NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Di Luar Tirai Adik, di Dalam Tirai Terlarang

Bibir Amaya masih menempel pada bibir Sebastian ketika pintu terbuka sedikit lebih lebar.

Sebastian mengangkat tangan untuk mendorong bahunya. Amaya sudah menduga gerakan itu. Ia menyelipkan ujung lidah ke celah bibir pria tersebut, sebuah sentuhan singkat yang membuat tangan Sebastian berhenti di udara.

Langkah Nathan terdengar mendekat.

"Koh?"

Sebastian meraih tirai dengan satu tangan dan menariknya sampai tertutup rapat.

"Tunggu di luar," katanya, suaranya tetap datar meski napasnya tidak. "Tidak sopan menonton tindakan pasien."

Langkah di balik tirai berhenti.

"Aku cuma mau bilang Papa Robert mencari Koh."

"Sudah dengar. Tunggu."

Amaya tersenyum di depan mulut Sebastian. Ia sudah mendapatkan jawabannya. Pria ini punya reaksi, punya keinginan, dan garis moralnya ternyata bisa digeser.

Ia hendak melepaskan pelukan.

Terlambat.

Telapak tangan Sebastian menutup di pinggangnya. Dalam satu tarikan, tubuh Amaya terangkat dari ranjang tindakan dan menempel pada dada pria itu. Gaun basah yang sudah dipotong di bagian paha bergesekan dengan kemeja putihnya.

"Kamu pikir bisa mulai lalu berhenti sesukamu?" bisik Sebastian.

Sebelum Amaya menjawab, bibir pria itu kembali turun.

Kali ini tidak ada keraguan.

Ciumannya menuntut, dalam, dan sama sekali tidak menyerupai dokter dingin yang beberapa menit lalu menjelaskan jadwal penggantian perban. Sebastian menahan tengkuk Amaya, memiringkan wajahnya agar bisa mencium lebih leluasa. Setiap tarikan napas terdengar terlalu keras di ruang sempit itu.

Di luar tirai berdiri Nathan, adiknya.

Di dalam, calon istri Nathan sedang dicium sampai jari-jarinya mencengkeram kerah sang kakak.

Seharusnya Sebastian jijik pada dirinya sendiri.

Yang ia rasakan justru keinginan untuk menarik tirai lebih rapat.

Amaya membiarkannya selama beberapa detik. Cukup lama untuk merasakan bahwa ketenangan pria itu hanya lapisan luar. Cukup lama untuk memastikan investasi yang hendak dipilihnya tidak kosong.

Sebab Amaya Halim yang berdiri di rumah sakit malam ini bukan Amaya yang dikenal keluarga Halim selama delapan tahun terakhir.

Di kehidupan sebelumnya, namanya juga Amaya. Ia putri tunggal sebuah keluarga konglomerat, dibesarkan dengan kasih sayang tanpa syarat selama dua puluh tiga tahun. Papanya tidak pernah membiarkannya pulang sendirian. Mamanya bisa membatalkan rapat hanya karena Amaya demam ringan.

Lalu sebuah kecelakaan merenggut semuanya.

Ketika membuka mata, ia sudah berada dalam tubuh perempuan bernama sama, dengan wajah yang nyaris sama, tetapi hidup yang seperti ditulis oleh seseorang yang membenci tokoh utamanya sendiri.

Ia mengenal dunia ini.

Pernah membacanya dalam sebuah novel siksaan murahan.

Tokoh Amaya yang asli hilang saat berusia lima tahun dan baru ditemukan sepuluh tahun kemudian. Ketika pulang, tempatnya sudah ditempati Selena, anak mendiang bibinya yang diangkat keluarga Halim. Semua orang merasa Selena lebih lembut, lebih peka, dan lebih pantas dilindungi. Sementara anak kandung yang kembali dari kehidupan keras dianggap kaku, iri, dan tidak tahu berterima kasih.

Setiap pertemuan keluarga menjadi pengadilan kecil. Jika Amaya asli diam, para tante berbisik bahwa anak itu tidak punya sopan santun. Jika ia membela diri, grup WhatsApp keluarga ramai menyebutnya sulit menyesuaikan diri. Bahkan kamar masa kecilnya sudah dihias ulang untuk Selena, lalu ia diminta mengalah karena `Ci Selena gampang cemas kalau pindah kamar`.

Sepuluh tahun hilang dari rumah, tetapi justru ia yang diwajibkan memahami semua orang.

Selena mengambil kamar terbaik, perhatian keluarga, kesempatan kerja, lalu perlahan-lahan masa depannya.

Nathan menjadi satu-satunya cahaya bagi Amaya asli. Namun cahaya itu selalu padam setiap Selena meneteskan air mata.

Dalam cerita lama, Nathan berjanji akan menikahi Amaya jika ia bersedia mendonorkan satu ginjal untuk Selena. Setelah pengorbanan itu, janji tidak pernah ditepati. Nama baik Amaya kemudian dirusak lewat sebuah jebakan. Semua orang baru mengetahui kebenaran setelah perempuan malang itu mengakhiri hidupnya.

Sesudah ia tiada, barulah keluarga menangis.

Hadiah-hadiah yang seharusnya diterima saat hidup berubah menjadi persembahan terlambat bagi orang yang tidak bisa lagi merasakannya.

Amaya yang sekarang tidak tertarik mengikuti alur sebodoh itu.

Pada hari pertama bangun di tubuh ini, ia membaca pesan-pesan yang belum dihapus, memeriksa rekening, jadwal keluarga, dan seluruh foto lama. Kesimpulannya sederhana: Amaya asli tidak kalah karena bodoh. Ia kalah karena masih berharap orang-orang yang menyakitinya akan sadar sendiri.

Harapan semacam itu terlalu mahal.

Ia tidak butuh cinta yang datang setelah kematian. Tidak akan menyerahkan organ tubuh, saham, atau masa depannya demi mendapatkan janji seorang laki-laki. Yang menjadi miliknya akan tetap menjadi miliknya.

Kalau dunia ini permainan, ia akan duduk sebagai bandar.

Selena boleh memainkan korban. Nathan boleh terus bimbang. Keluarga Halim boleh memihak siapa saja.

Amaya hanya perlu mengubah posisi setiap bidak.

Termasuk Sebastian.

Dalam novel, Nathan berkali-kali mencoba mendorong Amaya kepada kakaknya sendiri. Ia mengira Sebastian yang dingin akan menolak, lalu Amaya akan kehilangan harga diri dan kembali memohon kepadanya.

Amaya tidak melihat alasan untuk menolak jalur yang sudah disediakan.

Sebastian punya wajah yang membuat perempuan waras sulit berkedip, tangan yang memegang kendali Amerta Medika, dan posisi yang cukup tinggi untuk membuat dua keluarga berpikir dua kali sebelum menyentuhnya. Lebih penting lagi, pria itu bereaksi terhadapnya.

Malam ini semula hanya pemeriksaan kelayakan.

Setelah maskernya dilepas, Amaya memutuskan untuk membeli sahamnya.

Sebastian memutus ciuman hanya untuk mengambil napas. Kacamata emasnya sedikit bergeser. Tatapannya tidak lagi sebening ketika memegang pinset bedah.

Amaya menyentuh sudut bibirnya sendiri. "Koh, sudah cukup. Koh Nathan masih di luar."

Tubuh Sebastian menegang.

Perempuan ini sengaja.

Ia mencium lebih dulu, membakar kendalinya, lalu menyebut nama Nathan seolah sedang mengingatkan siapa pemilik sah posisinya.

"Kamu memang selalu seperti ini?" tanyanya.

"Seperti apa?"

"Menyalakan api, lalu berdiri paling dekat sambil pura-pura kedinginan."

Amaya memiringkan kepala. "Aku benar-benar kedinginan. Gaunku masih basah."

Tatapan Sebastian turun sesaat. Kain penutup yang tadi ia pasang sudah bergeser, memperlihatkan bahu basah dan sebagian paha yang dibalut perban.

Ia segera mundur.

Jarak di antara mereka kembali ada, tetapi udara tidak ikut mendingin.

Sebastian merapikan kacamata, menarik simpul dasinya, lalu membantu Amaya duduk tanpa menyentuh kulit lebih lama dari yang diperlukan.

"Pakai selimut. Saya panggil perawat untuk membawakan baju pasien."

Amaya mengangkat alis. `Saya` sudah kembali. Dokter Sebastian berhasil mengenakan wajah sucinya lagi.

"Koh?" Nathan mengetuk sisi rangka tirai. "Lama sekali. Lukanya separah itu?"

Sebastian menarik napas perlahan. "Lokasi luka pasien sensitif. Butuh privasi."

"Jangan-jangan pasiennya calon adik iparku."

Tangan Nathan muncul di ujung tirai.

Sebelum kain itu ditarik, Amaya meraih sisinya dan membukanya lebih dulu. Ia duduk di ranjang dengan selimut menutupi gaun berdarah. Rambut basah menempel di pipi, sedangkan bibirnya tampak lebih merah daripada beberapa menit lalu.

"Koh Nathan," sapanya lembut. "Ini aku."

Mata Nathan melebar.

"Maya? Kok kamu di sini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!