aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - Pemburu di Balik Kabut
Pagi belum benar-benar datang ketika Sun Chen membuka matanya. Kabut tebal memeluk Lembah Batu Pecah, menyelimuti gubuk bambu dalam selimut dingin yang basah. Sun Chen segera bersiap untuk memulai latihan rutinnya, namun melangkah keluar dari pintu gubuk, ia langsung merasakan perbedaan.
Suasana lembah terasa sunyi—terlalu sunyi. Tidak ada cicit burung pagi, tidak ada desir angin biasa di antara Dedaunan pinus. Udara terasa tebal dan menekan, seolah menyimpan bahaya yang siap meledak.
Di tepi halaman, Chou Tian sudah berdiri tegak memandangi arah hutan yang tertutup kabut. Tubuh tuanya yang tegap tidak bergerak sedikit pun, tampak seperti patung batu yang dipahat di tengah kegelapan fajar. Ia sudah berada di sana sejak sebelum fajar menyingsing.
Sun Chen melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara. Sebelum ia sempat mengucapkan salam, Chou Tian berbicara tanpa menoleh.
"Hari ini kau hanya mengamati," kata Chou Tian, suaranya pelan namun memotong keheningan dengan tegas. "Jangan ikut campur apa pun yang terjadi."
Sun Chen menghentikan langkahnya. "Guru..."
"Seorang pendekar sejati tidak hanya mengandalkan mata dan telinganya," potong Chou Tian, kini memutar sedikit kepalanya. "Sebelum kau bisa melihat musuhmu, kau harus lebih dulu mampu merasakan niat membunuh yang dibawanya. Tutup matamu. Samakan napasmu dengan denyut lembah ini."
Sun Chen menuruti perintah itu. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan benih Qi halus yang baru terbentuk di dantiannya bergetar pelan. Ia mengalirkan fokusnya ke luar raga, menyebarkan indranya menembus kabut pagi.
Awalnya ia hanya merasakan dingin dan desir angin. Namun saat ia memusatkan perhatian lebih dalam, ia menangkap sesuatu yang asing. Ada empat titik tekanan yang merayap perlahan dari arah Hutan. Gerakan mereka teratur, terbiasa berburu, dan memancarkan rasa haus darah yang menyengat.
Jumlah mereka empat orang.
Sun Chen membuka matanya kembali dengan sedikit keheranan. Tanpa ingatan kehidupan lalunya sebagai prajurit veteran, raga anak kecilnya saat ini mustahil bisa mendeteksi keberadaan musuh dari jarak sejauh itu. Pengajaran Chou Tian membuka pintu baru baginya dalam mengolah rasa dan indra dasar.
Jauh di dalam kerapatan kabut, empat orang pria melangkah perlahan. Mereka adalah pemburu terlatih dari karavan budak yang dipimpin langsung oleh sang Pelacak. Mengikuti sisa-sisa jejak yang ditinggalkan di sepanjang aliran sungai, mereka akhirnya berhasil menemukan celah masuk menuju Lembah Batu Pecah.
"Lihat," bisik salah satu pemburu seraya menunjuk ke depan.
Di balik gulungan kabut tipis, asap samar terlihat membubung dari bubungan gubuk bambu. Sebuah pemukiman terisolasi di tengah pegunungan yang liar.
Sang Pelacak menyeringai puas, memperlihatkan giginya yang kotor. "Kita menemukan mereka. Bocah itu dan si tua bangkai ada di sana."
Ia memberi isyarat tangan secara cepat. Tiga pemburu lainnya mengangguk paham. Mereka segera memisahkan diri, merayap memutari halaman gubuk untuk mengepung dari beberapa arah sekaligus. Masing-masing mencabut golok panjang mereka, memastikan tidak ada celah bagi target mereka untuk meloloskan diri.
Di depan gubuk, Chou Tian tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia memalingkan wajah ke arah Sun Chen yang masih berdiri bersiap.
"Pergi ke balik batu besar di ujung halaman itu," perintah Chou Tian seraya menunjuk ke sebuah batu kali raksasa. "Sembunyi di sana. Apa pun yang terjadi, jangan pernah keluar atau mencoba membantuku."
Sun Chen menatap mata gurunya. Ia menangkap ketegasan mutlak di sana. "Baik, Guru."
Sun Chen melangkah cepat menuju balik batu raksasa tersebut dan merendahkan tubuhnya. Ia tahu betul maksud gurunya. Seorang pendekar muda yang belum memiliki kekuatan memadai harus belajar menahan diri dan mengendalikan emosi, bukannya nekat menerjang bahaya demi membuktikan keberanian yang konyol.
Baru saja Sun Chen mengintip dari balik celah batu, kabut di tepi halaman mendadak terbelah.
Empat sosok pria melompat keluar secara bersamaan dari arah berbeda. Golok-golok panjang berkilat tajam di bawah remang cahaya pagi, mengarah tepat ke tubuh Chou Tian. Mereka jauh lebih kuat, lebih cepat, dan lebih disiplin daripada lima penjaga yang dihancurkan Chou Tian di perbatasan sebelumnya. Bahkan, sang Pelacak yang memimpin di depan memancarkan getaran tenaga yang menandakan ia sudah menguasai Qi dasar.
"Si tua bangkai! Serahkan bocah itu jika kau tidak ingin dicincang!" teriak sang Pelacak seraya mengayunkan goloknya mendesing menebas leher Chou Tian.
Chou Tian bahkan tidak bertelanjang dada atau memegang senjata apa pun. Ia hanya berdiri santai dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung.
Saat mata golok pertama berada hanya sekilan dari lehernya, Chou Tian menggeser kaki kirinya ke belakang setengah langkah. Tebasan itu meleset tipis, hanya memotong udara kosong. Tanpa mengubah posisi tangannya, Chou Tian memiringkan bahu, membiarkan serangan dari pemburu kedua lewat begitu saja di samping tubuhnya.
Dari balik batu, mata Sun Chen melebar fokus. Ia mengamati setiap inci gerakan gurunya.
Chou Tian memperagakan teknik langkah yang sangat efisien—tidak ada gerakan yang terbuang. Setiap kali serangan musuh datang, ia hanya berpindah sejauh lebar helai rambut dari jalur senjata lawan. Ini adalah bentuk murni dari penguasaan ruang dan keseimbangan.
Serangan ketiga datang dari arah belakang. Pemburu dengan Qi dasar memusatkan energinya ke ujung golok, menusuk lurus ke arah punggung Chou Tian.
Srrrt!
Barulah saat itu Chou Tian mengeluarkan tangan kanannya dari balik punggung. Bukannya menangkis bilah tajam, telapak tangan Chou Tian yang kasar justru menepuk permukaan datar dari golok tersebut. Tepukan itu membiaskan arah tusukan dengan halus, membuat pemburu itu limbung tertarik oleh kekuatannya sendiri.
Sebelum lawan sempat memperbaiki pijakan, Chou Tian mendorong telapak tangannya secara perlahan ke dada pemburu tersebut.
Bruk!
Itu adalah aplikasi halus dari Tinju Penghancur Gunung. Tidak ada ledakan suara yang menggelegar, namun dorongan tenang itu menyalurkan getaran yang meremukkan tulang rusuk dan menghentikan aliran napas pemburu tersebut seketika. Tubuhnya terpental lima langkah sebelum roboh tak berkutik.
Sun Chen mengutuk dalam hati karena terkagum. Di kehidupan masa lalunya, ia terbiasa melihat kekuatan kasar dan berdarah-darah dari Kultus Demonic. Namun apa yang diperagakan Chou Tian adalah seni bela diri tingkat tinggi—memanfaatkan tenaga lawan, mengalirkan guncangan secara presisi, dan melumpuhkan tanpa boros energi. Sun Chen menghafal setiap prinsip dan ritme gerakan itu di dalam kepalanya.
Dalam hitungan belasan detik, tiga dari empat pemburu sudah terkapar di tanah, melolong kesakitan dengan persendian yang bergeser atau tulang yang patah.
Hanya sang Pelacak yang tersisa. Wajah pria itu kini pucat pasih, matanya melotot penuh ketakutan melihat betapa mudahnya anak buahnya ditumbangkan. Ia mundur beberapa langkah seraya mengacungkan goloknya yang gemetar.
"K-kau... Siapa kau sebenarnya?!" jerit sang Pelacak dengan suara serak. "Jangan campuri urusan kami! Kami hanya menjalankan perintah dari atasan!"
Chou Tian melangkah maju perlahan, matanya dingin menatap sang Pelacak. "Atasanmu?"
"Kami mengumpulkan anak-anak untuk Program Jenderal Demonic!" teriak sang Pelacak terdesak, mencoba mengancam menggunakan nama besar organisasinya. "Banyak anak sedang dikumpulkan dari seluruh daerah! Jika kau menghalangi kami, kau akan berhadapan dengan seluruh kelompok kami!"
Mendengar frasa itu dari balik batu, dada Sun Chen bergemuruh hebat.
Program Jenderal Demonic...
Ingatan masa lalunya berputar keras. Lembah terpencil, pelatihan berdarah, pembantaian sesama anak-anak untuk bertahan hidup—segalanya berakar dari program jahanam itu. Sun Chen menyadari dengan kepahitan yang mendalam bahwa roda sejarah tetap berputar menuju arah yang sama. Meskipun ia berhasil meloloskan diri dari kereta budak, rantai takdir Kultus Demonic masih berusaha menyeretnya kembali.
Di tengah halaman, Chou Tian sudah berdiri tepat di depan sang Pelacak. Pria tua itu mengangkat tangan kanannya, lalu mengetuk pergelangan tangan sang Pelacak menggunakan dua jari.
Klak!
Golok panjang itu terlepas dan jatuh ke tanah. Sebelum sang Pelacak sempat berteriak, Chou Tian menghantamkan lututnya ke perut pria itu, membuatnya terhempas dan muntah darah sebelum pingsan terlentang.
Namun, Sun Chen menyadari sesuatu. Pemburu kedua yang berada agak di tepi halaman sebenarnya belum benar-benar lumpuh. Chou Tian sengaja tidak mematahkan kakinya atau meremukkan dadanya seperti yang lain. Pria itu merayap ketakutan di tanah, lalu dengan susah payah bangkit dan berlari kencang menerobos kabut untuk melarikan diri.
Chou Tian hanya berdiri diam membiarkan orang itu pergi.
Sun Chen keluar dari balik batu raksasa dan berjalan mendekati gurunya. Wajah kecilnya menunjukkan rasa heran.
"Guru," panggil Sun Chen. "Mengapa Guru membiarkan satu orang itu kabur? Bukankah dia akan memberitahukan keberadaan kita kepada kelompoknya?"
Chou Tian membalikkan badan, menatap murid kecilnya dengan pandangan penuh kearifan.
"Menghabisi keempat orang ini hanya akan menunda masalah sementara," ujar Chou Tian tenang seraya merapikan jubahnya. "Pohon beracun tidak akan mati hanya karena kau memotong beberapa lembar daunnya. Orang yang lari itu akan membawa kita—atau memancing mereka—menunjukkan siapa dalang yang sebenarnya. Seorang pendekar harus belajar melihat hingga ke akar masalah, bukan hanya sibuk memotong rantingnya."
Sun Chen menunduk dalam, mengesahkan kebenaran di balik tindakan gurunya. Kebijaksanaan Chou Tian memberi sudut pandang baru bagi jiwa mudanya yang selama ini didominasi oleh naluri pembunuh instan.
Chou Tian menatap ke arah hutan tempat pemburu itu menghilang, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius dari biasanya.
"Anakku," kata Chou Tian pelan namun berbobot. "Musuh yang mengejarmu jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari sekadar kelompok pedagang budak biasa. Waktu kita tidak banyak. Mulai besok, aku akan mempercepat latihanmu."
Sun Chen mengepalkan tangannya rapat-ragu. "Saya siap, Guru."
Malam kembali turun menutupi Lembah Batu Pecah.
Sun Chen duduk bersila di atas batu datar di depan gubuk. Setelah menyaksikan pertarungan Chou Tian pagi tadi dan mendengar ancaman Program Jenderal Demonic, fokusnya dalam bermeditasi menjadi jauh lebih tajam.
Ia mengatur pernapasan dasar. Di dalam dantian bawahnya, benih Qi berbentuk benang sutra keemasan yang baru terbentuk kemarin kini berputar sedikit lebih cepat. Aliran hangatnya terasa lebih jelas, perlahan-lahan merembes keluar dan memberi nutrisi pada otot-otot serta tulang kecilnya yang lelah. Jalur energinya semakin siap untuk menampung beban latihan yang lebih keras.
Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari pegunungan.
Di dalam sebuah benteng rahasia yang tersembunyi di bawah tanah, ruang utama hanya diterangi oleh nyala lilin-lilin hitam. Udara di sana begitu sesak dan berbau amis racun.
Pemburu yang berhasil meloloskan diri dari Lembah Batu Pecah berlutut di atas lantai batu yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya memar, dan peluh membasahi seluruh pakaiannya saat ia menyampaikan laporannya.
Di hadapannya, duduk seorang pria bergaun hitam pekat di atas kursi kayu berukir. Pria itu menyandarkan dagunya di atas telapak tangan, mendengarkan deskripsi tentang ciri-ciri pria tua yang menumbangkan anak buahnya dengan tangan kosong.
"Tangan kosong... pergerakan seperti angin... Tinju Penghancur Gunung..." gumam pria berjubah hitam itu. Bibirnya yang pucat perlahan terangkat, membentuk senyuman dingin yang mengerikan.
"Jadi tua bangkai Chou Tian itu masih hidup dan bersembunyi di pegunungan selatan..."
Pria berjubah hitam itu melambaikan tangannya pelan ke arah kegelapan di samping kursinya. Sebuah bayangan hitam mendadak muncul dari balik pilar batu, berlutut tanpa suara.
"Kirim Tetua Bayangan," perintah pria itu dengan suara berat yang mengandung niat membunuh mutlak. "Bawa pasukan yang cukup. Kali ini, jangankan bocah itu... pastikan Setan Tinju itu mati bersama tempat persembunyiannya."