Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Perjuangan Ara Di Dapur Mansion
Semenjak pagi dapur mansion sudah diatur dan disiapkan. Sebuah meja panjang di tengah ruangan sudah dipenuhi peralatan untuk membuat kopi. Biji kopi ditempatkan dalam beberapa wadah kecil. Timbangan digital menyala. Grinder sudah terpasang. Dripper, filter, kettle, termometer, dan cangkir-cangkir kosong tersusun rapi dalam barisan yang membuat Ara ingin berbalik dan pura-pura tidak melihatnya. Ia berdiri di depan meja dengan kedua tangan bertolak pinggang. Instruktur yang berdiri di samping meja dan meminta Ara dengan tegas menurunkan tangannya.
“Nyonya bukan preman. Saya harap nyonya bisa menjaga sikap."
Ara menurunkan tangan dengan enggan. Ia heran apa hubungannya bertolak pinggang dengan preman. Mungkin bagi sebagian orang bertolak pinggang dianggap kurang sopan. Hufth--keluhnya dalam hati. Ia sudah menarik kursi dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Tetapi lagi-lagi tangannya ditepis oleh instruktur wanita itu.
"Saya tidak meminta Nyonya duduk." Suara tegas sang instruktur kembali terdengar.
Ara mengernyit. "Apakah aku harus terus berdiri?"
Instruktur itu mengangguk. "Berdiri lebih praktis dan memudahkan pergerakan."
Ara mengedipkan mata. Tapi melihat wanita yanga sudah tua itu, ia enggan. Ia mengurungkan niatnya. Pikirnya bagaimanapun wanita itu jauh lebih senior dan lebih berumur darinya.
“Delapan belas gram,” instruksi wanita itu saat Ara mulai mengambil biji kopi. Kali ini tangannya bergerak lebih hati-hati. Sebelumnya ia menjatuhkan beberapa biji lepas dari wadah. Sang instruktur tentu saja memarahinya panjang lebar.
Ara memperhatikan timbangan. 17,7 gram. Ia menambahkan satu biji kopi lagi. 18,0, baru ia berhenti. Ia melirik instruktur. Tidak ada komentar yang keluar dari wanita itu.
Ara memasukkan biji kopi ke grinder. Mesin mulai berdengung. Aroma kopi segar perlahan memenuhi dapur. Belum sampai Ara selesai menyiapkan filter, terdengar langkah kaki dari koridor. Langkah itu berat, teratur. Ia tidak perlu menoleh. Ia tahu siapa yang datang.
Dante muncul di ambang pintu. Sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan melihat Ara. Wajahnya seperti biasa—dingin, tanpa ekspresi.
Ara meliriknya sekilas. “Belum berangkat?”
Dante menatapnya. “Belum. Aku masih ingin melihat istriku."
Ara mendengus. Lagi-lagi gumamannya membatin. Dia dengan entengnya selalu menyebutkan istriku, istriku, istriku dimana-mana. Seolah tidak mau kehilangan moment untuk menyebutkannya.
Dante menyipitkan mata. "Tak suka kupanggil istriku? Haruskah kupanggil sayangku?"
Ara bergidik. Bulu kuduknya meremang. Jika orang lain yang mengatakannya mungkin bakal terdengar romantis. Tapi ketika Dante yang mengatakan dengan suara dingin dan sinisnya, itu lebih terdengar seperti seorang yang mau mengajak bertengkar.
"Terserahlah. Asal Tuan senang," balas Ara memberi jawab.
"Kau sedang menyindirku?" geram Dante makin dingin.
"Mana berani. Aku sedang membuat kopi." Ara menjawab tanpa melihatnya. Ia mengambil filter.
Dante berjalan mendekat. “Kalau aku mengganggu, kau bisa mengatakan nya.”
Ara mendengus. “Tidak perlu. Nanti juga pergi sendiri.”
Tatapan Dante menjadi lebih dingin. Ia berhenti di sisi meja. Ia memilih mengabaikan sarkasmenya.
Ara pura-pura sibuk membilas filter. Ia tidak takut. Setidaknya ia tidak akan menunjukkan tatapan pria itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia kembali bekerja.
Dante berdiri di sana beberapa menit, mengawasi.
Ara melirik dari sudut mata. "Seru ya menontonku?"
Dante menggeleng tegas. "Tidak ada yang bisa kulihat. Kecuali wajah masam mu itu seperti lembu yang sedang diberangus."
“Kau mengataiku?" Ara kembali mendengus. Ia balik menatap Dante.
“Perhatikan kopi buatanmu!" Dante mengambil cangkir hasil seduhan sebelumnya. Ia mencicipinya kemudian ia meletakkan cangkir.
Ara menunggu komentar dari mulut pria itu.
“Masih pahit.”
Ara memutar mata. "Akan kuperbaiki."
Dante melihat jam tangannya. Sudah waktunya berangkat kerja. Ia berjalan menuju pintu. "Kuharap kau bisa menyelesaikan pekerjaan kecil ini dan tidak kabur lagi. Atau bakal ada hukuman lain yang menantimu."
Ara tidak menoleh lagi. Namun begitu suara langkah pria itu menjauh, bahunya perlahan turun. Beberapa detik kemudian suara pintu gerbang depan dibuka. Suara mesin mobil menyala dari halaman.
Ara melongok dari jendela. Dari balik kaca, ia melihat mobil hitam Dante bergerak meninggalkan mansion. Ia memperhatikannya sampai mobil itu menghilang di balik pagar. Baru setelah itu ia mengembuskan napas panjang. Ia kembali ke meja. Yeah, setidaknya pria menyebalkan itu sudah pergi--batinnya.
Ara menarik kettle. Namun baru dua langkah, matanya menangkap sesuatu di sudut langit-langit. Sebuah kamera kecil. CCTV. Kemarin kepala pelayan sudah mengingatkannya. Ia menatap kamera itu. Wajahnya berubah menjadi masam. Ia lupa. Mansion ini memiliki kamera di hampir setiap sudut.
Dante mungkin sudah tidak berada di rumah. Tetapi bukan berarti ia tidak bisa melihat dan mendengar apa yang dilakukannya. Kenyataan pahit itu seolah mencekiknya.
Ara menatap kamera itu beberapa detik. “Haizz,” gumamnya lirih.
Instruktur menoleh. "Ada yang ingin Nyonya tanyakan?"
“Tidak ada.” Ara kembali menghadap meja. Ia mengambil kettle sedikit lebih kasar. “Anggap saja aku sedang bicara sendiri.”
Kamera di sudut ruangan tetap diam. Lampu kecilnya menyala.
Ara tidak tahu apakah Dante benar-benar sedang memperhatikannya dari kantor atau tidak. Tetapi mengetahui kemungkinan itu saja sudah cukup membuatnya kesal.
Ara tidak banyak bicara sepanjang proses pembuatan kopi. Hanya tangannya saja yang lebih banyak bekerja. Ia mulai memahami cara pembuatan kopi. Mungkin keahlian ini bisa ia gunakan untuk mencari uang saat ia berhasil kabur dari Dante suatu hari nanti.
Meskipun beberapa kesalahan masih terjadi.
Tetapi tidak sebanyak sebelumnya. Contohnya saat ia terlalu cepat menuang, atau suhu air terlalu tinggi bahkan beberapa kali takaran kurang 0,00sekian gram.
Ara hanya perlu mengulang dan memperbaiki.
Dapur semakin hangat ketika matahari naik. Aroma kopi memenuhi ruangan sampai hampir tidak ada lagi sudut yang bebas dari baunya. Cahaya matahari menembus jendela tinggi dan jatuh di atas meja tempat Ara membuat kopi.
Ara berdiri di sana sejak pagi. Tangannya mulai pegal. Punggungnya terasa kaku. Betisnya juga mulai berdenyut. Tetapi kali ini ia tidak terlalu memikirkannya. Ia masih bisa menahan sakitnya. Ia hanya ingin menyelesaikan cangkir kopi nya dengan benar.
Menjelang makan siang, Ara menyiapkan satu seduhan terakhir. Ia menimbang biji. Tepat 18,0 gram. Ia menggiling. Ia menyiapkan filter. Ia mengatur suhu air. Kemudian ia mulai menuang. Tidak terburu-buru. Tangannya bergerak stabil. Ia memperhatikan aliran air. Tidak berhenti. Tidak terlalu deras. Tidak terlalu lambat. Ketika tetesan terakhir jatuh, Ara mengangkat dripper. Ia memandang cangkir di bawahnya.
Instruktur mengambil cangkir itu dan mencicipi.
Ara menunggu dengan sabar hasilnya.
Instruktur akhirnya berkata, “Sudah tepat.”
Ara mengangkat mata. Ia menatap cangkir itu setengah meragukan keberhasilan nya. Ia bahkan mengambil cangkir itu dari tangan instruktur. Ia juga mencicipi sedikit. Masih ada sedikit pahit di ujung lidah. Tetapi rasanya seimbang.
Ara menyesap sekali lagi. Ia tidak bersorak. Ia juga tidak tersenyum lebar. Ia hanya menganggukkan kepala sekali.
Ara memandang cangkir itu lagi. Di kepalanya, ia sedang mengevaluasi. Kopinya masih sedikit terlalu pahit. Mungkin suhu air masih bisa diturunkan. Atau waktu ekstraksi dipersingkat. Tetapi ia tidak perlu mengatakan pikirannya. Ia cukup mengiyakan dan membenarkan pendapat wanita tua itu. Bagaimanapun ia instrukturnya bukan dirinya.
Ia menatap jam dinding. Sudah waktunya makan siang. Dalam hati ia sangat berharap instruktur nya besok tidak perlu datang lagi. Tapi ia sadar keputusan bukan ada pada dirinya tapi ada pada Dante.
"Cukup pelajaran hari ini. Nyonya bisa makan siang. Saya tahu Nyonya sudah mengharapkannya." Suara wanita tua itu bagaikan air di gurun pasir.
Ara akhirnya terbebas dari instruktur yang tegas dan tak berperasaan, yang mirip seperti Dante suaminya. Ia lega.
Ia hanya ingin terbebas dari instruktur yang sejak pagi memerintahkannya seperti seorang tahanan. Matanya kembali jatuh pada CCTV di sudut langit-langit. Ia kembali melihat lensa kameranya. Ia bertanya dalam hati, apakah Dante di sudut dunia lain juga sedang melihatnya.
***