NovelToon NovelToon
Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Pernikahan Kilat / Bepergian untuk menjadi kaya / Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:312.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: kamiya san

Latar cerita: negara upin ipin dan susanti

Tak ingin bangkrut habis-habisan, Dhiarra, 24 tahun, rela datang dan tinggal di rumah Shin Adnan, adik angkat lelaki ayah tiri, bersama para saudara tirinya.

Dhiarra sedang jungkir balik akibat ulah ayah tiri yang terjerat kasus korupsi dana negara. Dan kini justru membawa lari sang ibu serta menguras keuangan Dhiarra.

Karena iba dan rasa bersalah, Shin menawari Dhiarra sebagai sekretaris pribadi sekaligus desainer perusahaannya. Dhiarra yang jelita itu menyanggupi sambil menunggu sang kekasih datang menyusul untuk menikahi.

Shin Adnan yang tampan ibarat bujang mapan dan matang yang sedang menjaga calon istri orang.
Dan masalah susah itu hadir saat hati Dhiarra dan juga Shin merasa tidak tenang jika saling berhadapan..

Plagiat minggir!! Tenggelam saja ke lautan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kamiya san, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Peluang Kerja

Sebab telah menyanggupi untuk lekas datang ke meja makan pada pelayan, Dhiarra bergegas keluar kamar sehabis tukar baju. Dhiarra tidak mandi lagi, cukup mandi tadi di rumah Yuaneta, di Batu Berendam. Sebelum Dhiarra pulang ke Ayer Keroh, di rumah besar ini.

Ceklerk..

Bersamaan Dhiarra yang keluar dari kamar di pintu dalam rumah. Dari samping kamarnya sana, lelaki yang memintanya untuk datang ke meja makan, juga nampak baru keluar kamar dan berjalan gagah menuju arah kamarnya.

Shin telah hampir melewati kamarnya lalu berhenti dan memandang Dhiarra.

"Lambat balik lagi, Dhiarra...? Lekaslah.."

Sehabis bicara, Shin menggerakkan dagunya ke arah ruang makan. Dhiarra cepat mengangguk dan mengikuti Shin yang berjalan lagi meninggakannya.

Mereka telah duduk dengan saling berhadapan seperti biasanya. Ada secangkir coklat hangat di depan mereka masing-masing. Pelayan baru saja meletakkan.

"Kenapa lambat balik? Kedai obat itu sangat ramai?" suara stereo itu lirih bertanya.

"Hari ini, saya tak datang kerja kat kedai obat, encik Shin."

Dhiarra tak berminat untuk berkata tidak jujur.

"Lalu, apa yang kau buat hingga pulang lambat lagi..?" suara Shin tetap saja tidak keras

"Saya jumpa kawan. Kat rumah dia. Tertidur, encik Shin," mungkin sebentar lagi Shin akan menyemburnya.

"Apa kalian barusan foya-foya dengan uang pembayaran desain baju dariku?" ini memang bukan semburan, tapi sindiran. Dan kurang lebih sama efeknya. Memanaskan telinga.

"Betul sangat, encik Shin. Dan saya penat sangat setelahnya. Jadi saya tidurlah," sebab Shin bercakap tak ada manis-manisnya, Dhiarra pun malas meluruskan.

"Dhiarra, dengarlah. Aku sudah bosan melihatmu pulang lambat berterusan. Jadi, aku akan memberi peluang kerja yang cukup bagus untukmu," mata tajam itu meredup saat memperhatikan reaksi Dhiarra.

"Anda nak bagi saya peluang kerja? Tapi saya sudah suka dengan kerja saya kat kedai obat itu, encik Shin," Dhiarra merasa serba salah meski belum tahu pekerjaan apa yang ditawarkan Shin padanya.

"Apa kau tak ingin tahu, kerja macam apa yang coba kubagi padamu..?" om tiri menawan itu mengangkat cangkir lalu mendekatkan ke bibir. Menyeruput coklat cairnya sekali teguk dan meletak kembali di tatakan.

"Lalu, kerja macam apa yang patut anda tawarkan padaku..?" gadis rupawan itu juga melakukan hal yang sama dengan Shin, meyeruput coklat hangat dari cangkirnya.

Bersiap mendengar tawaran Shin, bisa jadi pekerjaan yang akan didengarnya adalah sebagai cleaning servis atau tukang dapur atau juga tukang-tukang lainnya. Sebagaimana kebanyakan profesi yang didapat oleh para pekerja imigran tanah air di negara ini.

"Dengar Dhiarra, ini bukan pekerjaan mudah. Aku bagi kerja ini kat engkau pun juga bukan asal.. Dan aku juga tak akan paksa kau nak ambil. Sebab aku tak ingin kau terpaksa terima, dan kau buat kerja tak serius." Shin mulai bercakap dengan sangat serius.

"Saya jadi penasaran, encik Shin.. Buat kerja macam apakah itu..,?" pertanyaan Dhiarra sebenarnya hanyalah pemanis, sekedar menunjuk respon sopan pada keseriusan ucapan Shin padanya. Sebab, gadis pendatang itu sudah merasa repot dengan kedai obat serta membuat plan lanjutan rancang baju.

"Kerja membantuku, bisa jadi seperti Faiz. Tapi saat ini, aku sedang perlu seorang sekretaris," ucapan Shin nampak sungguh-sungguh! dan lebih serius lagi. Pergerakan badan dan ekspresi mukanya tak ada perubahan. Diam pada posisinya sambil memandang gadis di depannya.

Beda jauh dengan Dhiarra, mimik kejut gadis jelita itu begitu kentara. Wajahnya nampak memerah dengan mata melebar, serta alis agak bertaut tak percaya.

"Encik Shin, anda tak silap cakap kee..?" kali ini Dhiarra tak bisa memanipulasi ekspresi. Muka kejut itu masih juga terlihat.

Shin senyum samar pada Dhiarra. Memakhlumi keterkejutan yang sedang dirasakan.

"Ucapanku ini betul dan aku tidak sedang main-main. Kau bisa memikirkannya," kali ini Shin bergerak dengan mengambil cangkir lalu meneguk isinya.

"Tapi... Kedai obat saya kat sentral macam mana,,," gumaman itu jelas terdengar oleh Shin.

"Apa maksudmu? Bukankah nanti pemilik kedai yang akan memikirkan. Engkau tinggal cakap undur diri saja, Dhiarra,," saran Shin itu memang betul. Tapi Shin tidak tahu hal yang sebetulnya.

"Anda telah memberiku tumpangan di rumah ini.., dan sekarang berniat menampungku sebagai pekerjamu.. Apa anda tidak akan menyesal?" rasanya memang mengherankan bagi gadis itu.

"Selama engkau menjaga dirimu...Tidak bersikap liar, pulang larut malam. Aku tidak menyesal," ucapan Shin terdengar sungguh-sungguh.

"Kenapa encik Shin percaya padaku? Saya tak ada pengalaman langsung jadi sekretaris... Dan saya risau jika terlalu nampak lembab (bodoh) serta lamban.., anda akan kecewa dan marah padaku..,," Dhiarra menjelaskan dengan nada lembut mendayunya.

"Aku sangat tidak suka jika ada perempuan di rumahku yang pulang sangat malam, Dhiarra. Jadi jika kau kerja padaku, aku yang akan menentukan jam kerjamu. Dan jangan khawatir, Faiz akan mengajarimu dengan baik."

"Jadi..,andai saja saya tinggal kat luar, bukan di rumah besarmu ini. Berasingan denganmu. Encik Shin sudah tidak peduli denganku..,?" entah bagaimana tiba-tiba ada ide di kepala Dhiarra untuk bertanya macam ini pada Shin.

"Meski tinggal di luar itu adalah hakmu. Aku tidak akan mengizinkan. Rumah ini cukup besar, tidak kesempitan jika harus menampungmu. Lagipula Hazrul telah menitipkanmu padaku. Dan kau pun, hanya rumahkulah tujuanmu saat akan datang ke negara ini. Dan akulah yang menyuruh sopirku untuk mengambilmu di bandara serta membawamu ke sini." Shin nampak diam sejenak.

"Jadi, jangan pernah berfikir kau boleh tinggal kat luar, lalu kau akan melampiaskan keliaranmu tanpa batas," cangkir berisi coklat itu disambar dan dihabiskannya sekaligus.

Dhiarra hanya tertegun, memperhatikan semua ucapan Shin barusan. Sesaat merasa jika sikap Shin terlalu protectif terhadapnya. Menganggap Dhiarra adalah anak kecil yang kurang wawasan dan tak paham aturan.

"Encik Shin.. Jika aku kerja denganmu, apa saja untungku?" Dhiara mulai memikirkan suatu kemungkinan.

"Posisimu di negara ini terjamin. Upahmu dariku tinggi. Dan kau bisa memantau sendiri bagaimana produk baju kawanmu kupasarkan." Shin terdiam dan semakin menatap wajah Dhiarra.

"Dan jika kau jadi sekretarisku, kau bisa ikut aku saat ada perjalanan kerja ke pulau Penang. Kau bisa menjumpai ibumu," mata laser itu kembali meredup saat Dhiarra mulai menampakkan reaksinya.

"Apa, encik Shin?! Jadi anda sudah tahu dengan jelas di mana posisi ibuku? Apa nomornya sudah bisa menyambung? Kenapa anda tak memberitahuku lebih cepat?!!" mendapat tanya bertubi dari gadis itu, Shin hanya diam sambil mengeluarkan ponsel dari saki dan disimaknya.

"Sudah mulai larut, Dhiarra. Waktunya istirahat. Pikirkan dulu tawaranku itu. Jika ada apa-apa soalan. Tanyakanlah..., boleh padaku atau juga pada Faiz, asistenku!" sehabis bicara, Shin bergegas bediri.

"Ingat, Dhiarra. Ini adalah malam terakhir kau pulang sangat lambat. Esok, jangan pernah mengulanginya!"

"Habiskan dulu coklatmu..!" itulah seruan terakhir dari Shin. Sebelum lelaki itu lenyap di balik pintu ruang makan.

Meninggalkan Dhiarra yang termangu menatap langkah Shin yang telah jauh berlalu.

1
My atee
Luar biasa
Ike Styaningsih
semangat terus karyanya 👍🏻👍🏻👍🏻
Annisa Sekar
luar biasa
Kamiya San: Love you, Kak
total 2 replies
Annisa Sekar
Kecewa
Debbie Teguh
duh iler cb ditampung ya, iiizz ambilkan ember buat ncik shin wkwkwk
rika atthoriq
luar biasa bagus
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
luar biasa 👍👍👍
HeraAnalia M Nasir
ok
Ester Hadasa Ruru
cerita yg menarik
Kamiya San: jangan bintang 4 dong kak... bintang 5 yaaa
author nangis... rate bintangku biasanya 5.. dpt tambahan dr kakak 4 .. Ratenya turun jadi 4.9
tolong ditukar ya... Terimakasih...😭😭😭
total 1 replies
hania putri
nah loh, papa udah warning shin
hania putri
masih aja lu ogeb diara.. harus nya dr percakapan terakhir pun kamu udah harus ngertiiiii.
hiiiiih gemes deh gue
hania putri
mirip judul di sinetron ikan terbang 😂
hania putri
semua status ada papa, cucu, besan dan menantu. paket komplit pokok nya
hania putri
nah kan, ada apa dgn adrian?
hania putri
dayus itu artinya apa ya kk?
semacam pecundang kah?
hania putri
eh mulut nya ya, ga boleh itu teriak2 begitu 😂
hania putri
sedih banget deh
hania putri
kepala atas bawah nyut2an ya om 😂
hania putri
mulai jujur, bagus diara.
hania putri
diara mulai galon ni yee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!