NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Putih

Pendekar Elang Putih

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Kultivasi / Wuxia / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adi Kusma

Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.

Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.

Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.

Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado Spesial

Pedang di tangan Mahesa memang bukan pedang pusaka. Namun kualitas besinya sangat bagus. Sehingga mampu bertahan saat dialiri tenaga dalam yang tinggi. Pedang itu pemberian gurunya sebagai simbol telah bergabungnya Mahesa dalam Padepokan Rajawali. 

Sebenarnya, Mahesa menolak saat Belibis Putih memberi pedang. Dia berdalih lebih tertarik bertarung dengan tangan kosong, lagi pula keahlian bermain pedangnya sangat rendah. Mahesa tidak mengatakan, sebenarnya dia belum mendapat izin dari ibunda untuk mencabut pedang.

Mungkin Belibis Putih akan muntah darah jika melihat permainan pedang Mahesa saat ini.

Permainan pedang Mahesa bahkan jauh di atas ahli pedang terbaik Padepokan Rajawali. Sebenarnya Mahesa sendiri belum menemukan tanding Ilmu Rahasia Pedang milik ibunya itu.

Baru sekarang Mahesa mendapati orang yang menguasai Ilmu Rahasia Pedang dengan sempurna.

Malam ini, Mahesa harus menghadapi dua orang sekaligus, dua orang dengan kemampuan jelmaan dirinya. Kemampuan mereka sama persis. Jika Mahesa menghadapi mereka satu persatu, dia yakin akan keluar sebagai pemenang. Tapi kenyataannya, sekarang dia bagai bercermin.

Setelah bertarung lebih dari seratus jurus, kedua orang berpakaian serba hitam sedikit mengendurkan serangan mereka. Kelihatannya stamina Mahesa lebih unggul.

'Jurus Pedang Kesembilan - Tapak Naga Suci, Naga Mengguncang Bumi.' Mahesa menyerang secepat kilat menggabungkan kemampuan miliknya.

Usahanya membuahkan hasil, kedua lawannya terpukul mundur. Mahesa berhasil memisahkan mereka.

"Apa tujuan kalian sangat ingin mencelakai saya? Saya rasa, diantara kita tidak ada masalah. Bukankah kita belum pernah bertemu?" Mahesa bertanya. Namun kedua lawannya diam saja.

"Baik. Jika benar kalian menginginkan nyawa saya. Silahkan ambil jika kalian mampu." Mahesa kembali menyerang dengan cepat.

Jurus Sepuluh Langkah Pedang milik Mahesa mampu membuat lawannya dengan jurus yang sama berada dalam posisi bertahan. Seorang lagi, dengan Jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga, tidak juga mampu mendesak Mahesa.

Pertarungan kembali berlanjut dengan Mahesa berada dalam posisi diuntungkan.

Napas Kedua lawannya sudah terputus-putus.

"Kalian sungguh luar biasa. Pantas saja bisa membunuh Pendekar-pendekar ternama dunia persilatan menggunakan jurus andalan mereka. Akan tetapi, Sepertinya malam ini bukan malam keberuntungan kalian." Mahesa memandangi lawannya dengan senyum tipis.

"Tunggu ... Kami bukan orang yang kau bicarakan." Tiba-tiba seorang diantara mereka menyahut.

Mahesa mengerutkan dahi, bukan karena jawaban pendekar itu namun suaranya. Suara itu sepertinya tidak terdengar asing di telinga. Walau dari balik cadar dan terkesan dibuat-buat Mahesa merasa mengenalnya.

"Beberapa tokoh dunia persilatan tewas dengan jurus andalan mereka sendiri. Malam ini, Kalian datang dengan sangat misterius, menyerang dengan kemampuan yang saya miliki dan hampir mencelakai saya. Jika tujuan kalian baik, untuk apa menyembunyikan wajah?"

Kedua lawan Mahesa kembali membisu.

"Jika benar, kalian tidak terlibat dalam kasus pembunuhan yang menggemparkan itu, setidaknya biarkan saya mengetahui siapa gerangan orang yang memiliki kemampuan setara dengan saya," ucap Mahesa lebih lanjut.

"Apa kau berpikir begitu hebatnya dirimu hingga mengira tidak akan ada orang yang akan mengalahkan mu?"

"Saya hanya tidak mengetahui jika ada orang lain yang memiliki kemampuan setara dengan guru."

"Hahaha ... Dan sekarang kau telah menemukan orang nya bukan?"

"Kemampuan kalian memang sungguh luar biasa bahkan berada jauh di atas saya. Namun sayang, kalian telah mempergunakan ilmu yang kalian miliki tidak dengan semestinya. Sekarang kalian sudah datang. Jangan pernah berpikir kalian akan kembali." Mahesa Kembali bersiap menyerang.

"Tunggu. Apa yang akan kau lakukan?"

Seorang lagi bicara. Sejak tadi dia hanya diam, ternyata dia seorang perempuan.

"Ibu?!?" desis Mahesa.

Yah, itu memang suara ibunya. Suara yang sejak tadi dikenali memang mirip suara ayahnya.

Mahesa menatap lekat dua sosok di hadapannya.

"Saya berharap tidak sedang bermimpi jika melihat wajah kalian berdua," ucap Mahesa seraya menyarungkan kembali pedangnya.

Dua orang itu saling pandang. Lalu membuka penutup wajah mereka.

Jantung Mahesa serasa copot ketika melihat wajah keduanya. Wajah ayah dan ibunya yang tersenyum hangat.

Raditya dan Rengganis saling tatap, mereka membiarkan Mahesa menggunakan Ilmu Mata Naga, ilmu yang mampu mendeteksi ilusi tingkat tinggi.

"Ayah, ibu, mohon ampuni anakmu ini ...." Mahesa berlutut dengan setetes air mata disudut pipinya.

Rengganis memeluk putra kesayangannya dengan penuh kasih. Empat tahun berpisah membuat rindu mendalam di hatinya.

Keluarga kecil tersebut kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol melepaskan rindu.

Raditya dan Rengganis sudah mengganti pakaian mereka layaknya orang biasa. Mahesa juga melepas topeng perak di wajahnya. Sekilas mereka tidak terlihat sebagai keluarga Pendekar.

"Ayah, ibu. Apa tidak sebaiknya kita kembali ke Padepokan saja. Akan lebih nyaman tidur di sana." Mahesa masih membujuk kedua orang tuanya.

"Mahesa putraku, ibu sudah terbiasa hidup ditengah hutan seperti ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." 

Raditya mengangguk menyetujui ucapan istrinya.

"Ananda merasa berdosa karena hampir mencelakai ayah dan ibu. Mohon ayah dan ibu membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya. Ananda juga melanggar janji untuk tidak menggunakan pedang."

Mendengar putranya Kembali menyinggung masalah itu, Rengganis merasa menemukan celah untuk mulai membicarakan maksud kedatangan mereka. Sejenak dia menatap Raditya.

Raditya menganggukkan kepalanya. Tanda setuju.

"Mahesa putraku, memang sudah saatnya kau menggunakan semua kemampuan yang kau miliki. Ibu tahu, selama ini kau membawa pedang sebagai simbol Padepokan. Namun ayah dan ibu memang mempunyai suatu hadiah untuk mu." Rengganis menghentikan kalimatnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam fikiran nya.

Sebuah kotak kayu yang sangat indah. Bentuknya panjang seperti kotak pedang.

"Benar putraku, besok adalah hari ulang tahunmu yang kedua puluh satu tahun. Ayah dan ibu akan memberimu kado spesial. Ayah harap kau menerima dengan senang hati."

Raditya mengelus kepala Mahesa dengan penuh kasih.

Mahesa tersenyum haru. Jauh-jauh orang tuanya datang demi memberikan hadiah di hari ulang tahunnya. Anak mana yang tidak akan bahagia. Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan. Mahesa memeluk ayahnya.

"Dengan senang hati ananda menerima hadiah spesial dari ayahnya dan ibu."

Sebilah pedang pusaka.

Setelah menerima dengan penuh suka, Mahesa menyimpan pedang pusaka tersebut dalam jiwanya. Kapan pun dia menginginkan, pedang pusaka akan muncul di tangannya.

Hari yang sangat indah bagi Mahesa.

Meski dia tidak menyadari dan bahkan tidak bertanya bahwa pedang yang baru saja diterima nya adalah PEDANG REMBULAN. Salah satu pedang Pusaka Legenda yang saat ini diperebutkan para Pendekar dunia persilatan.

Malam itu, Mahesa tidak pulang ke Padepokan Rajawali. Dia bermalam di sebuah gubuk tua di tengah hutan bersama kedua orang tuanya. Sudah lama mereka tidak melakukan hal itu bersama.

Bertarung lebih dari seratus jurus membuat dua tubuh tua itu sangat kelelahan dan cepat tertidur.

Mahesa memandangi wajah ayah dan ibunya. Dia sangat bangga terlahir dari rahim seorang pendekar hebat seperti ibunya.

Raditya dan Rengganis merupakan sepasang pendekar yang tak terkalahkan dimasanya.

Mahesa membaringkan tubuhnya disamping ayahanda tercinta.

Tempat itu cukup jauh dari padepokan.

Hari ketiga, Raditya dan Rengganis pamit untuk kembali ke pulau kura-kura. Mahesa hanya bisa menuruti keinginan orang tuanya. Dia menyadari, Raditya dan Rengganis memang tidak akan menampakkan diri didepan khalayak ramai. Mahesa melepas keduanya dengan berat hati.

°°°

Mahesa yang baru menginjakkan kaki di Padepokan Rajawali disambut dengan kabar yang tidak menyenangkan. Salah satu ketua cabang kecil bernama Buta Rota tewas dibunuh.

Menurut kabar, dia dihabisi dengan senjata miliknya sendiri. Tidak disebutkan jika ketua Buta Rota dibunuh oleh jurus andalannya.

Mahesa ditemani dua orang abdi setia Belibis Putih bergegas menuju kediaman Buta Rota yang terletak di kawasan padepokan sebelah barat.

1
Irwandy Kamal
𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚕𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚓𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗𝚗
Irwandy Kamal
𝚙𝚊𝚍𝚎𝚙𝚘𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚓𝚊𝚠𝚊𝚕𝚒, 𝚓𝚞𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚌𝚊𝚔𝚊𝚛 𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 🤔
merah putih
bagusss...thor....hanya sj msh terlalu banyak ungkapan2. kurangi ungkapan2 terutama saat bertarung.
Hamka Bahri
Luwuk Banggai Parigi Moutong 🤣🤣🤣🤣
Nggenk Topan
mahesa lebay...
Nggenk Topan
galih janda bahenol
Yuniar Hadi
iya
Nggenk Topan
kok bikin bingung...?
Nggenk Topan
tambah hebohhhhh
Mely Kanzafaiz
cerita yg ga jlas
Rivan Zuhri
jadi menikah dengan siapa saja
Rivan Zuhri
Luar biasa
Rizal Sude
Biasa
Yanah Tjan
Luar biasa
Tabri Bong Plaju
ceritanya bagus,typonya gak ada,mudah di ikuti jln ceritanya.... semangat terus tor...
@ ubaydah_*😄
harus kembaran Puspita cewek aja,biar ceritanya tambah seru
Adi Kusma: Mksh kk
total 1 replies
@ ubaydah_*😄
kenapa si Puspita GA bunuhdiri aja biar siluman jahatnya ikutan mati.
Denmas
agak rumit di pahammi
Irhakim
kak permisi mau promo dulu kak tentang fantasi constelasi
Thomas Andreas
ngeri julukannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!