NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suasana di ruang tamu kediaman Kiai Ahmad Bashir berubah menjadi sebuah pengadilan takdir yang dingin. Bau asap kemenyan yang entah dari mana asalnya—mungkin sisa pembakaran sampah di belakang—berbaur dengan aroma melati yang mulai layu di atas meja. Penghulu dari KUA setempat, Pak Mansyur, datang dengan tas kulit kusamnya, tampak bingung melihat situasi darurat yang menimpa ustadz paling berpengaruh di wilayah itu.

Di tengah ruangan, sebuah meja kayu jati dialasi kain putih seadanya menjadi saksi bisu. Fatih duduk di satu sisi dengan punggung tegak, namun wajahnya sekeras karang. Di sisi lain, Bella duduk menunduk, tenggelam dalam mukena putih Umi Fatimah yang kebesaran.

Bella sengaja tidak menyebutkan nama aslinya. Nama itu—Wulan Salsabilla—terlalu suci untuk ia bawa ke meja yang penuh dengan kebencian ini. Baginya, Wulan sudah mati bersama kain cadar yang robek saat ia diseret ayah tirinya ke tangan Barja. Nama itu adalah janji yang tak pernah terpenuhi; sebuah janji masa remaja yang ia titipkan pada seorang santri cungkring bernama Abbas sepuluh tahun lalu di Tasikmalaya.

“Biarkan nama Bella yang menanggung noda ini,” batinnya perih. Namun, ketika diminta menyebutkan bin-nya, lidahnya tak kuasa membohongi darah yang mengalir. Ia tetap menggunakan nama lelaki yang paling ia cintai di dunia ini.

"Saya, nikahkan Bella binti almarhum Darman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas sepuluh gram, dibayar tunai!" Pak Lurah Subrata membuka ijab, bertindak sebagai wali hakim karena Bella menyatakan tidak memiliki wali lelaki yang sah.

Deg.

Nama itu menghantam ulu hati Fatih. Darman. Ingatannya melesat ke sepuluh tahun silam, ke sebuah gubuk sederhana di pinggiran sawah Tasikmalaya. Ia teringat pada Abah Darman, seorang petani bersahaja yang pernah menepuk pundaknya saat ia masih menjadi santri cungkring yang tengil.

"Nak Abas, jika kamu benar suka pada anak Abah... tunggulah sampai kamu lulus pesantren. Baru kamu datang lagi ke sini bawa orang tuamu untuk melamar," suara itu masih terngiang, begitu tulus dan hangat.

Namun, takdir memutus segalanya. Setelah lulus, Fatih kembali ke Jakarta untuk berdakwah, dan saat ia mencoba mencari kembali keluarga itu, rumah Abah Darman sudah kosong. Ambu Nengsih dikabarkan menikah lagi dan pindah entah ke mana membawa putri cantiknya yang selalu bercadar itu.

*"Apakah ini Darman yang sama? Tidak mungkin...

Banyak nama Darman di negeri ini..gadis cadar itu tidak mungkin menjadi wanita malam ini,"* batin Fatih menolak keras kenyataan.

"Nak... kenapa diam?" Bisikan lembut Abi Ahmad Bashir menyentak lamunan Fatih. Sang Kiai menatap putranya dengan tatapan yang menyejukkan namun menuntut. "Bismillah, Nak. Ini mungkin takdir terbaik yang diberikan Allah untuk menyelamatkan sebuah nyawa."

Fatih menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan gadis bercadar dari masa lalunya. Ia mengangguk pelan, meski tangannya di atas meja mulai mendingin.

Pak Lurah mengulang kembali ijabnya, suaranya mantap memenuhi ruangan yang kini dikepung keheningan.

"Saya terima nikahnya saudari Bella binti almarhum Darman dengan mas kawin tersebut, tunai!" jawab Fatih dalam satu tarikan napas. Suaranya bergetar , namun lantang walau hampa dari rasa cinta.

"Bagaimana saksi?" Pak Penghulu melirik ke arah Kiai Bashir, Lukman, Pak RT, dan seorang perangkat desa lainnya.

"Sah!"

"Sah!"

Doa penutup dibacakan. Suaranya mengalun rendah, memohon keberkahan pada sebuah pernikahan yang lahir dari sebuah bencana. Fatih menghembuskan napasnya dengan kasar, seolah ingin membuang seluruh beban yang mendadak menindih bahunya.

Sementara itu, di balik kain mukena, Bella memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa hidupnya adalah sebuah lelucon kejam dari semesta. Mengapa takdir terus menghantamnya tanpa jeda?

Dulu ada Abah Darman yang melindunginya dengan doa dan pelukan hangat. Namun Abah dipanggil Yang Maha Kuasa terlalu cepat. Ibunya,Ambu Nengsih, yang kesehatannya terus merosot setelah dua tahun menikah dengan Dahlan, akhirnya menyusul Abah. Dahlan, sosok yang tadinya tampak baik dan sopan, berubah menjadi monster setelah kepergian Ambu. Dunia hitam—mabuk, judi online, dan hutang yang menumpuk—membuatnya gelap mata hingga tega menjual Bella ke tangan Barja, germo paling biadab di kota ini.

Dan kini, setelah berhasil kabur dari lubang jarum, ia justru terjerat dalam pernikahan dengan "orang asing" yang menatapnya seperti menatap kotoran.

Di sudut ruangan, Lukman berdiri dengan senyum yang tersembunyi di balik telapak tangannya yang seolah-olah sedang mengusap wajah setelah doa. Matanya melirik ke luar jendela, ke arah mobil Pak Lurah di mana Nadia kemungkinan masih menangis di dalamnya.

"Neng Nadia... abang yang sekarang akan menggantikan Fatih di hatimu. Biarkan Fatih bahagia bersama perempuan itu," batin Lukman penuh kemenangan.

Lukman melangkah mendekati Fatih, menepuk bahunya dengan akting prihatin yang sempurna. "Sabar, Fatih. Ini ujian besar buat ustadz sepertimu. Tapi tenang saja, sesuai bisikanku tadi... ini hanya sementara. Setelah warga tenang, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."

Fatih hanya menatap Lukman dengan pandangan kosong. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menjalani "permainan" ini.

Setelah prosesi selesai, Pak Lurah dan perangkat desa berpamitan untuk menemui warga di depan pagar dan memberikan "klarifikasi" resmi. Ruang tamu itu kini hanya menyisakan keluarga inti.

"Fatih, bawa istrimu ke kamar tamu atas," ujar Umi Fatimah dengan suara lembut namun tidak bisa dibantah. "Zahra, bantu siapkan pakaian ganti yang lebih pantas untuk kakak iparmu."

Zahra mendengus pelan, menatap Bella dengan rasa sinis yang tak bisa disembunyikan. "Iya, Umi. Mari... Mbak Bella."

Bella berdiri dengan terhuyung. Saat melewati Fatih, langkahnya terhenti sejenak. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin berteriak bahwa dia bukan wanita kotor seperti yang Fatih bayangkan, namun lidahnya kelu. Kebencian di mata Fatih terlalu pekat.

"Jangan pernah berharap lebih dari pernikahan ini," desis Fatih saat Bella berada tepat di sampingnya. Suaranya begitu rendah sehingga hanya Bella yang bisa mendengar. "Kamu hanya tamu tak diundang yang merusak jalan dakwahku."

Bella tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan mengikuti Zahra menuju tangga, meninggalkan Fatih yang meremas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Di luar, Mpok Wati tampak tidak puas saat Pak Lurah mengumumkan bahwa Fatih dan perempuan itu sudah sah menikah.

"Lho, Pak Lurah! Kok cepat sekali?! Jangan-jangan ini cuma buat nutupin malu doang!" teriak Wati.

"Sudah, Bu Wati! Semuanya sudah jelas. Urusan keluarga Pak Kiai bukan konsumsi umum lagi. Bubar semua!" bentak Pak Lurah tegas.

Mpok Wati meludah ke tanah setelah Pak Lurah pergi. "Cuih, lihat saja nanti. Siapa yang tahan punya menantu mantan lonte. Jalal, kamu tetap dekati Nadia. Dia lagi hancur hati, itu peluangmu!"

Jalal, anak Wati yang sedari tadi bersandar di pohon mangga sambil merokok, hanya menyeringai. "Beres, Mak. Lagian siapa yang mau sama ustadz yang sudah 'bekas' pakai sama perempuan malam?"

Malam mulai turun menyelimuti kediaman Bashir. Kamar tamu di lantai atas terasa begitu asing dan dingin bagi Bella. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan daster panjang milik Zahra. Wajahnya yang sudah dibersihkan kini menampakkan kecantikan aslinya—kecantikan yang dulu selalu tersembunyi di balik cadar.

Pintu terbuka. Fatih masuk dengan wajah yang masih sama: penuh permusuhan. Ia membawa sebuah bantal dan selimut, hendak tidur di sofa panjang di pojok kamar.

"Mbak Bella..." Fatih memulai percakapan tanpa menatapnya.

"Nama saya Bella,  panggil saya bella saja atau.." Bella menggantung ingin mengatakan "wulan"

"Terserah. Saya tidak peduli," potong Fatih kasar. "Dengarkan baik-baik. Di depan Abi dan Umi, kita harus terlihat seperti pasangan baru. Tapi di kamar ini, kamu dan saya adalah orang asing. Jangan menyentuh barang-barang saya, dan jangan pernah berharap saya menyentuhmu."

Fatih meletakkan bantalnya di sofa. "Dan satu hal lagi. Siapa orang-orang yang mengejarmu semalam? Saya tidak mau rumah ini dalam bahaya karena urusanmu dengan dunia hitam."

Bella menunduk, mencengkeram ujung dasternya. "Mereka... anak buah Barja. Saya dijual ke sana oleh ayah tiri saya."

Fatih terdiam sejenak. Ada sedikit rasa ngilu di hatinya saat mendengar nama 'ayah tiri' dan 'dijual', namun egonya segera menepis rasa simpati itu. "Dunia malam memang penuh dengan drama seperti itu. Besok, saya akan bicara pada Lukman untuk mencarikanmu tempat tinggal yang jauh dari sini setelah urusan warga reda."

"Anda... akan menceraikan saya?" tanya Bella lirih.

Fatih menoleh, menatap Bella untuk pertama kalinya sejak akad nikah tadi. Matanya yang tajam seolah ingin menembus kerudung Bella. "Bukankah itu yang terbaik? Kamu bebas, dan nama saya kembali bersih."

Bella tidak menjawab. Ia berbaring di tempat tidur, membelakangi Fatih. Air matanya mengalir membasahi bantal. Ia merasa aman, tapi hatinya merasa jauh lebih hancur daripada saat ia berada di tangan Barja.

Di sofa, Fatih juga tidak bisa memejamkan mata. Nama Darman terus berputar-putar di kepalanya.

"Darman... apakah mungkin kamu benar-benar anak Abah Darman?" bisiknya dalam hati. Tidak, tidak mungkin,, wulanku tidak seperti dirimu..!"Ia ingin bertanya dalam hati , namun rasa benci yang dipupuk oleh fitnah warga dan hasutan Lukman membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat.

Tanpa mereka sadari, di balik tembok kamar, Lukman sedang berdiri mendengarkan dengan senyum tipis. Ia tahu, selama Fatih bersama Bella 

 , Nadia akan dapat menjadi miliknya. Lukman akan berusaha agar mereka tetap bersama.

Plot takdir baru saja dimulai, dan benang merah yang menghubungkan mereka sepuluh tahun lalu, kini mulai terjerat dalam simpul yang menyakitkan.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!