NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Nyaris

Tarikan napas kasar itu masih terdengar ketika Arum memasang peniti pada kerah bajunya dengan jari gemetar.

Ia tidak mengetuk lagi. Bubur sudah berada di dalam, obat Bara terletak di meja, dan tugas malamnya selesai. Sesuai aturan satuan, Arum meninggalkan Blok C-3 untuk tidur di ruang belakang warung Bu Inah.

Namun, sepanjang malam, kalimat dingin Sang Macan terus terulang di kepalanya.

Jangan cari perkara di depanku.

Arum ingin marah karena dituduh sengaja. Anehnya, yang lebih melekat justru warna merah di ujung telinga lelaki itu.

Keesokan harinya, menjelang siang, ia kembali ke Blok C-3 dengan kancing baju yang diperkuat benang. Pintu tidak dikunci. Di dapur, mangkuk bubur semalam telah kosong dan dicuci bersih.

Sudut bibir Arum hampir terangkat.

"Kenapa tersenyum sendiri?"

Suara itu membuatnya berbalik. Bara berdiri di ambang ruang tengah dengan kaus hitam dan celana lapangan. Wajahnya masih pucat. Tongkat penyangga berada dua langkah di belakang, sengaja ditinggalkan.

"Tidak ada apa-apa, Pak Mayor."

"Buburnya terlalu asin."

Arum melirik mangkuk yang bersih. "Tapi habis."

"Aku lapar."

"Katanya tidak lapar."

Tatapan Bara menyipit.

Arum segera menunduk pada talenan. "Saya akan mengurangi garam hari ini."

Di samping mangkuk itu, dua tablet yang seharusnya diminum malam tadi masih utuh. Arum mengambil blister obat dan menunjukkannya.

"Mayor belum minum obat."

"Aku tertidur."

"Sekarang harus diminum setelah makan. Saya buatkan sup dulu."

"Berikan airnya."

"Supnya sebentar lagi matang."

"Arum, aku tidak perlu disuapi seperti anak kecil."

"Saya juga tidak bilang akan menyuapi Mayor."

Bara menatapnya cukup lama hingga Arum sibuk merapikan blister obat yang sebenarnya sudah rapi. Lelaki itu lalu mengambil tablet dari telapak tangannya, tetapi gelas di meja kosong. Arum hendak menuangkan air. Bara lebih cepat berbalik menuju teko, seolah menerima bantuan kecil pun dapat melukai harga dirinya.

Ia mulai memotong wortel untuk sup. Dari ekor matanya, ia melihat Bara berjalan menuju meja kecil tempat teko air diletakkan. Langkah pertama masih mantap. Pada langkah kedua, bahu lelaki itu turun sedikit. Langkah ketiga membuat tangan kanannya mencari sandaran yang tidak ada.

"Tongkatnya dipakai, Pak Mayor."

"Tidak perlu."

"Dokter memberi tongkat pasti ada gunanya."

"Arum."

Hanya namanya. Pendek dan berat. Peringatan agar ia berhenti.

Arum menahan kata-kata berikutnya dan kembali memotong wortel. Pisau baru menyentuh talenan ketika terdengar gelas bergeser keras.

Ia menoleh.

Kaki kanan Bara kehilangan tenaga.

Tubuh tinggi itu limbung ke depan. Tangannya meraih meja, tetapi hanya mengenai ujung kain penutup. Teko air ikut terseret. Tanpa sempat berpikir, Arum meletakkan pisau dan berlari dua langkah.

"Mayor!"

Ia memeluk pinggang Bara dari samping.

Berat tubuh lelaki itu menekan bahunya. Arum terhuyung mundur, tetapi kedua lengannya mengencang. Dada Bara membentur pelipisnya. Satu tangannya secara refleks mencengkeram bahu Arum, sementara tangan lain bertumpu pada meja.

Teko jatuh. Air membasahi lantai.

Mereka tidak ikut jatuh.

Untuk sesaat, tak ada suara selain air yang menetes dari tepi meja dan napas mereka yang saling bertabrakan.

"Lepaskan," kata Bara.

"Kalau saya lepaskan, Mayor jatuh."

"Aku bisa berdiri."

"Tadi juga Mayor bilang tidak perlu tongkat."

Rahang Bara mengeras. Namun, saat ia mencoba memindahkan beban ke kaki kanan, tubuhnya kembali goyah. Arum spontan merapatkan pelukan.

Wajahnya kini tepat di bawah dagu Bara.

Panas tubuh lelaki itu menembus kain. Arum dapat merasakan detak jantung di balik dada keras yang menempel pada bahunya. Karena panik, pelipisnya berkeringat. Wangi melati yang biasanya lembut menguar lebih pekat di ruang yang tertutup.

Tubuh Bara membeku.

Tangannya yang semula mencengkeram bahu Arum perlahan bergeser ke pinggang, menahan tubuh gadis itu agar tidak tergelincir di lantai basah. Telapak tangannya terasa terlalu besar. Hanya satu lapis kain memisahkan sentuhan itu dari kulit.

Arum mendongak.

Tatapan mereka bertemu.

Mata Bara tidak sedingin kemarin. Ada sesuatu yang gelap dan panas di sana, sesuatu yang membuat jantung Arum memukul lebih keras. Lelaki itu menatap wajahnya seolah lupa pada luka, air yang tumpah, dan perintah yang selalu ia banggakan.

Pandangan Bara turun ke bibir Arum.

Napas Arum tersangkut.

Ia seharusnya mundur. Ia tahu jarak ini tidak pantas dipertahankan lebih lama. Namun, jika ia melepaskan pelukan, Bara bisa jatuh. Alasan itu membuat kakinya tetap di tempat, meski ujung jarinya telah dingin.

Bara menunduk sedikit.

Wangi melati memenuhi napasnya. Otot di rahangnya bergerak. Ujung hidung mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Mayor!"

Teriakan dari halaman memecah udara.

Bara tersentak seolah baru sadar dari sesuatu yang memalukan. Tatapan panas itu lenyap, digantikan kemarahan yang lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri.

Ia mendorong Arum.

"Jauh dariku."

Dorongan itu tidak terlalu keras, tetapi Arum berdiri di lantai basah. Tumitnya tergelincir. Tubuhnya terlempar ke belakang dan pinggangnya membentur tepi ranjang lipat di ruang tengah.

"Ah!"

Peniti di kerah bajunya tersangkut kain. Jahitan yang baru ia perkuat justru tertarik. Dua kancing terlepas sekaligus.

Arum jatuh setengah duduk di sisi ranjang dengan kerah terbuka. Ia segera menutup dada menggunakan kedua tangan. Wajahnya pucat oleh kaget, lalu memerah sampai ke leher.

Bara menatapnya.

Kemarahan di wajah lelaki itu retak. Matanya turun pada tangan Arum yang gemetar, lalu pada pinggangnya yang baru membentur ranjang.

"Kamu terluka?"

"Tidak."

Jawaban Arum terlalu cepat. Ia menggigit bibir, menahan rasa nyeri.

Bara melupakan kakinya sendiri dan bergerak mendekat. Langkahnya timpang, tetapi tangannya sudah terulur hendak memeriksa sisi pinggang Arum.

Arum mundur di atas ranjang. "Jangan."

Tangan Bara berhenti di udara.

Satu kata itu membuat sesuatu di wajahnya berubah. Ia memandang tangannya sendiri, seolah baru menyadari tangan yang sama tadi hampir menarik Arum lebih dekat lalu mendorongnya pergi.

"Aku tidak berniat..." Ia berhenti.

Sang Macan yang ditakuti satu batalyon ternyata juga bisa kehabisan kata.

Arum menarik bagian depan bajunya serapat mungkin. "Saya hanya tidak ingin Mayor jatuh."

"Aku tahu."

"Saya tidak mencoba mencari perkara."

Rahang Bara bergerak, tetapi tak ada bantahan keluar.

Di luar, langkah sepatu mendekati teras.

Bara meraih tongkat yang tadi ia tinggalkan. Tatapannya kembali tajam ketika bayangan seseorang jatuh di bawah pintu.

Tok. Tok. Tok.

"Mayor Bara?" Suara Kapten Hartono terdengar dari luar, manis dan penuh hormat. "Saya datang untuk melihat apakah Arum bekerja dengan baik."

Arum menegang di sisi ranjang.

Kancing bajunya berserakan di lantai. Bara berdiri di depannya dengan napas belum teratur. Air masih mengalir di bawah kaki mereka, dan jarak yang hampir terlewati tadi belum benar-benar hilang dari udara.

Gagang pintu bergerak dari luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!