Menikah hal yang tidak pernah terbesit dalam benak Elvira Nararya, seorang CEO bernama Khuza Gautama mengambilnya sebagai teman hidup karena inside pemerkosaan, alasan yang mendasar Khuza ingin menikahi Elvira adalah untuk menutupi aib perusahaan.
Namun seiring berjalannya waktu, Elvira akhirnya tahu bahwa semuanya hanyalah sandiwara, Khuza memperkosanya karena ingin mendapatkan keturunan, sebab kekasihnya yang berstatus model terkenal itu tidak ingin mengandung dan merusak penampilannya.
Elvira yang sudah tahu kebenarannya diam-diam mengikuti sandiwara mereka dan berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang hidupnya yang hanya di jadikan taming, lebih tepatnya alat untuk mendapatkan keturunan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hildayanti intan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
merias diri
Di meja makan Khuza masih mau bermanja-manja, dia bahkan menyuapi Istri-nya saking bahagianya
"El, nanti malam kau tidak memiliki kegiatan bukan?".
"Sepertinya iya, memangnya Ada apa kak?". Tanya Elvi pura-pura, padahal tadi pagi semua percakapan antara Suami-nya dan Melodi ia dengar, tentang rencana menghadiri sebuah pameran berlian di Kartika Expo.
"Kakak ingin mengajak mu ke sebuah pameran berlian, mau kan?".
"Memangnya boleh Elvi ikut dengan kakak?"
"Ya jelas boleh dong, kamu kan Istri ku masa tidak boleh".
"Tapi kak.. aku takut malu-maluin kakak di sana, dengan tubuh gendut dan perut buncit seperti ini pasti sangat tidak enak di pandang."
"Ssstt... Tidak El, kau adalah ibu hamil terseksi yang Pernah ku lihat, jangan merendah seperti itu, dan Oyah sebentar lagi Yirus akan membawakan mu dress, aku harap kamu suka". Khuza meyakinkan Elvi bahwa benar dia ibu hamil yang sangat seksi dengan postur tubuh yang tinggi dan perut yang membuncit.
"Hmm kakak pasti bilang gitu karena takut aku tersinggung kan?, Tapi, semoga aku tidak membuat kakak malu di sana". Elvi pun tersenyum manis
Tidak sia-sia kelas make up yang di ajarkan Alya padanya saat itu meskipun waktunya sangat singkat namun Elvi adalah wanita yang cepat tanggap, dia dengan mudah mengerti segalanya.
"Hey aku serius El, aku tidak bercanda, kamu memang cantik dan seksi, jika tidak mana mungkin aku selalu bergairah saat melihat mu".
"Uhuukkkk.. uhuuukk.. (Elvi meraih segelas air untuk di minumnya), pelayan mendengar kita kak". Bisik Elvi.
"Memang-nya kenapa, ini mansion ku dan aku bebas berbicara apa saja ke istri ku, siapa yang akan marah coba". Khuza mulai menggoda lagi.
"Iya iya Elvi tau kok ini mansion kakak".
"Kamu lucu kalau lagi sebal gitu". Tanpa sadar Khuza meraih wajah Elvi, lalu mencium bibirnya lama.
"Sstt.. bibir mu.." Khuza mengeringis setelah ciuman mereka.
"Eh, maafkan tadi aku makan sambal tapi nggak pedas kok". Elvi menyondorkan segelas air untuk suaminya.
"Nggak pedas Bagaimana, itu sangat pedas El, perut mu bisa mules nanti". Khuza menjauhkan makanan yang berbau sambal di hadapan-nya.
"Elvi sudah biasa kok kak, jadi nggak bakal mules lagi". Elvi hanya tersenyum melihat Khuza dengan telinga memerah.
...****************...
Skip
Malam pun tiba, Elvi segera beranjak untuk memakai gaun yang di bawahkan Yirus padanya, gaun yang kurang pas menurutnya karena terlalu menampakkan perutnya yang buncit.
"Gimana ya caranya supaya gaun ini bisa sedikit menutupi perut buncit ku". Lama Elvi berfikir hingga muncul ide cemerlang dalam benak-nya.
Kalau tidak salah waktu itu Khuza pernah membelikannya blazer putih yang berbentuk jas namun bukan juga jas, dan Blazer itu memang di rancang sedemikian rupa agar seseorang yang mengenakannya terlihat elegan dan cantik.
"Top ide yang bagus". Sesegera mungkin Elvi melihat dirinya di cermin dan benar saja, dirinya begitu cantik dan penampilan-nya nyaris sempurna.
Elvi sekarang duduk di depan meja rias, Elvi sedikit bingung bagaimana memoles wajahnya agar terlihat bersinar di hadapan orang-orang, jelas saja Elvi tidak ingin tampil norak, sesuai rencana awal Elvi harus mengalahkan Melodi di sana.
Tanpa banyak pertimbangan lagi, Elvi segera menghubungi Alya, meminta pendapat wanita itu untuk bermake up.
"Halo maaf ini dengan siapa?". Ucap Alya dari sebrang sana.
"Halo Mbak ini dengan Elvi".
"Elvi?, Hey sudah lama kau tidak menghubungi Mbak, Oyah ngomong-ngomong kamu ganti nomor?".
"Ah iya mbak, ponsel ku yang kemarin hilang jadi aku ganti yang baru". Dustanya padahal kemarin Elvi sengaja membuang kartunya saat ingin melarikan diri.
"Ah begitu ya, Oyah Bagaimana keadaan mu sekarang El?".
"Baik Mbak, Mbak sendiri bagaimana kok udah jarang banget datang ke Mansion".
"Mbak sibuk El, apa lagi anak Mbak sekarang sudah sekolah ".
"Hmm iya juga sih.. Oyah mbak Elvi mau minta tolong boleh nggak?".
"Boleh dong El, mau minta tolong apa memangnya?". Dengan senang hati Alya ingin membantu.
"Itu, hari ini Khuza mengajak ku ke pameran berlian di Kartika Expo tapi Aku bingung make up Nya Gimana, terlalu natural terlihat kampungan, terlalu menor juga norak.. aku bingung Mbak, aku maunya seperti model yang bersinar meskipun body ku sudah seperti ini".
Alya sangat senang dengan perubahan Elvi, Alya bisa tahu Bahwa saat ini Elvi tengah berjuang untuk kebahagiaan-nya, tidak ada lagi rasa malu-malu dalam dirinya, ucapannya begitu jelas dan tidak gugup, inilah yang Alya cari dari Elvi selama ini.
"Ya sudah kita video call saja, nanti Mbak yang tentukan make up mana yang bagus untuk mu".
"Serius Mbak, wah.. Mbak baik banget deh". Sesegera mungkin video call tersambung dan Elvi segera menunjukkan deretan make up-nya pada Alya.
Selang tiga puluh menit, riasan merias wajah akhirnya selesai tentu itu semua karena bantuan Alya..
"Mbak aku pake lipstik yang ini apa yang ini?".
"Menurut Mbak dua-duanya Kurang bagus, mungkin lipstik yang merah itu bagus, tapi olehnya nggak usah tebal-tebal, tipis-tipis aja supaya tidak terlalu norak dan mencolot".
"Oke deh Mbak".
"Nah perfect!!". Alya terseyum Melihat wajah Elvi yang begitu menakjubkan, dia benar-benar bersinar sekarang.
"Wah Mbak, apa ini aku.. tidak mungkin hasilnya akan sebagus ini". Gumam Elvi takkala takjub melihat pesona dirinya di pantulan cermin, dia juga baru menyadari akan kecantikan yang ia miliki selama ini.
"Kau sangat cantik El, Mbak irih pada mu". Alya terharu melihat kegigihan Elvi untuk merebut Khuza dan memperjuangkan haknya.
"Ya Mbak kok irih, kan Mbak mentor ku, harusnya aku yang irih kalau bukan Mbak aku nggak mungkin bisa kaya gini". Elvi terseyum manis.
"Kamu bisa aja El, Oyah nanti Mbak juga akan ikut kok di pameran berlian itu, nanti kita bisa bertemu disana Elvi, suami Mbak kebetulan ingin datang juga nanti sekalian Mbak kenalkan".
"Benarkah, wah aku sangat senang kalau Mbak juga datang, kita bisa bertemu lagi deh".
"Elvi apa kau sudah selesai?". Terdengar suara Khuza yang berjalan ke arahnya.
"Iya kak sudah kok". Jawab Elvi.
"Oyah Mbak sudah dulu ya, aku sudah di panggil". Elvi melambaikan tangannya ke arah layar ponsel di hadapannya.
"Oke byee see you Elvi". Telfon pun berakhir.
"Kak maaf aku sedikit lama". Elvi menunduk merasa bersalah.
Sementara Khuza hanya melongok takjub melihat penampilan Elvi yang begitu memukau, Istri-nya sangat cantik dan apa itu pakaiannya begitu pas, tidak menampakan bahwa Elvi sedang mengandung sekarang.
bersambung....
author bisa tidak membedakan mana salah, mana benar, author tau tidak apa itu kesalahan selingkuh
*seorang wanita masih berstatus istri tapi berhubungan dengan pria lain
*seorang lelaki mendekati dan berhubungan dengan wanita bersuami
*seorang wanita masih berstatus istri tapi malah merencanakan pernikahan dengan pri lain
*seorang wanita berstatus istri tapi bermesraan dan kontak fisik dengan lelaki lain
*seorang istri yang melaknat suaminya tapi dia lebih menjijikan, munafik
bahkan pelacur sekalipun saat sudah menikah dia menghormati ikatan pernikahannya dan statusnya sebagai istri
maka kesimpulan nya pemeran utama wanita lebih hina dari pada pelacur
dan yang membuat novel ini egois semua kelakuan novel ini membenarkan semua kelakuan istri dan PEBINOR
sekian Terima kasih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪