[REVISI BERTAHAP⚠️]
Azriella Monica, seorang gadis yang mengalami transmigrasi jiwa. Yang dimana jiwanya tiba-tiba lintas dimensi ke dalam sebuah novel yang ia baca. Dan bukan menjadi tokoh antagonis melainkan seorang figuran yang hanya beberapa kali disebutkan. Risya Erin Serville, gadis yang memiliki beberapa kemiripan sifat dengannya.
Azriella tak pernah berfikir akan terjadi hal seperti ini, lalu bagaimana cara ia kembali?? Apa kah lewat penyakit yang diderita pemilik tubuh ini? Atau pergi secara tiba-tiba lagi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bobamilkyy_3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 | Surat Dan Obat
Suara dering telepon mengganggu kegiatan tidur Risya. Alisnya berkerut walau matanya masih terpejam. Tangannya bergerak meraba kasurnya mencari dimana letak ponselnya. Tak ia temukan, tapi suara itu terus mengganggu pendengarannya.
Ia duduk perlahan. Mengumpulkan nyawanya tanpa membuka matanya. Suara dering tadi tidak terdengar lagi. Ia memiringkan kepalanya dengan kening mengerut, apakah telinganya salah dengar?
Perlahan ia membuka mata sambil merenggangkan badannya. Ia menilik sekeliling, sampai pada kaca jendela yang belum tertutup tirai. Menampakan senja yang hampir menghilang.
Ia beranjak sambil mencepol rambutnya, menutup gorden sebentar lalu pergi memasuki kamar mandi. Ia mengisi bathup untuk berendam, lalu melepas seragamnya dan memasukannya kedalam keranjang baju kotor.
Risya menyalakan lilin aroma yang mempunyai aroma kemangi manis dan jeruk Mandarin. Aroma ini bisa digunakan saat sedang stres, karena bisa membantu menenangkan hati dan membuat kalian merasa nyaman. Risya juga menambahkan bomb bath serta essential oil pada air mandinya dan menaburkan beberapa kelompok bunga.
Ia mulai merendamkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya. Menghirup dalam-dalam aroma yang menguar di dalam ruangan ini. Tubuh ini mudah lelah, bergerak sedikit di luar batas saja sudah membuat nyawanya serasa melayang. Tapi di sisi lain ia merasa tubuh ini baik-baik saja dan tak bermasalah. Jadi kenapa ya?
Setelah selesai dari kamar mandi, Risya keluar menggunakan bathrobe untuk menutupi lekuk tubuhnya. Melangkah ke arah meja rias, mengeringkan rambutnya lalu mengambil pakaian yang akan kenakan malam ini.
Selesai itu, ia mengambil tas sekolah yang ia lempar dan mengecek ponselnya yang ada di dalamnya. Beruntung tidak rusak, padahal ia melemparnya dengan sedikit tenaga.
Risya membawa ponselnya ke atas kasur, ia duduk dengan melipat kaki dan memandang ponsel yang ia taruh di depannya. Nomor tak dikenal masuk ke ponselnya. Tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan yang belum terbaca.
Drrttt.. drrttt
Risya menggeser tombol hijau pada panggilan dan mendekatkan ponselnya ke telinga. "Sia-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, seseorang di seberang sana lebih dulu memotongnya.
[Ini gue, Alby.]
Risya terdiam mendengar suara dari ponselnya. "Alby? Dari mana lu dapet nomor gue?"
[Lu lupa ya? Gue kan pernah minta, waktu gue nganterin elu malam itu.] Jawab alby dari balik teleponnya.
Risya menepuk jidatnya sendiri, ia yang memberi, ia juga yang lupa. Risya berdehem. "Jadi kenapa lu telfon gue? Kalau gak penting gue matiin."
[Eh, entar dulu!] Cegah Alby, ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
[Emm... Mau jalan sama gue gak?]
Risya mengernyit, suaranya sungguh pelan terdengar seperti gumaman. Ia sampai mengecek sambungan teleponnya mengira sinyalnya yang membuatnya menjadi kurang jelas.
"Lu ngomong apa sih? Kagak jelas."
[Mau jalan sama gue gak?]
"Kagak jelas g*bl*k!"
[LU MAU JALAN SAMA GUE GAK!!!]
Pekikan Alby membuat Risya seketika meringis, ia sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya dan memencet tombol untuk mematikan panggilan.
"Buset dah!! Pengang kuping gue," keluh Risya sambil mengusap telinganya. Jarinya membuka pesan dari Alby, dan mulai mengetik.
Sedangkan di sisi lain tempat Alby berada. Lelaki itu kini menutup wajahnya yang memerah karena malu. Sungguh, ia sudah seperti mengajak seorang gadis untuk berkencan. Padahal kenyataannya saja tak seperti itu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Menetralkan degup jantung yang tak berhenti berdendang.
Sekarang kembali kepada Risya, Ia kini terdiam setelah mengirimkan pesan pada alby. Dalam diamnya ia berfikir sejenak, kalau dipikir-pikir, sudah selama ini ia tinggal di tubuh Risya tapi ia tak menemukan apa-apa. Tak ada petunjuk apa pun tentang kemana perginya jiwa gadis ini. Mungkinkah ia juga tidak bisa kembali ke dunianya lagi?
Bibir Risya seketika melengkung ke bawah. Masa iya dia benar-benar tidak bisa kembali? Lalu apa yang harus ia lakukan di dunia ini? Dunia yang masih terasa asing baginya. Bagaimana dengan kakaknya di sana? Apakah ia baik-baik saja. Apa ia makan dengan teratur. Apa tubuhnya semakin kurus atau bertambah gemuk?
Risya menggigit bibir bawahnya, ia tidak bisa begini. Ia terus mengurusi alur novel sampai lupa pada tubuhnya sendiri. Tidak.. Ia harus mencari sesuatu di kamar ini. Karena Risya adalah tokoh figuran yang hanya di sebutkan beberapa kali dalam cerita, jadi banyak yang ia tidak tahu tentang dirinya.
Ia melangkah ke arah meja belajar. Siapa tahu pemilik tubuh meninggalkan sesuatu, seperti buku diary atau apapun itu. Ia mengacak buku di atas meja, membuka-buka tiap lembarnya. Tapi ia tak menemukan apa-apa.
Beralih pada lacinya. Ia membuka setiap laci satu persatu, hanya ada beberapa kertas dan buku tak penting yang ia temukan. Berarti bukan di sini, lalu dimana?
Ia berdiri dengan tangan berada di pinggang, ia memejamkan mata sesaat. Berfikir. Di laci nakas atau di dalam lemari? Siapa tahu ini barang tersembunyi. Atau di bawah kasur?? Di bawah bantal?
Risya menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin di bawah bantal itu tempat yang paling mudah di temukan orang lain. Apa di bawah kasur?
Ia melangkah memeriksa laci nakas terlebih dahulu, lalu memeriksa ke bawah kasur. Tidak ada apa-apa juga. Sekarang ia berpindah ke lemari pakaian. Ia memandangi lemari yang berukuran besar itu, memilih pintu mana yang pertama harus ia buka.
Kakinya melangkah ke pintu lemari sebelah kanan dan membukanya perlahan. Pelan tanpa tergesa-gesa, supaya sekecil apapun sesuatu tak akan terlewatkan nya. Ia memeriksa semua sampai sudut dalam lemari. Hanya pakaian yang terlihat.
Ia mendesah, sungguh lelah. Ini membutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkan hasil yang tak terkira. Ia menilik ke atas, sekat atas dalam lemari tak bisa ia jangkau. Ia berlari, mengambil kursi meja rias di kamarnya. Setidaknya itu bisa membantu pekerjaannya.
Ia menaruh kursinya, lalu menaikinya pelan-pelan. Risya berdecih, ternyata masih belum sampai, tubuh ini tidak cukup tinggi. Hanya ubun-ubun nya saja yang bisa melihat sesuatu di atas sana. Ia mendongak, tangannya meraba ke dalam sekat lemari.
S*alan! Tidak ada apa-apa di sana. Ia turun dan duduk, punggungnya ia sandarkan pada pintu lemari yang sudah ia tutup. Risya mengerucutkan bibirnya sambil mengedarkan pandangan. Ia sudah lelah dan ingin pasrah, jika sekali ini tidak dapat, ia akan menyerah.
Setelah cap cip cup, ia berjalan dengan gontai ke satu sisi lemari lain. Sambil menyibak pakaian yang menggantung, ia tak sengaja menarik selimut yang terlipat di bawahnya. Sesuatu terjatuh, menggelinding di dekat kakinya. Ia melirik ke bawah, memastikan benda apa yang tengah menarik perhatiannya.
Ia menunduk menjangkau botol obat yang hanya tersisa beberapa butir di dalamnya. Ia memegang botol kecil itu menggunakan jari telunjuk dan jempolnya. Membawanya ke depan matanya dan meniliknya lekat-lekat.
Risya mengernyit tidak tahu ini obat apa, tak ada tertera merek pada botolnya.
Tapi...
Ia melirik dimana selimut itu berada, matanya menangkap kertas yang ada di bawahnya. Dengan cepat ia mengambil dan membacanya. Jantungnya seperti berhenti berdetak di tempatnya. Matanya terbelalak lebar, ia menutup mulutnya tak percaya. Ini...
... Surat keterangan dari rumah sakit dan sebuah obat?
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...
apaan maksudnya? 🤣
duhhh emosi kannnn 😑