Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Di suatu cafe nampaklah tiga pria tampan yang asik dengan perbincangannya. Mereka asik dengan pembicaraan yang mengenang masa lalu mereka.
"Hei bro, Lo gak kangen apa sama dia?" Tanya temannya yang bernama Ibnu Restu Lensar, biasa di panggil Ibnu.
"Gue belum ketemu sama dia." Jawab seadanya Gilang Pranat Lengga, biasa di panggil Lengga.
"Yah, bos gak ketemu sama dia, gue pikir bos udah ketemu secara bos kan baru balik dari luar negri. Apa gak kangentuh sama pujaan hati." Ucap temanya yang satu lagi yang bernama Prayoga Adistan Winar, biasa di panggil Yoga.
"Gue udah suruh orang untuk mengawasi dia selama gue pergi. Apapun yang ia lakukan pasti gue tau, dan sekarang waktunya gue hadir di hidupnya lagi." Dengan senyum penuh arti, isarat akan rencana yang ia susun tak akan pernah gagal kali ini.
"Tapi apakah lo gak takut apa di tolak lagi, secara waktu itu lo di tolak puluhan kali." Ucap Ibnu dengan mudahnya, tanpa memilah dulu apa yang dia katakan.
"Dulu memang gue gagal dapatin dia, tapi sekarang gue gak akan mudah secepat itu untuk menyerah. Gue akan lakukan segala cara untuk dapatkan dia, termasuk dengan cara kotor sekalipun jika memang harus di perlukan." Jawaban yang penuh dengan tekat dan bersmirt di akhir kalimatnya.
"Mending lo ubah rencana licik yang ada di otak lo itu, sebelum semuanya berbalik ke diri lo sendiri." Yoga menjeda ucapannya sebentar dan berucap kembali.
"Kalau lo dengerin ucapan gue ya sukur kalau enggak ya lo juga yang mengalaminya sendiri. Gue pernah dengar pepatah, apa yang lo tabur itu yang lo tuai. Gue sebagai sahabat lo cuma ngigetin lo aja dan jangan pernah bilang kalau gue gak pernah ingetin lo." Nasehat yang diberikan kepada sahabatnya itu, ia takut sahabatnya salah langkah.
"Humm, gue gak jamin semua itu. Tapi gue berterimakasih sama lo karna udah nasehatin gue." Ucap Gilang dengan santai, dan berterima kasih sama temannya itu.
"Gue pasti dapetin lo kali ini, apapun caranya. mungkin gue sedikit egois tapi inilah gue, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan gue. Bersiap-siaplah sayang, gue akan menjemputmu dan gak akan gue biarkan lo berada jauh dari sisi gue lagi, ini janji gue Sayang." Monolog dalam hati dengan tekat yang bengitu kuat.
"Sudahlah mending kita makan, apakah kalian tak kasihan melihat makanan ini yang dari tadi menangis, karena kalian tidak sentuh dan santap mereka." Ibnu yang berusaha mencairkan suasana, jika tidak di cegah akan mengakibatkan suasana akan menjadi tegang.
"Yaudah kita makan."
"Yaudah kita akan makan." Ucap mereka berdua dengan serentak.
"Cie cie kanyaknya ada yang lagi sehati nih." Goda Ibnu kepada kedua temannya.
" Najis banget gue."
"Gak sudi gue." Ucap mereka berbarengan lagi.
"Kan udah gue katakan tadi, kalian itu sehati jadi cocoklah." Dengan tampang tak bersalahnya ia berkata dan tak menyadari tatapan yang mengerikan tertuju padanya.
Ibnu menoleh ke arah sahabatnya dan terpampang lah tatapan yang tak bersahabat dari kedua temannya itu.
"Ok gue minta ma'af." Mengangkat tangannya dan membentuk huruf v di jari manis dan tengahnya. Sambil mengukir senyum imutnya, tapi bukan kelihatan imut malahan seperti orang menahan sesuatu.
Mereka asik dengan perbincangan gimana sahabatnya itu di luar negri dan banyak lagi yang ia bicarakan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Ditempat lain seseorang sedang membujuk temannya untuk menemui penulis yang ia kagumi tersebut, dan sahabatnya itu tidak menyia-yiakan kesempatan emas itu.
"Gimana lo maukan temanin gue ketemu gadis itu." Dengan tampang penuh harap akan di ia kan oleh sahabatnya.
"Umm, gimana ya. Gue mau aja sih tapi Lo taukan gue sekarang gue lagi sibuk." Jawaban dari sahabatnya itu.
"Lo ya kalau kanyak gitu pasti ada maunya. Sekarang apa yang lo minta." Reyhan berucap dan berusaha sabar dalam menghadapi sahabatnya ini, apa lagi saat ini dia harus bersiap-siap untuk bernegosiasi dengan sahabatnya ini.
"Lo sahabat paling terbaik deh pokoknya, tau aja kalau temannya mau sesuatu." Ucapnya dengan senyum yang tiada luntur dari wajahnya.
"Katakan setelah itu kita pergi menemui gadis halu itu. Permintaan lo jangan aneh-aneh ya, dan cukup satu macam." Reyhan berucap sambil bernegosiasi.
"Gak Aneh kok dan gak macam-macam, cukup satu macam aja." Dengan wajah jahilnya ia berucap kepada temannya.
"Yaudah katan." Berucap dengan pasrah, akan apa yang di minta oleh temannya itu.
" Gue cuma minta," menjeda ucapannya karena berpikir dan melanjutkan kembali ucapannya.
"Gue cuma minta lo belikan gue Apartemen yang ada di sebelah barat yang terkenal itu." Dengan penuh senyum yang ceria terpancar di wajahnya, akan segera mendapatkan Apartemen yang selama ini yang ia impikan dan incar.
"Gak salah ini gue dengarnya, Apartemen Harfoni di sebelah barat itu, lo gila ya itu nilainya sangat fantastis." Ucap Reyhan yang kangen akan permintaan temannya itu.
"Kalau gini terus sih lama-lam gue jadi bangkrut nih, punya teman kok serasa perampok." Monolog Reyhan dalam hatinya.
Untung saja Denis tak mendengarkan apa yang ia ucapkan kalau tidak di pastika akan bisa ngamuk dan menuntut hal yang diluar nalar. Sedang kan ini sudah di luar nalar apa lagi yang lebih dari ini. Itu akan pasti sangat merepotkan Rayhan.
"Jadi Lo gak mau nih, ya udah gue gak mau ikut sama lo." Masih kekeh dengan pendiriannya.
"Yaudah gue belikan, tapi Lo janji gak akan minta yang aneh-aneh lagi sama gue." Berharap temannya ini mengiyakan perjanjiannya.
"Ok, gue janji gak akan minta yang lain lagi. tapi jika mendesak bolehlah." Menaik turunkan alisnya dengan senyum cerianya, karena sudah berhasil memeras sahabatnya ini.
"Gue heran sama lo, padahal Lo mampu beli tuh Apartemen kok malah minta sama gue sih." Heran Reyhan ke Denis, sambil mengerutkan keningnya.
"Gue mampu sih beli sendiri, tapi beda gitu kalau di belikan sama sahabat sendiri. Itung-itung gue bisa nabung untuk masa depan." Cengirnya kembali.
"Nabung untuk masa depan boleh sih, tapi ya gak memeras teman Lo juga kali, bahkan kekayaan Lo melebihi kekayaan gue." Gerutu Reyhan, seakan gak ikhlas kalau uangnya terbuang secara percuma.
"Jadi maksud Lo gak rella gituh, ya udah gak jadi aja dan jangan harap juga gue temanin lo ketemu sama gadis itu." Rajuknya kepada sahabatnya ini.
"Bukan begitu maksud gue, yaudah lah kita pergi aja temuin gadis itu. Gue udah suruh asisten pribadi gue untuk urus itu semua." Membujuk temannya yang merajuk.
"Jangan sampai temen gue ini merajuk, bisa seperti simalakama nih gue. Yang di tuju gak tercapai dan uangpun juga melayang." Untung temen kalau tidak sudah gue selesaikan dia.
"Akhirnya mau juga, huff sungguh kesempatan ini tidak akan aku sia siakan." monolognya dalam hati.
Reyhan berhasil membujuk temannya ini, walau sedikit ada drama. Sekarang mereka menuju ke suatu tempat di mana terdapat seorang gadis yang ia cari selama ini.
Tapi orang yang mau mereka temui itu tidak mengetahui mereka akan ke tempat ia, apakah yang akan terjadi jika ia di temui oleh pria tampan dan apa reaksi dari sahabatnya.
Apapula tanggapan dari orang-orang di sekitarnya, tentang peristiwa langka tersebut.