~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Broto
"Hera! Ayo pulang sekarang!" Sebuah panggilan seketika menarik perhatian Sundari dan juga Hera.
Seorang lelaki paruh baya berjalan mendekati kedua nya. Lelaki itu berpenampilan necis. Ia memakai kaos lekbong dan celana kulot sepanjang lutut. Beragam cincin batu serta kalung kuningan tersemat mentereng di jemari dan juga leher nya.
Paras lelaki itu sekilas tampak sangar. Namun setelah mata sang lelaki menetap di wajah Sundari, sebuah senyuman pun terbit di wajah nya yang sangar itu.
"Sundari.. maafkan adik abang ya.. Hera memang masih seperti anak kecil. Enggak seperti kamu yang anggun dan juga manis.."
Lelaki itu adalah Pak Broto. Kakak kandung dari Hera.
Sundari merasa tak nyaman, manakala kedua mata nya beradu tatap dengan mata Pak Broto. Ia selalu memiliki dugaan kalau Pak Broto menyukai nya. Tapi, jikalau pun benar begitu, Sundari memilih untuk menghindar saja dari lelaki itu.
Bukan semata karena Sundari juga sudah menikah. Melainkan juga karena Pak Broto sendiri sudah memiliki tiga orang istri yang dinikahi nya secara sirri. Dan ke semua istri nya itu berusia di bawah dua puluh tahun! Begitu belia!
Sundari tak ingin mengundang perhatian lelaki hidung belang tersebut. Karena nya, ia tak menyahuti pujian dari Pak Broto.
"Kakak?! Ngapain kakak minta maaf ke wanita ini?! Dia itu yang seharusnya minta maaf ke aku, Kak! Gimana sih?!" Protes Hera tak menerima sikap Broto tadi.
"Hera! Jangan buat Kakak malu! Ayo kita pulang sekarang!" Ajak Broto kemudian, sambil menarik paksa tangan adik semata wayang nya itu.
Pada akhirnya, bencana keributan di pagi itu pun bisa dihindari juga oleh Sundari. Sundari langsung menghela napas lega.
"Hh.. syukurlah Pak Broto datang. Kalau tidak, sudah pasti aku akan kembali duel dengan adik nya itu!" Gumam Sundari memandang kepergian pasangan adik dan kakak itu yang terlihat dramatis.
Dari kejauhan, Sundari masih bisa melihat kalau Hera berusaha melepaskan cengkeraman tangan Pak Broto pada lengan nya.
"Iishh! Buat apa coba lihatin dia lama-lama?! Bawaan nya bikin emosi aja! Astaghfirullahal 'azhiim.." buru-buru Sundari kembali melafalkan istighfar.
***
Sementara itu kita simak perdebatan yang terjadi antara Pak Broto dan juga adik nya, Hera di rumah.
Broto benar-benar menarik paksa Hera hingga adik nya itu sudah masuk ke dalam rumah. Setelah nya, Broto bergegas mengunci pintu dan menegur adik nya itu kembali.
"Duduk!" Titah Broto begitu garang.
"Kakak bikin malu Hera aja sih! Bisa-bisa nya di depan wanita itu Kakak buat Hera malu! Segala pakai minta maaf pula ke dia! Bukan Hera yang salah, Kak! Sundari tuh yang salah!" Tuding Hera tak kalah berang.
"Duduk! Dan dengarkan kakak!" Titah Broto berulang.
Kesal karena ucapan nya tak ditanggapi, akhirnya dengan terpaksa Hera mengikuti titah sang kakak. Ia lalu duduk pada salah satu sofa, men sedekapkan kedua tangan, serta memanyunkan bibir nya yang semerah darah.
"Bagus! Sekarang, dengarkan Kakak, Ra! Kakak.."
Tiba-tiba Hera memotong ucapan Broto.
"Hera marah sama kakak! Bukan nya belain Hera malah minta maaf ke wanita itu! Dia sudah merusak muka Hera, Kak! Nih, lihat! Muka Hera dicakar nya! Sakit tahu!" Omel Hera berlanjut.
"Hah? Bekas kemarin itu?" Broto langsung merapat mendekati sang adik.
Ingatan nya langsung melayang ke malam perseteruan antara Sundari dan Hera. Saat itu ia sedang pergi keluar rumah. Jadi ia baru mendengar tentang perseteruan itu sepulang nya ia ke rumah.
Itu pun waktu nya sudah sangat terlambat. Karena Sundari dan juga Atmaja nyatanya telah pulang ke rumah mereka.
Broto mengetahui kericuhan itu dari cerita si Ben, salah seorang pemuda yang bermain kartu di teras rumah nya.
"Ya iya lah! Udah satu minggu, tapi bekas cakaran nya masih ada. Hera curiga, jangan-jangan kuku wanita itu sudah dikasih racun mungkin, yang bisa ninggalin bekas nya ke wajah Hera. Jahat banget kan, Kak, si Sundari itu!" Tuding Hera berasumsi liar.
"Nah.. kakak gak bisa jawab soal itu, tapi Her, Kakak mau tanya sesuatu ke kamu. Kamu memang nya suka beneran sama Atmaja atau cuma jadiin dia mainan tambahan aja. Hah?" Tanya Broto blak blakan.
Ditanya tentang Atmaja, sebuah senyuman pun terbit di wajah pelangi nya Hera.
"Kayak nya sih suka beneran. kak.." jawab Hera ambigu.
"Ye! Gak jelas banget sih, jawaban mu itu! Jawab yang benar nih, Her! Suka atau enggak?!" Tanya ulang Broto sedikit lebih keras.
"Suka! Suka! Iya. Hera suka dia, Kak! Memang nya kenapa sih Kakak tanya-tanya?" Dumel Hera ikutan kembali kesal.
Gantian kini Broto yang tersenyum culas.
"Bagus! Kalau begitu, kita bisa bekerja sama untuk membuat mereka berpisah!" Ungkap Broto mencengangkan Hera.
"Hah? Maksud Kakak apa?!" Seru Hera tak mengerti maksud ucapan Broto tadi.
"Maksud Kakak, nanti Atmaja buat kamu. Dan Sundari..hehehe.. buat Kakak! Gimana menurut kamu, Her?" Tanya Broto usai ia memaparkan maksud nya.
Hera menaikkan sebelah alis nya.
"Sundari? Serius, Kak? Kenapa enggak wanita lain sih? Makin ke sini, selera Kakak makin parah saja!" Ledek Hera terus terang.
"Maksud kamu apa?!" Broto bertanya garang.
"Sejak Kak Heni meninggal, pilihan Kakak soal wanita makin parah. Yang pertama si Mina. Yah, dia masih lumayan oke lah. Agak pintar. Tapi yang dua terakhir? Haisshh.. udah mah masih pada bau kencur, udah gitu gak becus ngerjain kerjaan rumah pula! Cuma bisa bikin emosi aja setiap hari!" Omel Hera terus terang.
"Hahaha.. tapi yang dua terakhir itu lumayan lho goyangan malam nya. Mereka jauh lebih pro dibanding sama mendiang Mbak mu itu, dan juga yang pertama.." ujar Broto sambil memikirkan adegan me sum nya bersama istri kedua dan ketiga.
"Tapi kenapa pilihan Kakak berikut nya malah si Sundari sih? Dia itu nyebelin banget tahu, Kak! Pokok nya enggak! Hera gak setuju kalau Kakak mau incar dia untuk jadi istri ke empat nya Kakak!" Tolak Hera mentah-mentah.
"Walau pun nanti kamu bisa dapat Atmaja, hum?" Goda Broto.
Hera memicingkan mata nya ke arah sang Kakak. Secepat kilat keraguan itu mulai menguasai diri, setelah indera nya menangkap dengar nama Atmaja.
"Atmaja?" Gumam Hera tak sadar.
"Ya. Atmaja. Kakak nanti dapat Sundari. Dan kamu dapat Atmaja. Kita dapat semua yang kita inginkan. Bukankah ini ide yang bagus? Hehehe.." kekeh Broto.
"Hmm.."
Hera berpikir selama beberapa waktu. Hingga akhirnya sebuah keputusan pun mulai terbentuk di kepala nya.
"Memang nya, apa rencana Kakak?" Tanya Hera, tertarik dengan janji manis yang disuguhkan oleh Broto kepada nya.
"Nah. Jadi begini ide kakak.."
Broto pun lalu memaparkan ide brilian nya ke hadapan Hera. Tampak Hera manggut berkali-kali saat mendengar setiap langkah yang telah direncanakan oleh kakak nya itu.
Begitu Broto selesai memaparkan ide nya, Hera pun berseru.
"Oke! Hera ikut rencana Kakak!" Ucap Hera menyetujui rencana sang kakak.
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y