NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA SANG PEWARIS KONGLOMERAT

Sedan mewah Mercedes-Benz Maybach itu melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai tergenang air hujan. Suara deru mesin hampir tidak terdengar di dalam kabin yang kedap suara, menyisakan keheningan yang kental di antara dua orang yang duduk di baris belakang. Hawa hangat dari sistem pemanas mobil perlahan-lahan meredakan rasa menggigil di tubuh Rina, meski pelipisnya masih berdenyut karena sisa demam.

Rina membuka matanya perlahan. Pandangannya kini jauh lebih jernih. Dia bergerak sedikit, menyadari bahwa dia masih berselimutkan jas sekolah hitam milik Kai yang memancarkan aroma cedarwood yang maskulin. Di bawah balutan kain tebal itu, dia bisa merasakan jemari panjang Kai masih menggenggam erat telapak tangannya yang dingin.

Kai tidak menoleh ke arahnya. Pemuda itu menatap lurus ke luar jendela kaca yang berembun, mengamati pendar lampu-lampu jalanan Jakarta yang buram akibat guyuran air. Namun, begitu merasakan pergerakan kecil dari Rina, Kai perlahan melepaskan genggamannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah takut menyakiti pergelangan tangan gadis itu.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Kai, suaranya yang bariton terdengar sangat rendah dan datar, kembali ke persona dinginnya yang biasa.

Rina menegakkan punggungnya sedikit, bersandar pada jok kulit yang empuk. Gumpalan zirah mental dewasanya segera kembali ke posisinya. "Jauh lebih baik. Terima kasih, Ketua OSIS. Kamu tidak perlu repot-repot membawaku ke klinik atau apartemenmu. Turunkan saja aku di halte depan."

"Jangan konyol, Rina," potong Kai cepat, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. "Suhu tubuhmu tadi hampir mencapai tiga puluh sembilan derajat. Jika aku menurunkanku di pinggir jalan dengan kondisi cuaca seperti ini, itu sama saja dengan membiarkan perwakilan OSIS-ku mati konyol karena hipotermia."

Rina mengulum senyum tipis yang sarat akan teka-teki. Dia melirik pergelangan tangan kiri Kai yang sedikit terekspos karena lengan kemeja putihnya tertarik ke atas. Di balik jam tangan mewah bermerek Patek Philippe yang melingkar di sana, mata tajam Rina menangkap sebaris bekas luka goresan tipis yang sudah memutih—sebuah luka lama yang sengaja disembunyikan dari dunia luar.

Menggunakan ingatan dari kehidupan pertamanya yang berusia dua puluh delapan tahun, Rina tahu persis arti dari bekas luka itu. Di masa depan, sebelum Kai mendadak pindah ke luar negeri, beredar rumor gelap di kalangan konglomerat bahwa pewaris tunggal Grup Mahardika ini adalah korban dari ambisi gila ayahnya sendiri, Hendra Mahardika. Kai dididik di bawah tekanan psikologis yang ekstrem, dituntut untuk selalu menjadi nomor satu dalam segala aspek tanpa celah kegagalan sedikit pun, hingga pemuda itu sempat mencoba mengakhiri hidupnya saat duduk di bangku SMP.

"Menjadi pewaris tunggal dari Grup Mahardika pasti sangat melelahkan, bukan, Kai?" ucap Rina pelan. Suaranya yang jernih memecah keheningan kabin dengan ketenangan yang menakutkan.

Kai mendadak menolehkan kepalanya. Gerakannya begitu cepat dan kaku. Sepasang mata obsidian miliknya menyipit tajam, memancarkan kilat kemarahan yang membeku sekaligus rasa syok yang tak terbendung. "Apa maksud bisikanmu itu, Rina?"

"Harus selalu memakai topeng kesempurnaan di depan publik, menjadi nomor satu di sekolah, dan mengelola OSIS hanya agar ayahmu tidak menganggapmu sebagai produk gagal yang tidak berguna," Rina melanjutkan kalimatnya tanpa ada rasa takut sedikit pun menghadapi tekanan aura Kai yang mendadak mendingin. Rina menunjuk secara halus ke arah jam tangan Kai. "Bekas luka itu... itu adalah tanda dari malam di mana kamu menyadari bahwa di mata Hendra Mahardika, kamu bukan seorang anak, melainkan hanya sebuah aset investasi korporat yang bisa dia buang jika tidak menghasilkan keuntungan."

Ckiiiiittt!

Sopir pribadi di barisan depan secara refleks menginjak pedal rem sedikit lebih dalam karena terkejut mendengar keberanian gadis di belakang mereka menyebut rahasia paling tabu keluarga Mahardika. Mobil sport mewah itu bergoyang sedikit sebelum kembali berjalan stabil membelah kemacetan di bawah jembatan layang Semanggi.

Kai mencengkeram pembatas tangan di tengah kursi dengan sangat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul tegang. Wajah tampannya mengeras, memancarkan intimidasi mematikan seorang predator yang territory rahasianya baru saja ditembus paksa.

"Siapa... siapa kamu sebenarnya, Rina Azalea?!" desis Kai dengan suara yang sangat rendah, bergetar menahan amarah yang meledak di dalam dadanya. "Bagaimana bisa seorang siswi kelas sebelas yang bahkan tidak pernah masuk dalam daftar lingkaran sosial keluargaku, tahu tentang detail malam itu? Siapa yang membayarmu untuk menyelidiki masa laluku?!"

Kai memajukan tubuhnya, mengunci pergerakan Rina di sudut kursi. Jarak di antara wajah mereka kembali mengestis, menyisakan atmosfer ketegangan psikologis yang sangat pekat. Kai menuntut jawaban dari sepasang mata bulat hitam di depannya, mencari tanda-tanda spionase siber dari agensi kompetitor ayahnya.

Namun, Rina tetap tak tergoyahkan. Jiwa dewasanya menatap mata Kai bukan dengan pandangan mengejek, melainkan dengan sebuah kedalaman rasa empati yang sangat tulus—sebuah tatapan dari sesama manusia yang telah sama-sama mengecap pahitnya dikhianati oleh darah daging mereka sendiri.

"Tidak ada yang membayarku, Kai," jawab Rina, suaranya melembut, mengalir selembut air yang menenangkan bara api di dada pemuda itu. "Aku tahu karena kita berdua adalah jenis manusia yang sama. Kita sama-sama dikelilingi oleh monster dewasa yang serakah, yang melihat anak-anak mereka hanya sebagai perpanjangan tangan dari ambisi bisnis kotor mereka. Bedanya... di masa lalu aku memilih untuk menangis dan mengalah hingga semuanya hancur, sementara kamu memilih untuk membekukan hatimu menjadi es agar tidak bisa terluka lagi."

Rina mengulurkan tangan kanannya yang hangat, lalu dengan keberanian mutlak seorang wanita kuat, dia menyentuh punggung tangan Kai yang sedang mencengkeram pembatas kursi. Sentuhan halus itu instan memicu riak kejut di sekujur tubuh tegap Kai.

"Aku mengumpulkan data kejahatan pajak ayahmu bukan untuk menghancurkan masa depanmu, Kai," bisik Rina tepat di depan wajah Kai yang kini terpaku membeku. "Aku menyusun berkas itu sebagai perisai. Aku tahu kamu membenci cara kotor yang dilakukan oleh Hendra Mahardika untuk memperluas tanah real estatnya. Jadi, mari kita buat sebuah aliansi sejati. Bantu aku mengamankan aset perusahaan tekstil keluargaku dari rongrongan paman dan sepupuku, dan sebagai imbalannya, aku yang akan memegang belati hukum pajak itu untuk memotong taring politik ayahmu, tanpa harus mengotori tanganmu sendiri."

Kai tertegun sejenak seumur hidupnya memimpin di Harapan Elite. Kata-kata Rina yang sarat akan logika korporat tingkat tinggi namun dibalut oleh perlindungan emosional yang sangat kokoh meruntuhkan seluruh dinding pertahanan es di hatinya. Pemuda jenius itu menyadari satu kenyataan menakjubkan malam itu: gadis di hadapannya ini bukan sekadar siswi pintar yang butuh perlindungan, melainkan seorang sekutu yang dikirim takdir untuk membantunya lepas dari neraka keluarganya.

Ketegangan di wajah tampan Kai perlahan mencair sepenuhnya, digantikan oleh seulas senyuman tipis yang sangat menawan dan pekat oleh getaran romansa slow-burn. Dia membalikkan telapak tangannya, membalas jabat tangan Rina dengan cengkeraman hangat yang sangat erat, mengunci komitmen tak tertulis di antara mereka.

"Kamu benar-benar teka-teki yang sangat indah dan berbahaya, Rina Azalea," ucap Kai dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat dalam dan protektif. Dia mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat mata hitam pekat Rina. "Jika itu maumu, maka kesepakatan dikunci. Aku akan menyerahkan seluruh kunci data keuangan bayangan ayahku kepadamu malam ini di apartemenku. Mari kita tulis ulang papan permainan di sekolah ini... bersama-sama, Ratuku."

Mobil mewah itu terus melaju, berbelok memasuki area lobi menara apartemen pencakar langit di kawasan Semanggi yang megah. Di dalam kabin yang hangat, genggaman tangan mereka tidak lagi terlepas, menandakan bahwa aliansi strategis di antara Sang Raja dan Sang Ratu Harapan Elite kini telah resmi mengunci takdir baru yang tak akan bisa dihancurkan oleh siapa pun.

 

1
Deevy Tresiyana
mantap💪Thor lanjutkan karya-karya mu yg kereeen👍🤭
Ulla Hullasoh
kerennn Tror
Ulla Hullasoh
wowww👍
Tamaa
ambisius sekali si Rina
Tamaa
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Tamaa
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!