NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3_perceraian

"Tolong urus seluruh akses aset warisan yang selama ini diberikan kepada Arsenio," ucap Elvara dengan suara lantang melalui sambungan telepon.

"Nyonya, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Berry dengan nada terkejut. Raut wajahnya pun berubah pucat karena tidak menyangka akan mendengar perintah seperti itu.

"Kerjakan saja. Dan satu hal lagi, segera hubungi Mr.Raga. Aku ingin dia mengurus proses perceraianku," sahut Elvara dengan nada dingin dan tegas, tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.

Berry adalah asisten pribadi Elvara yang telah bekerja dengannya selama bertahun-tahun. Selama itu pula, ia jarang melihat sang nyonya mengambil keputusan secara mendadak seperti ini. Terlebih lagi, keputusan untuk bercerai.

"Baik, Nyonya. Saya akan segera melaksanakan perintah Anda," jawab Berry dengan hormat.

Tanpa membuang waktu, Berry segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan mencari nomor Mr.Raga, pengacara keluarga yang selama ini menangani berbagai urusan hukum Elvara.

Tut... tut... tut...

Nada sambung telepon terdengar beberapa kali.

Tak lama kemudian, panggilan itu pun dijawab.

"Halo, Tuan Berry. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mr.Raga dari seberang telepon.

"Halo, mr. Raga. Saya menghubungi Anda atas perintah Nyonya Elvara. Beliau meminta Anda untuk segera mengurus proses perceraiannya," ujar Berry dengan nada profesional.

"Apa? Perceraian?" mr.Raga tampak sangat terkejut. "Maaf, apakah saya tidak salah dengar? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Berry menghela napas pelan.

"Maaf, mr.Raga. Saya tidak memiliki wewenang untuk menjelaskan masalah pribadi yang sedang dialami Nyonya Elvara. Saya hanya menjalankan perintah beliau. Selebihnya, saya tidak ingin ikut campur."

"Baiklah, saya mengerti," jawab Pak Raga setelah beberapa saat terdiam. "Kalau begitu, saya akan segera menyiapkan semua dokumen yang diperlukan. Tolong sampaikan kepada Nyonya Elvara agar melengkapi seluruh persyaratan yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan perceraian."

"Baik, mr.Raga. Terima kasih atas bantuannya."

Setelah percakapan itu berakhir, Berry mematikan sambungan telepon.

 Namun, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.

Ia tidak pernah menyangka bahwa rumah tangga yang selama ini terlihat sempurna ternyata berada di ambang kehancuran.

Berry berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Hujan turun perlahan membasahi kaca, menciptakan suasana yang suram.

Di tangannya, sebuah berkas tebal berisi dokumen perceraian yang baru saja diterimanya dari pengacara.

Sejak Elvara memerintahkannya untuk mengurus seluruh aset warisan yang diberikan kepada Arsenio.

Namun, hingga saat ini, Berry masih belum berani menanyakan satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Tentang perceraian itu.

Berry menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil ponselnya. Jarinya bergerak pelan mencari nama Elvara di daftar kontak.

Sesaat ia ragu. Namun setelah beberapa detik, ia menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali.

"Berry?" suara Elvara terdengar dari seberang telepon. Keningnya sedikit berkerut, tatapannya tetap kosong menatap langit yang mendung.

Berry langsung berdiri tegak.

"Nyonya." Ucap Berry, Wajahnya serius dan penuh hormat.

"Ada apa? Apakah ada masalah dengan proses pemindahan aset untuk Arsenio?" Tanya Elvara. Alisnya terangkat tipis, nada suaranya terdengar tenang namun penasaran.

"Tidak, Nyonya. Semua berjalan sesuai perintah Anda." Berry menjawab cepat dengan ekspresi tenang.

"Lalu?" Tanya Elvara. Ia menyipitkan mata pelan, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Berry terdiam sejenak. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai.

"Nyonya... sebenarnya saya ingin membicarakan sesuatu yang lain." Ucap Berry menggigit bibir bawah nya sesaat, terlihat ragu.

Suara Elvara mendadak hening.

"Tentang apa?" Tanya Elvara. Wajah nya berubah datar, tatapannya mulai serius.

Berry menelan ludah.

"Tentang perceraian Anda." Balas Berry, suaranya terdengar hati hati.

Kalimat itu membuat suasana menjadi sunyi. Bahkan suara hujan di luar jendela terasa lebih jelas.

Di sisi lain telepon, Elvara duduk di balkon rumahnya. Secangkir teh hangat di atas meja sudah lama kehilangan uap panasnya.

Tatapannya kosong menembus gelapnya langit sore.

"Jadi, akhirnya kau membahas itu juga." Ucap Elvara pelan penuh kelelahan, matanya menerawang jauh.

"Nyonya..." ucap Berry terlihat canggung, jemarinya mengepal pelan.

"Sampaikan saja apa yang ingin kau katakan." Ucap Elvara, ia menghembuskan napas panjang, wajahnya tampak pasrah.

Berry menghela napas panjang.

"Maaf jika saya lancang. Tapi saya sudah bekerja dengan Anda selama bertahun-tahun. Saya tahu betapa besar perjuangan Anda untuk mempertahankan rumah tangga itu." ucap Berry berbicara tulus dengan suaranya penuh simpati.

Elvara tersenyum tipis.

Senyum yang penuh kepahitan.

"Mempertahankan?" jawab Elvara tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat penuh kepahitan.

"Ya." sahut Berry mengangguk pelan.

"Sebenarnya yang terjadi bukan mempertahankan, Berry. Aku hanya terlalu lama berharap." Ucap Elvara, matanya mulai berkaca kaca.

Berry terdiam.

Elvara melanjutkan.

"Aku berharap dia berubah. Aku ingin dia melihat semua pengorbananku." ucap Elvara, senyumnya perlahan menghilang.

"Aku berharap suatu hari nanti dia menyadari bahwa aku mencintainya. Tapi, ternyata harapan hanya membuatku semakin terluka."lanjut Elvara. Air mata nya mulai mengenang di pelupuk matanya.

Berry mengepalkan tangannya. Selama ini ia melihat semuanya.

Ia melihat bagaimana Elvara selalu mengutamakan suaminya.

Ia melihat bagaimana wanita itu mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harga dirinya demi mempertahankan pernikahan tersebut.

Namun semua itu tidak pernah dihargai.

"Nyonya..." ucap Berry pelan.

"Apakah Anda benar-benar sudah yakin?" Tanya Berry penuh kekhawatiran

Pertanyaan itu membuat Elvara tertawa kecil.

Tawa yang justru terdengar menyedihkan.

"Kalau kau menanyakan itu beberapa tahun lalu, mungkin aku akan menjawab tidak." jawab Elvara tertawa kecil, namun senyumnya terasa menyakitkan.

"Lalu sekarang?" tanya Berry menatap kosong ke depan, menunggu jawaban.

"Aku sangat yakin.” Balas Elvara tegas, tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.

Berry memejamkan mata. Jawaban itu terdengar begitu tegas. Tidak ada keraguan sedikit pun.

"Tapi saya khawatir dengan keadaan Anda." ucap Berry mengernyitkan dahi, wajahnya penuh kecemasan.

Elvara mengangkat wajahnya menatap langit.

"Aku baik-baik saja." Elvara menjawab dengan suara setenang mungkin.

"Anda tidak terdengar baik-baik saja." kata Berry menggeleng pelan dengan tatapan prihatin.

Untuk pertama kalinya, Berry berani membantah.

Elvara tersenyum tipis.

"Kau benar." Balas Elvara sambil menundukkan pandangannya.

Keheningan kembali menyelimuti percakapan mereka.

Beberapa detik kemudian Elvara kembali berbicara.

"Berry." ucap Elvara mengangkat wajahnya perlahan.

"Ya, Nyonya." sahut Berry langsung menjawab dengan siap siaga.

"Apakah kau tahu apa yang paling menyakitkan dari sebuah perceraian?" tanya Elvara. Tatapannya kosong, seolah mengenang sesuatu yang sangat menyakitkan.

Berry menggeleng meskipun Elvara tidak bisa melihatnya.

"Apa itu?" Tanya Berry mengernyitkan dahi penasaran.

"Bukan kehilangan seseorang." ucap Elvara tersenyum pahit.

"Lalu?" Tanya Berry, ia menelan ludah perlahan.

"Menyadari bahwa orang yang selama ini kau perjuangkan ternyata tidak pernah memperjuangkanmu." Jelas Elvara, air mata nya jatuh perlahan dari sudut matanya.

Jantung Berry terasa sesak mendengar kalimat itu. Ia tidak bisa membayangkan berapa banyak luka yang disimpan Elvara selama ini.

"Aku tidak menangis karena kehilangan dia. Aku menangis karena bertahun-tahun hidupku habis untuk orang yang salah." ucap Elvara, ia menutup matanya sejenak, berusaha menahan rasa sakit yang kembali menyeruak.

Air mata perlahan jatuh dari sudut mata Elvara. Namun kali ini tidak ada isak tangis.

Tidak ada ratapan. Hanya keheningan. Keheningan yang lahir dari hati yang sudah terlalu lelah.

Berry menundukkan kepalanya.

"Nyonya..." Ucap Berry. memejamkan mata, dadanya terasa sesak.

"Hm?" sahut Elvara, ia mengusap air matanya dengan ujung jari.

"Setelah semua ini selesai, apa yang ingin Anda lakukan?" Berry bertanya dengan lembut.

Pertanyaan itu membuat Elvara terdiam cukup lama.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia memikirkan hidupnya sendiri. Bukan hidup suaminya, bukan keluarga suaminya, bukan perusahaan suaminya. Melainkan dirinya sendiri.

"Aku ingin hidup." Elvara menjawab dengan suara tenang.

Berry terdiam.

"Aku ingin melakukan semua hal yang selama ini tidak pernah bisa kulakukan." ucap Elvara, matanya mulai berbinar meski masih menyimpan kesedihan.

"Aku ingin bepergian. Aku ingin menikmati pagi tanpa harus memikirkan apakah seseorang akan menghargai keberadaanku atau tidak. Aku ingin bahagia." Lanjut Elvira, wajahnya terlihat lebih tenang saat mengucapkan itu.

Mata Berry mulai memanas. Karena untuk pertama kalinya sejak mengenal Elvara, ia mendengar wanita itu berbicara tentang dirinya sendiri. Bukan tentang orang lain.

"Dan aku ingin kembali ke Amerika” lanjut Elvara, tatapan nya lurus ke depan dengan ekspresi mantap.

Berry langsung terdiam.

Ia sebenarnya sudah menduga hal itu akan terjadi, namun mendengarnya langsung dari Elvira tetap terasa mengejutkan.

“Apakah keputusan itu sudah bulat?” Tanya Berry terkejut, matanya sedikit membesar.

“Sudah.” Elvara menjawab tegas tanpa ragu.

Elvara bangkit dari kursi nya lalu berjalan menuju pagar balkon.

“Aku sudah terlalu lama berada di sini Berry, dan terlalu banyak kenangan yang ingin kutinggalkan.” jelas Elvara, Ia menggenggam pagar balkon erat, sorot matanya penuh keteguhan.

Berry memahami maksud perkataan itu.

Setiap sudut kota ini mengingatkan Elvara pada pernikahan yang gagal, pengkhianatan, dan berbagai luka yang selama ini ia sembunyikan. Mungkin pergi adalah pilihan terbaik.

“Aku ingin pulang menemui orang tua ku, dan tinggal bersama dengan mereka.” ucap Elvara, senyum hangat mulai muncul di wajahnya.

“Aku mengerti, Nyonya.” sahut Berry mengangguk pelan dengan wajah memahami.

“Karena itu, aku membutuhkan bantuanmu.” lanjut Elvara menatap jauh ke depan dengan ekspresi serius.

Berry langsung berdiri tegak.

“Perintahkan saja, Nyonya.” sahut Berry berdiri tegak dengan wajah siapa menerima tugas.

“Tolong urus tiket penerbangan untukku ke Amerika.” ucap Elvara berbicara tenang, namun penuh kepastian.

Berry mengangguk meski tidak terlihat.

“Kapan anda akan berangkat?” Tanya Berry, ia segera mengambil pena dan catatannya.

“Secepatnya” Elvara menjawab singkat.

“Baik nyonya.” sahut Berry, ia mengangguk serius.

“Tolong carikan penerbangan kelas satu. Aku ingin bersantai menikmati perjalanan.” Kata Elvara, Senyum tipis muncul di wajah Elvara.

“Baik nyonya.” jawab Berry mencatat dengan cepat.

“Selain itu, siapkan juga seluruh dokumen perjalananku.” ucap Elvara menegakkan bahunya.

Berry segera mencatat setiap instruksi yang di berikan.

“Paspor, visa, dokumen aset, dan seluruh berkas penting akan saya siapkan.” sahut Berry berbicara penuh keyakinan.

“Bagus.” jawab Elvara mengangguk puas.

“Berry.” panggil Elvara, tatapannya berubah serius.

“Ya, Nyonya.” sahut Berry langsung fokus.

“Jangan beritahu siapa pun tentang rencana keberangkatanku, termasuk Arsenio.” Kata Elvara. mata nya menyipit tajam, menunjukkan keseriusannya.

Berry langsung memahami maksudnya.

“Nyonya tidak ingin Tuan Arsenio menghalangi keberangkatan ini?” Tanya Berry mengangkat alisnya perlahan.

“Tepat sekali.” jawab Elvara tegas.

Tatapan Elvara berubah tajam.

"Aku sudah cukup lama hidup mengikuti keinginan orang lain. Kali ini aku akan menentukan jalan hidupku sendiri.” kata Elvara, sorot matanya tajam dan penuh keberanian.

Mendengar ketegasan itu, Berry merasa lega. Wanita yang selama ini hancur perlahan bangkit kembali.

“Baik, Nyonya. Saya akan segera mengurus semuanya.” sahut Berry tersenyum lega.

“Terima kasih.” Ucap Elvara tulus

“Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya.” Balas Berry tegas.

Elvara tersenyum tipis. Selama bertahun tahun, Berry selalu menjadi orang yang bisa ia percayai.

Bahkan di saat banyak orang mulai meninggalkan, pria itu tetap berdiri di sisinya.

Berry mengangguk pelan.

"Nyonya." Panggil Berry.

"Ya?" Sahut Elvara lembut.

"Saya akan memastikan semua proses perceraian ini berjalan lancar." ucap Berry, tatapannya penuh keteguhan dan kesetiaan.

"Terima kasih, Berry." ucap Elvara. Matanya kembali berkaca kaca, namun kali ini karena rasa syukur.

Elvara menutup matanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Percakapan itu berakhir beberapa menit kemudian.

Berry menurunkan ponselnya perlahan.

Berry kembali melihat catatan yang ada di tangannya. Tiket penerbangan, dokumen perjalanan, semua harus selesai dalam waktu singkat.

Sementara di balkon rumahnya, Elvara memandang langit yang mulai gelap.

Untuk pertama kalinya, kata "perceraian" tidak lagi terdengar menakutkan.

Mungkin memang ada sesuatu yang harus dihancurkan terlebih dahulu agar kehidupan yang baru bisa dibangun.

Dan malam itu, Elvara memutuskan untuk berhenti menangisi masa lalu.

Karena mulai hari ini, ia akan melangkah menuju masa depan yang menjadi miliknya sendiri.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!