NovelToon NovelToon
Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:631.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.

Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.

Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3—Detik-detik

Sorak-sorai terdengar menggema di dalam restoran yang memiliki ruangan khusus untuk reservasi pribadi. Sekitar dua belas orang ada di dalam ruangan itu, termasuk Kintan dan Nila. Mereka tengah menikmati hidangan lezat yang tersaji. Beberapa orang menenggak minuman dengan aroma menguar, yang membuat rasa tidak nyaman bagi hidung Kintan maupun Nila.

Dua orang wanita yang telah bersuami bernama Yesy dan Berly menatap Kintan dengan serius. Bagi Kintan sikap mereka sangat memuakkan dan pasti hendak melesatkan pertanyaan seputar pasangan.

“Apaan sih kalian lihatin aku sampai begitu, hah?!” tanya Kintan dengan tegas ketika sudah tidak tahan menjadi bahan tontonan.

Berly tersenyum. “Enggak kok, cuma ... kami masih sendiri lagi? Aduh, Kintan! Ini sudah masuk tahun baru lagi dan kamu masih belum menikah aja? Ya ampun,” jawabnya.

“Ck, Kintan, Kintan! Aku kenalin ke teman suami aku saja, ya?” tambah Yesy memberikan saran.

Nila yang baru datang dari kamar kecil duduk di samping Kintan sembari memandangi Yesy dan Berly dengan nanar. “Aku dengar semua ucapan kalian barusan, tapi, ... enggak bisakah kalian berhenti tanya-tanya yang bukan urusan kalian? Lagian, setiap orang punya prinsip hidup sendiri-sendiri lho!” tegasnya.

“Halah! Mana ada wanita usia dua puluh delapan tahun masih berprinsip enggak mau menikah? Emangnya mau hidup sendiri seumur hidup? Kalau sudah kepala tiga, semua makin sulit, Nil. Ingetin dong si Kintan jangan malah membela,” tukas Yesy pada ucapan Nila yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Detik berikutnya, ia berangsur melipat kedua tangan ke depan dengan sikap angkuh.

Berly mencibir menggunakan bibirnya. “Jangan-jangan kalian berbagi suami? Waaah! Kalau benar, kalian berdua beneran sahabat sejati!”

Ketika Nila hampir tersulut emosi, Kintan segera mencegah Nila agar tidak terpancing ucapan Berly. Sejak dulu, Berly dan Yesy memang gemar bercanda, tetapi keterlaluan. Sebab lain, yang membuat kedua wanita itu begitu ketus adalah rasa iri lantaran Kintan memiliki kecantikan paripurna, termasuk berasal dari keluarga orang kaya. Alih-alih ingin mendekati, Yesy dan Berly justru bertekad untuk menjatuhkan Kintan.

Dering ponsel memutus serangan mata yang saling mereka lemparkan. Dan ternyata, ponsel milik Kintan yang tengah berbunyi nyaring, sehingga wanita cantik itu lantas berdiri. Kintan berjalan menuju area lain dari ruangan itu yang cukup sepi, agar ia dapat mendengar ucapan sang penelepon.

“Papa?” gumam Kintan sembari mengernyitkan dahi. Detik berikutnya, ia segera menggeser tombol hijau di layar ponsel itu dan meletakkannya di samping telinga sebelah kanan. “Halo, Papa.”

“Kamu di mana, Tan?” Tanpa basa-basi ayahnya yang bernama Chandra itu menanyakan keberadaan Kintan saat ini.

“Kintan sedang ada acara, Pa, kenapa? Tadi sudah izin kok sama direktur.”

“Pulang dulu, bisa? Maaf, Nak, kayaknya kakak iparmu mau melahirkan. Papa masih ada meeting.”

“Mas Diki enggak ada?"

“Ada, tapi masa' enggak ada yang temani dia?"

“Hmm ... iya deh, Pa. Kintan berangkat sekarang ke sana, nanti Kintan minta alamat rumah sakitnya.”

“Terima kasih, Sayang.”

“Iya, Papa, sama-sama.”

Kintan menghela napas sesaat setelah mematikan panggilan itu. Sebenarnya, ia ingin tinggal lebih lama, mungkin sampai acara selesai. Sayangnya, ia juga tidak tega untuk mengabaikan permintaan Chandra. Belum lagi, Diki—kakaknya—pasti akan kewalahan sendiri. Pun meski banyak asisten rumah tangga, tetapi seharusnya membutuhkan satu keluarga, bukan?

Dengan lunglai, Kintan menghampiri keberadaan Nila yang tengah berbincang dengan seorang wanita berkacamata. Tampaknya, Yesy dan Berly sudah berlalu. Itu lebih baik ketimbang harus beradu mulut lagi dengan mereka, karena Kintan pun sudah cukup muak.

“Nila, aku mau pulang duluan, ya?” ucap Kintan sesampainya di hadapan Nila dan temannya.

Nila mengernyitkan dahi. “Kenapa? Ada masalah?” tanyanya.

Kintan menggelengkan kepala. “Enggak ada sih, cuma kakak iparku akan melahirkan. Barusan papaku kasih kabar dan beliau sedang ada meeting.”

“Waaah!” Nila seketika berdiri. “Ya sudah, enggak apa-apa, Tan. Kamu harus temani kakakmu. Soalnya kalau cuma ditemani suami, si suami kadang justru enggak sanggup dengerin perjuangan sang istri.”

“Mm ... kamu enggak apa-apa? Apa mau ikut pulang juga?”

Nila menggeleng cepat. “Enggak! Enggak apa-apa. Ini momen yang jarang terjadi, jadi aku mau lewati sampai akhir. Bisa aja, aku enggak bisa datang lagi ke acara semacam ini. Lagian ada Dita di sini sama teman-teman yang lain, Tan. Tenang aja.”

“Pulangnya?”

“Mas Aksa bakal jemput aku kok, Tan.”

Kintan menghela napas lega. Dengan begitu ia tidak perlu khawatir lagi pada Nila. Setidaknya, wanita itu akan pulang dengan aman bersama sang suami. Kemudian, Kintan lantas memeluk tubuh Nila dengan erat yang berganti pada Dita—wanita berkacamata itu.

Setelah merasa cukup dalam memberikan salam pamit, Kintan berlalu. Ia menghampiri para teman yang asyik bercengkerama satu sama lain. Mereka tidak membawa pasangan, lantaran ada yang masih lajang atau suaminya sibuk layaknya suami Nila. Kintan berpamitan sebagai tanda menghargai satu sama lain. Dan setelah ritual itu selesai, Kintan baru benar-benar pergi.

Sepeninggalan Kintan, Nila semakin menikmati pesta kecil itu. Ibu rumah tangga yang sehari-harinya hanya mengurus anak, suami, serta rumah seolah mendapat obat atas kejenuhan yang mendera dirinya setelah sekian lama. Ia bercengkerama dengan yang lainnya dengan antusias.

“Enggak bawa suami tampanmu itu sih, Nil?” tanya Lusia menggoda.

Nila tersenyum tipis. “Sibuk, Lus. Mungkin nanti jam tiga baru balik,” jawabnya.

“Iya sih, suamiku juga begitu. Padahal kan ini hari sabtu. Kadang-kadang perusahaan suka kejam, ya,” gerutu Dita.

“Enak tuh Yesy, suaminya bos besar! Lihat aja penampilannya, glamor banget. Tapi, dia justru enggak mau ditemani sama suaminya karena takut ganggu katanya.” Lusia membuka gunjingan yang sekiranya hangat untuk dibicarakan.

“Hmm ... aku malah pengennya bawa suami, tapi ya bagaimanapun suamiku cuma bawahan orang.“ Dita memayunkan bibir.

Nila lantas menepuk bahu wanita berkacamata itu. “Jangan begitu, suami kamu kan lagi cari uang buat kamu, Dit.”

“Ya sih, cuma jujur kadang suka kangen masa-masa lajang. Bebas saja gitu, kayak Kintan. Datang ke acara ini saja, aku harus bertengkar dulu, Nil. Entah, tapi suami kadang-kadang suka posesif.”

Baik Nila maupun Lusia kompak menggeleng-gelengkan kepala. Pasalnya, Dita yang dilihat secara sekilas layaknya wanita kuat dan pintar justru mudah rapuh bahkan mengeluh. Bahkan, ia sampai membicarakan keburukan suaminya sendiri. Namun bagi Nila, mungkin saja Dita tidak memiliki teman bicara. Kendati agak tidak setuju dengan sikap Dita, Nila tetap mendengarkan dengan baik, pun Lusia.

Lalu, waktu tetap berjalan se-bagaimana mestinya. Ketika acara terakhir tiba, mereka saling bersulang gelas yang berisi minuman berbeda-beda. Penutupan acara dilaksanakan setelah kegiatan itu. Dan mereka saling berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Hanya saja, Nila justru dibuat bingung. Pasalnya, Aksara tidak dapat datang untuk menjemput dirinya. Suaminya itu telah mengirimkan pesan singkat melalui whatsApp, ada jam lembur tambahan dan meminta Nila menumpang di mobil Kintan lagi.

“Sebaiknya, aku enggak usah bilang kalau Kintan sudah pulang. Takutnya pekerjaan Mas Aksa jadi runyam cuma gara-gara khawatir. Jam segini masih banyak taksi yang lewat, atau mungkin taksi online.”

Keputusan itu dibuat oleh Nila, setelah akhirnya ia meraih ponsel dari dalam tas selempang. Nila yang tidak mau mengacaukan pekerjaan suaminya bermaksud pulang sendiri dengan menggunakan taksi online.

***

1
Ririn Nursisminingsih
kereenn kintan a suka karakternya thor a bca karyamu ini berkali2 tpi tak bosan2...
VhyDheavy: makasih banyak kakak 🫶🥰
total 1 replies
Shifa Burhan
aku salut dengan novel yang memperlakukan pelakor dan PEBINOR sama,
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR

karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
Shifa Burhan
ini lah wanita (reader) kayak tidak punya otak yang membuat mereka jadi egois

*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)

*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)

wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
VhyDheavy: penganut standar ganda kali ya 😁
total 1 replies
Maizuki Bintang
bgs
VhyDheavy: makasih Kak. Mampir di novel saya yg lain ya, 😊
total 1 replies
Dyah Shinta
Ya eyalah... kan baru aja ditinggal.
Lama2 juga tenang...
Amalia Khaer
yahhh knpa harus melakukan itu huh 😮‍💨
VhyDheavy: kan suami istri kak, hehe. Ah, jangan lupa follow akun tiktok saya ya, Kak. Vhydheavy21.😊
total 1 replies
Amalia Khaer
🤭🤭🤭🤭🤭🤣
Rita Tanti
Luar biasa
Sri Mulyani
mau. siapa tau suaminya juga bisa ikut membantu
Ike Rasela
👍👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
lucu yh menyakiti istri sendiri bisa n gampang tpi sekedar bersikap tegas pd wanita lain nggak bisa ngakak...
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀: You're welcome ttp semangat berkarya 🤗💪
total 3 replies
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
Kendali pernikahan di pegang suami yah klu mau lepasin kintan tinggal talak aja beres kan lagian gw jg ogah bgt kintan sama Lo nggak level
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
berarti itu salah anda tolong koreksi diri sebelum menyalahkan seseorang kerna bkn hanya anda yg merasa kehilangan
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
udah jls ini kemauan nila sendiri buat plng sendiri knp jdi kintan yg salah
lina
berjuang nila
Siti Rofiatin
Cinta oh cinta ,kalau sdh bilang itu apapun akan di lakukan
VhyDheavy: Cinta bikin gila kadang ya Kak 😁
total 1 replies
Bunbun Oke
cie cie sama-sama zaling ❤❤❤
VhyDheavy: Harus berterima kasih pada Mergi dan David ya 😄. Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
suka dgn karakter Kintan 👍❤ juga Askara
VhyDheavy: Terima kasih 😊🤗
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
Aksara Kinan
❤❤❤❤
VhyDheavy: Untuk @Bundanya Pandu Pharamadina juga ❤❤❤❤
total 1 replies
anti pebinor pelakor
perbedaan perlakuan pelakor dan pebinor

pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn

pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan

sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai

sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama
VhyDheavy: kontras bgt Yah, perlakuan untuk wanita bersalah dan laki2 bersalah. predikat pelakor bahkan lebih lama, pebinor gampang di lupakan bgtu saja 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!