NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Berkuda di Bogor

Enam bulan kemudian, sebuah piano hitam berdiri di ruang keluarga Puri Cendana.

Aku mengelilinginya tiga kali sebelum berani menyentuh satu tuts. Bunyi nada tunggal memenuhi ruangan, jernih dan panjang.

“Om Gun yang mengirim,” kata Om Bram. “Dia mendengar kamu pernah ingin belajar musik.”

“Tapi ini mahal.”

“Saya sudah mengatakan hal yang sama.”

“Om menyuruh dia mengembalikan?”

“Gun tidak pernah mendengar kalau sudah memutuskan sesuatu.” Om Bram menyerahkan kartu kecil yang terselip di atas piano. “Baca.”

Tulisan Gunawan memenuhi kartu.

`Untuk keponakan baru. Mainkan lagu yang kamu suka. Jangan dengarkan Bram kalau dia bilang rumahnya terlalu berisik.`

Aku tertawa.

Sejak itu, seorang guru datang dua kali seminggu. Jemariku kaku dan sering menekan nada yang salah, tetapi tidak ada yang memarahiku. Mbok Nah bahkan bersenandung saat aku mengulang lagu sederhana untuk kesepuluh kali.

Pada minggu ketiga, aku berhasil memainkan satu lagu tanpa berhenti. Om Bram baru pulang kerja dan berdiri di ambang ruang keluarga sampai nada terakhir selesai.

“Jelek, ya?” tanyaku.

“Kenapa kamu selalu mengira orang berhenti karena sesuatu yang buruk?”

Aku tidak punya jawaban.

Dia meletakkan tas kerja. “Mainkan sekali lagi.”

Aku mengulang dari awal. Dua nada salah di bagian tengah, tetapi Om Bram tetap menunggu. Setelah selesai, dia bertepuk tangan dua kali. Tidak meriah, justru karena itu terasa sungguh-sungguh.

Malam tersebut aku menelepon Om Gun untuk mengucapkan terima kasih. Dia meminta mendengar lagu lewat panggilan video, lalu mengeluh karena Om Bram tidak ikut bernyanyi.

“Jangan dengarkan dia,” kata Om Bram dari belakang sofa.

“Saya dengar itu!” teriak Om Gun dari ponsel.

Rumah yang dulu begitu tenang kini memiliki nada salah, suara tawa, dan dua orang dewasa yang saling mengejek. Aku mulai memahami hadiah mereka bukan sekadar piano. Mereka memberiku ruang untuk membuat suara tanpa takut dimarahi.

Pada awal libur semester, Om Bram mengajakku pergi ke Bogor.

“Ke mana?”

“Kamu akan tahu setelah sampai.”

Mobil berhenti di depan arena berkuda yang dikelilingi pepohonan. Bau rumput basah dan tanah memenuhi udara. Seekor kuda cokelat mengentakkan kaki di dekat pagar, membuatku refleks mundur.

“Aku harus naik itu?”

“Tidak harus.” Om Bram berdiri di sampingku. “Kita bisa melihat saja.”

Petugas arena membawa kuda betina yang lebih kecil dan tenang. Dia mengajariku menyentuh lehernya dari samping agar tidak mengejutkan.

“Kuda ini terbiasa dengan pemula,” katanya.

Aku mengulurkan tangan. Kulit di bawah bulunya terasa hangat. Kuda itu mendengus dan menggerakkan telinga.

“Dia marah?”

“Tidak,” kata Om Bram. “Dia sedang mengenalmu.”

Om Bram naik lebih dulu ke kuda lain agar aku melihat caranya. Gerakannya tenang, seolah duduk di atas punggung hewan besar adalah hal biasa. Setelah satu putaran, dia turun dan berdiri dekat tangga kecil.

“Kalau kamu berubah pikiran, kita pulang.”

Aku melihat kuda itu, lalu tangannya yang siap membantu dari jarak aman.

“Aku mau coba.”

Petugas memegang tali kendali. Om Bram hanya menahan siku ketika aku menginjak tangga dan naik ke pelana. Tidak ada gerakan tergesa. Setelah aku duduk, dia langsung mundur satu langkah.

“Punggung tegak,” katanya. “Jangan menarik tali terlalu keras.”

Putaran pertama membuat seluruh tubuhku tegang. Setiap langkah kuda itu terasa seperti lantai bergerak. Pada putaran kedua, aku berani membuka mata lebih lebar. Angin menyentuh wajah, pepohonan bergerak perlahan, dan ketakutanku berubah menjadi tawa.

“Om, lihat!”

“Saya melihat.”

Wajahnya tidak tersenyum lebar, tetapi matanya terlihat lega.

Setelah beberapa putaran, petugas mengizinkan Om Bram menunggang di sisi kami. Kami menyusuri jalur pendek di tepi arena. Untuk pertama kali, aku merasa tinggi bukan karena berdiri di atas orang lain, melainkan karena dunia di sekitarku tampak lebih luas.

Dalam perjalanan pulang, perut bagian bawahku tiba-tiba kram. Aku mengubah posisi duduk beberapa kali.

“Mabuk perjalanan?” tanya Om Bram.

“Nggak.”

Rasa nyeri datang lagi. Ketika mobil berhenti di rumah, aku melihat noda merah di rok kremku.

Panik langsung memenuhi kepala.

“Mbok Nah.” Suaraku nyaris tidak keluar.

Mbok Nah melihat wajahku, lalu rokku. Dia segera melepas selendang dan mengikatkannya di pinggangku.

“Tidak apa-apa, Non. Ayo masuk.”

“Aku berdarah.”

“Itu haid pertama. Normal.”

Aku menoleh ke arah Om Bram. Dia masih di teras, cukup jauh untuk tidak mendengar jelas. Begitu Mbok Nah memberi isyarat kecil, dia langsung memalingkan wajah dan meminta semua pegawai lain menjauh dari lorong.

Di kamar, Mbok Nah menjelaskan cara memakai pembalut, membersihkan diri, dan mencatat tanggal. Dia memberiku pakaian bersih tanpa membuat satu pun lelucon.

“Kenapa baru sekarang?” tanyaku. “Teman-teman sudah dari dulu.”

“Tubuh setiap anak berbeda. Kurang makan bertahun-tahun bisa membuatnya datang lebih lambat. Dokter dulu sudah bilang tubuh Non perlu waktu pulih.”

Rasa takutku perlahan turun.

“Om Bram tahu?”

“Tahu Non sedang butuh istirahat. Mbok tidak menceritakan lebih dari yang perlu.”

Satu jam kemudian, Mbok Nah kembali membawa tas dari apotek. Di dalamnya ada beberapa jenis pembalut, kompres hangat, obat pereda nyeri, dan cokelat.

“Banyak sekali.”

“Den Bram minta semuanya tersedia.”

“Dia beli sendiri?”

“Deni yang mengantar. Den Bram cuma memberi daftar setelah bertanya pada Mbok.”

Aku tidak tahu apakah harus malu atau terharu. Yang jelas, tidak ada orang di rumah itu yang memperlakukanku seolah tubuhku melakukan sesuatu yang memalukan.

Malamnya, terdengar ketukan di pintu.

“Sekar?” suara Om Bram dari luar. “Sudah lebih baik?”

Aku duduk bersandar dengan kompres hangat di perut. “Sudah.”

“Perlu ke dokter?”

“Kata Mbok Nah ini normal.”

“Baik. Kalau sakitnya bertambah, beri tahu Mbok Nah atau telepon saya.”

Dia tidak membuka pintu. Tidak bertanya lebih jauh. Hanya memastikan aku punya apa yang kubutuhkan, lalu langkahnya menjauh.

Aku memandang gagang pintu.

Seharian tadi, dia memberiku kesempatan mencoba tanpa memaksa, menjaga dari dekat tanpa membuatku merasa lemah, lalu malam ini memberiku ruang tanpa menghilang.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Perasaan itu asing dan membuatku takut. Aku segera menarik selimut sampai dada.

Itu cuma rasa terima kasih, kataku pada diri sendiri.

Besok pagi aku akan memainkan piano lagi, mengikuti pelajaran, dan bersikap seolah tidak ada sesuatu pun yang berubah di dalam dadaku, seperti biasa, tanpa takut.

Om Bram adalah orang yang menyelamatkan dan menjagaku. Tidak boleh ada nama lain untuk perasaan ini. Tidak sekarang. Tidak kepada siapa pun.

Aku mematikan lampu dan menyimpan detak aneh itu di tempat paling dalam, seolah dengan tidak menyebutnya, perasaan tersebut tidak pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!