"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Kenapa Tari harus diem di rumah?"
"Ini sudah sore, sebentar lagi sudah malam!"
Mentari menatap Arka dengan pandangan penuh intimidasi.
"Kamu kenapa?!" Arka bingung dengan Mentari yang aneh.
"Apa Kakak suka sama Tari?" Mentari memicingkan matanya, bukan Mentari namanya bila bisa kalah dengan mudah. Bahkan mungkin ia tidak pernah kalah bila berdebat dengan siapa pun.
Arka memegang dahi Mentari, "Kamu sedang tidak sehat?!" tanya Arka dengan wajah datarnya.
"CK....." Mentari mendekatkan dirinya pada Arka, "Kakak yang gila!" teriak Mentari.
"Dasar anak-anak...... dilarang kelayapan malah marah-marah," kata Arka sambil menyentil dahi Mentari.
"Ish....." Mentari kesal dan ia mengelus dahi nya yang terasa sakit, "Dasar Om-om aneh...Tari itu udah gede, bentar lagi udah lulus, terus Tari mau kuliah.." geram Mentari
"Kuliah?!" Arka berkacak pinggang sambil menatap Mentari dengan serius.
"Iya dong, Tari mau kuliah di luar negeri," jawab Mentari dengan membanggakan diri, "Selesai kuliah baru Tari kerja......dan sukses deh...kalau Tari udah sukses Tari mau keliling dunia." Mentari menaik turunkan kedua alis matanya seolah ia sangat yakin dan bangga dengan kesuksesan yang akan di capai.
"Siapa yang akan membiayai kuliah mu?" Arka menatap Mentari sambil menunggu jawaban dari Mentari.
"Papa dong!" jawab Mentari lagi dengan cepat.
Arka mengangkat sebelah alisnya, "Lalu kenapa kemarin saya yang membayar uang SPP mu?" Arka ingin menyudutkan Mentari dan terlihat jelas bocah ingusan itu tengah berpikir keras hingga Arka tersenyum samar, "Uang saku saja Papa dan Mama nggak mau lagi ngasih, apa ia Papa kau biayain kuliah kamu?!"
"Iya sih," Mentari menggaruk kepalanya dan kini di Landa kebingungan, "Terus kalau Tari kuliah yang biayain siapa dong?" Mentari bukan menjawab tapi malah bertanya balik.
Arka menggangkat bahunya dengan santai, seolah ia sama sekali tidak ikut campur dan tidak tahu menahu masalah kuliah Mentari.
"Malangnya nasib mu Mentari, udah nikah dengan orang ngeselin.....uang jajan juga udah nggak di kasih sama Papa, yang sabar ya Mentari.....sabar itu susah karena hadiahnya surga," Mentari mengelus dada seolah ia kini sangat dilema dan tersakiti.
Arka ingin tertawa melihat keanehan Mentari, Mentari memang terlihat bersedih tapi ia tetap saja pada mode ceria. Hanya saja Arka hukan lelaki yang bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas, ia lebih pada diam dan kadang orang berpikir jika dirinya tidak pandai tertawa apalagi tersenyum.
"Papa nggak akan mau bayarin kuliah mu!"
"Kalau Papa nggak mau bayarin kan ada Kakak yang bayarin, kalau Kakak nggak mau bayarin Tari......" Mentari menggantung ucapannya, lalu mendekatkan wajahnya pada Arka dan menatap Arka dengan tajam, "Tari bakalan cari uang sendiri!" lanjut Mentari dengan bangganya.
"Kamu bisa kerja apa?" Arka menatap Mentari, seolah tatapan Arka begitu remeh hingga ia sangat meragukan kata-kata Mentari.
"Tari bisa jadi penyanyi, Tari bisa jadi koki, Tari bisa jadi apa aja lah....yang penting kerja, atau Tari juga bisa jadi istri rektor universitas biar lebih aman, Ahahahhaha......" Mentari tertawa dan ia terlihat sangat bangga akan ide gilanya.
"Tidak waras," Arka mengetuk kepala Mentari lalu ia kembali duduk di sofa.
"Ish.....Kakak apasih, suka banget deh nodai jidad Tari terus-terusan," Omel Mentari sambil memanyunkan bibirnya.
"Karena kau bilang kau itu serba bisa dalam segala hal, sekarang buatkan saya kopi, nggak terlalu manis dan nggak terlalu pahit," titah Arka.
"Ogah.....!" jawab Mentari dengan cepat, "Tari mau pacaran," Mentari memutar gagang pintu lalu pergi meninggalkan Arka, ia menuruni anak tangga sambil menggerutu kesal. Saat ia selesai menuruni anak tangga tiba-tiba Linda memanggilnya, hingga ia urung menuju pintu utama.
"Tari," napas Linda terlihat memburu, dan ada raut kepanikan yang terlihat.
"Mami kenapa?" Mentari berusaha menenangkan Linda, sebab ia dapat melihat kepanikan.
"Tari, Ulan tadi di larikan ke rumah sakit," jelas Linda yang mulai bisa tenang namun masih dengan napas yang terengah-engah.
"CK....." Mentari sama sekali terlihat tidak tertarik dengan pembahasan Linda, hingga ia terlihat biasa saja. Dan iaalah berniat pergi begitu saja tanpa bertanya apapun, namun Linda cepat-cepat menarik pengan Mentari hingga ia urung untuk melangkah pergi.
"Tari....Rembulan mencoba bunuh diri, keadaannya sangat parah," jelas Linda lagi dengan cepat, agar Mentari tahu jika Ulan sedang kritis.
"Bunuh diri Mi?" tanya Mentari mulai ikut panik.
"Iya," Linda mengangguk cepat membenarkan apa yang dikatakan nya.
"Mi, Tari ke rumah sakit ya," pinta Mentari.
"Mami juga ikut," kata Linda dengan cepat, "Arka!!" Linda memanggil sang anak dengan setengah berteriak.
"Kenapa Mi?" terdengar suara berat dan tertahan milik Arka yang sedang menuruni anak tangga, dan Linda baru menyadarinya.
"Anterin Mami sama Tari ke rumah sakit!"
Lima belas menit berlalu, Mentari, Arka dan Linda sampai di rumah sakit. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh tangis Ranti, wanita paruh baya itu terlihat begitu bersedih saat melihat keadaan putrinya.
"Tari....hiks...hiks....." Ranti menangis sambil memeluk Mentari dengan begitu erat.
Mentari memeluk sang Mama dengan tidak erat, hati nya juga ikut bersedih melihat keadaan Rembulan yang begitu memperhatikan. Sebesar apa pun kebencian yang ia tanamkan untuk sang Kakak, namun tetap saja ia masih memiliki rasa iba saat melihat keadaan Kakaknya. Mereka sedari kecil bersama, bertengkar bersama, tertawa pun bersama dan tidak semudah itu bisa di lupakan dengan begitu saja. Sebesar apa pun pertengkaran di antara keduanya, kenangan indah bersama masih bisa menarik mereka menjadi sebuah keluarga seperti dulu.
"Sekarang gimana keadaan Kak Ulan Ma?" tanya Mentari dengan air mata yang terus membasahi pipinya, gadis ceria itu ikut hanyut dalam kesedihan. Seceria dan sekerasnya hati Mentari tetap saja ia masih memiliki hati nurani yang begitu besar.
Ranti melihat Rembulan melalui pintu kaca di hadapannya, Mentari juga ikut melihat ke sana dimana sang Kakak tengah dalam keadaan yang sangat memprihatinkan sekali.
"Ulan mencoba bunuh diri Tari, untung saja bik Sum tadi melihatnya....dan kalau terlambat sedikit saja Mama tidak tau apa yang akan terjadi," Suara Ranti terlihat begitu bergetar dengan segala kerisauan yang ia rasakan.
Mentari kembali memeluk Ranti, dengan kekhawatiran yang ia juga rasakan jugu.
"Yang sabar ya jeng," Linda mengelus pundak Ranti, ia juga ikut menangis karena ikut merasakan yang Ranti rasakan.
"Makasih jeng," Ranti tersenyum dengan paksa, ia terharu pada Linda yang juga terlihat sudah tidak membenci Rembulan lagi.
"Kita berdo'a semoga Rembulan baik-baik saja."
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.