Hai,
Ini merupakan karya pertamaku, mohon dukungannya ya dengan cara like, love, vote dan komen sebanyak-banyaknya.
Kasih juga ya hehehe.
❤️❤️❤️❤️❤️
Anyelir, gadis yatim piatu yang cerdas dan cantik. Tapi sayang nasibnya tak secantik rupanya. Ia harus rela mengubur impiannya untuk bekerja keras demi sang Nenek tercinta yang sedang sakit.
Kehormatan nya direnggut secara paksa oleh seseorang yang mempunyai pengaruh di tempatnya bekerja.
Ken, anak dari pengusaha kaya raya. Hidupnya tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah setelah malam kejadian ia merampas kehormatan salah satu karyawannya.
Elena, seorang gadis manis yang sangat hebat. Diusianya yang masih kecil ia memiliki bakat melukis serta bermain biola. Disamping kelebihannya, Elena merupakan gadis yang pendiam, saking diamnya sampai-sampai ia tidak mau berbicara. ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan juga note book electric nya.
Akankah mereka bisa bersatu menjadi satu keluarga yang utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinjani Asa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Ku beritahu Ibuku
Setelah mendapatkan penjelasan Elena, Anyelir cukup lega sekaligus was-was. Ia merasa lega karena ternyata Elena selama ini menemui papanya, orang yang cukup dikenalnya.
Sedangkan rasa was-was menghampirinya adalah ketika Anyelir teringat perkataan Vio bahwa sebentar lagi Ken akan tunangan.
Anyelir tidak mau Elena menjadi alasan timbulnya perdebatan antara Ken denga tunangannya. Dalam fikiran Anyelir sekarang adalah bagaimana caranya supaya Elena tidak terlalu dekat dengan Ken. Ia takut, semakin lama hubungan anak dan ayah itu semakin dekat dan lengket. Takutnya nanti saat Ken sudah berkeluarga dan tidak lagi sedekat ini dengan Elena malah akan menimbulkan rasa kehilangan Elena.
"Mungkin dengan pindah rumah, akan lebih mudah supaya Elena tidak lagi bertemu dengan Ken. Tapi... kenapa Ken bisa tahu alamat rumah ini?" Batin Anyelir.
Anyelir segera menepuk jidatnya saat teringat sesuatu.
"Jelaslah, Ken bisa mengetahui alamat rumah ini. Dia kan pernah membeli lukisan Elena, sudah pasti Ken bisa menanyakan alamat rumah ini pada team kreator. Apa sebaiknya aku bicara langsung saja pada Ken?"
Anyelir menghampiri Elena yang sedang latihan biola di ruang tengah. Dua kali dalam seminggu Elena mengambil kelas biola. Sebenarnya Anyelir menyarankan agar Elena fokus pada satu bakatnya saja yaitu melukis. Tapi Elena menjawab biar tidak bosan kalau harus bergelut dengan kanvas dan cat air. Meskipun itu tak akan mungkin terjadi. Karena selain kegiatan home schooling, les biola dan mengajarkan melukis sudah pasti hari-hari Elena dihabiskan waktunya untuk melukis.
Tampak Elena sudah selesai mengikuti les biolanya. Guru les yang mengajari Elena pun berpamitan pada Anyelir setelah sebelumnya minum dan makan camilan yang disediakan oleh Bibi Mary.
Elena duduk di sebelah Anyelir sambil makan kue donat bertabur coklat cair dan kacang almond.
"Donatnya enak. Mama kan yang buat?" Tanya Elena sambil menggigit besar donatnya.
"Mama bikin banyak, jadi jangan khawatir kalau kehabisan," jawab Anyelir.
"Beneran masih banyak Ma?"
"Iya. Kenapa si? Itu yang di piring aja belum habis. Habiskan dulu nanti baru nambah."
"Elena boleh minta beberapa buat papa?"
"Elena mau bertemu papa lagi? Kenapa Elena enggak jujur sama Mama dari awal? Terus kenapa juga papa enggak jemput Elena ke sini?" Tanya Anyelir sambil menyipitkan matanya dan tangannya dilipat di depan dada.
"Waktu itu Papa sudah kesini tapi karena Mama dan Bibi Mary enggak ada makanya Elena ikut Papa," jawab Elena santai sambil terus mengunyah.
Mama boleh ikut kalau kamu mau ketemu Papa?" Tanya Anyelir.
Elena seketika menghentikan kunyahannya, matanya membulat lalu berpaling ke Anyelir.
"Mama beneran mau ikut? Elena seneng banget kalau Mama beneran ikut. Papa juga pasti senang."
"Jadi kapan mau bertemu Papa?"
"Aku coba hubungi Papa dulu ya, tadi Papa bilang masih ada urusan gitu sama temannya." Elena beranjak ke kamar untuk mengambil ponselnya.
"Hubungi? Tunggu! Berati selama ini Elena punya ponsel untuk berhubungan dengan Ken?" Batin Anyelir.
***
Kini mereka bertiga telah berada di Brooklyn Botanic Garden. Brooklyn Botanic Garden adalah sebuah taman botani di wilayah Brooklyn, New York City. Didirikan pada tahun 1910 dan berada di Mount Prospect Park di pusat Brooklyn, bersebelahan dengan Prospect Park dan Museum Brooklyn. Taman seluas 52 hektar ini menampung lebih dari 14.000 jenis tanaman dan memiliki hampir satu juta pengunjung setiap tahun.
Taman ini menjadi rumah bagi berbagai macam jenis tumbuhan seperti pohon ceri, lili, magnolia, anggrek, mawar, azalea, teratai, tulip, sakura dan masih banyak lagi.
Ken memilih tempat ini karena ia ingat ucapan Elena bahwa Anyelir menyukai tanaman. Ia ingin ibu dari anaknya itu tidak terlalu marah karena sering membawa keluar anaknya tanpa ijin. Meskipun sebenarnya Ken juga berhak karena Ken adalah ayahnya. Tapi tetap saja rasa bersalah tetap ada pada diri Ken.
Elena berjalan memimpin di depan, sambil berloncat-loncat riang. Karena memiliki kesempatan berjalan berdampingan dengan Ken, Anyelir pun memilih mengutarakan isi hatinya pada Ken.
"Ehm." Anyelir berdehem untuk memulai bicara. "Boleh saya berbicara serius mengenai Elena?" Ucap Anyelir kemudian.
"Ya. Bicaralah." Jawab Ken menatap mata bulat Anyelir.
Anyelir mengalihkan pandangannya. "Ada baiknya anda jangan terlalu dekat dengan Elena?"
"Kenapa? Aku ayahnya. Kau sendiri membenarkan bahwa aku ayah kandung Elena," ucap Ken.
" Iya, tapi itu tidak baik untuk hati Elena nantinya."
"Maksudnya?"
"Saya dengar anda akan segera bertunangan, pasti tak lama lagi akan menuju ke pernikahan. Saya tidak mau kehadiran Elena di hati anda akan menjadi bumerang di kehidupan rumah tangga anda."
"Itu enggak akan berpengaruh. Lagi pula belum tentu juga aku menyetujui pertunangan itu."
"Saya ya..."
"Mama lihat! Di sana banyak sekali bunga mawar putih kesukaan Mama," teriak Elena berjalan menghampiri kedua orang tuanya sambil menunjuk sekumpulan bunga mawar putih yang tertata rapi.
"Ow...ow. Sepertinya Mama sedang berbicara serius dengan Papa. Ok, kalau begitu aku duluan. Bye." Elena kembali berlari menjauhi kedua orang tuanya.
"Lanjut?" Tanya Ken pada Anyelir.
Anyelir berjalan mendahului Ken. Ken yang menyadari ditinggal seorang diri segera menyusul Anyelir dan kembali berjalan beriringan.
"Saya yakin anda pasti belum menceritakan tentang Elena kepada calon tunangan bahkan kedua orang tua anda kan?" Ucap Anyelir tanpa menoleh pada Ken.
Ken Menghembuskan panjang nafasnya terlebih dulu sebelum menjawab.
"Aku memang belum memberitahu siapa pun termasuk kedua orang tuaku. Tapi aku pasti akan segera memberitahunya, dan untuk soal Clara... untuk apa dia diberitahu, dia bukan bagian dari hidupku." Ucap Ken dengan tegas.
"Clara? Siapa Clara? Oh...apakah itu nama calon tunangannya?" Ucap Anyelir dalam hati.
***
"Pah, nanti rumah kita ditanamin banyak bunga ya, soalnya mama suka banget sama bunga." Elena tiba-tiba berbicara ditengah mereka menikmati makan malam di restoran masih sekitar Brooklyn Botani Garden.
Anyelir seketika tersedak mendengar celotehan anaknya. Dengan sigap Ken menyodorkan gelas minuman pada Anyelir. Anyelir langsung menerimanya lalu meminumnya hingga habis setengah.
Mereka kembali menikmati makanan yang tersaji di meja. Tak lama Elena kembali mengajak berbicara Ken lagi.
"Papah belum jawab," ucap Elena sambil mengerucutkan bibirnya.
Ken mengulum senyumnya sambil mengusap kepala Elena. "Iya Sayang. Apa yang Elena inginkan akan Papa kabulkan."
Anyelir mendongak, menatap Ken dengan tajam. Ia menatap Ken seolah meminta penjelasan tentang apa yang telah ayah dan anak itu bicarakan.
"Jangan cuma keinginan Elena dong Pa, tapi keinginan Mama juga. Papa sayang kan sama Mama?"
Kali ini tidak hanya Anyelir yang tersedak, sudah bisa dipastikan bagaimana gugupnya Ken saat akan mengambil gelas untuk ia minum.
"Uh...kenapa jawab pertanyaan Elena saja lama banget si Pa?"
"Ya Sayang?"
"Bener ya enggak bohong." Elena rupanya salah tanggap ucapan Ken.
'Eh?"
"Kalau Mama, sayang juga kan ke Papa?"
"Cepat habiskan makananmu Elena!" Ucap Anyelir dengan tegas.
"Tapi Papa bilang nanti kita akan tinggal satu rumah, dan aku akan punya banyak adik." Elena berucap dengan polosnya, sehingga membuat wajah Ken berwarna merah seperti kepiting rebus.
extra part-nya yg byk thor