Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?
Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.
Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan Ruby (1)
“Ini sudah tahun keberapa kalian bersama? Hampir 6 tahun? Hm?” Ruby mengangkat dagu Alan agar fokus menatap matanya. “Terlalu lama, Alan...”
Alan hanya diam dan menatap Ruby.
Wanita itu tahu, Alan sebenarnya sudah lama goyah. Namun ia tidak bisa lepas dari Victoria begitu saja. Ia dikendalikan oleh kedudukan, uang dan janji.
Ia dulu memang mencintai Victoria. Ia juga berhutang budi dengan wanita itu. Victoria membantu adik-adik Alan untuk sekolah, berkuliah, bahkan membiayai pengobatan orang tua Alan, sampai membiayai biaya mereka berhaji.
Kalau sudah begitu, yang Alan lakukan hanyalah menunggu Victoria sendiri yang memutuskan hubungan dengannya, atau maju terus sampai kayaraya agar bisa menikahi sang Putri.
Itu pun tanpa jaminan Victoria masih single. Dan Alan mulai bosan mencoba.
Yang Alan dengar, Papa Victoria masih tetap berharap Sang Putri menikahi Sang Pangeran, yaitu Randy Gaspar.
Apalagi posisi Randy saat ini adalah Pemegang Saham Utama. Sudah pasti kandidat yang kuat.
Namun mungkin... dengan keberadaan Ruby yang statusnya ibu tiri Randy, ia akan memiliki andil besar untuk kemajuan kisah cinta Alan dan Victoria.
Juga... Alan sudah mulai tergoda untuk menjalin cinta dengan wanita selain Victoria. Ia belum menikah, single, dengan tabungan yang lumayan untuk berumah tangga. Dan dia juga tampan. Kalau ia mau, sangat banyak wanita yang diam-diam menaruh hasrat padanya.
Namun Victoria selalu memperhatikannya.
Wanita yang berani mendekatinya akan dipecat keesokan harinya dengan segudang tuduhan.
“Kamu akan dapat masalah kalau berani mendekatiku,” gumam Alan.
“Kenapa? Kamu boneka dalam sangkar emas ya? Siapa yang mengurungmu? Penyihir jahat ya?”
“Kadang dia jahat, kadang dia baik,” timpal Alan.
“Kalau begitu, di sini sudah ada Ibu Peri... hehe,” Ruby melingkarkan lengannya ke leher Alan.
Wanita itu menatap mata Alan, lalu mulutnya, sebelum bergerak lebih dekat untuk menciumnya.
Ciuman Ruby begitu manis dan hangat. Hanya belaian bibir ke bibir, namun terkesan memohon : Biarkan aku melakukannya, biarkan aku membawamu melayang. Serahkan semua padaku, biarkan aku melakukannya dengan selembut mungkin di seluruh bagian tubuhmu.
Ruby mencium Alan beberapa kali. Kemudian ia membuka mulutnya sedikit untuk mengisap bibir bawah pria itu. Gelembung hasrat bergulir di dalam dirinya saat mendengar suara des4han Alan yang tertahan.
Ya, pria itu semakin terlena.
Ketika Ruby akhirnya melepaskan ciumannya, Alan mengamati mulutnya, matanya, keningnya. Dia mengamati wajah Ruby dengan sendu. Tidak bisa dijelaskan arti tatapan Alan saat itu. Apakah karena ketertarikan semata pada apa yang ia lihat atau hanya untuk moment ini. Yang jelas pria itu saat ini dalam keadaan setengah sadar.
Ruby adalah wanita kedua yang menciumnya sepanjang hidupnya. Selain Victoria ia belum pernah bersama wanita lain.
Berikutnya, serangan lain dari Ruby.
Ujung jemari wanita itu membelai kejantanannya dari luar celana.
Lancang, tetapi penuh candu.
Sampai-sampai Alan hanya sanggup menatap jemari Ruby yang bergerak lincah di atas miliknya.
“Kalau kamu sudah siap, datanglah kapan saja padaku,” bisik Ruby.
Wanita itu berdiri, merapikan pakaiannya, membawa file yang ia butuhkan.
Dan dengan senyum menggoda, ia meninggalkan Alan yang masih belum bisa menguasai dirinya sepenuhnya.
**
Saat sekitar satu jam kemudian Alan kembali ke kubikelnya, Ruby sudah tidak ada di mejanya. Ia melihat Wahyu dan Randy sedang berdiskusi di ruangan,
Lalu pria itu pun duduk di kursinya sambil mengatur napasnya.
Ada sebuah getaran aneh di dadanya, juga semangat baru yang menyelimuti kepalanya.
Ia melirik meja kerja Ruby, file yang tadi diambil dari ruang filing tidak ada di sana. Tas wanita itu juga tidak ada.
Kemana dia?
Apa makan siang ke luar?
Sama siapa?
Makan apa?
Astaga, mikir apa aku?! Batin Alan berkecamuk.
Untuk menghapus pikirannya tentang Ruby, Alan pun menenggelamkan dirinya ke pekerjaan.
“Alan, masuk ke sini diskusi soal proyek di Maja,” desis Randy dari dalam ruangan.
“Ya, Pak,” sahut Alan sambil beranjak.
**
“Masalahnya akan besar kalau tiba-tiba area di sana turun hujan deras. Listrik pasti padam. Gardu berada di bawah, resiko terendam banjir dan tersentrum lumayan mengkhawatirkan,”
“Yang lebih parah... belakangan di sana longsor. Dan di atas sana ada area pemakaman. Coba lihat foto ini, itu mayat berkain kafan kebawa banjir ke depan halaman warga. Apa nggak bikin shock?!”
“Ini tanah ilegal apa bagaimana?” tanya Randy.
“Tanahnya legal, SHM seluas 20 hektar. Saat dibeli tidak ada sengketa, sudah di cek ke BPN. Tapi ya itu... lokasinya parah,”
“Kok bisa yang begini dibangun seadanya,” gumam Randy.
“Yah, itulah yang harus kita bereskan. Nama baik C-Corp sering tercoreng karena yang begini,”
“Saya sedang dalam proses pendekatan ke Amethys untuk pembangunan Universitas, loh. Yang kecil-kecil begin bisa bikin rusak rencana,” kata Randy.
“Amethys...? Hem, Suami-Istri Yudha Mas?”
“Betul,”
“Pak Raymond dulu menolak mereka karena hal konyol,”
“Apa alasan Papa saya menolak 12 Naga?”
“Mereka pengusaha muda, belum mumpuni dalam pengalaman,”
“Astaga...” Randy langsung menundukkan kepalanya ke atas meja, “Papaaaaaa....” keluhnya.
“Reaksi kami juga sama seperti bapak, bengong,” desis Alan.
“Beneran Pak Raymond, ekstrim,”
“Kapan kita akan ketemu mereka? Biar saya siapkan bahannya,”
“Ruby sedang ke sana,”
Alan dan Wahyu diam sambil lihat-lihatan.
“Bu Victoria pernah ke sana dan diusir,” kata Alan. Ia tahu bagaimana penghinaan yang diterima Victoria saat itu dan begitu terpukulnya wanita itu sampai nangis-nangis di mobil sepulangnya dari sana. Pemilik Amethys Corp adalah Susan Tanudisastro. Terkenal dengan mulutnya yang sangat pedas dan keras kepala.
“Gawat,” gumam Randy. Lalu ia memeriksa ponselnya, belum ada kabar dari Ruby. “Kita tunggu kabar dari Emak Tiri gue, baru kita pikirin rencana lain,”terus terang saja, ia langsung insecure.
**
Sementara itu di lain tempat,
Ruby melenggang memasuki gedung Amethys Corp sambil menenteng tas kertas berisi kue kering. Ia menuju ke arah Operator dan Car Call yang berada di lobby.
“Saya sudah ada janji dengan Pak Frans, nama saya Ruby,”
“Pak Frans dari Amethys Tech? Baik, Bu silahkan ditunggu,”
Ruby pun duduk di sofa ruang tunggu sambil mengambil kaca kecil dan memeriksa penampilannya.
Mendekati Susan Tanudisastro yang terkenal Egois dan judes, apalagi mereka pernah ditolak oleh C-Corp, sudah pasti untuk masuk harus lewat jalan belakang.
Dan saat memeriksa petinggi-petinggi di sana, Ruby melihat orang yang dikenalnya.
Si Mantan Sugar Daddy.
“Ruby?” terdengar sapaan dari suara yang dikenalnya.
“Om- ehem! Pak Frans, apa kabar?” Ruby berdiri dan menyapa pria yang maju ke arahnya sambil merentang tangan.
Mereka saling berpelukan, juga cipika-cipiki. Sempat tersirat dalam benak mereka bahwa sosok di depannya ini pernah mengalami saat-saat mendebarkan di atas ranjang, dengan berbagai macam des4han, teriakan, dan hentakan.
“Baik, kamu bagaimana?”
“Saya baik juga, saya ingin bicara berdua saja, tanpa ada orang lain. Boleh Pak?”
“Wah, tumben... Tentang apa ini?”
“Saya jelaskan kalau Pak Frans sudah mencarikan saya ruangan privat... tanpa cctv,”
Senyum Pak Frans semakin lebar. Tak tunggu lama, ia booking ruang meeting di lantai 2.
Ruangan meeting itu hanya cukup untuk 5 orang, ukurannya 4x6, dilengkapi dengan bar kecil untuk snack dan minuman, serta proyektor untuk presentasi.
“Silahkan duduk,” Pak Frans menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Ruby duduk. “Apa yang bisa saya bantu?”
Ruby duduk tegak, menghela napas dan mengumpulkan keberaniannya. Sekaligus mempersiapkan rayuan mautnya.
“Saya sekarang kerja di C-Corp,”
Wajah Pak Frans langsung berubah muram, “C-Corp ya? Kamu ke sini untuk itu?”
“Gamblangnya saja Pak, betul. Bapak tahu saya,”
“Kamu tahu bagaimana sensitifnya kasus C-Corp untuk kami?”
“Saya tahu. Karena itu tolong pertemukan saya dengan Bu Susan,”
“Kalau kamu mengaku dari C-Corp, kamu bisa ditendang dan posisi saya jadi taruhan,”
Ruby langsung maju dan mencium bibir Pak Frans.
**
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo
Romeo lebih suhu ternyata 🤣🤣🤣