NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Aturan Permainan Baru

lKeheningan yang berat kembali menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara detak jam dinding yang teratur seolah menghitung setiap detik perubahan nasib yang baru saja terjadi. Argan masih terpaku menatap Aruna, kata-kata gadis itu masih berputar di benaknya—terasa asing, namun entah mengapa sedikit demi sedikit mengikis dinding pertahanan yang selama ini ia bangun setinggi langit. Tidak ada yang pernah berani berkata demikian padanya; semua orang hanya memandangnya dengan rasa iba, rasa jijik yang disembunyikan, atau sekadar menghormati namanya saja tanpa melihat siapa dirinya sebenarnya.

Dengan perlahan, Argan menggerakkan kursi rodanya mendekat. Raut wajahnya masih dingin, namun tatapan tajamnya kini tak lagi penuh amarah, melainkan penuh kewaspadaan yang mendalam.

“Kau bilang kau tidak menganggapku cacat?” suaranya rendah, namun terdengar jelas bergetar sedikit—entah karena emosi yang tertahan atau karena rasa terkejut yang belum hilang. “Kau belum tahu apa yang harus kau hadapi mulai detik ini, Aruna. Kau pikir pernikahan ini hanya soal berdiri di sampingku di depan tamu? Kau pikir kau hanya perlu tersenyum dan berpura-pura bahagia? Tidak semudah itu.”

Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu tak menentu. Ia tahu konsekuensi dari keputusan yang diambilnya sesaat lalu sangat besar, namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mundur, apa pun yang terjadi.

“Katakan padaku apa yang harus saya lakukan, Tuan,” jawabnya mantap, meski tangannya masih gemetar di samping tubuh. “Saya sudah siap menjalani semuanya.”

Argan mengangguk pelan, lalu mulai merangkai aturan main yang akan menjadi batas di antara mereka berdua selama ikatan ini masih berlangsung.

“Baik. Kalau begitu dengarkan baik-baik. Ini adalah perjanjian yang mengikat, bukan pernikahan yang didasari perasaan. Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu layaknya suami yang penuh kasih sayang, apalagi menggantikan perasaan yang seharusnya untuk kakakmu—walaupun dia ternyata pengecut yang tak tahu diri.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati gadis itu sebelum melanjutkan dengan nada yang makin tegas:

“Pertama, di hadapan publik, keluarga, dan semua orang yang mengenal kita, kau adalah istriku yang sah. Kau harus bersikap seolah kita adalah pasangan yang paling bahagia. Jangan pernah tunjukkan kelemahan atau keraguan sedikit pun, karena itu akan menjadi bahan cemoohan bagi mereka yang menunggu kesalahan keluarga Adhyaksa.”

“Kedua, di balik pintu tertutup seperti sekarang, kau bebas menjadi dirimu sendiri. Tapi ingat batasnya. Jangan pernah mencoba masuk ke ruang pribadiku yang belum kubuka untuk siapa pun. Jangan bertanya berlebihan tentang masa laluku, tentang lukaku, atau tentang apa yang kurasakan. Aku butuh waktu untuk sendiri, dan aku harap kau menghormatinya.”

“Ketiga, kau akan tinggal di sini, di rumah ini. Kau akan memegang kendali atas urusan rumah tangga sebagaimana layaknya nyonya rumah. Tapi jangan berpikir kau bisa mengatur hidupku atau mengubah kebiasaanku sesuka hati. Aku yang memegang kendali penuh di sini.”

“Dan yang paling penting,” Argan menatapnya tajam seolah ingin menembus kedalaman jiwa gadis itu, “jangan sampai kau jatuh cinta padaku. Karena jika itu terjadi, kau yang akan terluka paling dalam. Aku tak punya hati yang tersisa untuk dicintai, Aruna. Semuanya sudah hancur bersamaan dengan kecelakaan itu setahun yang lalu. Kau hanya pengganti sementara, dan saat waktunya tiba, kau akan melepaskanku begitu saja.”

Setelah menyampaikan semua itu, Argan berhenti bicara. Ia membiarkan Aruna mencerna setiap aturan yang terasa begitu dingin dan keras itu.

Aruna menunduk sejenak, air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Sakit memang mendengar kalimat bahwa ia hanya sekadar pengganti sementara, dan bahwa ia dilarang untuk merasakan hal yang paling manusiawi—cinta. Namun ia tahu, ia tak berhak menuntut apa pun saat ini. Ia datang bukan membawa cinta, melainkan datang untuk menutupi kesalahan orang lain.

Dengan berani, ia kembali mengangkat wajahnya, menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu berkata dengan suara yang tenang namun teguh:

“Saya mengerti semua aturan itu, Tuan Argan. Saya akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Saya tak akan menuntut apa pun dari Anda, dan saya berjanji tak akan memaksakan perasaan apa pun yang tak Anda inginkan. Saya hanya meminta satu hal pada Anda: perlakukanlah saya dengan jujur, sebagaimana saya akan bersikap jujur pada Anda.”

Mendengar jawaban itu, Argan terdiam cukup lama. Ada sesuatu dalam tatapan mata Aruna yang membuatnya sulit untuk terus bersikap dingin sepenuhnya—seperti ada cahaya kecil yang mencoba menerangi ruangan yang sudah gelap terlalu lama. Namun ia segera menepis perasaan itu. Ia tak boleh melemah, apalagi pada gadis yang baru saja menjadi korban keadaan sama sepertinya.

“Baik,” ucapnya singkat. “Mulai besok, kau akan memulai peranmu yang sesungguhnya. Sekarang istirahatlah. Kamar tamu sebelah kanan sudah disiapkan untukmu. Jangan pernah mencoba masuk ke kamarku sendiri tanpa izinku.”

Tanpa menunggu jawaban, Argan menekan tombol pada sandaran kursi rodanya, lalu bergerak perlahan meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya sendiri yang sunyi. Pintu ditutup perlahan, memisahkan mereka berdua dalam dunia yang berbeda—namun kini terikat oleh janji yang dipaksakan oleh keadaan.

Aruna duduk perlahan di tepi tempat tidur yang besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar di sudut ruangan. Gaun pengantin yang ia kenakan terasa semakin berat, bukan karena kainnya, melainkan karena tanggung jawab yang baru saja ia pikul. Namun di dalam hatinya, ia berjanji: ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanya menyelamatkan kehormatan keluarganya, tapi juga perlahan menyembuhkan hati pria yang kini menjadi suaminya itu—tanpa ia sadari, perjalanan panjang dan penuh rintangan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!