Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
1 jam berlalu, Zafana sudah kembali masuk kedalam kamar Oliver, bersiap untuk pulang. Detik berikutnya Oliver masuk dengan tatapan yang tidak bersahabat kearah Zafana.
Entah sejak kapan Zafana menganggap tatapan itu menjadi sangat menggemaskan. Zafana berjalan mendekati Oliver lalu berdiri dihadapannya membuat langkah Oliver sontak berhenti.
"Bapak mau nanya apa tadi?"tanya Zafana.
"Gak jadi, saya tau kamu akan menghindar"jawab Oliver sontak membuat Zafana terkekeh.
"Enggak kok pak"ucap Zafana.
Oliver menghela, "yaudah kamu tinggal jawab aja, saya udah nanya tadi di dapur"
Zafana mengerutkan keningnya, "nanya apa tuh?"
"Zafa..."
"Ih serius pak, saya lupa..jadi bapak bisa kan ulang pertanyaannya?"Zafana sengaja membuat Oliver sedikit merasa kesal padanya.
"Kemarin saya kasih kamu pilihan, pergi jika kamu menolak dan bertahan jika kamu menerima---"
"Terus menurut bapak, kenapa saya milih untuk tetap disini?"sela Zafana sambil tersenyum kearah Oliver.
Oliver bukanlah anak polos seperti Enzi dan Aileen ataupun Aqila yang belum mengerti atas ucapan Zafana. Dia mengerti, bahkan sangat mengerti. Maka detik berikutnya ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Jadi kamu nerima saya?"tanya oliver memastikan.
Zafana mengangguk lalu tertawa membuat Oliver segera mendekat lalu memeluknya sangat erat.
"Tapi Bapak jangan buru-buru untuk lamar saya didepan mama papa ya, saya mau wisuda dulu"ucap Zafana.
Oliver mengangguk lalu menangkup wajah Zafana. Dalam hati ia berjanji untuk tidak akan menyakiti ataupun membuat penyesalan untuk kedua kalinya. Ibu jarinya mengusap lembut kedua pipi Zafana yang terlihat semburat merah disana.
"Jadi ada kesempatan 4 bulan untuk kita pacaran?"tanya Oliver yang dikekehi oleh Zafana.
Oliver mulai mengikis jarak lalu menempelkan kembali bibirnya dengan bibir Zafana. Masih sama terkejutnya dengan tadi, jantung Zafana kembali memunculkan efek yang berlebihan.
Di sisi lain Rina melempar tasnya ke sembarang arah dengan kekesalan yang memuncak. Disampingnya ada Sintya yang juga tidak kalah kesal.
"Benar-benar ya si Oliver itu! Kenapa dia lebih milih jalang itu sih?"tanya Rina berapi-api.
"Tante, kita harus pikirin cara buat nyingkirin dia!"ucap Sintya.
"Tante belum kepikiran cara selanjutnya, kamu ada cara gak?"jawab Rina.
Sintya menghela, "belum sih tante, aku juga masih mikirin"
Rina terus berjalan kesana dan kemari dengan perasaan jengkelnya terhadap Oliver dan juga Zafana. Otaknya terus berjalan memikirkan cara agar ia bisa menyingkirkan Zafana. Tapi ia justru kehabisan akal dibuatnya.
"Tante aku punya cara!"ucap Sintya tiba-tiba.
Rina sontak menatap Sintya, "apa rencana kamu?"
"Jadi aku baru ingat kalau ada sepupu aku yang kuliah dikampus tempat Oliver ngajar, aku denger-denger beberapa temannya juga tergila-gila banget sama Oliver"jawab Sintya.
"Terus apa rencana kamu?"tanya Rina penasaran.
"Gimana...kalau kita bikin cewek itu dirundung dikampusnya? Tante, Oliver tuh bukan dosen biasa dikampus, dia sangat berpengaruh atas mahasiswa-mahasiswanya...jadi gampang dong buat kita nyingkirin cewek itu"jelas Sintya.
Rina menjentikan jarinya, "bagus juga ide kamu"
"Oke, kalau gitu kamu telepon sepupu kamu itu dan suruh dia buat ngehasut teman-temannya yang lain...untuk imbalan, tante akan kasih diakhir setelah rencana ini berhasil"ucap Rina.
"Tante tenang aja dan serahin semuanya sama Sintya"jawab Sintya dengan sorot mata yang tajam menatap kearah yang kosong sambil membayangkan bagaimana menderitanya Zafana esok hari di kampus.