya? Hati-hati nanti jatuh cinta Pak?"
"Mana mungkin, kamu bukan tipeku. Tipeku itu seperti .... "
"Seperti Amanda yang baik, lemah lembut dan cantik. Bapak mau bilang itu kan? Saya tahu Pak. Tadi cuma becanda aja," potong Renatta.
Regan tampak menghela napasnya. Renatta terus memperhatikan Regan. Dugaannya sih, Regan tadi melihat kebersamaan Devan dan Amanda.
"Jangan-jangan tadi Bapak melihat Amanda dan Devan ya?"
Regan terdiam.
"Karena Bapak diam, sepertinya iya. Tadi saya juga melihat mereka. Untungnya, mereka tidak lihat saya. Karena kalau sampai lihat, saya nggak tahu harus apa."
"Aku tadi sempat disapa oleh Amanda. Lalu mengobrol sebentar dan pergi."
"Terus gimana perasaan Bapak sekarang?"
"Sakit lah bodoh! Melihat orang yang kita cintai tersenyum bahagia bersama orang lain! Bulshit! Yang katanya bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Aku malah semakin sakit. Apalagi Amanda bilang pernikahan mereka akan diadakan sebulan lagi."
Bukan Regan saja yang sakit, Renatta juga merasakan sakit di dadanya. Itu artinya ia harus benar-benar jaga jarak dengan Devan. Padahal Devan lah satu-satunya orang yang dipercayainya dan selalu ada di dekatnya.
"Kita senasib ya Pak. Sama-sama tidak bisa mendapatkan orang yang kita cintai. Menyedihkan!" ucap Renatta.
"Senasib apanya? Beda! Meski dicampakkan aku masih kaya dan masih bisa berkomunikasi dengan Amanda karena keluargaku dan keluarga Amanda sudah saling mengenal. Beda dengan kamu, kamu pasti akan langsung dihempaskan ke jurang."
"Bapak kalau ngomong emang suka bener. Ternyata saya lebih menyedihkan. Bahkan selalu menyedihkan."
Renatta tersenyum kecut setelah mengucapkan kata terakhirnya. Menyedihkan, memang paling cocok dengannya. Ia merasa karma dari masa lalunya masih terus mengikutinya. Sehingga ia tak pernah bisa mendapatkan hal baik dan keberuntungan. Selama ini ia selalu beruntung karena punya sahabat baik, tapi ketika sahabat baiknya menikah. Ia punya siapa?
"Saya pergi Pak. Selamat menikmati hari ini. Semoga hari menyedihkan Bapak cepat berlalu. Begitu juga dengan saya."
Renatta bangun dari duduknya dan berjalan pelan, menjauh dari Regan.
Regan tampak terus memperhatikan Renatta yang punggungnya terlihat semakin jauh. Ucapan Ozy kala itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Apa hatimu tak sedikit pun tergerak untuk menyudahi kebencianmu?
Regan sadar, selama ia dan Renatta bekerja sebagai atasan dan bawahan. Renatta selalu melakukan apapun yang ia minta dengan baik. Meski mulutnya cerewet. Tapi rasanya, sangat sulit untuk menghilangkan kebencian itu. Sampai saat ini pun, ia masih suka bermimpi menjadi jaksa. Yang seharusnya tak boleh lagi diimpikannya. Karena kesempatan yang diberikan Daddy sudah sirna.
"Haih! Kenapa dengan pikiranku! Jangan lengah! Jangan mudah tertipu! Tetap jadi Regan yang biasanya!"
Regan lalu berdiri dari duduknya dan berjalan pergi dari taman kota. Ia berjalan Samapi menuju ke tempat dimana mobilnya diparkirkan. Regan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
*
*
TBC