**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Pulang dalam Dua Puluh Empat Jam
Telepon terputus setelah Radhika memastikan Naila tidak sendirian dan pintu kamarnya terkunci.
Namun, selama perjalanan dari Bandara Changi menuju hotel, dua pesan yang ia kirim tidak mendapat jawaban.
Mimpi buruk, ya?
Sayang?
Radhika duduk di kursi belakang dengan ponsel tak lepas dari tangan. Ketika mobil melambat di lampu merah, ia melihat jam untuk ketiga kalinya dalam satu menit.
"Could you go a little faster when the road clears?" katanya kepada pengemudi.
Reyhan yang duduk di kursi depan menoleh sekilas. Selama tiga tahun menjadi asisten, ia belum pernah melihat atasannya tidak sabar karena perjalanan dari bandara. Radhika biasanya sudah membuka laptop sebelum mobil keluar dari area terminal. Malam ini, tas kerja tetap tertutup di sampingnya.
"Pak, rapat pertama jam delapan," Reyhan mengingatkan. "Bapak masih bisa istirahat dua jam."
"Pindahkan jadi panggilan video."
"Semua agenda pagi?"
"Semua. Cari slot penerbangan paling cepat kembali ke Jakarta. Kalau komersial penuh, siapkan pesawat perusahaan."
Reyhan menahan pertanyaan. "Baik, Pak."
Begitu masuk kamar hotel, Radhika bahkan tidak melepas jam tangan. Ia langsung menelepon Naila.
Panggilan baru dijawab pada nada terakhir.
"Maaas..."
Suara serak itu menghantam lebih keras daripada pesan kebencian mana pun.
"Iya, Dek. Mas di sini." Radhika duduk di tepi ranjang. "Kenapa nangis? Mimpi apa?"
"Kenapa dulu Mas buang aku?"
Radhika membeku.
"Kenapa Mas nggak mau aku?" Naila kembali terisak. "Aku sudah bilang mau tinggal sama Mas. Tapi Mas bilang bukan kakakku. Mas bilang nggak mau aku lagi."
Kini Radhika mengerti. Bukan sekadar mimpi buruk. Ingatan yang selama ini terkunci telah kembali.
Ia menutup mata. Di telapak tangan kanannya, bekas setengah bulan terasa ngilu meski luka itu sudah empat belas tahun mengering.
"Salah Mas," katanya pelan. "Semua salah Mas."
"Aku nangis tiap hari. Aku cari Mas."
"Mas tahu sekarang. Maafin Mas."
"Mas janji mau telepon. Janji mau datang waktu libur."
Radhika menekan bekas luka di tangan kanannya. "Mas pernah telepon dan kirim sesuatu. Waktu itu orang dewasa bilang kamu sakit dan belum boleh diganggu. Mas pikir memberi jarak akan bikin kamu cepat sembuh. Mas salah. Seharusnya setelah kita besar, Mas cari kamu sendiri dan jelaskan semuanya."
"Kenapa nggak cari?"
"Karena Mas pengecut. Mas takut kamu benar-benar nggak mau ingat."
Pengakuan itu diikuti keheningan. Radhika tidak mencoba membungkusnya dengan alasan lain.
Naila terus menangis. Kalimatnya tidak lagi hanya tentang Dago. Ia bicara tentang rumah kerabat yang harus ia tempati saat orang tuanya sibuk, tentang kamar-kamar yang selalu terasa pinjaman, tentang kebiasaan tersenyum agar tidak dianggap merepotkan. Ia marah karena orang-orang dewasa selalu menyuruhnya mengerti keadaan.
Radhika tidak menyela. Ia membiarkan setiap keluhan keluar, bahkan ketika Naila mengulang hal yang sama dengan suara semakin lemah.
"Mas janji nggak akan ninggalin kamu lagi," katanya saat tangis itu mereda. "Nggak akan pernah."
"Bohong."
"Nggak. Kali ini Mas yang salah kalau sampai janji itu rusak."
"Aku masih benci."
"Boleh. Benci sambil istirahat."
Naila mengeluarkan suara protes kecil, tetapi napasnya mulai teratur. Radhika tetap menempelkan ponsel di telinga. Hampir dua puluh menit kemudian, panggilannya hanya dijawab suara napas pelan.
Naila tertidur.
Radhika baru menutup telepon setelah yakin. Ia mengirim satu pesan terakhir.
Mas beresin kerjaan cepat, terus pulang. Makan yang bener, tidur yang bener, nurut ya.
Ia berdiri di depan jendela hotel. Lampu Singapura membentang di bawah, tetapi pikirannya tertinggal di kamar Menteng. Selama ini ia mengira Naila tumbuh bahagia karena selalu tersenyum di foto. Ia tidak pernah bertanya berapa banyak senyum itu dipakai untuk menyembunyikan rasa sebagai tamu di rumah orang.
Siang harinya, Naila bangun dengan mata bengkak dan kepala berat.
Ia menemukan pesan Radhika, membacanya, lalu membalik ponsel tanpa membalas. Namun, ia tetap menghabiskan bubur yang dibawakan Bi Rohmah.
"Pak Slamet sudah siap," kata Bi Rohmah. "Saya bilang bawa mobil pelan-pelan. Jangan sampai Non Naila mual."
Naila memasukkan permen asam manis ke tas. "Aku cuma pergi ke kafe, Bi."
"Tetap saja. Mata Non juga masih bengkak."
"Semalam nonton film sedih."
Itu menjadi jawaban yang ia pakai lagi saat bertemu Sekar di sebuah kafe daerah Cikini.
Sekar sudah menunggu dengan map berisi portofolio sederhana. Naila memesankan kopi susu untuknya dan teh lemon hangat untuk diri sendiri.
"Aku sebenarnya belum yakin," kata Sekar. "Jadi presenter atau masuk industri hiburan itu jauh sekali dari hidupku sekarang."
"Kamu pintar bicara kalau nggak sedang takut," jawab Naila. "Kamu juga cantik dan disiplin. Jangan biarkan Lina dan Yuli menentukan seberapa besar mimpimu."
"Kalau gagal?"
"Gagal setelah mencoba lebih baik daripada selamanya penasaran."
Gilang datang lima belas menit kemudian memakai jaket mencolok dan kacamata hitam meski mereka duduk di dalam ruangan. Ia memperkenalkan diri sebagai pemilik Pradipta Entertainment, lalu meminta Sekar membaca naskah promosi singkat di depan kamera ponselnya.
Sekar gugup pada dua kalimat pertama. Setelah Gilang memberi arahan tentang tempo dan tatapan, suaranya menjadi lebih mantap.
"Bisa dibina," putus Gilang. "Kamu belum siap debut, tapi punya dasar. Aku tawarkan program pengembangan enam bulan. Kelas bicara, kamera, dan personal branding."
Ia mengirim draf kontrak elektronik ke tablet. Sekar membacanya perlahan. Naila ikut memeriksa bagian durasi, pembagian pendapatan, hak gambar, dan klausul penghentian.
"Nggak usah buru-buru tanda tangan kalau ada yang nggak paham," kata Naila.
Gilang mengangguk. "Boleh konsultasi dulu. Nggak ada denda kalau mundur sebelum program mulai."
Sekar mengajukan beberapa pertanyaan. Setelah semua dijawab dan salinan dikirim ke surelnya, ia membubuhkan tanda tangan elektronik.
Gilang juga meminta Sekar mencatat nomor manajer program, jadwal orientasi, dan haknya membawa pendamping untuk pertemuan berikutnya. Tidak ada janji terkenal dalam semalam. Hanya latihan enam bulan dan evaluasi bulanan. Justru karena itu, bahu Sekar yang tegang mulai turun.
Tangannya gemetar, tetapi senyumnya lebar. "Aku benar-benar mulai?"
"Mulai," jawab Gilang. "Minggu depan tes kamera pertama."
Saat Sekar pergi ke kasir, Gilang memperhatikan wajah Naila. "Mata kamu kenapa? Habis putus cinta?"
"Nangis nonton film."
"Film apa sampai bengkak begini?"
"Film yang aktor utamanya kepo banget."
Gilang tertawa. Setelah meninggalkan kafe, ia masuk ke mobil sportnya dan segera menelepon Radhika.
"Dhika, adik angkatmu nangis sampai matanya bengkak. Katanya karena film. Kalian berantem, ya?"
"Dia bukan adik angkatku."
"Nah, berarti apa?"
Radhika memutus panggilan.
Ia tidak berada di ruang rapat Singapura atau kamar hotel. Di balik jendelanya hanya ada langit siang dan hamparan awan.
Perjalanan bisnis yang semula dijadwalkan satu minggu telah dipadatkan menjadi kurang dari dua puluh empat jam. Sementara Naila masih menatap teh lemonnya di Cikini, pesawat pribadi yang membawa Radhika sudah terbang pulang menuju Jakarta.