Hati wanita mana yang tidak sakit saat mengetahui bukan satu-satunya wanita di hidup suaminya?
Tapi aku tidak akan menangis, aku akan membuat akulah satu-satunya wanita di hidup suamiku. Untuk pernikahanku, untuk anak-anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon d'nafray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Tante Itu
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh, karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa 'ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh, bayangmu seakan-akan
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang ku hela kau selalu ada
Hujan turun sangat deras. Lagu itu mengalun indah di telingaku, mengiringi perjalanan kami. Ya, setelah satu jam aku menunggu suamiku yang tak kunjung datang dan tidak bisa dihubungi sama sekali, aku menerima tawaran Mas Farhan. Situasi ini seakan mendukungnya. Tak ada satu pun taksi online yang bisa ku pesan, ditambah lagi hujan deras ini.
Seolah tahu kegelisahanku, Mas Farhan tersenyum mengejek. "Mana suami kamu? Harusnya dia bisa tepat waktu. Atau dia sedang bersama wanita itu?"
Hatiku sakit mendengarnya. Setengah hati ini sudah terprovokasi dengan ucapannya. Mengapa suamiku tidak menepati janjinya untuk menjemputku? Apakah dia sedang bersama Alina? Tanganku mengepal meremas bagian bawah dress. Tenang, Rania! Tenang!
"Kamu masih ingat lagu ini?"
Masih. Ini lagu kesukaan kami. Dulu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Semua sudah berlalu.
"Aku selalu memutar lagu ini saat aku rindu."
Yang paling ku inginkan saat ini adalah sampai di rumah dengan cepat.
Ponselku berdering. My Prambudi.
'Sampai di mana?' tanyanya begitu dingin.
Jantungku berdetak kencang. Apakah dia tahu dengan siapa aku pulang?
'Ran, cepat pulang.'
Sambungan itu terputus. Lebih tepatnya dia menutup panggilan itu sepihak. Setelah itu tubuhku panas dingin saat ada pesan gambar yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Gambar saat Mas Farhan membukakan pintu mobil untukku sewaktu kami akan keluar dari hotel.
"Itu suami kamu?" tanya Mas Farhan. Lagi-lagi dia sedang mengejekku. "Kemana saja dia baru telepon sekarang?"
Cukup! "Terima kasih sudah mau mengantarku, tapi bisakah kita cepat sampai?"
Mas Farhan tertawa. "Aku justru menikmati waktu berdua kita. Suruh suami kamu duduk manis dan tunggu dengan sabar. Kita bisa kecelakaan kalau ngebut."
Aku sudah membayangkan bagaimana marahnya suamiku. Pasti dia sudah mendapat pesan gambar yang sama. Siapa yang mengirim gambar itu? Apakah dia orang yang sama dengan orang yang mengambil gambarku dan Mas Farhan di café tempo lalu? Apapun tujuannya, dia berhasil mengadu dombaku dengan Mas Hendra.
"Kembali sama aku, Ran. Kamu nggak akan bahagia dengan laki-laki seperti itu. Di belakangnya pasti ada wanita lain selain yang di rumah sakit itu."
Melihatku hanya diam, Mas Farhan tersenyum sinis. Sepertinya itu angin segar buatnya. "Apa itu benar?"
"Bukan urusan kamu, Mas. Jika kamu nggak mau mengantarku, turunkan aku di sini."
Dia menghela napas dan mengangkat tangannya, menyerah. Memilih diam hingga mobilnya sampai rumahku.
"Tolong jangan kirim bunga dan coklat lagi," ucapku sebelum aku turun. "Kalau kamu masih cinta sama aku, tolong hargai aku. Hargai pernikahanku. Terima kasih sudah mengantarku."
Aku memasuki rumah tanpa menoleh lagi padanya. Sampai di ruang tamu, aku melihat Arka yang sedang bermain dengan mbaknya. Begitu melihatku, bocah tiga tahun itu langsung berlari memelukku dengan senyuman lebar.
"Kenzo mana, Han?" tanyaku sambil melirik ke ruangan dalam. "Tidur?"
Hana menggeleng. "Di kamar, Bu."
Dia bergerak gelisah, seperti ada yang ingin disampaikan. Gadis yang ikut denganku sejak usia 15 tahun itu melirikku takut dan terlihat gugup.
"Ada apa, Hana?" Aku menepuk kaki Arka agar dia turun dari pangkuanku dan menyuruhnya bermain. "Ada yang ingin kamu sampaikan?"
Hana mengangguk. "Kulo mboten kepenak ngomongnya. Mangke ibu kepikiran, tapi yen kulo mboten sanjang niki kulo kok mboten tenang. (Saya tidak enak membicarakannya. Nanti ibu kepikiran, tapi jika saya tidak menyampaikan itu saya yang tidak tenang.)"
Sudah tiga tahun ini Hana bekerja denganku, tak sekali pun dia pernah berbohong. Dia gadis yang polos dan selalu menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Cerita padaku, Han."
"Itu, Bu. Mas Kenzo marah."
"Marah kenapa?" Dahiku mengerut.
"La wau teng griyo Nenek kan wonten Bu Alina. Mas Kenzo niku nesu. (Tadi di rumah Nenek ada Bu Alina. Mas Kenzo itu marah.)"
Sejak pertama aku memperkenalkan Alina sebagai saudara jauh ayahnya, Kenzo sudah menunjukkan ketidak sukaannya. Dia seolah membuat dinding terhadap Alina dan memasang wajah datar. Bahkan sejak aku bilang Alina bisa membuat choco chips kesukaannya, Kenzo sudah tidak lagi menyukai makanan itu. Dan aku baru menyadari, dia lebih banyak diam akhir-akhir ini.
"Wau Nenek tindhak arisan, dadose teng griya niku namung Bapak, Bu Alina, Mas kenzo, Mas Arka kaliyan kulo. Bapak niku ketingalane capek, rebahan ngantos ketiduran ngoten teng ruang tengah. La Bu Alina niku nggeh tumut rebahan sampinge Bapak, niku nggeh dolanan kaliyan Mas Arka. Mas Kenzo niku sampun nggondok ningali ngoten. (Tadi Nenek pergi arisan, jadi yang di rumah tinggal Bapak, Bu Alina, Mas Kenzo, Mas Arka dan saya. Bapak terlihat capek, berbaring sampai ketiduran begitu di ruang tengah. Bu Alina ikut berbaring di samping Bapak, sambil bermain dengan Mas Arka. Mas Kenzo sudah merajuk melihat hal itu.)"
Kenapa aku merasakan sesak di dada ini? Apa Mas Hendra tidak tahu aku sudah lama menunggunya? "Sekarang Bapak mana?"
"Di kamar. Nganti griyo niku Bapak langsung mlebet kamar. Nalika tangi wau, Bapak gupuh ndeleng hp, nanging nesu nalika ndeleng hp. Bapak cepet-cepet nyuwun manthuk. (Di kamar. Sampai rumah Bapak langsung masuk kamar. Bangun tidur tadi Bapak panik mencari hp, tapi malah marah begitu melihat hp. Bapak buru-buru mengajak pulang.)"
"Bapak tahu Kenzo marah?"
Hana menggeleng.
Bodohnya aku sampai tidak mempedulikan perasaan Kenzo. Kenapa baru sekarang aku menyadari arti diamnya Kenzo? Apa yang dipikirkan anak itu?
Kenzo sedang memainkan robotnya sambil berbaring saat aku membuka kamarnya. Dia bangun menghampiriku dan memelukku.
"Kenzo nggak suka sama tante itu, Nda."
Aku tahu siapa yang dimaksud Kenzo.
"Kenzo takut tante itu ngerebut Ayah dari Bunda."
Hatiku mencelos. Sebenarnya siapa yang merebut siapa?
"Tante Alina nggak bermaksud seperti itu, Nak."
"Tante itu selalu deket-deket Ayah tiap kali ketemu."
"Namanya Tante Alina." Dia istri pertama ayahmu. "Tante Alina itu baik orangnya. Kenzo jangan marah sama Tante Alina ya, Nak."
Kenzo tidak mau menatapku, tanda protes. "Tapi Kenzo nggak suka kalo tante itu deket-deket Ayah. Ayah kan punyanya Bunda. Jadi tante itu nggak boleh ngerebut apa yang bukan miliknya."
Aku terhenyak mendengarnya kemudian memeluknya erat. "Kenzo nggak boleh ngomong gitu ya, sayang. Nggak ada yang ngerebut Ayah dari kita."
"Pokoknya Kenzo mau pukul Tante Alina kalau masih deket-deket sama Ayah." Kenzo mengepalkan tangan, marah. "Kenzo benci sama tante itu."
"Kita nggak boleh benci begitu sama seseorang. Tante Alina sayang sama Kenzo. Buktinya Tante Alina buat choco chips untuk Kenzo," ucapku dengan membuka kepalan tangan Kenzo. "Jangan begitu ya, sayang. Anak Bunda kan anak baik. Janji ya sama Bunda, nggak boleh membenci seseorang tanpa alasan, apalagi sampai menggunakan kekerasan."
Tak ada jawaban darinya.
"Kenzo?"
"Ya, Nda."
Suara itu muncul agak lama. Aku tahu tidak ada keikhlasan di jawaban itu. Pasti membutuhkan waktu agar Kenzo paham keadaan ini. Sepertinya itu bukan hal yang mudah.
“Kenzo nggak mau pergi ke rumah Nenek lagi.”
“Kok begitu?”
“Tiap Kenzo kesana pasti tante itu datang. Kenzo nggak suka, Nda.”
Aku menghela napas dan memaksa Kenzo menatapku. “Tante Alina kan anaknya Nenek. Wajar kalau Tante Alina pergi kesana.”
“Tapi kenapa selalu dekat Ayah?”
Pertanyaan itu menggelitik rasa penasaranku. “Dekat seperti apa?”
“Tante itu selalu tersenyum pada Ayah seperti Bunda. Tante itu juga suka bersandar di bahu Ayah saat duduk bersama. Tante itu menyuapi Ayah makan, padahal Ayah nggak mau. Kalau kami pulang, tante itu cium tangan dan pipi Ayah. Aku nggak suka, Nda.”
Tanganku mengepal erat mendengarnya tapi aku masih berusaha tersenyum. Nyatanya hatiku sakit mendengar laporan anakku. Jika tahu akan mendapat jawaban seperti ini, aku tidak akan bertanya sedekat apa Alina dengan suamiku. Sekarang aku harus menahan sakit di depan sulungku.
“Jangan paksa Kenzo suka sama tante itu, Nda. Kenzo nggak mau.”
Aku mengangguk dan memeluk Kenzo.
“Tolong jauhkan tante itu dari Ayah, Nda. Kenzo nggak mau Ayah diambil tante itu.”
alina, terima aja krn hendra itu kan TERPAKSA menikahimu, SADAR dong
u/ elin, ceraikan stlh anak'a lahir & tes DNA