Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Sepersekian detik
Tepat di detik Diantha melangkah lebih dalam, mata mereka bertemu..
Hanya sepersekian detik. Waktu seolah melambat dan seluruh keriuhan di sekitar mereka mendadak kabur.
Althaf menatapnya dengan sepasang mata yang tajam namun meneduhkan, sementara Diantha terpaku, terhipnotis oleh kedalaman tatapan itu.
Ada getaran aneh yang belum pernah Diantha rasakan sebelumnya—sebuah kesan mendalam yang langsung terkunci rapat di dalam ingatannya.
Althaf menjadi orang pertama yang memutuskan kontak mata itu dengan sebuah anggukan kecil yang sopan, sementara Diantha buru-buru mengalihkan wajahnya yang mulai terasa memanas, berjalan menuju bangku kosong dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang.
Pertemuan singkat di ruang kelas itu, dalam sepersekian detik tatapan mata yang saling bertaut, menjadi sebuah pandangan pertama yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh Diantha maupun Altaf.
Belum sempat Diantha menata debaran jantungnya, suara langkah sepatu yang tegas terdengar dari arah koridor, seketika membubarkan obrolan di dalam kelas. Seorang pria paruh baya dengan seragam batik rapi dan senyum yang ramah masuk ke dalam kelas. Aura wibawanya langsung membuat seluruh kelas X-1 senyap dan duduk tegak di bangku masing-masing.
"Selamat pagi, anak-anak sekalian. Selamat datang di SMA Negeri 1 Pelita," sapa Pria itu hangat, sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja guru. "Perkenalkan, nama Bapak adalah Pak Gunawan. Bapak yang akan menjadi wali kelas sekaligus pembimbing kalian selama Masa Orientasi Siswa tiga hari ke depan."
Pak Gunawan kemudian menjelaskan rangkaian kegiatan orientasi dengan detail, mulai dari pengenalan visi-misi sekolah, struktur organisasi, hingga tata tertib yang super ketat. Namun, fokus Diantha sesekali buyar. Entah sengaja atau tidak, sudut matanya beberapa kali menangkap sosok Altaf yang duduk di dekat jendela. Cowok itu mendengarkan penjelasan Pak Gunawan dengan seksama, menopang dagunya dengan satu tangan, terlihat begitu tenang dan karismatik bahkan dalam balutan seragam putih-abu-abu yang masih kaku.
"Baiklah, karena ini hari pertama, agenda kita sebelum istirahat adalah perkenalan diri agar kalian saling akrab. Bapak akan panggil berdasarkan absen," lanjut Pak Gunawan sambil membuka buku jurnal kelas.
Satu per satu siswa maju ke depan kelas. Ada yang memperkenalkan diri dengan percaya diri, ada yang gugup hingga salah ucap dan memicu tawa seisi kelas. Hingga akhirnya, Pak Gunawan menyebutkan sebuah nama.
"Althaf Zayn Praditya."
Diantha refleks menegakkan punggungnya. Dari bangku dekat jendela, cowok itu berdiri dan melangkah maju ke depan kelas dengan santai. Langkah kakinya begitu mantap.
"Halo semuanya, perkenalkan nama saya Althaf Zayn Praditya, biasa dipanggil Althaf. Saya lulusan dari SMP Negeri 2 Nusantara. Salam kenal," ucapnya singkat, padat, disertai senyuman tipis yang sama seperti saat mata mereka bertemu tadi.
Seisi kelas—terutama murid-murid perempuan—langsung riuh berbisik-bisik, terpesona oleh pembawaan Altaf.
Setelah beberapa nama berlalu, giliran nama Diantha yang dipanggil. Dengan sedikit gugup, Diantha maju ke depan. Saat ia mulai berbicara, tanpa sengaja matanya kembali berserobok dengan mata Althaf yang ternyata sedang memperhatikannya dari bangkunya. Tatapan itu kembali mengunci fokus Diantha selama sedetik, membuat suaranya agak mencicit di awal sebelum akhirnya ia berhasil menyelesaikan perkenalannya dengan lancar.
Seketika kelas kembali bising. Beberapa siswa mulai berhamburan keluar menuju kantin, sementara yang lain mulai berkerumun membentuk kelompok obrolan baru. Diantha mengembuskan napas lega, merapikan alat tulisnya ke dalam tas, sembari memikirkan apakah ia harus memberanikan diri menyapa cowok di dekat jendela itu saat istirahat ini.