Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24
“Hmm?” Riven menyahut parau tanpa mendongak, fokusnya masih tertuju penuh pada area di bawah pusar Angie.
Perlahan, bibir pria itu merayap turun, mencari titik sensitif di mana ia akan menjatuhkan seluruh perhatiannya.
Begitu bibir Riven menyapu pusat keintiman Angie yang sudah basah, sang gadis langsung mencengkeram erat rambut pria itu. Lidah hangat Riven mulai menelusuri sepanjang area sensitifnya tanpa ampun.
“Aaahhh… Jangan di situ… itu kotor…” rintih Angie, berusaha mendorong pelan kepala Riven.
Namun, Riven yang sudah dilingkupi kegilaan hasrat tidak peduli. Ia justru melebarkan kedua paha Angie, lalu membenamkan wajahnya di sana. Pria itu menyapu keintiman Angie dengan lidahnya, menyesapnya dengan hisapan-hisapan dalam yang menuntut, sebelum akhirnya melesakkan lidahnya masuk ke dalam bagian intim sang gadis.
“Aaahhh… Ehmmm… aahhmmm… Ngghhh… Riv… hentikan… Ahhh…”
Riven tidak berniat berhenti. Suara desahan Angie yang begitu indah memenuhi kamar justru menjadi bahan bakar yang membuat gairahnya semakin memanas.
Namanya yang terus dipanggil dengan nada memohon itu membuat Riven kian tenggelam dalam ganasnya hasrat yang tak terbendung.
Lidahnya bergerak semakin lincah dan berani, memicu sengatan nikmat yang membuat pinggul Angie refleks bergerak naik secara berulang, hingga akhirnya klimaks kedua sang gadis tiba.
Tubuh Angie menegang kaku, kedua pahanya refleks mengapit kepala Riven erat-erat saat ia melepaskan seluruh gelombang kenikmatannya secara beruntun. setelah badai itu mereda, Angie berbaring telentang dengan pasrah. Lapisan peluh yang tipis kini telah membasahi kulit mulusnya.
Riven perlahan menegakkan tubuhnya, lalu bergerak menuju meja nakas di samping ranjang. Ia menarik laci bagian paling bawah, sementara sepasang matanya masih sempat melirik tubuh indah Angie yang sesekali masih tersentak pelan akibat sisa-sisa orgasme.
Dengan tatapan sayu, Angie memperhatikan Riven yang mengeluarkan serenteng kondom dari dalam laci.
“Astaga… Kupikir tadi kau bilang ini yang pertama bagimu. Lalu kenapa kau menyimpan stok sebanyak itu?”
Sebuah senyuman tipis lolos di wajah tampan Riven, pria itu bahkan terkekeh kecil.
“Ini stok yang disiapkan oleh pelayan yang biasa membersihkan apartemen ini. Aku sendiri tidak tahu. Tapi setiap kali adikku berkunjung, dia selalu mengejekku karena menemukan barang ini di laci. Dia heran kenapa aku menyetoknya, padahal aku sendiri jarang pulang ke sini dan tidak pernah berpacaran,” jelas Riven sembari merobek bungkus dan mengenakan pengaman tersebut.
Melihat ukurannya yang terpampang jelas di depan mata, wajah Angie mendadak sedikit pucat. “Tapi... itu terlalu besar. Rasanya tidak akan muat masuk ke dalam milikku.”
Riven merangkak kembali ke atas tubuh Angie, mengungkung gadis itu sepenuhnya dengan tatapan menggelap penuh gairah.
“Hm? Mari kita buktikan, apakah teori-mu itu benar atau salah,” bisik Riven lembut, tepat sebelum membungkam bibir Angie dengan ciuman yang memabukkan.
Riven perlahan memposisikan dirinya di antara kedua paha Angie yang terbuka lebar. Tatapan pria itu terkunci sepenuhnya pada wajah Angie yang masih bersemu merah, begitu cantik di mata Riven, sementara napas mereka kembali berkejaran, memenuhi keheningan kamar yang kian memanas.
Ketika ujung milik Riven mulai menyentuh bagian intim Angie, Angie refleks mencengkeram lengan kekar Riven. Tekanan awal itu terasa begitu nyata, menuntut, dan padat.
Riven menekan perlahan, mencoba mendesak masuk ke dalam liang keintiman Angie yang sempit.
Namun, begitu bagian hulu miliknya terjepit erat oleh dinding sensitif Angie, gerakan Riven mendadak tertahan.
“Ssh…” Riven merasakan sesuatu yang membakar gairahnha.
Ukurannya yang terlampau besar benar-benar membuat ruang di dalam sana terasa begitu sesak dan padat tanpa celah.
“Nggghhh… Ahh, Riven… tunggu…” Rintihan tertahan lolos dari bibir Angie.
Wajah gadis itu seketika menegang. Alisnya bertaut erat dengan kedua mata yang terpejam rapat.
Sensasi penuh yang meregang kuat di bagian bawah sana membuatnya luar biasa kesusahan.
Rasanya seolah tubuhnya dipaksa menampung sesuatu yang kapasitasnya melebihi batas kemampuannya. Tubuh Angie yang mungil refleks bergetar, mencoba menolak invasi yang terlalu mendominasi itu.
Riven mengecup dahi Angie perlahan dan menciumi seluruh wajah Angie secara lembut. Mencoba menenangkan Angie.
Menyadari Angie masih tersiksa, Riven langsung menghentikan dorongannya. Pria itu menumpu tubuh kekarnya dengan kedua lengan di sisi kepala Angie, menjaga agar bobot tubuhnya tidak kian menyakiti sang gadis.
“Hei… tatap aku, Angie,” bisik Riven parau, suaranya sarat akan kekhawatiran yang berbaur dengan gairah yang tertahan di ujung tanduk.
Angie perlahan membuka matanya yang mulai berkaca-kaca akibat rasa sesak yang menghimpit.
Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Riven meraih jemari Angie, menautkan jari-jari mereka erat-erat, lalu menunduk untuk kembali mengecup kening, kelopak mata, hingga akhirnya membungkam bibir Angie dengan ciuman yang sangat dalam dan lembut.
Riven menciumnya dengan penuh kesabaran, mencoba mengalihkan fokus Angie dari rasa tidak nyaman di bawah sana. Lidahnya menyapu rongga mulut Angie, menghisapnya dengan ritme konstan yang memabukkan, sementara tangan kirinya bergerak lembut mengusap pinggang Angie, menuntun gadis itu untuk rileks.
“Atur napasmu,… rileks,” bisik Riven di sela pagutan mereka, bibirnya berpindah mengulum cuping telinga Angie, menghantarkan desah napasnya yang panas.
Perlahan, kehangatan tubuh Riven dan kelihaian ciumannya mulai bekerja. Otot-otot tubuh Angie yang sempat menegang kaku perlahan-lahan mulai melunak.
Cairan alami yang melimpah akibat stimulasi sebelumnya mulai membasahi sela-sela penyatuan mereka, bertindak sebagai pelumas alami yang membantu mempermudah jalan bagi ukuran Riven yang luar biasa.
Merasakan tubuh Angie yang mulai menyambutnya dan tidak lagi sedemikian menolak, Riven mengembuskan napas panjang. Dengan satu gerakan perlahan namun pasti, pria itu kembali menekan pinggulnya maju, melesakkan miliknya lebih dalam ke dalam kehangatan Angie yang menjepitnya dengan begitu nikmat.
Begitu pertahanan Angie sepenuhnya tertembus dan milik Riven tertanam utuh hingga ke pangkalnya, keduanya serempak meloloskan desahan kontras.
Angie dengan suara merdunya dan Riven dengan suara yang berat.
Riven tidak langsung bergerak ekstrem. Pria itu menumpu bobot tubuhnya dengan kedua lengan, menatap lekat-lekat wajah Angie yang masih meringis kecil sembari menanti tubuh mungil itu beradaptasi dengan ukurannya.
Perlahan, Riven mulai menggerakkan pinggulnya.
Gerakan pertama ini terasa begitu lambat, lembut, dan penuh kehati-hatian. Riven menarik dirinya perlahan hingga nyaris terlepas, sebelum kembali melesak masuk dengan dorongan dalam yang konstan. Pria itu sengaja menahan diri, mengabaikan ego keliaranmha demi memastikan Angie tidak kesakitan.
Meskipun hasrat, gairah, akal sehatnya telah bercampur aduk menjadi satu. Riven tak lagi memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia terikat dengan wanita yang ada di bawah kungkungannya ini. Riven membuang semua rasionalitasnya dan akal sehatnya untuk memenuhi dahaga dalam dirinya yang selama 29 tahun memgendap terkubur dalam dirinya.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor