NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nafsienaff

Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.

Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.

Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.

Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.

Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan Sandera dan Topeng yang Retak

Gemerlap lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu memancarkan kemegahan yang membutakan mata. Ratusan tamu dari kalangan elite, pejabat, dan pengusaha papan atas berkumpul, memenuhi ruangan yang didekorasi dengan ribuan bunga mawar putih segar. Alunan musik instrumental gesekan biola terdengar begitu romantis, mengiringi apa yang disebut oleh media massa sebagai 'Pernikahan Dongeng Abad Ini'.

Di atas panggung pelaminan, Senja Amartya berdiri dengan anggun berbalut kebaya pengantin brokat putih gading yang menyapu lantai. Namun, di balik kerudung tile transparan yang menutupi wajahnya, tatapan Senja kosong. Tangannya yang dingin tersembunyi di balik buket bunga lily yang dipegangnya erat-erat.

Beberapa jam lalu, Bara Mahendra telah mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang tegas dan mantap di hadapan penghulu. Detik itu juga, status Senja resmi berubah menjadi seorang istri.

Di sampingnya, Bara berdiri dengan gagah dalam balutan beskap modern berwarna senada. Senyuman pria itu tampak begitu menawan, ramah, dan penuh pesona saat menyalami para kolega bisnis yang datang memberikan ucapan selamat. Siapa pun yang melihat akan mengira Bara adalah pria paling bahagia di dunia yang baru saja memenangkan hati putri seorang konglomerat.

Namun, setiap kali telapak tangan Bara yang hangat dan kokoh menyentuh pinggang Senja untuk keperluan foto bersama, tubuh Senja refleks menegang. Ia bisa merasakan aura dingin yang kontras di balik senyuman artifisial suaminya. Tatapan mata elang Bara yang sesekali meliriknya tidak memancarkan binar cinta, melainkan kilatan kepuasan seorang predator yang baru saja berhasil mengurung mangsanya di dalam sangkar emas.

"Tersenyumlah, Istriku," bisik Bara tiba-tiba, merapatkan tubuhnya ke telinga Senja saat kilatan kamera fotografer mengarah ke mereka. Suaranya begitu lembut di pendengaran orang lain, namun terasa seperti desisan ular di rungu Senja.

"Jangan biarkan ayahmu yang sedang menonton lewat layar rumah sakit melihat wajah sepucat mayat itu. Kita tidak ingin serangan jantungnya kambuh malam ini, bukan?"

Mendengar ancaman terselubung itu, jantung Senja mencelos. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu memaksa sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman palsu yang dipaksakan.

Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya ditahannya mati-matian agar tidak jatuh dan merusak riasan pengantinnya. Demi ayahnya, Senja berjanji pada diri sendiri untuk bertahan melewati sandiwara melelahkan ini.

______________________________________________

Pesta megah itu akhirnya usai saat jarum jam hampir menyentuh angka dua belas malam. Sebuah mobil sedan mewah membawa sepasang pengantin baru itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang, menuju apartemen penthouse pribadi milik Bara.

Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Bara sibuk menatap layar ponselnya, memeriksa laporan pergerakan saham dan pengalihan aset Amartya Group yang kini sudah resmi masuk ke dalam dekapannya.

Sementara Senja hanya mampu menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kota, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di tangan pria asing di sampingnya.

Begitu melangkah masuk ke dalam lantai penthouse, pintu kayu tebal di belakang mereka tertutup dengan bunyi klik yang solid. Detik itu juga, atmosfer di sekitar mereka berubah drastis.

Bara langsung melepaskan jubah beskapnya, melemparkannya ke atas sofa kulit hitam dengan sembarang. Senyuman ramah dan penuh pesona yang ia pamerkan di hadapan ratusan tamu undangan selama berjam-jam tadi lenyap seketika tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah sosok Bara Mahendra yang asli pria yang dingin, kaku, dengan tatapan mata yang dipenuhi kabut kebencian yang pekat.

Senja berdiri mematung di dekat pintu, masih dengan gaun pengantinnya yang berat. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang tiba-tiba menggigil karena hawa pendingin ruangan, atau mungkin karena rasa takut yang mulai menjalar ke ujung-ujung jarinya.

"Masuk ke kamar," perintah Bara datar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Senja. Ia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan cairan whisky ke dalam gelas kaca.

Dengan langkah ragu dan gemetar, Senja menyeret gaunnya menuju kamar utama yang pintunya terbuka setengah. Kamar itu sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang suram.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berukuran king size dengan sprei sutra hitam yang tertata rapi. Tidak ada dekorasi bunga mawar, tidak ada lilin aroma terapi, atau hiasan malam pertama seperti kamar pengantin pada umumnya. Kamar ini terasa asing dan menakutkan bagi Senja.

Senja duduk di tepi ranjang, mencoba melepaskan untaian pin dan sanggul di rambutnya dengan tangan yang gemetar. Beberapa kali tangannya malah menusuk kulit kepalanya sendiri karena terlalu gugup.

Cklek.

Suara pintu kamar yang ditutup dan dikunci dari dalam membuat Senja tersentak. Ia mendongak dan melihat Bara melangkah masuk. Pria itu sudah melonggarkan kemeja putihnya, membuka dua kancing teratas, memperlihatkan gurat lehernya yang kokoh. Di tangannya, gelas berisi minuman keras itu sudah kosong.

Bara berjalan mendekati ranjang perlahan, setiap langkah kakinya terdengar seperti ketukan vonis mati bagi Senja. Ia berhenti tepat di depan Senja, berdiri menjulang tinggi hingga bayangannya menutupi tubuh mungil sang istri.

"Buka penutup kepalamu," ujar Bara, suaranya berat dan tidak menerima bantahan.

Senja mendongak, menatap mata elang Bara dengan pandangan bergetar. "Ma-mas Bara... bolehkah aku ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri?" tanya Senja dengan suara cicitan yang hampir habis.

Bara tidak menjawab. Pria itu justru berlutut dengan satu kaki di depan Senja, membuat wajah mereka kini sejajar. Jarak yang teramat dekat ini membuat Senja bisa mencium aroma alkohol bercampur parfum maskulin yang pekat dari napas Bara.

Tangan Bara yang besar tiba-tiba terangkat, mencengkeram rahang Senja dengan tenaga yang cukup kuat hingga gadis itu memekik tertahan.

"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu, Senja Amartya," bisik Bara, suaranya sedingin es di kutub. Matanya menyipit penuh kebencian yang membara.

"Pernikahan ini bukan awal dari kisah cinta yang indah. Pernikahan ini adalah awal dari hukumanmu."

Senja membelalakkan matanya, rasa sakit di rahangnya tidak sebanding dengan rasa bingung dan takut yang menghantam dadanya.

"Apa... apa maksudmu? Aku sudah memenuhi janjiku untuk menikahimu demi melunasi utang perusahaan Papa. Kenapa kau... sekejam ini?"

Bara tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar mengerikan di keheningan malam. Ia melepaskan cengkeramannya pada rahang Senja dengan sentakan kasar, membuat wajah gadis itu teralih ke samping.

Bara kemudian berdiri, merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kalung perak usang dengan liontin berbentuk hati yang penyok. Ia melempar kalung itu tepat ke pangkuan gaun pengantin Senja.

"Lihat benda itu," desis Bara.

"Lima belas tahun lalu, ibuku memakai kalung itu saat dia merenggang nyawa di dalam mobil yang disabotase. Dan tahu siapa yang merancang kecelakaan itu demi menguasai seluruh saham Mahendra Group milik keluargaku?"

Bara maju selangkah, menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Senja yang mulai dipenuhi air mata.

"Ayahmu. Darma Amartya. Pria tua bangka yang kau agung-agungkan sebagai malaikat itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin!"

Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Senja mendadak lemas dan mati rasa. Kepalanya berputar hebat mendengar untaian kalimat yang keluar dari mulut Bara.

"Tidak... itu tidak mungkin... Papa tidak mungkin melakukan hal sekeji itu! Kau bohong!" teriak Senja histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Aku punya semua buktinya, Senja! Dan aku menghabiskan lima belas tahun hidupku di dalam neraka hanya untuk kembali dan membalas dendam," Bara mencengkeram kedua bahu Senja, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang memerah menahan amarah masa lalu.

"Membunuh ayahmu terlalu mudah. Dia harus melihat miliknya yang paling berharga satu-satunya putri tunggalnya hancur perlahan-lahan di tanganku. Kau di sini bukan sebagai seorang istri, Senja. Kau di sini sebagai sandera, sebagai alat bayar atas darah orang tuaku yang tumpah lima belas tahun lalu."

Air mata Senja tumpah ruah, membasahi pipi dan merusak seluruh riasan pengantinnya yang indah. Dunianya runtuh seketika di malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya. Pria yang ia kira hanya seorang pebisnis kejam yang memanfaatkan keadaan, ternyata adalah sesosok monster yang menyimpan dendam kesumat pada keluarganya.

Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa dirinya hanyalah pion dalam papan catur balas dendam yang rumit ini.

Bara melepaskan cengkeramannya pada bahu Senja, lalu berdiri tegak sembari merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia menatap dingin ke arah istrinya yang kini menangis tergugu, meringkuk di atas ranjang dengan gaun pengantin yang tampak menyedihkan. Tidak ada setitik pun rasa iba di hati Bara saat melihat kerapuhan gadis itu. Baginya, setiap tetes air mata Senja adalah cicilan dari rasa sakit yang ia tanggung selama belasan tahun.

"Menangislah sepuasmu malam ini, Senja," ucap Bara datar sembari berjalan menuju pintu kamar.

"Mulai besok, hidupmu di rumah ini tidak akan pernah sama lagi. Jangan pernah berharap mendapatkan cinta atau kehangatan dari ruangan ini, karena bagiku, kau tidak lebih dari sekadar anak dari seorang pembunuh."

Bara melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan dentuman keras, meninggalkan Senja sendirian di dalam kegelapan malam pertama mereka yang dipenuhi oleh gema tangis keputusasaan dan dinginnya jerat dendam yang baru saja dimulai.

Bersambung

1
sri susanti
semoga olivia dpt balasan yg setimpal,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!