Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11- Hantu Selebritis
Matahari pagi menyengat aspal jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan manusia hidup.
Namun, bagi para penumpang Bus 666, terang hari sama sekali tak mengurangi eksistensi kasat mata mereka.
Setelah pelepasan damai Pak Tejo yang menyisakan kehangatan haru, bus melaju membelah pinggiran kota menuju halte khusus transmisi gaib.
Damar berdiri di depan lorong bus, baru saja selesai membagikan camilan gaib—berupa dupa aroma melati kering dan serbuk permen mawar—kepada penumpang yang bersantai. Kepercayaannya mulai tumbuh, walau stempel tour guide penakut masih melekat erat di dahinya.
Sreeek!
Bus mendadak memelan dan berhenti di bawah sebuah pohon beringin tua di tepi jalan protokol. Pintu hidrolik berdecit terbuka, memuntahkan kabut merah muda beraroma parfum mahal berbau vanilla yang menyengat.
"Aturan tambahan untuk transit halte lima," suara Madam Helga mengudara datar dari kursi depannya. "Kita menjemput satu arwah priority booking dengan latar belakang kasus cukup menyita perhatian."
Damar memiringkan kepalanya. "Arwah priority booking? Maksudnya VIP gitu, Madam?"
Belum sempat Helga menjawab, dari balik pintu bus muncul sesosok gaib dengan gaya masuk yang sangat dramatis.
Seorang gadis muda melayang masuk. Dia mengenakan gaun merah menyala yang mewah, kacamata hitam berbingkai mutiara, dan rambut ikal bergelombang yang tertata rapi.
Bedanya dengan manusia biasa, kulit gadis itu transparan memancarkan pendar kebiruan, dan di sekeliling lehernya terdapat bekas jejak kehitaman yang samar.
Gadis itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap sekeliling interior bus dengan raut wajah jijik yang amat sangat.
"Ghosttt!" jerit gadis itu dengan nada melengking yang sukses membuat hantu kakek-kakek di barisan belakang hampir menjatuhkan kepalanya lagi. "I-ini bus apa-apaan sih?! Kok baunya campuran minyak kayu putih sama bunga kantil basi?! Mana armchair beludrunya debuan begini! My skin is literally glowing, saya nggak mau ya gaun haute couture saya kotor!"
Damar melotot kaget. Dia bahkan mengedipkan mata beberapa kali, merasa pernah melihat wajah cantik bersudut tajam itu di layar televisi atau billboard iklan kota.
"T-Tunggu ...." Damar meraba-raba ingatannya. "Mbak ini kan ... Nadia? Nadia Violeta?! Penyanyi pop yang viral itu?!"
Gadis itu memutar bola matanya malas, lalu membetulkan posisi kacamatanya dengan kibasan tangan anggun.
"Duh, telat banget nyadarnya, Mas. Yes, I am the one and only Nadia Violeta. Pop star, influencer dengan lima juta followers, dan sekarang ... menjadi arwah paling tak beruntung karena harus naik armada 'ekonomi' beginian."
Hantu pemuda berkulit biru dari barisan tengah langsung berdiri heboh.
"ANJIR! NADIA VIOLETA! Mbak! Saya fans berat Mbak waktu hidup! Boleh minta foto nggak?! Eh, tapi kamera HP saya ikut terkubur ...."
Nadia mengibaskan tangannya, mengusir pendar hantu pemuda itu dengan risih.
"No pictures! Saya lagi off-duty! Lagian, mana ada lighting yang bagus di bus remang-remang begini!"
Damar memegang clipboard-nya, membaca cepat data penumpang baru yang mendadak muncul di lembaran kertas. Matanya meredup saat membaca kolom penyebab kematian.
> Nama: Nadia Violeta (22 tahun)
> Sebab Kematian: Depresi berat akibat perundungan siber (cyberbullying) massal dan fitnah tuduhan plagiarisme.
> Status Penyesalan: Belum pernah menyelesaikan Konser Tunggal Terakhir dan tidak sempat membuktikan kebenarannya.
Rasa ketus yang tadinya dirasakan Damar atas kelakuan manja gadis itu seketika memudar, berganti menjadi sengatan simpati yang lembut.
Di balik gaun merah mewah dan kacamata hitamnya, Damar bisa melihat pundak transparan Nadia yang sebenarnya bergetar halus.
Nadia melangkah melayang menuju panggung depan, tepat di sebelah Damar. Dia menunjuk Damar dengan ujung kuku jarinya yang dipoles nail art berkilauan.
"Kamu! Tour guide-nya, 'kan?!" bentak Nadia manja, matanya mulai berkaca-kaca secara dramatis. "Kenapa itinerary saya ditunda-tunda?! Saya itu cuma mau satu hal! Saya mau ke gedung teater tua tempat konser terakhir saya dibatalkan gara-gara netizen jahat itu! Saya mau perform! Saya mau dengar tepuk tangan!"
"Nadia," sela Madam Helga tenang. Dia memutar tubuhnya, menatap artis muda itu dengan pandangan dingin. "Di sini tidak ada perlakuan khusus VIP. Semua arwah membayar dengan harga yang sama: kejujuran jiwa. Jika kamu ingin menyelesaikannya, ikuti arahan pemandumu."
Nadia mengerucutkan bibirnya, lalu menatap Damar dengan pandangan menuntut. "Dengerin itu! Tugas kamu sekarang bikin saya puas! Kalau sampai performa saya nanti gagal gara-gara pelayanan kamu jelek, saya bakal review jelek agen travel gaib ini di alam arwah!"
Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merindukan kepolosan Pak Tejo yang tidak bertingkah macam-macam.
"I-Iya, Mbak Nadia ... tenang aja. Kita memang lagi menuju ke destinasi kedua kok. Sesuai permintaan Mbak, kita bakal ke Gedung Teater Tua Sektor 2."
Nadia melipat tangannya di dada, berbalik melayang menuju kursi kosong di dekat jendela.
"Bagus! Awas aja kalau AC-nya nggak makin dingin. Kulit gaib saya butuh kelembapan!"
"Gila ... mending melayani tiga puluh Pak Tejo daripada satu hantu selebritis," bisik Damar meratapi nasibnya ke arah Madam Helga.
Madam Helga hanya menyesap tehnya, mentertawakan Damar lewat lirikan mata yang tajam.
"Persiapkan dirimu, Damar. Hantu selebritis bukan hanya membawa trauma pribadi yang berat, tapi juga daya pikat yang sering kali memancing 'penghuni gelap' di lokasi yang akan kita tuju."
Damar mengernyitkan dahi.
"Maksud Madam ... 'penghuni gelap'?"
"Gedung Teater Tua Sektor 2 sudah mangkrak puluhan tahun," jawab Helga datar, suaranya mengecil hanya untuk didengar Damar. "Tempat itu bukan sekadar bangunan kosong. Ada rasa cemburu dan dendam yang mengendap di dalam dinding-dindingnya. Arwah seperti Nadia yang bersinar terang ... bagaikan umpan manis bagi kegelapan yang kelaparan."
Bulu kuduk Damar seketika berdiri tegak. Sensasi hangat yang dirasakannya setelah melepas Pak Tejo langsung menguap, digantikan oleh firasat buruk yang merayap cepat di tengkuknya.
Bus nomor 666 terus melaju, membelah hiruk-pikuk lalu lintas manusia hidup yang tak menyadari bahwa di dalam kendaraan hitam itu, seorang mantan bintang sedang meratapi kepopulerannya yang renggut oleh ketajaman jemari netizen di dunia nyata.
"Mbak Nadia ...," panggil Damar pelan, melangkah mendekati kursi gadis itu.
Nadia tak menoleh, hanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang buram.
"Apa? Mau minta tanda tangan juga?"
"Enggak," jawab Damar tulus. "Saya cuma mau bilang ... di konser nanti, saya bakal jadi penonton barisan terdepan yang bakal tepuk tangan paling kencang buat Mbak."
Nadia tersentak pelan. Dia menoleh dari jendela, menatap pemuda kemeja lusuh di sampingnya itu dari balik kacamata hitam. Bibirnya yang berpoles lipstik tebal bergetar tipis, namun dengan cepat dia memalingkan wajahnya kembali ke jendela, berpura-pura tidak peduli.
"Tumben ada tour guide sok manis gini," gumam Nadia pelan dengan nada gengsi, walau pendar kebiruan di pipinya tampak menyala sedikit lebih terang.
Damar tersenyum tipis, lalu berbalik mengumumkan destinasi berikutnya ke seluruh penumpang melalui mikrofon.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt