Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Jeritan rasa sakit dari pembunuh di sebelah kiri itu memecah kesunyian taman kota pagi ini.
Kaki pria berpakaian hitam itu bengkok ke arah yang tidak wajar akibat tendangan telak dari Bara.
"Sialan, tembak kepalanya sekarang juga!" teriak pemimpin pembunuh itu dengan suara panik yang luar biasa.
Piu. Piu. Piu.
Dua pistol berperedam suara itu kembali menyalak memuntahkan peluru timah panas ke arah kepala Bara.
Namun Bara sama sekali tidak berniat menjadi patung yang berdiam diri menerima serangan itu.
Wush.
Dengan mengandalkan Teknik Langkah Bayangan, tubuh Bara bergeser ke kanan meninggalkan bayangan ilusi.
Peluru-peluru itu hanya menembus udara kosong dan menabrak batang pohon di belakang tempat Bara berdiri tadi.
"Matamu terlalu lambat untuk mengikuti pergerakanku," bisik Bara yang tiba-tiba muncul tepat di depan pembunuh sebelah kanan.
Pria itu terbelalak kaget dan belum sempat menarik pelatuknya saat tangan Bara sudah mencengkeram pergelangan tangannya.
Krak.
"Arghhh!" teriak pembunuh kedua itu saat pergelangan tangannya dipelintir hingga patah tulang.
Pistol peraknya jatuh ke rumput, dan Bara langsung memberikan satu pukulan keras ke arah rahang pria itu.
Bugh.
Gigi pembunuh itu rontok beberapa buah bersamaan dengan darah yang menyembur dari mulutnya sebelum dia jatuh pingsan.
Kini hanya tersisa sang pemimpin kelompok yang berdiri dengan seluruh tubuh gemetar hebat.
Pistol di tangan pemimpin itu terus bergetar mengarah ke Bara yang berjalan santai mendekatinya.
"Jangan mendekat dasar monster!" teriak pemimpin itu sambil terus menekan pelatuk pistolnya membabi buta.
Klik. Klik. Klik.
Peluru di dalam magasin pistolnya sudah habis tanpa ada satu pun yang berhasil menggores kulit Bara.
"Sudah selesai main tembak-tembakannya?" ejek Bara sambil tersenyum sangat dingin.
Bara melesat maju dan langsung menendang dada pemimpin itu dengan kekuatan penuh.
Brak.
Tubuh pemimpin pembunuh itu terlempar ke udara dan menabrak batang pohon besar hingga tumbang ke tanah.
Pria itu terbatuk memuntahkan darah segar dan mencoba merangkak mundur dengan wajah penuh ketakutan mutlak.
Bara berjalan santai menghampirinya dan langsung menginjak dada pria itu agar tidak bisa lari lagi.
"Sekarang mari kita bicara dari hati ke hati sebagai sesama pria dewasa," ucap Bara menatap mata pria di bawahnya.
"Siapa namamu dan dari organisasi mana Anton menyewa kalian?"
Pria itu menelan ludah dan menatap Bara dengan tatapan memelas minta ampun.
"N-namaku Bima, kami berasal dari Organisasi Bayangan Hitam yang bermarkas di luar provinsi," jawab pria itu dengan nafas tersengal.
"Anton menyewa kami dengan harga satu miliar untuk membawa kepalamu, tapi kami tidak tahu kalau kau sekuat ini."
Bara mengangguk pelan mencerna informasi nama organisasi yang terdengar seperti sekumpulan remaja kurang kerjaan itu.
"Kalau kalian gagal pulang hari ini, apa bos besar kalian akan datang mencariku untuk balas dendam?" tanya Bara langsung pada intinya.
Bima mengangguk dengan sangat cepat karena takut dadanya akan diinjak lebih keras oleh Bara.
"Bos utama kami sangat menjaga reputasi organisasi, kalau dia tahu kami dikalahkan, dia pasti akan turun tangan sendiri."
"Bos kami adalah mantan tentara bayaran elit yang sudah membunuh ratusan orang, dia jauh lebih mengerikan dari kami."
Mendengar ancaman itu, Bara justru tertawa pelan dan melepaskan injakannya dari dada Bima.
"Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak perlu repot-repot mencari bos kalian ke luar provinsi."
"Katakan pada bos besar kalian itu, kalau dia mau balas dendam, pintu apartemenku selalu terbuka lebar untuknya."
Bara langsung melayangkan satu tendangan pelan ke arah kepala Bima.
Bugh.
Pemimpin pembunuh itu langsung kehilangan kesadaran dan pingsan menyusul kedua anak buahnya.
Bara mengambil ponsel dari saku Bima dan langsung menekan nomor panggilan darurat kepolisian.
"Halo pak polisi, ada tiga orang pria bersenjata api yang pingsan di taman kota, tolong segera angkut mereka," lapor Bara dengan nada santai.
Bara langsung mematikan telepon itu dan membuang ponselnya ke atas dada Bima.
Dia tidak perlu repot-repot membunuh mereka karena bukti senjata api ilegal sudah cukup untuk membuat mereka membusuk di penjara.
Bara membersihkan tangannya dan berjalan santai kembali menuju tempat mobil sportnya diparkir.
Misi pembersihan pembunuh bayaran tahap pertama sudah selesai tanpa ada satu tetes keringat pun yang keluar dari tubuh Bara.
Kring. Kring.
Ponsel Bara berbunyi sesaat setelah dia duduk di balik kemudi mobilnya yang nyaman.
Layar ponselnya menampilkan nama Nadhira yang memanggil.
"Halo Nadhira, ada kabar baik apa lagi siang ini?" sapa Bara sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Bara, kita menang besar hari ini!" seru Nadhira dengan suara yang sangat ceria dan bersemangat.
"Pihak bank langsung setuju melelang pabrik sitaan keluarga Aristha itu kepada kita dengan harga yang sangat murah."
"Berapa harga yang kau bayarkan untuk fasilitas produksi raksasa milik Anton itu?" tanya Bara penasaran.
"Hanya tiga miliar rupiah Bara, angka itu bahkan tidak sampai sepuluh persen dari harga asli aset dan mesin mereka," jawab Nadhira tertawa puas.
"Bank sedang panik karena hutang Anton sangat banyak, jadi mereka butuh uang cepat untuk menutup kerugian."
Bara ikut tertawa mendengar betapa bodohnya sistem perbankan saat sedang dalam kondisi panik.
"Kerja bagus Nadhira, dengan tambahan pabrik itu, produksi krim kita bisa naik tiga kali lipat mulai besok pagi."
"Benar sekali Bara, kita sekarang resmi memonopoli seratus persen pasar kosmetik di kota ini tanpa ada saingan."
"Keuntungan bersih kita bulan depan diprediksi bisa menembus angka ratusan miliar rupiah kalau tren ini terus berlanjut."
"Pastikan keamanan di pabrik baru itu diperketat, jangan sampai ada sisa anak buah Anton yang melakukan sabotase," pesan Bara mengingatkan.
"Sudah aku atur semuanya Bara, aku menyewa perusahaan keamanan swasta terkemuka untuk menjaga semua fasilitas kita."
"Bagus, aku akan mentraktirmu makan malam mewah untuk merayakan kemenangan kita ini nanti," ucap Bara sebelum menutup telepon.
Bara menginjak pedal gas dan membelah jalanan kota menuju apartemen mewahnya dengan perasaan sangat gembira.
Masalah bisnis sudah selesai, musuh utama sudah ditangkap, dan sisa uang tunainya masih sangat banyak.
Satu-satunya ancaman yang tersisa hanyalah bos besar dari Organisasi Bayangan Hitam yang akan datang mencari masalah dengannya.
Setibanya di apartemen, Bara langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengeluarkan tungku logam ajaibnya.
Waktu pendinginan tungku itu sudah selesai dan dia bebas melakukan satu kali daur ulang hari ini.
"Aku sudah punya pelindung fisik, teknik menghindar, dan cincin penyimpanan gaib," gumam Bara mengevaluasi kekuatannya.
"Tapi bagaimana kalau suatu saat nanti Nadhira atau orang terdekatku terluka parah? Aku butuh kemampuan penyembuhan medis."
Bara ingat betapa ajaibnya efek dari pil pemulihan fisik yang dia makan pada hari pertama sistem ini aktif.