NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Detak Jantung Pertama

Dan di sudut pandangnya, sisa cahaya biru Sistem Modifier berkedip tipis, seperti mata yang baru terbuka sepenuhnya.

“Jantung berhenti!”

Suara anestesi menghantam ruang operasi seperti alarm kebakaran.

Beberapa tangan bergerak bersamaan. Perawat mengambil defibrillator. Perfusionist bersiap menaikkan kembali dukungan mesin jantung paru. Dokter Fajar maju setengah langkah, tapi Ardi sudah lebih dulu meletakkan needle holder ke tray.

“Jangan naikkan bypass penuh,” kata Ardi.

Nada suaranya tidak tinggi.

Justru karena terlalu tenang, semua orang menoleh.

“Ardi?” Fajar menatap monitor yang hampir datar. “Kita kehilangan irama.”

“Bukan kegagalan graft. Ini aritmia karena transisi tekanan terlalu cepat.” Ardi menekan dua jari ke area jantung kecil itu, merasakan getaran samar yang hampir hilang. “Kalau kita naikkan bypass penuh sekarang, aliran baliknya bisa merusak sambungan posterior.”

“Tapi kalau dibiarkan, dia henti jantung.”

“Saya tahu.”

Satu detik.

Dua detik.

Di luar kaca, Hendro sudah bergerak mendekat. Wajahnya pucat, tapi di matanya ada kilatan gelap, kilatan orang yang melihat musuhnya hampir jatuh ke jurang.

Ardi tidak melihatnya.

Semua pengetahuan Lanjutan yang baru saja masuk ke kepalanya bekerja seperti peta hidup. Ia melihat bukan hanya jantung Livi yang diam, tapi juga aliran yang seharusnya lewat, titik tekanan yang terlalu tajam, dan satu simpul kecil pada anastomosis yang membuat irama baru itu tersandung.

“Adrenalin mikro. Siapkan defibrillator energi rendah,” katanya. “Pak Fajar, tolong pegang suction di sini. Jangan sentuh jahitan posterior.”

Fajar hanya ragu sepersekian detik.

Lalu ia mengangguk. “Ikuti dia.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali bergerak.

Ardi mengambil forceps halus. Tangannya masuk ke area yang nyaris tidak memberi ruang untuk kesalahan. Ia tidak bisa membongkar ulang sambungan. Tidak ada waktu. Ia hanya perlu membebaskan sedikit tarikan pada tepi pembuluh, cukup agar aliran pertama tidak menghantam dinding rapuh seperti palu.

“Energi?”

“Siap, Dok.”

“Tunggu.”

Ardi menarik benang seperempat milimeter.

Seperempat milimeter yang menentukan hidup mati.

“Sekarang.”

Tubuh Livi tersentak kecil.

Garis EKG melompat liar, lalu jatuh lagi.

“Belum,” kata anestesi, suara mulai pecah.

“Sekali lagi. Energi sama. Jangan naikkan.”

“Dokter Ardi, saturasi turun!”

“Sekali lagi.”

Defibrillator menyala.

Tubuh kecil itu tersentak untuk kedua kalinya.

Satu detik kemudian, garis di monitor bergerak.

Bukan garis kuat. Bukan irama sempurna. Hanya gelombang kecil, ragu-ragu, seolah jantung itu sendiri belum yakin apakah ia berani kembali.

Beep.

Semua orang membeku.

Beep.

Ardi menahan napas.

Beep.

“Irama sinus kembali,” bisik anestesi. “Lemah, tapi kembali.”

Di bawah lampu operasi, jantung Livi berdenyut.

Kecil.

Rapuh.

Hidup.

Tidak ada yang bersorak. Belum. Semua orang terlalu takut jika suara mereka membuat keajaiban itu pecah. Ardi melanjutkan koreksi sambungan, menutup kebocoran mikro, menyesuaikan tekanan bertahap, dan mengarahkan tim seperti orang yang sejak awal memang diciptakan untuk berdiri di meja itu.

Waktu kehilangan bentuk.

Satu jam menjadi serangkaian angka di monitor. Dua jam menjadi keringat di balik masker. Tiga jam menjadi benang, darah, suction, instruksi pendek, dan tatapan Fajar yang semakin lama semakin sulit menyembunyikan keterkejutannya.

Ketika mesin jantung paru akhirnya dilepas sepenuhnya, tidak ada penurunan tekanan.

Ketika perdarahan diperiksa, tidak ada kebocoran besar.

Ketika dada Livi ditutup sementara untuk observasi, monitor menunjukkan irama yang stabil.

Beep.

Beep.

Beep.

Suara itu sederhana, tapi bagi Ardi, itu seperti pintu besi lapas yang terbuka untuk kedua kalinya.

Perawat instrumen yang sejak tadi menahan napas akhirnya berbisik, “Alhamdulillah...”

Satu orang menyusul. Lalu yang lain.

Ruangan operasi yang dingin mendadak dipenuhi napas lega yang tertahan terlalu lama.

Fajar melepas sarung tangan luarnya dan menatap Ardi. Di balik masker, matanya merah karena lelah dan sesuatu yang lebih dalam.

“Kamu...” Ia berhenti, mencari kalimat yang masuk akal. “Sejak kapan kamu bisa melakukan itu?”

Ardi merasakan panel biru samar muncul di tepi pandangnya.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Selesai!】 ║

║ Transplantasi Jantung Darurat ║

║ ║

║ Hadiah: +10 PM ║

║ Saldo: 10 PM ║

║ ║

║ Bonus: Buku Skill Kosong x1 ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Dadanya bergetar.

Ini nyata.

Sistem itu nyata.

Ia menunduk, pura-pura memeriksa catatan akhir operasi agar tidak ada yang melihat perubahan di wajahnya. “Saya pernah membaca beberapa laporan kasus, Pak.”

Fajar menatapnya.

“Laporan kasus tidak mengajari tangan seseorang bergerak seperti itu.”

Ardi tidak menjawab.

Fajar tidak memaksa. Mungkin karena masih banyak staf di ruangan itu. Mungkin karena Livi masih harus dibawa ke ICU. Mungkin juga karena sebagai dokter, ia tahu ada beberapa keajaiban yang lebih baik disimpan dulu sampai pasien melewati masa kritis.

Pintu ruang operasi terbuka menjelang subuh.

Hartono berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangnya terdorong. Pria itu tampak seperti sudah menua sepuluh tahun dalam satu malam. Kemejanya kusut. Matanya merah. Di tangannya ada tasbih kecil yang sejak tadi ia genggam tanpa sadar.

“Dokter?”

Fajar melepas masker. “Operasi selesai. Kondisi masih kritis dan harus dipantau ketat di ICU, tapi jantungnya sudah berdetak stabil.”

Hartono terdiam.

Seolah kalimat itu terlalu besar untuk langsung masuk ke kepalanya.

Lalu bahunya turun.

Ia menutup wajah dengan satu tangan. Tidak ada tangis keras. Hanya napas yang pecah, napas seorang ayah yang baru saja melihat anaknya dikembalikan dari tepi jurang.

“Alhamdulillah,” bisiknya. “Alhamdulillah...”

Brankar Livi didorong keluar menuju ICU. Hartono berjalan di sampingnya, tapi sebelum melewati Ardi, ia berhenti.

“Anda yang tadi memegang operasi?”

Koridor mendadak hening.

Beberapa perawat menoleh. Hendro berdiri tidak jauh dari dinding, wajahnya gelap. Ia jelas mendengar.

Fajar membuka mulut, mungkin hendak menjelaskan struktur tim dan tanggung jawab DPJP, tapi Hartono sudah menatap langsung ke Ardi.

Ardi memilih jawaban yang aman. “Saya membantu di bawah tanggung jawab Dokter Fajar.”

Hartono memandang Fajar.

Fajar diam satu detik, lalu berkata, “Kalau Dokter Ardi tidak ada di meja tadi, Livi mungkin tidak melewati operasi.”

Kalimat itu jatuh di koridor seperti palu.

Hendro menunduk, rahangnya mengeras.

Hartono kembali menghadap Ardi. Pria yang biasa membuat direktur perusahaan berdiri saat ia masuk ruangan itu tiba-tiba membungkuk.

Cukup dalam.

“Dokter Ardi,” katanya dengan suara bergetar, “Anda menyelamatkan satu-satunya harta saya.”

Ardi refleks maju setengah langkah. “Pak Hartono, tidak perlu seperti itu. Saya dokter.”

“Justru karena Anda dokter, saya harus berterima kasih dengan benar.” Hartono mengangkat wajah. Matanya basah, tapi sorotnya sudah kembali tajam. “Mulai hari ini, kalau Anda membutuhkan sesuatu yang masih bisa dilakukan manusia, hubungi saya.”

Hendro mendengar itu.

Dan untuk pertama kalinya, wajahnya bukan hanya iri.

Ada takut tipis di sana.

Ardi tidak langsung menerima janji itu. Ia tahu orang besar tidak pernah memberi kalimat seperti itu tanpa bobot. Tapi ia juga tahu hidupnya tidak lagi berada di posisi yang bisa menolak semua tangan yang datang.

“Saya hanya ingin Livi melewati masa kritis dulu,” katanya.

Hartono menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Baik. Kita bicarakan setelah anak saya bangun.”

ICU menelan brankar Livi di balik pintu kaca.

Fajar menepuk bahu Ardi. “Pulanglah sebentar. Kamu sudah berdiri sejak malam.”

“Saya bisa tunggu.”

“Itu perintah, bukan saran. Kamu tenaga kontrak, ingat? Jangan mati sebelum SIP kamu kembali.”

Humor kering itu membuat beberapa perawat tersenyum lelah. Ardi pun hampir tersenyum, meski hanya sebentar.

Ia mengambil barang dari loker. Foto Gatra dan Sari masih di sana, terlipat aman. Ketika jarinya menyentuh kertas itu, panel biru kembali muncul, lebih jinak daripada di ruang operasi.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【SISTEM MODIFIER】 ║

║ ║

║ Status Pengguna: Ardi Pratama ║

║ Poin Modifikasi: 10 PM ║

║ ║

║ Skill Aktif: ║

║ ▸ Transplantasi Jantung Paralel ║

║ Kiri - Lanjutan ║

║ ║

║ Inventaris: ║

║ ▸ Buku Skill Kosong x1 ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menutup mata sesaat.

Selama dua tahun, ia hanya punya kenangan, utang, dan nama buruk.

Sekarang ia punya sesuatu yang tidak dimiliki Hendro, tidak diketahui Dewi, dan tidak bisa dirampas Rangga Pradana dengan laporan palsu.

Senjata.

Tapi senjata ini bukan untuk membunuh.

Senjata ini untuk menyelamatkan orang, mengembalikan namanya, dan menjemput anak-anaknya pulang.

Langit Surabaya mulai kelabu ketika Ardi sampai di kost. Lorong sempit itu masih lembap. Bau kopi sachet dari kamar sebelah bercampur dengan deterjen murah. Dunia di luar rumah sakit tampak terlalu biasa setelah semalaman melihat seorang anak hampir mati.

Ia masuk kamar, mengunci pintu, lalu duduk di tepi kasur.

Kakinya baru terasa lemas.

Tangannya gemetar sedikit setelah semua ketegangan lepas. Ia menatap telapak tangannya lama-lama. Tangan yang sama pernah diborgol. Tangan yang sama tadi memegang jantung seorang anak dan menariknya kembali dari garis datar.

Panel Sistem Modifier melayang sunyi di depannya.

“Poin Modifikasi,” gumamnya. “Buku Skill Kosong. Upgrade skill.”

Ia tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena hidupnya tiba-tiba menjadi lebih tidak masuk akal daripada fitnah yang dulu menghancurkannya.

Di meja kecil, foto Gatra dan Sari ia tegakkan bersandar pada gelas plastik.

Gatra tersenyum lebar dalam foto itu. Sari memegang baju kakaknya dengan tangan kecil.

Ardi menyentuh bingkai foto murah itu dengan ujung jari.

“Ayah sekarang punya senjata, Nak,” katanya pelan. “Tunggu Ayah sedikit lagi.”

Ponselnya bergetar.

Pesan dari rumah sakit.

Livi stabil di ICU.

Belum sempat Ardi membalas, panel biru di depannya berkedip lagi.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Baru Terdeteksi!】 ║

║ Misi Perak: Luka Wajah Sang Bintang║

║ ║

║ Target: Rania Ayu ║

║ Kondisi: Cedera wajah akibat ║

║ kecelakaan lokasi syuting ║

║ ║

║ Hadiah: 20 PM + Bakat Pasif ║

║ Batas Waktu: 6 jam ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menatap panel itu.

Di luar, azan Subuh mulai terdengar dari masjid kecil ujung gang.

Ia belum tidur. Tubuhnya nyaris runtuh.

Tapi untuk pertama kalinya setelah keluar dari neraka, rasa lelah itu tidak terasa seperti kekalahan.

Itu terasa seperti awal.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!