NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kantin rumah sakit siang itu seramai pasar malam. Bau soto ayam bercampur dengan aroma obat dari seragam para tenaga medis yang berlalu-lalang. Di sudut paling ujung, jauh dari pantauan konsulen dan perawat senior, Cia menelungkupkan wajahnya di atas meja, di antara tumpukan rekam medis dan gelas es teh manis yang sudah mencair.

"Gue rasa, gue bakal gila sebelum lulus spesialis," suara Cia terdengar teredam dari balik lengannya.

Nayla, yang duduk di seberangnya, hanya memutar bola mata sambil menyendok kuah bakso. Sahabat Cia sejak awal masa koas itu tampak sama sekali tidak bersimpati. "Lebay lo. Lagian, dijodohin sama Kapten TNI ganteng kok malah kayak mau dikirim ke garis depan perang dunia ketiga."

"Ganteng dari Hongkong?!" Cia mengangkat wajahnya dengan cepat. Rambutnya berantakan, dan ada jejak merah di pipinya karena terlalu lama menempel di meja. "Dia itu kanebo kering, Nay! Kaku, dingin, arogan, nyebelin! Dia natap gue seolah-olah gue ini rekrutan gagal yang siap disuruh push-up lima ratus kali!"

Rania, dokter muda senior yang duduk di samping Nayla, terkekeh pelan sambil mengelap mulutnya dengan tisu. Sosoknya yang anggun dan dewasa selalu menjadi penyeimbang di antara Cia dan Nayla yang lebih sering meledak-ledak.

"Tapi Cia, kalau keluarga kamu sampai menjodohkan, berarti pria ini punya kredibilitas yang bagus di mata papa kamu," ucap Rania lembut. "Apalagi tadi kamu bilang, ada utang nyawa? Memangnya papa kamu pernah dinas militer?"

Cia menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan frustrasi. "Itu dia, Mbak! Papa itu arsitek, kerjaannya ngerancang gedung, bukan megang senjata. Kapan ceritanya Papa nyelamatin nyawa tentara? Waktu gue tanya Papa semalam, Papa cuma bilang, 'Nanti kamu akan tahu sendiri dari Ren. Yang jelas, dia pria yang tepat buat kamu.' Ugh! Klise banget!"

"Wah, ini sih fix fiksi banget," Nayla menunjuk Cia dengan ujung garpunya. "Lo bakal masuk ke fase enemies to lovers, Ci. Berawal dari benci, terus pelan-pelan karena sering satu atap, terbiasa melihat dada bidangnya sehabis mandi, terus... aw!"

Cia baru saja menendang tulang kering Nayla dari bawah meja. "Gue lagi panik, jangan ngawur! Nikahnya bulan depan, Nay. Bulan depan! Gue harus fitting baju, foto buku nikah, urus berkas KUA, sambil ngejar target jaga IGD. Gue bisa mati muda."

Rania menepuk pelan punggung tangan Cia yang bersedekap di atas meja. "Jalani saja dulu, Ci. Pria yang terbiasa disiplin dan keras di luar, biasanya punya cara sendiri untuk melindungi hal-hal yang dia anggap berharga. Siapa tahu, kamu adalah 'hal berharga' itu nanti."

Ucapan Rania membuat Cia terdiam. Ia menatap es tehnya yang tinggal air putih hambar. Perkataan Ren malam itu kembali terngiang di telinganya.

Komitmen, rasa hormat, dan tanggung jawab.

Cia menggigit bibir bawahnya. Bisakah ia hidup seumur hidupnya hanya dengan tiga hal itu, tanpa ada cinta di dalamnya?

Dor! Dor! Dor!

Tiga peluru melesat membelah udara, tepat menembus titik tengah target kertas yang berjarak dua puluh lima meter. Bau mesiu menguar tajam di udara panas pangkalan militer.

Ren menurunkan pistol G2 Combat di tangannya, wajahnya sedatar papan sasaran di depannya. Napasnya teratur, tak ada sebulir pun keringat yang menetes meski matahari bersinar terik. Ia mengosongkan magasin, memeriksa senjata, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan presisi.

"Sempurna seperti biasa," puji Bima yang sedari tadi bersandar di tiang pembatas sambil mengunyah permen karet. "Tapi gue perhatiin, tembakan lo hari ini agak lebih agresif dari biasanya. Ada masalah sama calon istri?"

Ren tidak menjawab. Ia meraih handuk kecil dan mengelap tangannya. Pikirannya tanpa sadar melayang pada kejadian tiga hari lalu di ruang tamu keluarga Cia. Ia masih mengingat jelas bagaimana mata bulat gadis itu berkaca-kaca menatapnya, dipenuhi kemarahan dan ketakutan sekaligus.

Ren tahu ia terlalu keras malam itu. Tapi ia tidak tahu cara lain. Di dunianya, tidak ada tempat untuk janji-janji manis yang rentan patah. Ia hanya menawarkan apa yang ia yakini bisa ia tepati.

"Kapten Ren."

Sebuah suara tegas menginterupsi lamunan Ren. Seorang prajurit wanita dengan seragam PDL yang pas di tubuh tegapnya melangkah mendekat. Rambutnya dipotong bob pendek, wajahnya tegas namun memiliki garis kecantikan yang tajam. Lettu Maya Alesha.

"Laporan jadwal patroli perbatasan untuk bulan depan sudah saya revisi, Kapten. Sesuai instruksi," lapor Maya sambil menyerahkan sebuah map.

Ren menerima map itu, membuka halaman pertamanya sekilas, lalu mengangguk. "Kerja bagus, Maya. Pastikan tim Alfa dan Bravo sudah briefing sebelum akhir minggu ini."

"Siap, Kapten," jawab Maya. Namun, alih-alih berbalik pergi, wanita itu tetap berdiri di tempatnya. Matanya menatap Ren dengan sebuah keraguan yang jarang ia perlihatkan. "Saya dengar rumor dari staf administrasi... Kapten sedang mengurus izin cuti menikah untuk bulan depan. Apa itu benar?"

Bima yang berada di dekat mereka tiba-tiba terbatuk pelan, pura-pura sibuk membersihkan kacamata pelindungnya.

Ren menutup map tersebut dan menatap Maya dengan sorot mata yang tetap tenang. "Benar."

Ada jeda sepersekian detik di mana rahang Maya terlihat mengeras, namun wanita itu dengan cepat menutupinya dengan seulas senyum profesional yang nyaris sempurna. "Begitu rupanya. Selamat, Kapten. Saya harap persiapannya lancar."

"Terima kasih."

Maya memberi hormat sekilas, lalu berbalik pergi dengan langkah lebar dan tegas. Bima mendecak pelan melihat punggung Maya yang menjauh.

"Patah hati lagi deh srikandi batalyon kita," gumam Bima. "Lo sadar nggak sih kalau Maya itu udah naruh hati sama lo sejak kita penugasan di Papua dua tahun lalu?"

"Jangan bicara omong kosong, Bima. Maya itu rekan kerja," tegur Ren tajam. Ia melirik jam tangan taktis di pergelangan tangan kirinya. Pukul 14.30. "Saya harus pergi. Ada urusan."

"Urusan komandan, atau urusan calon suami?" goda Bima sambil tersenyum miring.

Ren hanya mendengus pelan sebelum melangkah pergi meninggalkan arena tembak.

Studio foto di pusat kota itu terasa dingin berkat AC yang menyala maksimal, sangat kontras dengan cuaca terik di luar sana. Ren duduk tegak di sofa tunggu, mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang disetrika tanpa cela. Kemeja putih dan latar belakang merah. Persyaratan standar untuk foto buku nikah.

Ia kembali melirik jam tangannya. Pukul 15.15.

Janji temu dengan fotografer adalah pukul 15.00. Di kamus militer Ren Adhyaksa, terlambat lima belas menit sama dengan pengkhianatan terhadap waktu. Jari telunjuknya mulai mengetuk lengan sofa. Tuk. Tuk. Tuk.

Pintu kaca studio tiba-tiba terbuka paksa. Cia menerobos masuk seperti angin puyuh.

Gadis itu terengah-engah, napasnya memburu. Kemeja putihnya sedikit kusut di bagian bawah, rambut sebahunya diikat asal-asalan, dan ada jejak plester medis di jari telunjuknya. Ia menenteng tas jinjing besar yang terlihat seolah bisa memuat batu bata.

"Maaf! Maaf banget, Mas!" seru Cia kepada resepsionis, mengabaikan keberadaan Ren sejenak. "Tadi di jalan ada tabrakan beruntun, ambulans macet, jadi saya harus turun tangan di pinggir jalan buat pertolongan pertama sebelum bantuan datang! Maaf saya telat!"

Ren menghentikan ketukan jarinya. Matanya menatap sosok Cia dari atas ke bawah. Gadis itu jauh dari kata rapi, namun saat melihat noda darah kecil yang mengering di ujung lengan kemeja putih Cia, pandangan Ren berubah. Kemarahannya karena keterlambatan itu menguap begitu saja.

Cia menoleh dan akhirnya melihat Ren. Gadis itu membeku. Raut wajahnya berubah canggung seketika. "K-Kapten. Maaf, saya telat. Saya tahu Anda pasti marah, tapi tadi benar-benar—"

"Duduk," potong Ren, suaranya tenang, tanpa nada menghakimi.

Cia menelan ludah, berjalan kaku dan duduk di ujung sofa yang berlawanan dengan Ren, menyisakan jarak sekitar setengah meter di antara mereka.

Tanpa mengatakan apa-apa, Ren merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah saputangan kain bersih, dan menyodorkannya ke arah Cia.

Cia mengerjap, menatap saputangan itu dan wajah Ren bergantian. "Buat apa?"

"Keringat di dahimu," jawab Ren singkat. "Kita akan difoto untuk dokumen resmi negara. Kamu tidak mungkin difoto dengan wajah mengkilap dan rambut yang terlihat seperti habis lari maraton."

Cia tersipu malu, wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia merebut saputangan itu dengan cepat dan mengelap dahinya, menggerutu tanpa suara. Aroma kayu pinus dan *mint* dari saputangan itu mendadak memenuhi indra penciumannya, membuat jantungnya berdegup aneh.

"Silakan, Mas, Mbak. Studionya sudah siap," panggil staf fotografer dari dalam ruangan berlatar kain merah terang.

Ren berdiri lebih dulu, melangkah masuk dengan tegap. Cia mengekor di belakangnya dengan langkah enggan. Dua kursi kayu kecil telah disiapkan berdampingan.

"Oke, silakan duduk berdekatan. Punggung tegak, pandangan lurus ke kamera," arah sang fotografer, seorang pria berkacamata yang tampak antusias.

Cia duduk perlahan. Bahu kanannya bersentuhan ringan dengan lengan kiri Ren. Tubuh Cia refleks menegang seperti tersengat listrik. Pria di sebelahnya ini terasa begitu padat dan kokoh.

"Aduh, Mbak, Mas... ini mau foto nikah lho, bukan foto KTP tersangka," protes fotografer itu dari balik lensanya. "Kaku banget! Mbaknya tolong senyum sedikit, jangan kayak mau nangis gitu. Dan Masnya... agak rileks rahangnya. Nggak ada musuh di sini."

Cia mencoba tersenyum, namun yang keluar hanyalah ringisan kaku yang menyedihkan. Jantungnya berdebar terlalu kencang karena gugup. Berada sedekat ini dengan Ren entah kenapa menguras seluruh oksigen di sekitarnya.

Tiba-tiba, Ren bergerak.

Pria itu menolehkan kepalanya sedikit ke arah Cia. Tangan besarnya yang hangat terangkat, jari-jarinya yang kasar namun berhati-hati menyentuh kerah kemeja Cia yang ternyata terlipat ke dalam. Dengan gerakan efisien, Ren membetulkan lipatan kerah itu, lalu ibu jarinya secara tidak sengaja menyentuh kulit leher Cia saat ia menarik sehelai rambut gadis itu yang terjebak di kerahnya.

Sengatan kecil menjalari leher Cia, membuat napasnya tertahan. Matanya melebar menatap wajah Ren dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat bulu mata pria itu, dan sebuah bekas luka pudar di pelipis kirinya.

"Napas," bisik Ren pelan, nyaris seperti embusan angin. "Kamu menahan napasmu."

Ren menoleh kembali ke arah kamera, ekspresinya kembali tenang seperti air danau. Namun interaksi sekian detik itu sukses meruntuhkan dinding pertahanan Cia. Wajah gadis itu memerah alami, matanya sedikit membulat terkejut, namun postur tubuhnya tak lagi sekaku sebelumnya.

Jepret!

Kilat blitz kamera menyala.

"Nah! Itu baru bagus! Natural sekali," puji fotografer puas.

Setelah sesi foto yang terasa seperti berjam-jam itu selesai, mereka berdua berjalan menuju tempat parkir di rubanah gedung studio. Suasana kembali hening dan canggung.

Cia meremas tali tasnya. Ada satu pertanyaan yang menari-nari di otaknya sejak makan malam tempo hari, dan ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Rasa penasarannya sebagai calon dokter sudah mencapai titik didih.

"Kapten," panggil Cia saat mereka berhenti di depan sebuah mobil Jeep Wrangler hitam milik Ren.

Ren yang baru saja akan membuka pintu mobil, menoleh. "Ya?"

Cia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Malam itu... Kapten bilang Papa pernah menyelamatkan nyawa Kapten. Saya sudah tanya Papa, tapi beliau tidak mau jawab. Saya rasa, sebagai orang yang hidupnya tiba-tiba dibajak oleh perjodohan ini, saya berhak tahu alasannya. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Mata elang Ren menatap Cia dalam-dalam. Ada keheningan yang cukup lama, ditemani suara dengung mesin mobil yang melintas di rubanah. Ekspresi Ren berubah menjadi sesuatu yang sangat serius, kelam, dan tertutup. Tembok baja yang baru saja sedikit retak di studio tadi, kembali terbangun kokoh.

"Itu bukan cerita yang pantas didengar di tempat parkir, Cia," jawab Ren dengan suara baritonnya yang berat.

"Kalau gitu ceritakan kapan pun Kapten mau!" tantang Cia, mulai frustrasi. "Saya berhak—"

Ucapan Cia terpotong oleh suara dering telepon yang sangat nyaring dari saku celana Ren. Nada dering khusus.

Ren meraih ponselnya. Melihat nama yang tertera di layar, rahangnya seketika mengeras. Ia mengangkat panggilan itu. "Siap, Komandan. Adhyaksa di sini."

Cia terdiam, memperhatikan perubahan drastis pada pria di depannya. Dalam hitungan detik, sosok calon suami yang baru saja membantunya merapikan kerah baju itu menghilang tanpa sisa. Digantikan oleh seorang tentara yang siap membunuh atau terbunuh. Udara di sekitar Ren mendadak terasa dingin dan mengancam.

Ren mendengarkan arahan dari seberang telepon. Matanya menatap lurus ke dinding beton parkiran dengan intensitas yang mematikan.

"Siap. Saya akan segera merapat ke markas. Estimasi waktu dua puluh menit."

Ren mematikan sambungan telepon. Ia membalikkan badan menatap Cia. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi, sorot matanya tajam dan tidak bisa diganggu gugat.

"Saya harus pergi sekarang. Status Siaga Satu. Ada kontak senjata di area operasi perbatasan timur dan beberapa rekan kami terluka parah. Saya yang memimpin tim backup malam ini."

Cia terpaku. "K-ke perbatasan? Maksudnya... perang?"

"Masuk ke mobilmu dan pulanglah dengan hati-hati. Kunci pintu apartemenmu," perintah Ren mutlak, mengabaikan pertanyaan Cia yang diliputi ketakutan.

Tanpa menunggu balasan, Ren masuk ke dalam Jeep-nya, menyalakan mesin yang mengaum garang, dan melesat pergi meninggalkan Cia yang berdiri mematung sendirian di rubanah yang temaram.

Untuk pertama kalinya, Cia sadar. Perjodohan ini bukan sekadar tentang perbedaan sifat atau kehilangan kebebasan. Ini tentang menyerahkan hatinya kepada pria yang hidupnya selalu berada di ujung peluru. Dan itu jauh lebih menakutkan dari apapun yang pernah ia bayangkan.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!