Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
"Anda masih ingat Lim Yun?"
Nama itu jatuh di ruang makan seperti pisau yang diselipkan ke bawah taplak meja. Tidak terlihat, tetapi semua orang merasakan ujungnya menyentuh kulit.
Tan Bao Shan tidak menjawab.
Untuk lelaki yang sepanjang hidupnya terbiasa membuat orang menunggu kata-katanya, diamnya terlalu panjang. Tongkat di samping kursinya bergerak sedikit, bukan karena ia ingin berdiri, melainkan karena tangan tuanya menggenggam kepala tongkat terlalu kuat.
Rachel Gu lebih dulu tersenyum.
"Miss Lim," katanya, suaranya masih halus, "mungkin Anda salah tempat membawa nama orang. Keluarga Tan punya banyak kenalan lama. Kami tidak mungkin mengingat semuanya."
Mei Li menatapnya.
"Saya belum bertanya pada Anda, Nyonya Rachel."
Senyum Rachel membeku.
Jasmine langsung menaruh sumpitnya dengan keras. "Mama hanya menjawab dengan sopan. Kamu datang ke rumah orang, tapi sikapmu seolah kami yang harus takut padamu."
"Apa kalian tidak takut?"
Pertanyaan itu lembut. Terlalu lembut untuk sebuah ancaman.
Felix berdiri setengah dari kursinya. "Jaga mulutmu."
Bella maju satu langkah.
Pengawal keluarga Tan yang berjaga di pintu ikut menegang. Dalam satu detik, ruang makan yang dipenuhi aroma sup mahal berubah seperti ruang interogasi. Pelayan-pelayan menyingkir ke sisi dinding, tidak berani bernapas terlalu keras.
Tan Bao Shan mengangkat tangan, menghentikan semua orang.
"Lim Yun sudah lama meninggal," katanya akhirnya.
Mei Li memiringkan kepala. "Jadi Anda ingat."
"Dia istri Edmond."
Edmond tersentak saat namanya disebut. Wajahnya pucat, tetapi ia tetap mencoba memasang ekspresi tersinggung.
"Jangan bawa nama orang mati untuk permainanmu," bentaknya. "Lim Yun adalah masa lalu keluarga kami."
"Masa lalu?" Mei Li mengulang pelan.
Ia mengambil kipas batik di samping piringnya, membuka lipatannya satu per satu. Suaranya lembut, tetapi di tengah kesunyian, setiap lipatan terdengar jelas.
"Bagi kalian, mungkin masa lalu. Bagi seorang anak tujuh tahun yang melihat ibunya jatuh dari balkon, itu bukan masa lalu."
Nyonya Besar Tan memucat.
Rachel menoleh cepat ke arah Tan Bao Shan.
Jasmine mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"
Tidak ada yang menjawab.
Sesuatu yang selama ini dikunci rapat di sudut rumah itu mulai bergerak keluar. Bukan sebagai hantu, tetapi sebagai perempuan muda yang duduk tenang di kursi tamu, menatap mereka satu per satu.
"Miss Lim," suara Tan Bao Shan menjadi rendah. "Kamu siapa?"
Pintu ruang makan tiba-tiba diketuk dari luar.
Seorang pelayan masuk terburu-buru, wajahnya gugup. "Tuan Besar, Pak Arka dari KADIN sudah tiba. Jadwal pertemuan proyek kawasan utara..."
Kalimatnya hilang ketika ia melihat wajah-wajah di ruangan itu.
Tan Bao Shan mengumpat tertahan. Malam ini seharusnya selesai dengan makan malam, lalu pertemuan singkat dengan perwakilan KADIN tentang proyek baru. Ia tidak menyangka perempuan bernama Lim Mei Li akan mengubah ruang makan menjadi medan perang.
"Suruh tunggu di ruang tamu," kata Edmond cepat.
Namun sebelum pelayan mundur, suara pria terdengar dari arah pintu yang terbuka.
"Tidak perlu. Sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat."
Semua kepala menoleh.
Arka Wicaksana Pradipta berdiri di ambang pintu.
Ia memakai setelan gelap dengan kemeja batik halus di bagian dalam, sederhana tetapi tidak bisa disalahartikan sebagai biasa. Di pergelangan tangannya ada gelang kayu cendana, dan ketika ia masuk, aroma gaharu Kalimantan yang tenang menyentuh udara yang tegang.
Wajahnya tampan dengan cara yang tidak memaksa orang untuk menatap, tetapi justru membuat orang sulit berpaling. Matanya bergerak cepat membaca ruangan. Tan Bao Shan yang kaku. Rachel yang pucat. Pengawal yang siap bergerak. Lalu perempuan ber-kebaya putih di kursi tamu yang memegang kipas batik seperti ratu yang bosan menunggu pengadilan dimulai.
Untuk sepersekian detik, pandangan Arka berhenti pada Mei Li.
Mei Li juga menatapnya.
Tidak ada perkenalan. Tidak ada senyum basa-basi. Hanya dua orang asing yang sama-sama tahu bahwa mereka baru saja masuk ke adegan yang tidak mungkin dilupakan.
Tan Bao Shan menarik napas. "Pak Arka, mohon maaf. Ada sedikit urusan keluarga."
"Saya bisa menunggu," jawab Arka sopan.
"Tidak," kata Mei Li.
Satu kata itu membuat ruangan kembali menatapnya.
Mei Li berdiri.
Amy dan Bella tidak bergerak, tetapi seluruh tubuh mereka sudah siap. Pengawal Tan menunggu perintah. Jasmine berdiri dengan wajah marah, Stella menggenggam ponsel seolah ingin merekam tetapi takut memulai skandal yang lebih besar.
Mei Li melipat kipasnya.
"Justru bagus ada saksi dari luar keluarga."
Rachel berdiri. "Cukup! Kamu tidak punya hak membuat keributan di rumah ini."
"Rumah ini?" Mei Li menatap langit-langit, lalu tangga, lalu lantai marmer di bawah kakinya. "Aku pernah tidur di kamar belakang rumah ini selama tujuh tahun. Aku pernah makan sisa makanan dari dapur ini. Aku pernah berdiri di bawah hujan di halaman depan, memohon agar pintu dibuka."
Edmond seperti kehilangan suara.
Jasmine menatap ayahnya. "Papa, dia bicara apa?"
Mei Li menoleh padanya.
"Kamu benar-benar tidak tahu?"
"Tahu apa?"
"Bahwa sebelum Rachel Gu melahirkanmu, ada anak perempuan lain yang dibuang dari rumah ini."
Wajah Jasmine merah padam. "Bohong."
"Anak itu pernah memakai nama keluarga Tan."
Ruangan itu pecah, bukan oleh suara, melainkan oleh keheningan yang terlalu keras.
Stella menutup mulutnya.
Michelle berdiri begitu cepat sampai kursinya mundur menjerit di lantai.
Nyonya Besar Tan memegang dada, matanya membesar seperti melihat orang mati berjalan kembali.
Edmond menggeleng perlahan. "Tidak mungkin."
Mei Li tersenyum.
"Kenapa tidak mungkin, Edmond Tan? Karena anak itu seharusnya sudah hilang? Karena kalian mengirimnya keluar negeri tanpa nama, tanpa perlindungan, tanpa satu pun orang dewasa yang peduli apakah dia hidup?"
"Diam!" Edmond membentak, tetapi suaranya pecah.
Arka berdiri di tempatnya, tidak menyela. Namun matanya berubah. Kelembutan sopan yang tadi ia bawa kini ditarik mundur, diganti fokus tajam seorang pria yang terbiasa membaca ancaman di balik meja rapat.
Nama lama itu.
Nama itu tidak asing bagi sebagian konglomerat lama. Skandal kecil yang pernah dikubur keluarga Tan. Seorang anak perempuan yang disebut membawa sial setelah ibunya meninggal tragis. Tidak ada foto. Tidak ada catatan publik. Hanya bisik-bisik tua yang sengaja dibiarkan mati.
Dan sekarang perempuan itu berdiri di depan mereka sebagai Lim Mei Li.
Rachel akhirnya kehilangan kendali. "Kamu bukan dia."
Mei Li mengeluarkan sebuah amplop tipis dari tasnya dan melemparkannya ke atas meja. Amplop itu meluncur sampai berhenti di depan Tan Bao Shan.
"Akta lahir. Catatan rumah sakit. Foto lama. Rekam perpindahan wali. Semua ada salinannya. Tentu saja dokumen asli sudah berada di tempat yang tidak bisa kalian bakar."
Tan Bao Shan tidak membuka amplop itu.
Ia tidak perlu.
Tangannya gemetar cukup untuk menjawab semuanya.
Jasmine menatap Rachel, lalu Edmond. "Mama? Papa? Apa ini benar?"
Rachel menampar meja. "Dia pembohong! Dia datang untuk memeras keluarga kita."
"Kalau aku ingin memeras," kata Mei Li, "aku akan meminta uang."
Ia menunduk sedikit, mendekati Rachel tanpa benar-benar menyentuhnya.
"Aku tidak butuh uang kalian."
Rachel mundur setengah langkah.
Mei Li meluruskan tubuhnya.
"Aku datang untuk mengambil kembali semua yang kalian rampas. Nama ibuku. Masa kecilku. Dan ketakutan yang seharusnya sejak dulu menjadi milik kalian."
Di luar, kilat menyambar. Cahaya putih membelah kaca ruang makan, membuat wajah semua orang tampak pucat.
Tan Bao Shan akhirnya berdiri dengan bantuan tongkat.
"Kamu pikir setelah kembali dengan nama Lim, kamu bisa menghancurkan keluarga Tan?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat alis Tan Bao Shan bergerak.
Mei Li melangkah menuju pintu, melewati Arka tanpa menunduk. Pada jarak satu lengan, aroma melati putih bertemu gaharu, tipis dan anehnya tidak saling menolak.
Arka tetap diam.
Mei Li berhenti di ambang pintu, menoleh ke meja makan yang kini sudah kehilangan martabatnya.
"Aku tidak berpikir," katanya. "Aku sudah memulai."
Ia berjalan keluar bersama Amy dan Bella.
Tidak satu pun pengawal Tan berani menahan.
Baru setelah suara langkahnya hilang di koridor, ruang makan seperti mendapatkan napasnya kembali. Jasmine mulai bertanya dengan suara tinggi. Rachel menyuruhnya diam. Edmond menjatuhkan diri ke kursi. Nyonya Besar Tan memanggil pelayan dengan suara gemetar.
Arka menatap pintu yang baru saja dilewati perempuan itu.
"Pak Arka," Tan Bao Shan memaksakan wibawa, "kejadian barusan adalah masalah internal."
Arka menoleh pelan. Senyumnya masih sopan, tetapi matanya tidak lagi hangat.
"Tentu, Tuan Tan."
Ia memberi salam singkat, lalu keluar sebelum Tan Bao Shan bisa menahannya.
Di teras depan, hujan sudah berhenti. Mobil hitam yang membawa Mei Li baru saja bergerak meninggalkan halaman. Lampu belakangnya merah, tajam, lalu hilang di balik gerbang.
Asisten Arka mendekat. "Pak, pertemuan proyeknya dibatalkan?"
Arka tidak langsung menjawab.
Ia masih menatap gerbang Tan Residence.
"Cari semua informasi tentang Lim Mei Li," katanya akhirnya.
Asistennya mengangguk. "Baik, Pak. Informasi bisnis atau pribadi?"
Arka mengingat mata perempuan itu ketika menyebut nama ibunya. Tidak ada tangis, tidak ada permohonan. Hanya luka yang sudah ditempa sampai menjadi senjata.
"Semuanya."
"Termasuk dokumen yang tidak ada di internet?" tanya asistennya hati-hati.
Arka memasukkan tangan ke saku jas. "Terutama yang tidak ada di internet. Perempuan seperti dia tidak kembali ke Jakarta tanpa menghapus jejak yang ingin ia hapus."
Angin malam membawa sisa aroma melati ke teras.
Arka menurunkan suara, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.
"Siapa sebenarnya dia?"