Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Bukti Pertama Mengapung
Pagi itu, Arum tidak kembali ke koperasi untuk membela dirinya.
Ia tetap di Blok C-3 bersama Bu Yanti, menyusun salinan notulen dan nama-nama saksi. Namun, sebelum antrean sembako selesai terbentuk, sebuah motor dinas berhenti di depan koperasi.
Mayor Bara turun dengan seragam rapi dan wajah yang lebih dingin daripada udara pagi Malang.
Suara para istri prajurit langsung mengecil. Nunung yang tadi sedang berbicara dengan Bu Lastri buru-buru menutup mulut.
Bara masuk tanpa menoleh ke rak barang. Ia meletakkan selembar salinan notulen di meja petugas.
"Siapa yang kemarin menyebut Arum tukang menggoda perwira?"
Tak ada yang menjawab.
Petugas koperasi menunduk pada daftar jatah. Beberapa perempuan saling pandang, lalu mundur setengah langkah agar tidak ikut terseret.
Bara memandang Nunung. "Ibu hadir. Nama Ibu tercatat. Silakan sampaikan bukti di depan semua orang."
Nunung tersenyum kaku. "Saya hanya mengulang yang saya dengar, Pak Mayor. Bukan saya yang membuat cerita."
"Dengar dari siapa?"
"Ya, orang-orang di asrama."
"Nama."
Satu kata itu jatuh seperti palu.
Nunung meremas ujung tasnya. Bu Lastri berdeham, mencoba menyela. "Mungkin ini cuma salah paham. Namanya juga perempuan kalau sedang berkumpul."
Bara beralih kepadanya. "Kemarin Ibu bertanya apakah perempuan yang belum menikah pantas tinggal di rumah dinas seorang perwira. Itu juga salah paham?"
Wajah Bu Lastri berubah. "Saya cuma bilang apa yang saya lihat."
"Yang Ibu lihat adalah Arum bekerja berdasarkan penugasan pengurus rumah, ditemani perempuan pada malam hari, dan mendapat perlindungan setelah menjadi korban kekerasan." Bara mengetuk notulen sekali. "Yang Ibu sebarkan adalah tuduhan tentang kehormatannya. Itu dua hal berbeda."
Antrean yang tadi riuh kini senyap. Bu Yanti berdiri dekat pintu dengan tangan bersilang. Ia tidak tersenyum, tetapi matanya tegas mendukung setiap kalimat Bara.
Nunung mulai gelisah. "Pak Mayor jangan membawa urusan kecil ke kesatuan."
"Ibu yang membawa nama seorang perwira dan calon pasangan yang hendak ia lindungi ke ruang umum." Bara menatap lurus. "Kalau istri atau orang seorang perwira diganggu, difitnah, atau dipermalukan dengan sengaja, ia berhak membuat laporan. Pengurus koperasi mencatat ketertiban di tempat ini. Denpom dapat memeriksa rantai penyebaran jika ada laporan resmi."
Kata Denpom membuat beberapa orang menarik napas.
Bara tidak mengancam dengan suara keras. Justru ketenangannya membuat tak seorang pun berani menganggapnya gertakan.
"Saya beri kesempatan sekarang," katanya. "Tarik ucapan itu, minta maaf melalui pengurus, dan serahkan sumber pesan yang Ibu terima. Kalau tidak, catatan kemarin akan berjalan sesuai prosedur."
Nunung menelan ludah. "Saya... saya tarik ucapan saya."
"Kepada siapa?"
"Kepada Arum."
"Lengkap."
Pipi Nunung memerah di hadapan puluhan pasang mata. "Saya minta maaf kepada Arum karena mengulang kabar yang belum terbukti."
Bu Lastri hendak pergi, tetapi Bu Yanti menutup jalan dengan sopan.
"Giliran Ibu, Bu Lastri. Pengurus masih mendengar."
Bu Lastri menatap ke kanan dan kiri, mencari dukungan. Tak seorang pun menyambut pandangannya. Para perempuan yang kemarin tertawa kini pura-pura memeriksa beras dan gula.
Dengan rahang kaku, Bu Lastri akhirnya mengucapkan permintaan maaf yang sama.
Petugas koperasi mencatatnya di bawah notulen kegiatan. Bara meminta salinan pesan yang masih tersimpan di ponsel Nunung dikirim kepada pengurus, bukan kepadanya. Semua dilakukan di depan saksi.
"Mulai hari ini," ujar Bara, "jika ada yang menyebut Arum perempuan tanpa asal-usul atau tukang menggoda, minta dia datang membawa bukti. Jangan beri fitnah tempat berlindung di balik kata katanya orang."
Bu Yanti mengangkat dagu. "Jelas, Pak Mayor."
Beberapa istri prajurit ikut mengangguk. Seorang perempuan yang kemarin hanya diam mendekati Bu Yanti dan menawarkan diri menjadi saksi tambahan. Perubahan itu kecil, tetapi cukup untuk membuat Nunung dan Bu Lastri berjalan keluar dengan kepala tertunduk.
Di Blok C-3, Arum menerima kabar melalui pesan Bu Yanti. Tangannya sempat gemetar ketika membaca dua permintaan maaf yang dicatat resmi.
Ia tidak merasa menang. Luka dari kata-kata kemarin belum hilang. Namun, untuk pertama kalinya, orang yang melukainya tidak bisa begitu saja pergi sambil tertawa.
Arum membalas singkat, "Terima kasih. Simpan semua salinannya, Bu."
Di bawah pesannya, dua saksi lain ikut menuliskan kesediaan memberikan keterangan jika pengurus memerlukan pemeriksaan lanjutan. Arum menyimpan tangkapan layar itu di folder terpisah.
Ia kemudian kembali menjahit kancing seragam yang tadi tertunda. Jahitannya lurus, napasnya lebih tenang.
Sementara itu, Bara sudah kembali ke markas Yonif.
Letkol Yusuf menunggunya di ruang komandan bersama Kapten Iwan. Tirai ditutup. Sebuah map cokelat berada di tengah meja, dibebani stempel salinan terbatas.
"Urusan koperasi?" tanya Yusuf.
"Tercatat. Sumber pesannya mengarah ke rumah Hartono, tetapi belum cukup untuk mengikat dia."
Iwan mendorong map itu ke depan. "Yang ini mungkin cukup untuk membuka pintu lain."
Bara duduk. Di dalam map terdapat rekapan santunan gugur atas nama mendiang Letda Suryadi Wijaya, daftar pencairan, dan perbandingan tanda tangan. Beberapa jumlah dicoret, lalu dipindahkan ke rekening yang tidak tercantum sebagai ahli waris.
"Kami cocokkan dengan arsip ASABRI dan buku kas bekang," jelas Iwan. "Ada selisih berulang. Bukan sekali salah tulis. Jalurnya dibuat pecah menjadi beberapa transaksi kecil."
Yusuf menunjuk satu kolom. "Nama Hartono muncul sebagai pendamping ahli waris, lalu menjadi saksi pencairan. Setelah itu, sebagian uang berbelok ke rekening perantara."
"Siapa pemilik rekeningnya?" tanya Bara.
"Seorang juru tulis lama yang pernah bertugas di bawahnya. Orangnya sudah kami temukan. Belum diperiksa resmi agar Hartono tidak mencium gerakan."
Bara membaca setiap angka tanpa berkedip. Di kepalanya terbayang Arum yang memeluk selendang ayahnya, mengira dirinya hidup menumpang karena tak punya apa-apa.
Padahal haknya pernah ada.
Seseorang telah memotongnya sedikit demi sedikit, lalu membiarkan anak seorang prajurit gugur bekerja seperti pembantu di rumahnya sendiri.
"Ini baru petunjuk awal," kata Iwan. "Untuk membawanya ke pemeriksaan, kami masih perlu aliran akhir, keterangan saksi, dan dokumen asli."
"Ambil semuanya," ujar Bara.
Yusuf menatapnya tajam. "Dengan kepala dingin."
Bara menutup map, lalu mengembalikannya ke tengah meja. "Saya dingin. Karena itu dia tidak akan tahu kita datang sampai pintunya tertutup."
Iwan mengeluarkan lembar terakhir. Di bagian bawah terdapat satu tanda tangan yang bentuknya sama dengan surat-surat dinas Hartono.
"Ada lagi," katanya. "Pagi ini, orang kami melihat Hartono mencari juru tulis bekang yang sama. Sepertinya dia mulai panik."
Bara menatap jejak uang, tanda tangan, dan nama ayah Arum yang terbentang di hadapannya.
Kemarin mereka menyerang kehormatan Arum dengan fitnah. Hari ini, bukti pertama tentang uang ayahnya mengapung ke permukaan.
Dan untuk pertama kalinya, mata Bara menyimpan kepastian bahwa Hartono akan ditenggelamkan oleh jejaknya sendiri.