NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Keesokan paginya, semburat cahaya matahari kembali menerobos masuk melalui celah gorden, membawa kehangatan baru di dalam ruangan.

Amira perlahan membuka matanya. Namun, sedetik kemudian, kesadarannya tersentak penuh saat menyadari posisi tubuhnya.

Ia tidak lagi memeluk bantal. Kedua lengannya justru melingkar erat di pinggang Daniel, dan wajahnya terbenam nyaman di dada bidang suaminya.

Aroma maskulin khas pria itu tercium begitu dekat.

Amira mendongak sedikit dan langsung terpaku. Daniel ternyata sudah terbangun sejak tadi.

Pria itu hanya diam, menatapnya dengan sepasang mata elang yang tenang namun menyiratkan senyum samar.

Daniel sengaja tidak bergerak sedikit pun agar tidak mengganggu tidur pulas istrinya.

"M-maaf..." ucap Amira dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Wajah Amira seketika memerah sempurna bagaikan kepiting rebus.

Dengan gerakan panik, ia langsung melepaskan pelukannya, terbangun dan duduk di tepi ranjang dengan tingkah yang luar biasa salah tingkah.

Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia bingung harus menyembunyikan wajahnya di mana.

"Mama, Papa, selamat pagi!"

Suara riang Felia dari ranjang sebelah memecah keheningan yang canggung itu.

Balita itu sudah duduk tegak sambil memeluk boneka gajahnya, menatap kedua orang tuanya dengan mata bulat yang berbinar jenaka.

Amira bergegas menoleh, mencoba mengalihkan rasa malunya yang sudah di ubun-ubun.

"Se-selamat pagi, Felia," jawab Amira dengan nada suara yang sedikit bergetar, berpura-pura merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Ingin segera menyudahi atmosfer canggung di atas ranjang itu, Amira perlahan menggeser tubuhnya ke pinggir, bersiap meraih kursi roda yang terparkir di dekat ranjang pasien.

"Aku bantu," ucap Daniel sigap. Pria itu ikut bergeser turun, mengulurkan kedua tangannya untuk memapah tubuh Amira yang otot-otot kakinya masih kaku.

"Tidak usah!" tolak Amira cepat, bahkan sedikit menjauhkan tubuhnya karena masih terlalu syok dengan kejadian pelukan tadi.

"Aku, bisa sendiri, Daniel."

Amira memegang sandaran kursi roda dengan tangan yang sedikit gemetar, mencoba mengerahkan tenaganya sendiri.

Daniel yang melihat penolakan itu akhirnya menarik kembali tangannya, namun matanya tetap berjaga-jaga di dekat Amira, memastikan wanita yang sukses membuat jantungnya berdesir sejak subuh tadi tidak terjatuh.

Dengan sisa tenaga dan tekad untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, Amira perlahan-lahan menggeser tubuhnya hingga berhasil duduk dengan stabil di atas kursi roda.

Tanpa menengok lagi ke arah Daniel, ia segera memutar roda kursinya dengan cepat menuju ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.

Daniel hanya bisa memandangi punggung istrinya yang menjauh dengan senyuman tipis yang tertahan di sudut bibirnya.

Tak lama setelah pintu kamar mandi tertutup, terdengar ketukan pelan di pintu masuk ruang perawatan.

Seorang perawat masuk dengan membawa papan catatan medis di tangannya.

Ia tersenyum ramah melihat Felia yang sudah tampak segar dan ceria di atas ranjangnya.

"Selamat pagi, Bapak Daniel, selamat pagi adek manis," sapa perawat itu dengan lembut.

"Selamat pagi, Sus," jawab Daniel seraya melangkah mendekati ranjang Felia.

"Saya hanya ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi Dokter spesialis anak akan datang ke sini untuk memeriksa keadaan Felia secara menyeluruh. Jika hasil pemeriksaannya bagus dan stabil, mungkin dalam satu atau dua hari ini Felia sudah diperbolehkan pulang," jelas perawat tersebut dengan senyum menenangkan.

Mendengar kabar itu, binar bahagia langsung terpancar dari mata bulat Felia.

"Hore! Felia mau pulang, mau main sama Mama Amira di rumah!" seru balita itu riang sambil mengangkat boneka gajah Rona-nya tinggi-tinggi.

Daniel mengangguk paham dan berterima kasih kepada perawat tersebut sebelum sang perawat pamit keluar untuk mempersiapkan kedatangan dokter.

Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Amira yang keluar dengan wajah yang sudah tampak jauh lebih segar, siap menghadapi hari baru yang tampaknya tidak akan berjalan mudah.

Sesaat setelah perawat yang membawa kabar dokter itu pamit, perawat lain masuk ke dalam kamar rawat sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan obat-obatan untuk Felia.

Amira, yang sudah kembali dari kamar mandi, langsung mengambil alih nampan tersebut.

Dengan penuh ketelatenan, ia menyuapi putri kecilnya itu sendok demi sendok hingga bubur itu tandas tak bersisa.

Tepat setelah suapan terakhir selesai dan Amira memberikan air minum kepada Felia, pintu kamar kembali diketuk.

Kali ini, tim terapi fisik yang terdiri dari dua orang petugas berseragam khusus masuk ke dalam ruangan.

"Selamat pagi, Ibu Amira. Sudah siap untuk sesi terapi hari ini?" sapa salah satu petugas terapi dengan ramah.

Amira tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya mantap.

"Iya, Sus. Saya sudah siap."

Melihat tim terapi sudah datang, Daniel langsung beranjak dari posisinya, bersiap untuk ikut mendampingi. Namun, sebelum pria itu melangkah lebih jauh, Amira menoleh dan menatapnya lurus.

"Tidak usah kamu temani," ucap Amira tiba-tiba, menahan langkah Daniel.

Ia masih merasa sedikit canggung akibat kejadian memeluk Daniel saat tidur tadi subuh, sehingga ia berpikir akan lebih baik jika ia menjaga jarak untuk sementara waktu.

Daniel menghentikan langkahnya, keningnya berkerut rapat.

"Tapi, Amira, ini adalah sesi terapi ketigamu. Hari ini jadwalmu untuk latihan berjalan lagi. Otot-ototmu pasti masih sangat kaku dan menyakitkan."

"Aku bisa sendiri," tegas Amira, mencoba bersikap mandiri dan keras kepala.

Ia memegang roda kursinya, bersiap untuk bergerak bersama tim terapi.

Daniel menghela napas panjang. Ia menatap lekat mata Amira, melihat keras kepala yang begitu kuat terpancar dari sana. Namun, Daniel juga tahu seberapa menyakitkan proses latihan berjalan itu kemarin.

Ia tidak akan membiarkan istrinya terjatuh atau menyerah di tengah jalan.

Daniel melangkah mendekat, lalu berlutut di samping kursi roda Amira agar pandangan mereka sejajar.

Dengan tatapan mata elangnya yang melunak dan penuh permohonan, ia menggenggam lembut jemari Amira.

"Amira, please. Izinkan aku menepati janjiku untuk selalu ada di setiap terapimu," bisik Daniel dengan suara berat yang terdengar begitu tulus.

Amira sedikit terkejut ketika genggaman tangan Daniel yang hangat dan tatapan memohon itu seketika meruntuhkan kembali ego keras kepalanya.

Jantungnya berdesir hebat, membuat pertahanannya mencair dalam sekejap.

Amira mengalihkan pandangannya yang mendadak salah tingkah, lalu mengembuskan napas pasrah.

"Baiklah," ucap Amira pelan.

Mendengar persetujuan itu, senyum tipis yang lega terukir di wajah tegas Daniel.

Ia bangkit berdiri dan mengangguk kepada tim terapi, bersiap untuk menjadi sandaran dan tumpuan fisik Amira dalam perjuangannya untuk bisa berjalan kembali.

Sesi terapi hari ini berjalan jauh lebih intens dan menyakitkan dari sebelumnya.

Tim medis menilai perkembangan Amira cukup baik, sehingga hari ini ia mulai dilatih untuk lepas dari palang sejajar besi dan beralih menggunakan tongkat penyangga.

Beban tubuh yang kini harus ditumpu sepenuhnya oleh kedua kaki yang baru terbangun dari koma itu membuat rasa nyeri mencuat hebat.

"Ayo, Ibu Amira, perlahan-lahan pindahkan tumpuannya," instruksi petugas terapi.

Amira mencoba melangkah, namun keseimbangannya seketika goyah.

Kakinya gemetar hebat, menolak untuk diperintah.

Amira berkali-kali goyah dan hampir terjatuh. Rasa frustrasinya memuncak hingga air mata mulai mengalir di pipinya, mencuatkan rasa putus asa yang teramat sangat di dalam hatinya.

Namun, setiap kali ia akan ambruk ke lantai rumah sakit yang dingin, sepasang lengan kekar Daniel selalu ada di sana.

Dengan kesigapan yang luar biasa, Daniel langsung menangkap tubuh Amira, mendekapnya erat untuk menyangga berat badannya sebelum menyentuh lantai.

"Aku di sini, Amira. Tarik napas dulu, jangan dipaksa kalau masih terlalu sakit," bisik Daniel dengan suara berat yang menenangkan, menyeka peluh yang mengalir di pelipis istrinya.

Setengah jam berlalu dalam ketegangan, peluh, dan air mata.

Dengan napas yang memburu dan rasa perih yang menjalar di seluruh otot kakinya, Amira menolak untuk menyerah.

Ia mencengkeram pegangan tongkatnya erat-erat, memusatkan seluruh konsentrasinya.

Dan secara mengejutkan, Amira akhirnya berhasil melangkah!

Satu langkah... dua langkah... ia bergerak secara mandiri menggunakan tongkat penyangga tanpa bantuan pegangan fisik dari Daniel atau tim medis.

Meskipun gerakannya masih sangat kaku, lambat, dan sesekali masih kehilangan keseimbangan, ini adalah sebuah kemajuan yang luar biasa.

Daniel yang berdiri hanya beberapa senti di sampingnya, berjaga-jaga jika Amira limbung, langsung menghentikan napasnya sesaat.

Ia menatap ke arah sepasang kaki Amira yang berhasil melangkah, lalu beralih menatap wajah lelah istrinya.

Sepasang mata elang Daniel berbinar cerah, memancarkan rasa bangga dan haru yang mendalam yang sama sekali tidak bisa ia sembunyikan dari wajah tegasnya.

"Kamu berhasil, Amira. Kamu hebat sekali," ucap Daniel dengan suara yang sedikit serak karena emosi yang meluap di dadanya.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!