renata setiap hari menjalani kehidupan asrama yang biasa biasa saja sampai suatu saat bertemu seseorang yang mengubah kehidupannya jadi indah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Karyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Beberapa hari berlalu Rianty datang ke rumah Vino dan bersikap biasa-biasa saja.
Ia sedang duduk bersama Intan Mamanya Vino.
"Rianty pertunangan kalian bentar lagi, apa sudah ada cincinnya?" tanya Intan
"Belum, Vino belum ngajak beli cincin," kata Rianty
"Biar nanti tante suruh," kata Intan
Rianty mengangguk
"Yang sabar ya, perlahan sikap Vino akan berubah, sebenarnya dia baik kok cuma sikapnya agak dingin pada siapa pun jadi kamu harus mengerti dan belajar dari sekarang," kata Intan yang tau jika anaknya pasti bersikap cuek pada calon menantunya ini.
"Iya tante, Rianty ngerti kok kan kami dijodohkan sudah pasti butuh proses untuk saling suka," Rianty tersenyum sedikit.
"Tante bahagia akan memiliki kamu sebagai menantu tante," Ucap Intan senang
"Rianty juga bahagia," Rianty memegang tangan Intn, Ia tidak bisa melepaskan calon mertua sebaik ini.
Vino pulang kerja dan langsung masuk ke rumah, Ia melihat Rianty dan Intan sedang ngobrol, Ia melewati mereka dengan dingin
"Vino, Rianty sudah lama nunggu kamu, duduk dulu," ucap Intan saat melihat Vino nyelonong melewati mereka.
"Aku capek mau mandi dan langsung istirahat, kalian ngobrol saja, maaf ya Rianty," ucap Vino
"Iya gak apa-apa," Rianty sedikit sedih saat menatal Vino yang berjalan pergi.
Vino naik keatas dan masuk ke kamarnya, Ia melihat foto waktu di sekolah, saat Ia menyamar.
Aku tidak bisa tidak memikirkanmu batinnya
*
Di asrama
"Sejak kembali loe terlihat murung, ada masalah apa?" tanya Ajeng khawatir saat melihat wajah murung Renata.
"Gue hanya gak enak badan," Renata bicara pelan, suaranya terdengar lelah.
"Istirahat lah, supaya wajah loe gak pucat lagi," kata Ajeng
Renata langsung menitikkan air mata membuat Ajeng kaget.
"Re loe kenapa? ayo cerita sama gue," paksa Ajeng
"Ajeng gue gak sanggup," ucapnya sedih
"Ada apa, cerita lah gue siap dengerin loe kok," ucap Ajeng
"Gue gak sanggup jika orang yang gue suka harus jadi ipar gue," air mata Renata perlahan menetes
"Maksud loe Pandu?" tanya Ajeng bingung
Renata mengangguk, "Gue baru tau kalau orang yang dijodohkan dengan kakak gue adalah Vino Pandu Winata, gue beneran gak sanggup jeng," isak Renata
"Bagaiman bisa? apa loe gak ngasih tau kakak loe tentang Pandu?" tanya Ajeng
"Gue gak bisa, kakak menyukainya sejak dulu, gue gak bisa menghancurkan hati kakak," kata Renata
"Tapi cepat atau lambat kakak loe juga akan tau," Ajeng memegang pundak Renata
"Kak Rianty akan terluka kalau tau ini semua, dia akan membenci gue, gue juga gak mau ngeliat kakak sedih, gue gak punya mami sejak kecil dan cuma kakak yang jadi pengganti mami," kata Renata yang semakin terisak
Ajeng memeluk Renata yang masih menangis.
"Loe harus sabar," hanya itu yang bisa Ajeng ucapkan untuk saat ini.
"Kenapa semua ini harus terjadi dalam hidup gue, seharusnya gue gak mengenal Pandu," Renata menghapus air matanya tapi tetap air matanya kembali jatuh.
"Jangan ditahan, nangis saja sepuasnya," Ajeng menepuk punggung Renata
*
Rianty dan Vino pergi mencari cincin ditemani Intan, sebenarnya Vino terpaksa tapi karena Mamanya memaksa jadi Ia ikut.
Vino duduk di sofa menunggu Rianty dan Intan memilih cincin. Ia bersikap santai dan tidak peduli.
"Vino bagaimana yang ini?" tanya Mamanya
Vino hanya melihat sekilas
"Terserah kalian," ucap Vino tanpa ekspresi
Rianty menatap ke arah Vino yang terlihat mulai bosan.
"Rianty yang ini saja ya, gimana?" tanya Intan
"Terserah Tante saja, pilihan Tante pasti bagus," ucap Rianty.
Setelah menentukan pilihan, Vino langsung membayar semuanya, mereka pun berlalu pergi.
*
Di sekolah
"Renata..." panggil Yuda
"Kenapa?" tanya Renata saat melihat Yuda mengejarnya.
"Lihat nilai kita," ucap Yuda sambil menunjukkan hasil mereka.
"Loe pantas mendapatkannya, nilai kita kan memang sering beda tipis," ucap Renata saat melihat nilai Yuda lebih tinggi.
"Tapi biasanya nilai loe lebih tinggi," kata Yuda
"Bumi itu berputar, gak selamanya gue di atas," ucap Renata sambil tersenyum
Ajeng dan Iyan hanya menatap ke arah Renata yang senyum terpaksa.
Boy baru datang dan langsung mendekat.
"Nanti sore kita jalan-jalan mau gak?" tanya Boy pada semuanya.
"Ah iya kita sudah lama gak keluar bareng," ucap Renata yang memang saat ini butuh jalan-jalan.
"Iya kita harus cari hiburan biar otak gak buntu," tambah Iyan
"Cuma otak loe yang buntu, kita-kita enggak," canda Edo
Semua tertawa termasuk Renata.
"Enak aja," kata Iyan gak terima
*
Sore hari, mereka jalan keluar. Boy dan Iyan bertengkar saat beli kaos.
"Lepaskan gak," ucap Boy sambil menarik kaos yang dipegang Iyan.
"Gue duluan yang pegang ini" ucap Iyan menariknya lagi.
"Loe mau gue pukul?" tanya Boy mulai mengepalkan tangannya.
"Ayo kalau berani," ucap Iyan yang juga mau menonjok.
"Lepaskan," kata Boy melotot
Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat mereka.
"Ini kan banyak yang lain," ucap Ajeng
"Tapi gue mau yang ini," ucap Iyan
Renata hanya diam melamun.
"Re..." panggil Yuda
"Ah iya kenapa?" ucap Renata tersadar
"Makanan ini enak lo, cobain ini," ucap Yuda
"Ah iya sini gue coba," kata Renata
Yuda langsung menyuapinya, Renata memakannya langsung
"Iya enak. Edo, Ajeng kalian mau coba?" tanya Renata
"Boleh," kata Ajeng
Ajeng dan Edo meninggalkan Boy dan Iyan yang masih memperebutkan kaos.
Penjual memarahi mereka, akhirnya Iyan mengalah.
"Yang waras ngalah" ucap Iyan
Boy hanya tersenyum puas karena Ia yang mendapatkan kaos itu.
Mereka jalan ke kebun binatang dan mengambil banyak foto.
"Dulu kita gak berteman lo tapi sekarang kita jadi teman baik," ucap Ajeng
"Iya, oh ya gue kangen banget sama Karina, walau apapun yang terjadi kami bersama sudah lama, suka duka selalu dihadapi bersama" ucap Renata sedih saat ingat Karina yang sudah dianggap saudara.
"Besok kita melihatnya gimana?" tanya Yuda
Renata mengangguk.
"Ayo foto bersama," ucap Boy sambil menarik Renata.
Mereka mengambil banyak foto bersama
Mampir thor nyimak..
padahal Vino dan Pandu orang yg sama, ih seru.
yg saya penasaran, apa motif Pandu nyamar dan sekolah coba?
perhatikan perbedaan waktunya ya.