Mengisahkan seorang perempuan yang bernama Alea, dengan pekerjaan sebagai seorang tukang parkir. Alea, tomboy dan pemberani serta tukang rusuh, seperti layaknya lelaki. Tiba-tiba menyukai Aliando yang seorang kondektur Bus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. ALBY DAN ALEA MAKAN BERDUA.
Tidak lama kemudian. Alby sudah berada di halaman belakang. Menemui Alea yang tengah menikmati secangkir kopi, dan khayalan setinggi langit dan selebar daun kelor.
"Al," sapa Alby pada Alea. Sontak Alea pun menoleh saat dirinya merasa dipanggil.
"Tumben lo pagi-pagi udah ke sini?" tanya Alea karena selama ini Alby main ke rumahnya, itu pun siang atau sore.
"Gak papa, cuma pengen main doang kok." Jawab Alby dengan bibir yang tersungging. Hingga menampakkan deretan gigi putih nya itu.
"Kita cari sarapan di luar yuk. Mumpung gue lagi baik hati," ajak Alby pada Alea. Sedetik kemudian, Alea masih memikirkan ajakan Alby.
Lama berpikir hingga akhirnya Alea pun mengangguk.
"Mau ngajakin gue sarapan pakai apa?" Alea pun mendongak menatap sekilas wajah Alby.
"Itu semua terserah elo," kata Alby yang pasrah jika Alea mengajaknya makan, di warung padang.
"Padang, ya."
"Tuh kan, apa gue bilang. Pasti padang," gumam Alby dalam hati karena ia tahu makanan favorit Alea, adalah nasi padang dengan lauk ampela.
"Boleh, yuk." Lalu Alby pun segera mengajak Alea untuk segera berangkat, sebelum jam parkir akan dibuka.
Sesampainya di warung.
Alby dan Alea sudah memesan nasi beserta minumnya. Tidak berapa lama pesanan datang keduanya. Masih menikmati sarapannya itu, sedangkan Alby. Dengan sesekali mencuri pandangan pada Alea.
Merasa dirinya dipandang. Membuat Alea langsung mengangkat kedua matanya, guna memastikan jika ia sedang tidak salah pengertian.
“Kenapa tatapannya seperti itu?” dalam hati, Alea bertanya-tanya akan Alby yang sedari tadi, tidak berhenti untuk memandangnya.
Ekhem.
Hem … Ekhem.
Alea berpura-pura tenggorokannya tidak enak, agar Alby tidak lagi memandangnya. Benar saja kalau Alby tak lagi menatapnya.
“Al, andaikata aku punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku. Mungkin sekarang sudah aku katakan, namun aku hanyalah seorang pecundang yang tidak berani, mengungkapkan perasaanku.” Dalam hati Alby hanya merutuki kebodohannya, karena merasa jika dirinya hanyalah seorang laki-laki pengecut.
“by, ini dalam rangka acara apa ya. Kok elo traktir gue?” untuk menghilangkan keheningan Alea bertanya agar tidak merasa kaku.
“Tidak ada, hanya saja kemarin gue berhasil menjual mobil. Makanya dapat bonus,” ujar Alby pada Alea.
“Maaf Al, terpaksa gue bohongin elo.” Alby berkata dalam hati.
“Wah … Makin banyak duit dong elo?” dengan diiringi sebuah tawa. Alea berkata, dengan sesekali tangannya dihisap karena merasa sayang, jika bumbu dari makanan itu tidak dibersihkan.
“Elo jorok deh Al, kayak orang kaga makan saja.” Alby mendengus karena tingkah Alea yang sangat menggelikan.
“Sayang kalau harus dicuci, makanya gue jilatin.” Jawab Alea yang tidak merasa malu, dan terkesan bar-bar. Itu karena ia makan dengan menggunakan tangan, tidak dengan sendok.
“Tuh dilihatin orang-orang. Memangnya kamu gak malu apa,” oceh Alby dan Alea sama sekali tidak peduli akan hal itu.
“Bodo amat,” timpal Alea dengan melanjutkan makannya kembali.
Alby hanya bisa menghela nafas, karena Alea memang tipe orang yang tidak suka dengan orang yang, yang suka mengurusi hidup orang lain.
Heiiik.
Melihat Alea yang sandekala, membuat Alby tertawa. Melihat tingkah Alea yang rusuh, membuatnya sedikit terhibur.
“Lo gak nambah lagi?” Alby bertanya pada Alea, siapa tahu wanita yang berada di depannya itu. Masih menginginkan nasi padang lagi.
“Memangnya perut gue karung beras apa!” sungut Alea menatap kesal ke arah Alby.
“Iya kali, kalau elo mau nambah.” Jawab Alby lalu tersenyum pada Alea karena, dengan melihat wajah gadis itu. Membuatnya semakin jatuh hati saja.
“Kita langsung ke pasar, ya.” Alby pun lantas mengajak Alea untuk sekalian berangkat bekerja.
“Terserah lo aja dah,” jawab Alea yang pasrah. Perutnya yang kenyang, membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
...----------------...
Sedangkan ditempat lain. Tepatnya di rumah Ali.
“Ando, kamu itu bukannya sarapan, malah ngelamun?” tanya sang ayah pada saat melihat Ali yang sedang melamun.
“Iya, kamu kenapa?” mama nya juga ikut menimpali karena sedari kepulangannya. Ali terus diam dan lebih banyak merenung.
“Gak papa kok, Ma, Pa. Ando cuma teringat sama teman, makannya ngelamun.” Jawab Ali pada kedua orang tuanya.
“Kirain mau ngelamunin pacar, oh ya. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Lula?” mendengar sang mama bertanya soal mantannya itu. Ingatannya kembali pada sosok Alea yang dengan berani. Melawan selingkuhan Lula, demi membelanya.
Kedua orang tua Ali yang melihatnya tersenyum. Membuat mereka saling pandang.
“Mas, apa anak kamu sedang kesurupan?” tanya mama nya Ali pada sang suam.
“Mana mungkin, pagi-pagi ada demit.”
“Kalian sangat berisik. Ingat, Ando masih waras dan sedang tidak kesurupan.” Ali pun menjelaskan jika dirinya sedang baik-baik saja.
“Lantas kenapa kamu senyum-senyum begitu, mirip orang sinting saja.” Mama nya Ali pun mendengus karena merasa jika Ali benar-benar berbeda, dari yang dulu-dulu. Saat belum meninggalkan rumah.
“Ando, kalau kamu pengen guling-guling sambil tersenyum. Entar ya di kamar. Sekarang lebih baik kita sarapan dulu karena Ayah sudah lapar,” ucap ayahnya Ali yang meminta agar semua diam, dan fokus untuk mengisi perut sementara.
Akhirnya, mereka bertiga makan dengan sangat hikmat. Ali merasa sangat beruntung, setelah kepergiannya yang sudah dua bulan lebih, membawanya kepada keluarga yang lebih hangat. Dibanding dulu, sebelum ia kabur untuk menari jadi diri yang sesungguhnya.
Usai makan. Ali langsung pergi ke kamar. Masih memikirkan ajakan dari ayahnya untuk gabung dengan usaha yang sudah dikelola oleh orang tuanya. Namun, dibalik itu. Tiba-tiba bayangan Alea datang bak hantu yang terus menghantuinya.
“Kenapa jadi gue mikirin, Al sih.” Ali mengacak rambutnya dengan kasar, karena wajah Alea yang polos. Namun, masih terlihat ayu walau tanpa makeup. Terus terlintas di pikirannya.
“Apa gue suka Al, sepertinya tidak mungkin.” Ali masih menyangkal akan perasaannya pada Alea, dan sekarang sudah lebih dari seminggu ia tidak bertemu dengannya, dan itu membuat Ali merasa ada yang aneh.
Sedangkan di bawah, bu Nilam. Selaku mama dari Ali. Menaiki tangga satu persatu untuk bisa mencapai kamar Ali.
“Huff … Capek juga lama gak naik tangga, punggungku terasa remuk.” Bu Nilam mengeluh punggungnya sakit, karena semenjak Ali pergi dan selama itu juga. belau tidak pernah naik ke lantai atas.
Sesampainya di depan pintu kamar Ali. Bu Nilam pun mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ando, buka dong pintunya."
Tok.
Tok.
Tok.
Setelah cukup lama bu Nilam mengetuk dan menjadi penunggu pintu. Akhirnya sang empu keluar juga.
Ceklek.
"Ma, ada apa?"
"Mama mau keluar tolong antarin dong."