Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Cokelat dari Sang Macan
Sumpah itu disimpan Bara di balik wajah dingin ketika Arum bangun keesokan paginya.
Demamnya sudah hilang, tetapi tubuhnya masih lemah. Handoko melarangnya bekerja selama tiga hari. Bara menempelkan kertas resep di pintu dapur seperti surat perintah.
ISTIRAHAT. TIDAK MENCUCI. TIDAK MEMASAK. TIDAK MENGEJAR JEMURAN.
Di bawah tulisan dokter, Bara menambahkan satu baris dengan huruf tegas.
PELANGGARAN AKAN DILAPORKAN KEPADA DANYON.
Arum berdiri di depan kertas itu dengan tangan di pinggang. "Saya mau melaporkan Danyon kepada siapa?"
"Atasanku."
"Siapa?"
"Pak Yusuf."
"Baik. Saya akan mencari Pak Yusuf."
Bara yang sedang memasukkan obat ke kotak berhenti. "Kamu berani?"
"Kalau Mayor terus mengatur saya seperti anak kecil."
"Kamu baru demam 39,8."
"Saya sudah sembuh."
"Duduk."
Arum duduk sambil menggerutu pelan. Bara meletakkan sebungkus cokelat di pangkuannya.
"Apa ini?"
"Obat."
"Saya tidak pernah melihat obat dibungkus warna emas."
"Untuk menaikkan suasana hati pasien keras kepala."
Arum membuka bungkusnya. Di dalamnya ada sebatang cokelat yang biasanya hanya dijual di toko besar. Ia pernah melihat Reyhan membawanya dari Jakarta, tetapi Bu Yatmi menyimpan semuanya untuk keluarga.
"Ini mahal."
"Habiskan. Jangan dibagi ke orang."
"Mayor mau?"
"Aku baru bilang jangan dibagi."
Arum mematahkan satu kotak kecil dan menyodorkannya. "Kalau Mayor bukan orang, berarti boleh."
Bara menatap cokelat di ujung jarinya. Setelah beberapa detik, ia membungkuk dan mengambilnya langsung dengan mulut.
Ujung bibirnya menyentuh jari Arum.
Arum tersentak. Bara mengunyah seolah tak terjadi apa-apa, tetapi telinganya kembali merah.
"Terlalu manis," katanya.
"Padahal dihabiskan."
"Jangan membantah."
Menjelang siang, Bara harus menghadiri rapat singkat di markas. Ia menolak meninggalkan Arum sendirian, sementara Bu Inah menjaga warung. Akhirnya ia membawa Arum ke kantin batalyon agar Bu Sari dapat mengawasi makan siangnya.
Arum berjalan pelan di samping Bara. Beberapa prajurit langsung berdiri tegak ketika Sang Macan lewat.
"Siap, Komandan."
"Lanjutkan makan."
Namun, mata mereka mengikuti Arum sampai pasangan itu duduk di meja sudut.
Bu Sari keluar dari dapur membawa bubur ayam dan sepiring kecil daging semur. "Ini untuk Mbak Arum. Katanya baru sembuh demam."
"Terima kasih, Bu. Tapi porsinya banyak sekali."
"Perintah Pak Mayor."
Arum menoleh. Bara sudah mengambil mangkuk dan mengaduk bubur agar uap panas keluar.
"Saya bisa makan sendiri."
"Tanganmu gemetar."
"Sedikit saja."
Bara menyendok bubur, meniupnya, lalu menyodorkannya ke bibir Arum.
Percakapan di kantin berhenti.
Bu Sari berdeham, sengaja memecah sunyi. "Makan saja, Mbak. Saya bekerja di kantin ini tujuh tahun. Pak Mayor tidak pernah membawakan makanan untuk dirinya sendiri, apalagi meniup bubur orang lain."
Beberapa prajurit menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Bara memandang Bu Sari. "Ibu ingin dipindah ke dapur lapangan?"
"Tidak, Komandan. Saya cuma membantu pasien memahami betapa langkanya pelayanan ini."
Arum menutup wajah dengan satu tangan. "Bu Sari..."
"Benar, kan? Waktu Pak Mayor pulang dari operasi dengan punggung penuh luka, saya kirim bubur tiga hari. Semuanya kembali utuh. Sekarang baru saya tahu rupanya bukan tidak suka bubur. Harus Mbak Arum yang masak."
Tawa tertahan pecah di beberapa meja. Bara menaruh sendok dengan pelan. Suara kecil itu cukup membuat kantin kembali sunyi.
Arum melihat wajah kerasnya, lalu menyadari ada rasa malu di balik tatapan dingin tersebut. Keberanian kecil muncul. Ia mengambil sendok dari tangan Bara, mengisinya dengan bubur, dan menyodorkan balik.
"Kalau saya harus habiskan, Mayor juga satu suap."
Mata para prajurit membesar.
Tak ada seorang pun yang berani menyuruh Danyon membuka mulut.
Bara menatap Arum cukup lama. Lalu ia menerima suapan itu tanpa protes.
Seseorang menjatuhkan sendok.
"Ambil sendokmu," kata Bara tanpa menoleh.
"Siap, Komandan!"
Arum melihat sekeliling. Prajurit yang tadi disuruh melanjutkan makan kini menahan sendok di udara. Dua istri prajurit di meja lain menatap tanpa berkedip.
"Pak Mayor," bisik Arum. "Semua orang melihat."
"Biarkan. Buka mulut."
"Saya malu."
"Demammu akan naik lagi kalau tidak makan."
"Tidak begitu cara demam bekerja."
Bara mengangkat alis. "Sekarang kamu dokter?"
Kalimat yang sama seperti saat hujan membuat Arum kehilangan bantahan. Ia membuka mulut dan menerima satu suap.
Bisik-bisik langsung terdengar.
"Benar orangnya Mayor?"
"Sang Macan menyuapi perempuan?"
"Jangan keras-keras, nanti dengar."
Bara mendengar semuanya. Ia meletakkan sendok, lalu melingkarkan satu lengan di sandaran kursi Arum, cukup dekat untuk menjadi pernyataan.
"Kalau ada yang ingin bertanya, tanya sekarang," katanya kepada seluruh kantin.
Tak ada yang bersuara.
Seorang prajurit menunduk terlalu cepat sampai dahinya hampir menyentuh piring.
Bara menatap Arum. "Makan."
Arum mengambil sendok dari tangannya. "Saya makan sendiri."
"Habiskan dagingnya."
"Banyak."
"Diam."
Bu Sari menahan tawa di balik pintu dapur. Ia menambahkan satu potong daging lagi ke piring Arum.
"Bu!"
"Untuk orangnya Mayor," ujar Bu Sari santai.
Wajah Arum memerah. Bara justru tampak puas.
Salah satu istri prajurit memberanikan diri bertanya, "Pak Mayor, jadi Mbak Arum ini..."
"Orangku," jawab Bara.
Satu kata itu jatuh lebih keras daripada pengumuman resmi.
"Calon istri?" tanya seseorang dari belakang, terlalu penasaran untuk menahan diri.
Bara melirik Arum. Gadis itu menatap mangkuknya, jari menggenggam sendok, tetapi tidak membantah.
"Kalau dia mau," kata Bara.
Arum mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, Sang Macan memberi ruang pada pilihannya di depan semua orang.
Seluruh kantin menunggu jawabannya. Arum memandang lengan Bara di belakang kursinya, cokelat di dalam tas kecil, dan mangkuk bubur yang diaduk agar tidak terlalu panas. Semua bentuk perhatian itu nyata. Namun, ia juga teringat delapan tahun ketika orang lain menentukan masa depannya atas nama perjodohan.
"Saya mau tetap berada di Blok C-3 selama satuan masih menugaskan saya," katanya hati-hati. "Untuk urusan menjadi calon istri, saya ingin menjawab ketika saya benar-benar siap."
Salah satu perempuan di meja belakang mengeluarkan napas kecil, mengira Sang Macan akan marah.
Bara justru mengangguk. "Jawaban yang benar."
"Mayor tidak tersinggung?"
"Aku ingin kamu memilihku. Bukan menurut karena takut."
Arum menatapnya. Kehangatan yang muncul di dadanya lebih kuat daripada rasa malu disaksikan satu kantin.
"Makan dulu," tambah Bara, kembali dingin seolah barusan tidak membuat seluruh kantin menahan napas.
Ketika mereka pulang, pesan sudah menyebar ke beberapa grup WhatsApp. Bukan lagi tentang pembantu genit atau pipa pecah.
Bu Inah berdiri di depan warung sambil membaca ponsel. Begitu Arum lewat, perempuan itu mengangkat layar yang penuh pesan.
"Cepat sekali beritanya. Ada yang bilang Pak Mayor menyuapimu tiga mangkuk."
"Cuma satu suap."
"Ada juga yang bilang kalian mengumumkan tanggal pernikahan."
Bara berhenti. "Siapa yang bilang?"
Bu Inah menurunkan ponsel cepat. "Namanya juga kabar grup, Pak Mayor. Besok mungkin sudah ditambah anak dua."
Arum tersedak ludah. Bara menatap lurus ke depan, tetapi telinganya kembali memerah.
Ia mengantar Arum sampai pintu warung, menunggu Bu Inah memegang lengannya, baru berbalik ke Blok C-3. Perlindungan itu kini tidak hanya terlihat di depan musuh. Ia ada dalam setiap langkah kecil yang memastikan Arum tidak pernah pulang sendiri.
Kini satu asrama berbisik tentang satu hal yang jauh lebih berbahaya bagi musuh Arum.
Gadis buangan keluarga Prasetyo telah menjadi orang yang diakui Sang Macan di depan seluruh kantin.