Perempuan mana yang tidak bahagia mempunyai suami baik, mapan, dan kaya raya? Itulah yang yang dirasakan Namira di hari pertama pernikahannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Namun, fakta mengejutkan membuat Namira harus mengubur jauh-jauh harapan itu.
Jatah Mantan!
Itulah trend masa kini, dimana Namira harus memberikan jatah kepada mantan untuk menutupi aibnya di masa lalu, dan tepat di malam pertama, Namira baru mengetahui kalau kesalahan bodohnya menghasilkan setitik nyawa di dalam perut.
Bagaimanakah reaksi suami Namira saat mengetahui hal itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Asing
Sesampainya di rumah, keduanya kembali menjadi orang asing yang tak mau saling tegur sapa. Dengan acuh tak acuh Saga masuk ke kamar setelah menenggak segelas air dingin, dan Namira juga melakukan hal yang sama tanpa melakukan protes apa-apa.
Rumah itu dipenuhi kesunyian karena penghuninya tenggelam dalam pikiran masing-masih.
Di dalam kamar Namira duduk di depan meja rias. Dia menatap wajahnya yang terpampang di depan kaca.
Lihatlah sekarang hasil dari perbuatanmu, Namira. Kau benar-benar wanita paling bodoh sedunia. Apa yang kau lakukan selalu salah dan hanya akan menimbulkan masalah, batin Namira. Menyesal pun kalau sudah begini tidak ada gunanya lagi.
Sekarang dia mulai berpikir apakah keputusannya untuk kabur benar? Sedangkan semua yang Namira lakukan saja selalu berakhir dengan keruhnya keadaan.
Menarik napas pelan, ia lalu membuka laci lalu mengambil apa yang ada di dalamnya.
Perempuan itu beralih memandangi uang lima juta yang ada di tangan. Uang segitu jelas tidak cukup dipakai untuk kabur, tapi kalau Namira tidak segera bertindak, bisa jadi Ivan semakin bergerak cepat menghancurkan hidupnya. Apalagi Ivan selalu curiga tentang bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Uang lima juta ini mungkin hanya cukup untuk ongkos di jalan. Terus gimana caranya aku membersarkan bayi ini kalau tidak ada uang sama sekali?" gumam Namira.
Sejenak dia melirik bobol cairan obat nyamuk yang ada di sudut ruangan. Ia pun mulai memperhatikan benda tersebut.
"Apakah aku ....?"
Bicara Namira terhenti. Pikiran wanita itu mulai kotor dan buntu.
"Astaga!"
Buru-buru Namira menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak boleh egois. Kalau aku mati bagaimana dengan bayi ini?" pekik Namira.
Mungkin Andai tidak ada bayi di perut Namira ia akan mengakhiri hidupnya saat ini juga. Tapi bayi itu hadir karena ingin hidup. Namira tidak boleh egois dan melenyapkan harapan setitik nyawa yang belum tahu apa-apa itu.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu sangat menderita, itu sebabnya pikiran Ibu menjadi buntu," ucap Namira sambil mengelus perut datarnya.
"Mulai sekarang Ibu janji akan membesarkanmu dengan cara apa pun. Mari kita mulai hidup baru. Lupakan tentang ayahmu yang jahat itu, Ibu juga akan berusaha melupakan Mas Saga yang tidak bisa Ibu miliki," ucapnya lagi.
*
*
*
Tak terasa pagi kembali menyapa. Saga berjalan menuju kamar mandi. Dia menguap. Langkahnya sedikit gontai karena nyawanya belum kumpul semua.
Dug!
"Awkk!" Dua bola mata Saga membeliak sempurna saat kepalanya tak sengaja mencium pinggiran pintu kamar mandi.
"Sialan!" maki Saga kesal.
Gara-gara semalam dia sibuk mencari tahu soal Ivan, saga jadi tidak bisa tidur sama sekali.
Semalaman penuh Saga berusaha mencari tahu soal teman-teman perempuan Ivan. Tapi sayangnya Saga tak menemukan apa-apa di sana.
Ivan sepertinya tidak terlalu suka mengumbar hubungannya dengan perempuan. Itu sebabnya Ivan hanya mau mengunggah kegiatan pribadinya saja di media sosial. Sama sekali tidak ada satu pun foto Ivan dengan teman perempuan yang Saga dapatkan.
Setelah mandi dan berganti pakaian Saga keluar.
Glek ....
Lagi-lagi ia dibuat tidak nyaman saat melihat aneka sarapan menggiurkan yang ada di meja makan.
"Ayo makan, Mas," ajak Namira.
Saga hanya mampu menelan ludah tanpa menjawab. Dia berjalan menuju kulkas. Diambilnya satu gelas susu lalu ia minum hingga tandas.
"Aku sudah buru-buru, kau makan sendiri saja," ucap Saga saat melihat Namira sudah duduk manis di meja makan.
"Kalau begitu aku masukan kotak bekal bagaimana?"
"Tidak usah repot-repot. Di kantor juga banyak makanan," balas Saga ketus. Tapi Namira tetap kekeh ingin membawakan bekal untuk Saga.
"Tidak, Mas. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Tunggu sebentar ya, Mas. Please ...."
Namira langsung bergerak cepat. Ia masukan semua menu yang ada ke dalam kotak bekal berbentuk bento. Saga yang melihat itu hanya diam, tapi dalam hati ada sedikit rasa senang.
Soal makanan Namira memang juaranya. Saga bahkan nyaris tak pernah kecewa jika makan makanan buatan Namira.
"Ini, Mas!" Namira menyodorkan sekotak bekal yang sudah siap.
"Terima kasih!" Tanpa bass-basi lagi Saga berbalik badan menuju arah keluar.
"Mas."
Panggilan Namira membuat Saga menoleh. Sejenak perempuan itu melempar tatapan ragu tanpa mengucapkan apa-apa.
"Ada apa?" tanya Saga agak berseru.
"Emmm." Namira masih sedikit ragu. "Anu, Mas ...."
"Apa?" tandas Saga.
Jari jemari Namira saling bertaut dan mengeluarkan cairan keringat. Ia remaas kuat-kuat roknya di bawah sana.
"Aku butuh uang untuk membeli barang pribadiku yang kebetulan ingin kubeli, bolehkah aku mengambil beberapa uang di kartumu?"
"Memangnya kau butuh berapa?"
"Sekitar sepuluh juta, Mas. Niatnya aku mau pakai belanja kebutuhanku. Apakah boleh?"
"Hmm. kukira kau mau bicara apa. Ambil saja sebanyak yang kau butuhkan. Tidak usah pakai acara lapor-lapor karena dua kartu yang kuberikan itu sudah jadi milikmu" ucap Saga kemudian berlalu ke luar. Mendengar itu Namira menarik napas lega. Tak lama kemudian ia segera pergi ke bank untuk menarik uang itu secara kes.
Sepulangnya dari Bank, Namira dikejutkan oleh sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu rumah. Awalnya Namira tak menyadari siapa laki-laki itu. Namun semakin dekat Namira terkejut saat mengetahui laki-laki itu adalah Ivan.
"Ivan, apa yang kau lakukan di sini?" pekik Namira dari arah belakang. Lelaki itu pun menoleh sambil tersenyum miring.
"Aku mau main. Memang tidak boleh?"
"Mas Saga tidak ada di rumah. Kalau mau bertemu langsung ke kantornya saja."
"Siapa yang mau ketemu Mas Saga, orang aku mau bertemu kamu!"
"Ivan!"
Namira mendesahkan napas berat. Ia benar-benar terkena tekanan batin karena ulah Ivan yang semakin jadi.
"Tidak usah memasang wajah takut begitu, Namira. Aku manusia bukan buaya." Ivan mendekat dan membuat Namira memundurkan langkahnya.
"Mulai sekarang aku akan terus datang ke sini sampai kau jujur siapa ayah bayi itu. Jadi bersiaplah dan terima kedatanganku setiap hari di rumah ini."
Namira tak menjawab, tapi Ivan bisa melihat raut ketakutan yang menghiasi wajah perempuan itu.
"Aku tidak main-main Namira. Pokoknya aku akan terus datang meskipun tidak ada Kak Saga. Apa kau masih belum mau menyerah? Kau tidak mau jujur?" ancam Ivan lagi.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, batin Namira dalam diamnya. Akhirnya Namira terpaksa jujur. Toh sebentar lagi ia akan kabur jauh, pikirnya.
"Ya, ini adalah bayimu. Apa kau puas? Apa kau bisa pergi dari sini sekarang juga?" tanya Namira, angkuh.
Ivan sontak membeliak. Sekujur tubuhnya berdenyut meski sebelumnya ia sudah menebak demikian.
"Aku sudah jujur Ivan, sebaiknya kau tepati janjimu! Sana pergi dan jangan datang menemuiku lagi." Namira bergerak maju menuju pintu. Ia bukan pintu itu, dan ...
"Arghhhh!" Namira menjerit kuat-kuat saat Ivan menerobos masuk sambil menarik satu tangannya.
"Dasar gila! Apa yang kau lakukan Ivan?"