Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berteman
Seperti yang di janjikan yena kalau hari ini akan mengajak kenzo pergi nonton bioskop, saat yena turun ke bawah kenzo sudah menunggu penampilannya jg sudah rapi,menggunakan jin, kaos, dan sepatu putih serta tidak lupa dengan aroma parfum yang semerbak.
"Kakak udah siapkan ayoo kita pergi sekarang" ucap kenzo sambil memegang tangan yena.
"Mau jemput temen-temen dedek dulu gak"
Gk usah kak mereka bisa dateng sendiri kok, oh iya kak nanti kalau di depan teman-teman aku jangan panggil aku dedek ya kak, panggil nama aja"
Yena mengangguk, dia sangat lucu dengan tingkah adiknya itu.
"Ayook kita berangkat sekarang"
"Lesgo"
Di lobi bioskop yang ramai, Marsel, Sean, dan Zeo sudah menunggu. Mereka bertiga tampak ceria, menyapa yena dengan sopan namun akrab, seolah sudah menganggap yena kakak mereka sendiri.
“Akhirnya Ketemu kak yena cantik, udah lama banget gk liat kakak!” seru Marsel sambil tertawa renyah.
“lama-lama makin cantik aje nih masa depan aku hehe.”
"Masa depan-masa depan sekolah aja belum bener lu sean" ucap zeo kesal.
Yena hanya tersenyum tipis melihat kelakuan ke tiga teman adiknya itu.Sepanjang antre membeli tiket hingga camilan, mereka tak berhenti bercerita dan meledek Kenzo yang sering kali konyol. Kehadiran mereka perlahan mengikis rasa kaku yang masih tersisa di hati yena,
Saat kami duduk berdampingan di dalam studio gelap, Kenzo sengaja duduk di sebelahku. Sesekali ia merangkul bahu yena pelan saat ada adegan yang mengejutkan, seolah memberi tahu bahwa ia selalu ada untuk kakaknyaitu Di sisi lain, Marsel, Sean, dan Zeo sesekali berbisik lucu di sela-sela adegan, membuat yena tak kuasa menahan senyum yang lama tak muncul.
Di tengah cerita film yang berjalan, yena mulai menyadari satu hal. Luka yang ditinggalkan Arga dan Fira perlahan terasa tidak seberat dulu. Kehadiran kenzo dan teman-temannya yang tulus adalah bukti bahwa masih banyak kasih sayang yang tak akan mengkhianati. Jarak yang sempat terasa jauh antara yena dan dunia luar, perlahan menyempit kembali.
Setelah film usai, kami berjalan keluar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Siang itu, meski hanya berisi obrolan santai dan tawa anak muda, menjadi awal bagi yena untuk berani melangkah keluar dari kegelapan yang selama ini dirasakan.
"Kita makan siang dulu,mau gk nanti kakak traktir"
"MAU"jawab kenzo, marsel, sean, dan, zeo secara barengan.
"Wiiih semangat banget nih kalau denger soal makanan"ucap yena
Mereka ber empat banyak tersenyum malu.
Setelah makan siang selesai Kenzo izin ingin pergi main bersama ketiga temannya. Yena pun meng iyakan keinginan adiknya itu.
Setelah kenzo dan ke tiga teman nya pergi yena pun menuju ke mobil, yena tak langsung pulang melainkan pergi ke sebuah toko buku saat yena masuk ke toko buku itu ia Menghirup aroma kertas baru dan tinta yang selalu bisa menenangkan hati yang masih bergejolak.
Yena berjalan perlahan di antara deretan rak buku, menyentuh sampul-sampul buku yang menarik perhatian.Hingga saat yena berhenti di bagian novel, sosok yang tak asing berdiri di sana sambil memegang sebuah buku tebal.
Saat ia menoleh, mata mereka bertemu.
“Kak Yena?”
Itu Juvan. Pemuda yang dulu mengembalikan surat izin di toko kue yena, yang pernah memberi yena sebatang cokelat sederhana.
“Juvan?” jawab yena sedikit terkejut, namun tanpa sadar senyum tipis kembali terukir di bibir yena.
“Kamu juga ke sini?”
“Iya, Kak. Kebetulan lewat dan ingin cari buku bacaan. Tidak menyangka akan bertemu Kakak di sini,” ucapnya sopan sambil menyelipkan buku itu kembali ke rak. Wajahnya sedikit merona, namun tatapannya tetap jernih dan tulus seperti biasanya.
“Tidak mengganggu sama sekali,” ujar yena pelan."
“Aku justru senang bisa bertemu lagi dengan kakak”
Yena dan juvan berdiri berhadapan di sela-sela rak buku yang tenang. Tak ada obrolan yang berat, hanya saling bertanya kesibukan sehari-hari dan buku apa yang sedang mereka sukai. Namun setiap kali Juvan berbicara, rasanya ada ketenangan yang merambat perlahan ke dalam hati yena. Di antara tawa ramai bioskop tadi dan keheningan toko buku ini, kehadiran Juvan terasa begitu pas—seperti tempat beristirahat yang nyaman setelah lelah berjalan jauh.
Sepanjang obrolan sore itu, ada rasa hangat yang perlahan merambat di dada. Awalnya yena menjaga jarak, takut kembali terluka, takut percaya pada orang baru. Tapi di depan Juvan, rasanya semua tembok pertahanan itu perlahan meluruh sendirian. Ada ketulusan yang begitu nyata, tak ada kepura-puraan seperti yang dulu yena alami.
Tiba-tiba saja keinginan itu muncul begitu saja—ingin lebih dari sekadar kenalan sesaat. Ada rasa ingin mengajak juvan berteman, ingin mengenalnya lebih jauh, dan membiarkan dia mengenal yena apa adanya.
“Juvan…” panggil yena pelan saat keheningan sejenak menyelimuti mereka berdua
“Iya, Kak?” Ia menoleh, matanya berbinar menanti.
“Kalau… kalau kamu tidak keberatan,” ujar yena sedikit ragu, namun memberanikan diri menatapnya,
“bolehkah kita berteman?
Seketika wajah Juvan merona merah seketika, namun senyumnya mekar begitu lebar—bahkan lebih indah dari biasanya.ia masih tidak percaya bahwa masih ada di dunia ini yang mau berteman dengannya,juvan adalah siswa SMA yang terbilang culun, pendiam,tidak suka keramaian, tapi dia sangat pintar dan sering mendapat rangking di sekolah, karna sipat pendiam dan culun nya itulah para siswa lain malas berteman dengannya,walapun ada pasti mereka ada maunya,seperti sedang belajar kelompok, atau ingin menyontek.biasanya hari-hari juvan hanya menghabiskan waktu nya untuk belajar dan membaca banyak buku.
Saat yena melontarkan kata itu,juvan kaget sekaligus merasa senang juga.
"Memangnya kakak mau berteman denganku, kakak gk malu berteman dengan aku" ucap juvan sampul menunduk
"Kenapa harus malu, kakak gk malu sama sekali kok. Mau ya jadi temen kaka"
Ia mengangguk cepat, seolah tak percaya mendengar kalimat itu keluar darmulut yena.
“ aku sangat senang sekali,akhirnya masih ada orang yang mau berteman denganku ” suaranya terdengar bergetar sedikit karena bahagia.
“Aku takut kalau aku terlalu berani mendekat, Kakak akan merasa terganggu. Jadi… terima kasih banyak ya.”
Mendengar itu, senyum yena pun tak kuasa ditahan. Untuk pertama kalinya setelah perpisahan yang menyakitkan itu, hati yena terasa ringan dan penuh harapan.
“Terima kasih juga sudah mau berteman denganku, Juvan.”
Matahari perlahan terbenam, menyisakan cahaya keemasan yang menerangi dua orang yang baru saja memulai lembaran baru. benih persahabatan itu mulai tumbuh perlahan, membawa harapan yang dulu sempat hilang.
"Juvan, kita pulang yuk udah sore aku takut nanti di jalanan macet"
Juvan mengangguk.
Mereka berdua pun keluar dari toko buku itu yena dan juvan berjalan berdampingan, namun saat yena hendak melangkah menuruni anak tangga, kaki nya Terpeleset Tanpa sempat berteriak, tubuh yena condong ke depan. Namun sebelum yena sempat menabrak lantai, dua tangan kokoh dengan sigap menahan lengan yena, mencegahnya jatuh sepenuhnya.
Hati-hati, Kak!” seru Juvan cemas. Ia menopang tubuh yena dengan hati-hati, tak berani bersentuhan berlebihan namun memastikan yena benar-benar seimbang kembali.
"Anak ini ternyata tampan juga ya" yena membatin sambil menatap wajah juvan.
Jantung yena seketika berdegup kencang,saat juvan membalas tatapannya
“Kakak tidak apa-apa? Ada yang sakit?” tanyanya beruntun, matanya menatap yena penuh kekhawatiran.
“Aku… aku tidak apa-apa, Juvan. Terima kasih banyak ya,” jawab yena terbata-bata, merasakan pipinya memanas.
Juvan hanya mengangguk
Di hadapan yena berdiri seorang pemuda yang lebih muda, namun sikapnya begitu menjaga dan menghargai. Rasa hangat kembali merambat di dada, menghapus sisa kaget tadi.sore itu meski hanya sebentar, adegan sederhana itu terasa menjadi jembatan yang makin mendekatkan hati mereka berdua.