Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Mobil yang Tidak Boleh Dihentikan
BAB 16 — Mobil yang Tidak Boleh Dihentikan
Pertanyaan Damar tiba dalam bentuk surat resmi pukul 13.08.
Apakah Anda pernah memerintahkan Gilang Adiputra membiarkan sebuah kendaraan mengikuti Nadira Sasmita?
Ia tidak menambahkan tuduhan atau membahas dampaknya terhadap gugatan. Hanya satu pertanyaan yang jawabannya sudah kuketahui sejak tiga tahun lalu.
Aku dapat meminta tim hukum menjawab bahwa ingatanku tidak lengkap. Aku dapat meminta bukti nomor kendaraan, tanggal, atau rekaman percakapan. Semua itu sah secara prosedur dan cukup untuk membeli waktu.
Aku membuka dokumen kosong.
Ya.
Satu kata itu kutulis, lalu kuhapus. Jawabannya tidak salah, tetapi terlalu singkat. Seolah tindakanku waktu itu hanya bagian dari perintah keamanan biasa.
Padahal aku tahu siapa yang berada di mobil abu-abu tersebut.
Banyu Pradana.
Tiga tahun lalu, namanya belum cukup besar untuk membuat keluarga Kalyana khawatir. Ia hanya jurnalis yang terlalu keras kepala, terlalu sering menghubungi mantan pegawai, dan tidak tahu kapan sebuah penolakan seharusnya membuatnya berhenti.
Setidaknya, itulah penilaian ayahku.
Bagiku, Banyu adalah lelaki yang mengenal Nadira jauh sebelum aku mendekatinya.
Aku pertama kali melihat namanya dalam laporan keamanan setelah seseorang mengirim amplop berisi foto kecelakaan Aditya ke kantor Nadira. Banyu menghubungi dua mantan auditor pada minggu yang sama. Salah satunya tinggal di Yogyakarta. Yang lain meninggal sebelum sempat diwawancarai.
Nadira kemudian membeli tiket kereta ke Yogyakarta.
Ia tidak memberitahuku.
Tara yang memberi tahu.
Pada hari keberangkatan, Gilang melaporkan sebuah kendaraan abu-abu mengikuti Nadira dari kantor. Nomor polisinya terdaftar atas nama perusahaan media kecil yang mempekerjakan Banyu sebagai wartawan lepas.
“Potong mobilnya di lampu berikutnya?” tanya Gilang melalui telepon.
Aku melihat titik kendaraan Nadira bergerak di layar. Titik lain berada tiga puluh meter di belakangnya.
“Jangan.”
“Kalau mereka mencoba mendekat?”
“Biarkan.”
Gilang terdiam sesaat.
“Ibu Nadira tidak tahu?”
“Tidak perlu.”
Kalimat itu dulu terdengar efisien.
Sekarang, ketika kutulis dalam pernyataan untuk Damar, kalimatnya terlihat seperti apa adanya: aku menjadikan istriku umpan tanpa memberitahunya.
Tujuanku saat itu bukan membiarkan Banyu menyakiti Nadira. Aku ingin tahu apakah ia hanya mengikuti karena amplop tersebut atau sudah memegang bagian lain dari arsip Aditya. Jika ia mendekati Nadira, timku akan mengenali dokumen, orang, atau lokasi yang ia gunakan.
Aku sudah menempatkan dua kendaraan lain di belakang mereka.
Aku menyebutnya pengawasan berlapis.
Nadira akan menyebutnya pengkhianatan.
Ia benar.
Pada sore yang sama, Nadira meneleponku dari kantor.
“Aneh,” katanya. “Tiketku tidak bisa dipakai. Sistemnya bilang ada masalah verifikasi.”
Aku berdiri di ruang kendali sambil melihat namanya menyala pada layar perjalanan. Di belakangku, dua petugas sedang mengikuti mobil Banyu melalui kamera kota.
“Kamu masih mau pergi?” tanyaku.
“Aku belum tahu. Ada orang yang seharusnya kutemui.”
“Siapa?”
Ia diam sebentar. “Aku belum bisa cerita.”
Aku ingat rasa tidak nyaman yang muncul saat itu. Bukan hanya karena ada bahaya yang tidak ia pahami. Aku tidak tahan mengetahui Nadira memiliki tujuan, nama, dan rencana yang tidak melewatiku.
Aku datang membawa alasan yang terdengar lebih masuk akal daripada kecemburuan atau ketakutan. Jalur tidak aman. Orang yang hendak ditemui tidak dapat ditemukan. Foto yang diterima mungkin bagian dari pemerasan.
Semua itu benar.
Hanya saja, aku menyusun kebenaran tersebut supaya tinggal satu keputusan yang terasa wajar: pulang bersamaku.
Nadira akhirnya masuk ke mobil tanpa melawan. Dalam perjalanan, ia menyandarkan kepala ke kaca dan berkata, “Kadang aku merasa hidupku berhenti bergerak setiap kali kamu bilang ada bahaya.”
Aku menjawab bahwa tugasku memastikan ia tetap hidup untuk dapat marah kepadaku.
Ia tertawa kecil.
Selama bertahun-tahun, aku mengingat tawa itu sebagai tanda bahwa caraku diterima. Aku tidak pernah mengingat kalimat sebelum tawa tersebut.
Aku menulis seluruh kronologi tanpa menghapus bagian yang membuatku terlihat buruk. Setelah selesai, dokumen itu terdiri dari empat halaman.
Pada halaman ketiga terdapat pengakuan bahwa aku meminta sistem pemesanan tiket menandai reservasi Nadira sebagai bermasalah. Aku kemudian datang ke kantor dan mengatakan perjalanannya terlalu berisiko.
Yang tidak kukatakan waktu itu: aku sudah mengetahui mantan auditor yang ingin ditemuinya menghilang dari rumah dua hari sebelumnya.
Aku juga tidak mengatakan bahwa Banyu mungkin satu-satunya orang yang tahu ke mana lelaki itu pergi.
Alih-alih memberi Nadira informasi dan membiarkannya memutuskan, aku membatalkan perjalanannya, membiarkan Banyu terus mengikuti, lalu mengirim tim untuk membuntuti Banyu setelah Nadira pulang.
Hasilnya hampir tidak ada.
Banyu mengganti kendaraan dua kali dan menghilang di kawasan percetakan lama. Timku hanya menemukan satu tempat penyimpanan yang sudah kosong serta sobekan amplop dengan kode A-17.
Sejak hari itu, aku tahu satu bagian arsip Aditya berada di luar jaringan keluarga.
Aku tidak pernah tahu seberapa besar.
Pintu ruang kerja terbuka tanpa diketuk. Elsa masuk sambil membawa tablet dan sebungkus roti yang belum dibuka.
“Kau belum makan,” katanya.
“Aku tidak meminta laporan tentang makan siangku.”
“Ini bukan laporan. Aku melihat piring dari pagi masih utuh di luar.”
Ia meletakkan roti di meja, lalu membaca bagian atas pernyataanku. Tatapannya bergerak cepat sampai halaman terakhir.
“Kau benar-benar akan mengirim ini?”
“Iya.”
“Kalimat ‘saya menggunakan pergerakan Nadira untuk menguji sejauh mana Banyu memegang arsip’ dapat dipakai dalam gugatan privasi.”
“Aku tahu.”
“Dan dalam pemeriksaan pidana kalau pelacakan dilakukan tanpa persetujuan.”
“Aku tahu.”
Elsa menurunkan tablet. “Aku hanya memastikan ini bukan cara baru untuk menghukum diri agar Nadira melihatmu menyesal.”
Perhatianku kembali ke layar.
“Dia mungkin tidak akan pernah membaca langsung.”
“Damar pasti menunjukkannya.”
“Kalau begitu itu urusan mereka.”
Elsa duduk di kursi seberang.
“Apa yang sebenarnya kau harapkan?”
Pertanyaan itu sulit karena jawabannya berubah setiap beberapa menit.
Sebagian diriku masih berharap pengakuan yang lengkap akan membuat Nadira membedakan aku dari Surya dan Helena. Bagian lain ingin ia melihat bahwa aku sedang mencoba berubah.
Harapan itu tidak hilang hanya karena aku tahu aku tidak berhak memintanya.
“Aku berharap dia memiliki bukti yang selama ini kutahan,” kataku. “Apa yang dia lakukan setelah itu bukan keputusanku.”
Elsa mengangguk tipis. “Jawaban yang lebih baik daripada minggu lalu.”
“Standarnya rendah.”
“Sangat.”
Aku menandatangani pernyataan secara digital dan mengirimkannya kepada Damar, Elsa, serta penyimpan dokumen independen. Aku tidak menyertakan pesan pribadi untuk Nadira atau meminta agar ia memahami alasan keamanan di balik tindakanku.
Hanya fakta.
Setelah surel terkirim, aku membuka arsip lama Banyu. Sebagian besar data sudah ditutup atas perintah Elsa. Yang tersisa adalah laporan umum: riwayat kerja, tulisan yang pernah diterbitkan, serta beberapa pertemuan dengan mantan pegawai Kalyana.
Satu artikel belum pernah terbit.
Judul sementara tersimpan dalam metadata:
Rumah Tangga yang Dibayar untuk Diam.
Artikel itu dibuat dua belas tahun lalu, setahun sebelum kematian Aditya. Nama penulisnya bukan Banyu. Ia masih mahasiswa saat itu.
Penulis aslinya adalah dosen sekaligus mentornya, Rahmat Pradana—ayah Banyu.
Aku memperbesar tanggal. Rahmat meninggal karena serangan jantung enam bulan setelah Aditya. Banyu mengambil alih seluruh arsip ayahnya, termasuk penyelidikan yang tidak pernah diterbitkan.
Berarti kasus itu jauh lebih tua daripada dugaanku.
Elsa berdiri di belakangku.
“Kalau Banyu memegang arsip ayahnya, dia mungkin punya salinan sebelum Laksmi membuat buku.”
“Kenapa menunggu selama ini?”
“Karena seseorang membayarnya untuk menunggu.”
Kode dalam buku langsung muncul di kepalaku.
TUNDA.
Aku mencari nama Banyu dalam salinan milikku. Tidak ada. Halamannya hilang atau memang tidak pernah dimasukkan ke versi yang kuterima setelah Laksmi meninggal.
Ponsel Elsa berbunyi. Ia membaca pesan, lalu menatapku.
“Damar sudah menerima pernyataanmu.”
“Cepat.”
“Dia juga bilang Banyu Pradana baru datang ke Ruang Tengah.”
Aku berdiri.
Elsa mengangkat tangan sebelum aku meraih ponsel.
“Jangan hubungi Nadira. Jangan kirim keamanan.”
“Aku tidak akan.”
“Wajahmu mengatakan kau sedang menghitung waktu tempuh.”
Aku memang sedang melakukannya.
Aku memaksa diri duduk kembali.
“Apa yang dibawa Banyu?”
Elsa membaca pesan berikutnya. Ekspresinya berubah.
“Satu halaman dari buku kata kerja.”
“Aku tidak punya halaman Banyu.”
“Bukan hanya halaman tentang dirinya.” Elsa menyerahkan ponselnya. “Menurut Damar, halaman itu berasal dari salinan yang lebih tua daripada buku milik Nadira.”
Di layar terdapat foto kertas menguning dengan cap A-17 di sudut bawah.
Elsa memperbesar bagian tengahnya.
“Rendra,” katanya pelan, “halaman ini tidak pernah ada di buku yang diberikan Laksmi kepadamu.”