NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 KEMBALI DENGAN WIBAWAA

Binatang buas berwarna kelabu tua itu melesat cepat menembus kabut tebal Lembah Kematian. Tubuhnya yang besar dan tegap membelah semak belukar dan bebatuan tajam seakan tak menemukan rintangan apa pun di hadapannya. Di atas punggungnya, Lin Mo duduk tenang tanpa sedikit pun terguncang meskipun kecepatan yang dibawa sungguh luar biasa. Angin kencang yang menerpa wajahnya tak lagi terasa menyakitkan atau menyengat. Justru sebaliknya, angin itu seakan menyapa dan melingkar lembut di sekeliling tubuhnya, seakan mengakui kehadiran sosok yang kini mengalirkan darah Naga Abadi di dalam nadinya. Lin Mo menatap lurus ke depan, sepasang matanya yang jernih namun memancarkan cahaya keemasan samar mampu menembus kegelapan pekat dan kabut yang tak tertembus oleh pandangan makhluk biasa. Di dalam hatinya, tak ada rasa takut atau ragu. Yang ada hanyalah tekad yang semakin mengeras bagaikan logam yang ditempa berkali-kali hingga mencapai kekokohan yang tak tergoyahkan.

Selama perjalanan itu, Lin Mo terus memejamkan mata sebagian, membiarkan kesadarannya menyatu dengan kekuatan yang kini mengalir deras di dalam tubuhnya. Ia mulai memahami bahwa kekuatan yang diwarisinya itu bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari dari buku atau diajarkan oleh seseorang. Kekuatan itu adalah bagian dari hakikat keberadaannya sendiri yang terkunci rapat sejak lahir. Setiap kali Lin Mo menginginkannya, energi murni dari alam semesta seakan langsung merespons seketika, mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya, menyempurnakan setiap jengkal daging dan tulangnya, serta membentuk fondasi kekuatan yang jauh lebih kokoh dibandingkan apa pun yang pernah ia pelajari selama bertahun-tahun di sekte. Lin Mo menyadari bahwa apa yang dimilikinya saat ini hanyalah permulaan. Di dalam darahnya masih tersembunyi kekuatan yang jauh lebih dahsyat dan luar biasa, yang baru akan terbangun perlahan seiring bertambahnya kekuatan dan kedewasaan jiwanya.

Tak lama kemudian, bayangan tebing tinggi yang menjadi batas keluar-masuk Lembah Kematian mulai tampak samar di kejauhan. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyelinap menembus celah-celah bebatuan, menyinari puncak tebing yang menjulang tinggi menembus awan. Di atas tebing itulah tempat ia berdiri sehari sebelumnya, mendengar pengakuan pengkhianatan yang begitu kejam dari dua orang yang paling ia percayai seumur hidupnya. Dan kini, setelah melewati maut dan bangkit kembali dengan kekuatan dewa purba, Lin Mo kembali mendaki tebing itu — bukan lagi sebagai orang yang lemah dan tak berdaya yang dibuang begitu saja, melainkan sebagai seseorang yang patut ditakuti dan disegani oleh siapa pun yang melihatnya.

Binatang buas itu akhirnya berhenti tepat di bawah dinding tebing yang curam dan tinggi. Ia menundukkan kepalanya besar dengan penuh rasa hormat seakan menyadari bahwa perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari tempat ini. Lin Mo melompat turun dari punggung binatang itu dengan gerakan ringan dan tenang. Ia menatap ke arah puncak tebing yang samar terlihat di atas sana, lalu menoleh ke arah binatang buas yang menatapnya dengan tatapan tunduk dan setia.

"Tetaplah menunggu di sini untuk sementara waktu," ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Aku harus naik ke atas sendirian. Dan saat aku kembali, barulah kita melanjutkan perjalanan yang jauh lebih panjang."

Binatang itu seakan mengerti maksud ucapannya. Ia mengangguk perlahan lalu mundur perlahan kembali menyusup ke dalam bayangan hutan belantara yang rimbun, siap menunggu perintah tuannya kapan pun diperlukan. Lin Mo menarik napas panjang sekali, menyerap energi murni dari alam yang segar dan jernih ke dalam dadanya, lalu melangkah maju menuju dinding tebing yang curam itu. Tanpa menggunakan tangannya, tanpa menapakkan kaki ke batu-batu yang menonjol, tubuh Lin Mo perlahan melayang naik ke atas dengan tenang dan mantap seakan kakinya menapak pada tanah yang datar dan kokoh. Cahaya keemasan samar melingkar di kakinya, menopang tubuhnya yang melesat naik dengan kecepatan yang tak dapat dilihat oleh mata biasa. Dalam sekejap mata, sosoknya telah menghilang di puncak tebing yang tinggi menjulang itu.

Sesampainya di puncak tebing, Lin Mo mendarat dengan lembut di atas tanah yang sama tempat ia berdiri sehari sebelumnya. Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa pakaiannya yang sederhana namun kini tampak berkilauan samar diterpa cahaya matahari. Lin Mo berdiri di sana sendirian, menatap ke arah kompleks bangunan Sekte Cahaya yang tampak megah dan bersih di kejauhan. Di tempat itulah ia dibesarkan. Di tempat itulah ia pernah hidup, berharap, dan dipercaya. Dan di tempat itulah pula ia dikhianati, dirampas haknya, dan akhirnya dibuang ke lembah maut seakan tak pernah berarti apa-apa.

Belum lama berdiri di sana, empat orang murid penjaga yang sedang berpatroli di area itu tiba-tiba melihat kehadiran Lin Mo. Mereka saling berpandangan sejenak, wajah mereka berubah menjadi pucat pasi seketika bagaikan melihat hantu yang kembali dari kuburnya. Mereka yang menyaksikan sendiri bagaimana Lin Mo dilempar jatuh ke jurang sedalam itu tak mungkin masih hidup. Namun kenyataannya, pemuda yang seharusnya sudah binasa itu kini berdiri tegak di hadapan mereka, dengan wajah yang tenang dan tubuh yang utuh tanpa luka sedikit pun.

Salah seorang dari mereka yang paling berani akhirnya melangkah maju sambil menunjuk Lin Mo dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak bercampur antara takut dan tak percaya, namun rasa sombong yang tertanam di hatinya masih mendorongnya untuk melontarkan kata-kata kasar dan penghinaan seperti yang biasa mereka lakukan selama ini.

"Sialan... Apakah kau hantu atau manusia? Bagaimana mungkin kau masih hidup?! Kau seharusnya sudah hancur berkeping-keping di dasar lembah itu!" bentak pemuda itu dengan suara bergetar namun tetap berusaha tampak garang. "Berani sekali kau muncul kembali di sini! Apakah kau datang untuk memohon belas kasihan kepada kami agar kami tidak melemparmu untuk kedua kalinya? Dengarkan baik-baik ya, anjing yang selamat dari maut! Di sini tak ada tempat bagi sampah sepertimu! Pergilah sebelum kami melaporkan kedatanganmu kepada Lin Tian dan membiarkan dia menghancurkanmu hingga tak bersisa!"

Tiga orang lainnya ikut menertawakan dan melontarkan makian kasar seakan apa yang baru saja mereka katakan adalah hal yang paling benar dan wajar. Mereka sama sekali tidak menyadari perubahan besar yang telah terjadi pada diri pemuda yang berdiri tenang di hadapan mereka itu. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa aura yang dipancarkan oleh Lin Mo saat ini, meskipun ditekan sekuat tenaga, tetaplah begitu berat dan menindih hingga membuat napas mereka terasa sesak dan keringat dingin mulai menetes di punggung mereka.

Lin Mo berdiri diam di tempatnya. Ia tidak melangkah maju. Ia tidak pula melontarkan satu kata pun hingga makian-makian kasar itu akhirnya mereda sendiri. Saat keempat pemuda itu selesai berbicara dan menatapnya dengan tatapan penuh penghinaan, barulah Lin Mo perlahan membuka bibirnya. Suaranya rendah namun terdengar jelas dan tegas di telinga setiap orang yang hadir, seakan suara itu berdenting di udara dan menekan langsung ke dada mereka.

"Kalian masih belum paham dengan keadaan yang sebenarnya," ucap Lin Mo pelan namun setiap kata terasa berat bagaikan gunung kecil yang menindih dada mereka. "Kalian menghinaku karena kalian mengira aku telah kembali untuk memohon belas kasihan. Kalian salah besar. Aku kembali bukan untuk meminta sesuatu dari kalian. Aku kembali untuk menuntut apa yang telah dirampas dariku. Dan jika kalian tidak menyingkir dari hadapanku saat ini juga... maka kalian akan menanggung akibatnya sendiri."

Keempat murid itu mendengar ucapan itu seketika meledak dalam tawa yang penuh penghinaan dan kemarahan. Mereka merasa semakin disepelekan dan merasa bahwa pemuda yang berdiri di hadapan mereka itu pasti telah gila karena terjatuh dari tebing dan selamat secara ajaib. Salah seorang dari mereka yang bertubuh besar dan kuat akhirnya melangkah maju dengan wajah merah padam menahan amarah. Ia mengepalkan tangannya erat-erat sambil menatap Lin Mo dengan tatapan penuh niat membunuh.

"Anak gila yang tak tahu diri! Berani sekali kau bicara dengan nada setinggi itu kepada kami! Karena kau sudah kembali hidup-hidup, maka hari ini kami akan memastikan bahwa kau tak akan pernah bisa melangkah pergi dari sini! Kami akan mematahkan kedua kakimu dan menyeretmu kembali ke hadapan Lin Tian agar dia melihat betapa hinanya nasibmu yang berusaha tampak sombong!" bentak pemuda itu sambil melesat maju mengayunkan kepalan tangannya yang diselimuti energi kekuatan yang cukup kuat untuk menghancurkan batu yang keras.

Ketiga orang lainnya berdiri di belakang sambil tertawa dan menunggu-nunggu saat di mana pemuda itu akan jatuh tergeletak berdarah di tanah. Namun apa yang terjadi sesaat kemudian sama sekali di luar dugaan mereka semua. Saat kepalan tangan itu hampir menyentuh dada Lin Mo, pemuda itu hanya melirik sekilas dengan tatapan yang dingin dan datar. Seketika itu juga, gelombang kekuatan yang dahsyat meledak keluar dari tubuh Lin Mo tanpa ia menyentuh lawannya sedikit pun.

Suara dentuman keras terdengar memekakkan telinga. Keempat murid itu terpental mundur secara bersamaan bagaikan ditabrak oleh gunung yang meluncur deras. Mereka terlempar jauh hingga menabrak tanah dan berguling-guling sebelum akhirnya berhenti dengan napas terengah-engah, wajah pucat pasi, dan mulut yang mengeluarkan darah segar. Keempat orang itu menatap pemuda yang masih berdiri tegak di tempat yang sama dengan mata terbelalak penuh ketakutan yang luar biasa. Mereka sama sekali tidak melihat bagaimana cara pemuda itu melakukannya. Mereka bahkan tidak merasakan adanya pergerakan apa pun dari tubuh pemuda itu. Namun mereka terpental seakan ditabrak oleh kekuatan yang tak terbayangkan.

Lin Mo melangkah perlahan mendekati mereka yang terbaring lemah di tanah. Setiap langkah kakinya jatuh dengan tenang namun tekanan yang ditimbulkannya semakin berat menindih dada keempat orang itu hingga mereka tak mampu bergerak sedikit pun. Lin Mo berhenti tepat di hadapan mereka, menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang jernih namun dingin dan menggetarkan jiwa.

"Aku tidak melukaimu karena kalian hanyalah orang yang tidak tahu apa-apa," ucap Lin Mo pelan namun tegas suaranya terdengar berat dan menekan ke dalam hati mereka. "Namun sampaikanlah pesanku kepada Lin Tian dan Xu Yao. Katakan bahwa Lin Mo telah kembali. Katakan bahwa apa yang mereka rampas dariku... kelak akan kutuntut kembali seribu kali lipat lebih banyak. Dan saat aku datang menuntut pembalasan itu... jangan pernah memohon belas kasihan kepadaku."

Lin Mo melangkah melewati sisi mereka dan terus berjalan lurus menuju gerbang utama Sekte Cahaya yang kini tampak megah dan penuh kesibukan di kejauhan. Keempat murid itu masih terbaring di tanah dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh mereka. Mereka menatap punggung pemuda yang berjalan menjauh itu dengan pandangan penuh ketakutan yang tak mampu mereka sembunyikan. Di dalam hati mereka, satu hal kini telah mereka pahami dengan sangat jelas. Pemuda yang mereka hina dan anggap sampah itu kini telah berubah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat dan jauh lebih mengerikan daripada siapa pun yang pernah mereka temui seumur hidup. Dan kedatangannya hari ini hanyalah awal dari badai besar yang akan menghancurkan segala kesombongan dan kejahatan yang bersembunyi di balik kemegahan Sekte Cahaya.

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!