Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Makan Siang Bersama
Pagi itu, Ara tidak terbangun seperti biasa. Tidak ada satu pun suara yang membangunkannya.
Dante yang berdiri di sisi ranjang mematikan alarm jam yang ada di meja dan juga di ponselnya.
Tatapannya jatuh pada Ara yang masih tertidur lelap. Rambut perempuan itu berantakan di atas bantal. Wajahnya terlihat seperti malaikat.
Dante terdiam beberapa saat. Mungkin kemarin ia memang terlalu keras. Ara baru saja kembali setelah kabur darinya. Ia kemudian memberinya serangkaian hukuman tanpa memberinya kesempatan bernapas. Sebenarnya itu semua ia lakukan untuk membuat Ara jera. Namun ia juga tidak ingin membuat Ara menjadi takut padanya.
"Biarkan dia tidur." Suara Dante terdengar dingin saat ia memberi perintah kepada kepala pelayan.
"Jangan bangunkan nyonya. Kau cukup menjenguknya setiap jam, dan laporkan padaku kapan nyonya sudah benar-benar bangun." Dante memberi instruksi. Ia sudah selesai mandi dan berganti baju. Ia sebenarnya ingin Ara melayaninya pagi ini, seperti ia telah melayaninya kemarin sore. Tetapi ia tidak ingin egois.
"Bagaimana dengan sarapan nyonya?"
"Kalau dia lapar, dia pasti akan turun makan."
"Baik, Tuan."
Dante menatap Ara sekali lagi. Setelah itu ia berbalik dan meninggalkan kamar. Tidak ada kecupan dan tidak ada kelembutan.
Namun keputusan nya untuk istrinya sudah menunjukkan pria yang dikenal dingin itu ternyata tahu kapan harus mengendurkan kendali. Ia tahu kapan harus memberi ruang bagi Ara.
Di lantai bawah, ruang makan terasa berbeda tanpa Ara. Dante duduk di ujung meja seperti biasa. Hidangan sarapan telah tersaji lengkap. Namun ia hanya makan sedikit. Tangannya memegang cangkir kopi. Tatapannya menjadi lebih ingin dan gelap selama beberapa detik.
Luca yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan.
"Tuan."
Dante mengangkat mata.
"Jika Nyonya belum bangun, saya bisa meminta pelayan—"
"Tidak perlu."
Luca langsung berhenti.
Dante kembali menatap kopinya.
"Biarkan dia tidur."
"Baik."
Dante mengambil garpu. Namun hanya beberapa suapan yang masuk. Kursi di seberangnya kosong. Biasanya Ara akan duduk di sana. Ruang makan yang besar ini kekurangan satu aroma. Aroma wajah istrinya yang kadang kesal, kadang berpura-pura patuh, bahkan ekspresi mencuri pandangnya ketika mengira Dante tidak memperhatikan.
Dante tidak menyukai kesunyian itu. Tetapi wajahnya tetap tanpa ekspresi. Ia tidak akan mengakuinya.
"Bagaimana laporan kuartal pertama berjalan?"
Luca segera membuka tablet.
"Untuk kuartal pertama, pendapatan keseluruhan naik delapan persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu."
"Delapan persen?"
"Ya, Tuan."
"Cabang utara?"
"Naik sebelas persen."
"Selatan?"
"Enam persen."
"Operasional?"
"Turun tiga persen."
Dante mengangguk.
"Bandingkan dengan tahun lalu."
Luca menunjukkan laporan sebelumnya.
"Tahun lalu pertumbuhan hanya empat persen."
Dante membaca angka-angka tersebut dengan teliti.
"Bagian distribusi bagaimana?"
"Ada keterlambatan dua persen."
"Kenapa?"
"Masalah jalur pengiriman."
"Perbaiki segera minggu ini."
"Baik, Tuan."
Dante kembali menyeruput kopinya.
"Bagian laporan keamanan?"Kedua matanya berubah menjadi lebih tajam.
Luca membuka halaman berikutnya.
"Semua wilayah aman. Tidak ada pergerakan mencurigakan."
Dante berdiri. Sarapan belum benar-benar disentuh. Tapi ia memutuskan segera berangkat ke kantor untuk mengeksekusi dan mengevaluasi beberapa proyek investasi.
Ara terbangun beberapa jam kemudian. Matanya langsung tertuju pada jam. Ia membeku.
"Astaga," raungnya kaget. Ia duduk cepat. Alarmnya mati. Padahal ia yakin memasangnya.
Ara mengambil ponsel. Alarm ponsel juga mati. Ia buru-buru memeriksa pesan. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah lama menduga Dante telah melakukan sesuatu terhadap ponselnya.
Pria itu terlalu berhati-hati, terlalu mendominasi dan selalu berusaha menguasai keadaan.
Ara sejauh ini hanya memilih pura-pura tidak tahu. Ia tidak ingin memancing hal yang tidak perlu, sebelum ia benar-benar bisa kabur dari Dante.
Ia membuka pesan satu per satu. Tidak ada pesan yang mengkhawatirkan. Ia takut Dante membaca pesannya juga saat pria itu mematikan alarm ponselnya.
Ara menghela napas lega. "Untunglah." Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur. Sebenarnya ia masih ingin tidur. Ia ingin bermalas-malasan. Ia menggeliat di bawah selimut. Kemudian matanya menangkap novel di meja. Semalam ia meletakkannya begitu Dante mematikan lampu utama.
Ara mengambil novelnya. "Sebentar saja," gumamannya. Ia melanjutkan bacaannya.
Ketukan pintu membuatnya mengangkat kepala. Kepala pelayan masuk.
"Nyonya."
"Ya?"
"Nyonya sudah bangun?"
"Baru saja."
"Kapan Nyonya ingin makan?"
Ara melihat jam. Jam sudah menunjukkan 11.25. Sudah 20 menit ia membaca buku.
"Sekalian makan siang saja."
"Nyonya tidak lapar?"
Ara mengernyit. Ia lalu menggeleng. "Belum," katanya.
"Baik Nyonya." Kepala pelayan itu pun meninggalkan kamar.
Ara kembali membuka novelnya. Ia kembali tenggelam dalam cerita. Ia sama sekali tidak tahu beberapa menit kemudian, pria yang biasanya tidak pernah menunggu siapa pun akan kembali ke mansion.
Dante benar-benar pulang menjelang waktu makan siang. Ia baru saja menyelesaikan beberapa urusan di kantor.
Begitu memasuki mansion, kepala pelayan segera menyambutnya.
"Nyonya masih di kamar, Tuan."
Dante berhenti.
"Sudah makan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Nyonya meminta makan pada jam makan siang."
Dante melirik jam tangannya. Ia berjalan menuju ruang makan.
"Siapkan makan siang."
"Untuk Tuan?"
"Untuk Nyonya juga."
Kepala pelayan sedikit terkejut, tapi tidak berkata apa-apa.
Dante duduk di tempatnya. Ia tidak meminta Ara dipanggil. Ia menunggu Ara turun.
Beberapa menit berlalu, Ara masih belum turun. Dante heran. Apakah Ara tidak lapar. Luca yang kebetulan ikut masuk menatap kegelisahan tuannya.
"Tuan, saya bisa meminta seseorang memanggil Nyonya."
"Tidak perlu." nada suara Dante masih sedingin es. "Aku akan menunggu," imbuhnya tanpa ekspresi.
"Baik."
Dante melihat jam tangannya sekali. Ia bertanya-tanya kenapa Ara belum turun juga.
Ara sudah selesai mandi dan memakai baju berbeda. Siang ini ia memakai terusan mini. Ia masih menyisir rambutnya ketika kepala pelayan datang lagi.
"Nyonya, sudah waktunya makan siang."
"Tunggu. Sebentar lagi aku akan turun."
"Tuan Dante sudah menunggu di bawah."
Sisir di tangan Ara hampir terjatuh. "Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal?" Ia meletakkan sisirnya dan mengoleskan lipstik oranye.
"Tuan melarang kita memberi tahu Nyonya."
Ara merenung. Kenapa Dante melakukannya. Sebenarnya pria itu sedang kesambet apa. Pertama, ia mematikan alarm dan membiarkannya bangun siang. Kedua, ia tiba-tiba pulang makan siang dan menunggunya.
"Nyonya," panggil kepala pelayan membuyarkan pikiran Ara.
"Ok ok. Aku turun sekarang." Ia berlari kecil menuju tangga. Ia lalu memperlambat langkah menuju ruang makan.
Begitu memasuki ruang makan, Ara langsung melihat Dante. Pria itu duduk tegak di kursinya. Tatapannya dingin. Tidak ada tanda-tanda ia sedang kesal atau marah.
Ara berhenti beberapa langkah dari meja. "Maaf."
Dante mengangkat mata. Tatapannya menyapu Ara dari atas ke bawah. Ara siang itu tampil sedikit lebih menyala, mungkin karena pengaruh gaun mini dan lipstik oranye nya.
"Kau terlambat," sindir Dante tajam.
Ara menelan ludah. "Aku tidak tahu kau akan pulang dan makan siang."
Dante menunjuk kursi di sampingnya. "Duduk."
Ara berjalan mendekat. Ia duduk.
Dante mengambil sendoknya. Ara mengikutinya.
"Makan," ujar Dante tanpa menoleh.
Ara menatap makanan di depannya. Ia diam-diam melirik Dante. Pria itu sudah mulai makan. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Namun entah mengapa, Ara justru merasa hatinya sedikit hangat.
Sementara Dante merasa kehadiran Ara di meja makan itu memang sudah menjadi sesuatu yang tidak ingin ia lewatkan.
Ara makan tanpa bicara, hanya sudut bibirnya yang terangkat sangat tipis.
Dante melihatnya. Tetapi seperti biasa, ia pura-pura tidak tahu.
***