NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Dian mendatangi sebuah restoran yang menjadi tempat pertemuannya dengan Joshua. Ia sebenarnya tak ingin bertemu, hanya saja terlalu lama terkurung dalam rumah sangat membosankan apalagi harus melihat wajah orang rumah setiap hari, yang ada itu lebih menjengkelkan baginya. Ia memilih datang lebih awal. Saat tiba di sana, pelayan restoran memberikannya buku menu restoran.

Wah ada koffie latte, aku sangat ingin mencobanya. Nggak apa-apa kan kalau meminumnya sekali-kali.

"Saya pesan koffie latte nya satu ya mbak."

"Baik kak, akan saya siapkan."

5 menit kemudian pesanan datang.

"Ini kak pesanan anda,"

"Makasih ya," Pelayan tersebut pergi meninggalkan Dian yang asik meminum kopi yang di pesannya.

"Nggak apa-apa kan ya, kalau aku memesan minuman nya lebih dulu. Lagian waktu janjian kami tinggal 7 menit lagi. Dan minumannya biar dia pesan sendiri saja."

Beberapa menit kemudian Joshua datang sesuai janji mereka. Ia bisa melihat dari kejauhan kalau Dian sudah ada di sana. Saat mendekat ke arah meja mereka, ia memperhatikan cangkir minuman milik Dian.

Sepertinya gadis ini sudah dari tadi datangnya.

"Kamu dari tadi disini? Apakah lama menunggu ku?"

"Nggak juga sih, santai saja. Lagian aku sangat menikmati waktuku."

"Wah syukurlah. Apa yang kamu minum itu?"

" Koffie latte, aku penasaran sama rasanya dan ingin sekali mencoba."

"Minum koffie sangat buruk bagi kesehatan, seharusnya kamu nggak boleh memesan minuman yang berkafein."

"Siapa yang bilang seperti itu?"

"Aku melihatnya di internet. Dan kata mereka perempuan-perempuan muda dilarang untuk meminum minuman kafein atau pun beralkohol."

"Benarkah begitu, internet mu salah kali. Aku nggak pernah menemukan hal begituan. Lagian ini pertama kali aku meminumnya."

"Ya sudah kalau memang kamu ingin meminumnya, aku nggak akan melarang mu." Joshua akhirnya memesan sesuatu untuk dirinya.

"Kenapa kamu mengajakku untuk bertemu?"

"Aku hanya ingin kita lebih akrab, makanya aku mengajak mu."

"Apa hanya itu alasan mu?"

"Iya, apakah aku harus punya alasan lain."

"Terserah. kamu harus tahu aku adalah wanita yang sangat sulit untuk ditaklukkan apalagi pada pria seperti mu."

"Benarkah? Apa kau akhirnya mengizinkan ku untuk menaklukan mu?"

"Apa? Tidak. Terserah kamu mau mengatakan apa, aku tidak akan membiarkannya. Aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak ingin melakukan perjodohan ini. Aku mohon padamu untuk segera batalkan karena hanya kau yang bisa."

"Apa, kenapa memang nya? Apa orang tua mu memaksamu?"

"Tidak, hanya saja aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Aku tidak ingin mereka sedih kalau tahu aku yang membatalkannya."

Kenapa alasan seperti ini yang keluar dari mulutku sih. Aku dipaksa oleh mereka, aku berkata seolah-olah mengasihani mereka. Si rubah-rubah sialan itu, membuat ku jadi tunduk pada mereka. Aku hanya ingin bertemu dengan adikku tapi mereka tidak pernah memberitahukan dimana dia berada.

"Aku tidak mau membatalkan seenaknya. Apalagi untuk gadis secantik kamu."

"Apa kau kira aku akan termakan sama gombalan mu itu?"

"Aku tidak sedang menggombali dirimu. Memang pada kenyataannya kau cantik."

"Ya karena aku kasihan padamu, maka aku akan menerima pujianmu itu."

"Kamu tahu, awalnya aku juga ingin membatalkan perjodohan kita. Tapi setelah melihatmu, aku menjadi tertarik."

"Apa kamu sedang mengungkapkan perasaanmu?"

"Mungkin seperti itu."

"Aku harap kamu membuang jauh-jauh perasaan mu. Karena aku merasa sangat kasihan padamu."

"Kenapa harus? Dan kenapa aku harus dikasihani?"

"Karena aku punya kekasih. Dan aku sangat mencintainya. Aku melakukan perjodohan ini karena keluarga ku yang menginginkannya."

"Apa kamu yakin begitu? Tapi kurasa kamu berbohong. Kamu mengatakan ini agar aku merubah pikiran ku."

"Aku sama sekali tidak berbohong. Hanya saja saat ini dia lagi bertugas di Amerika. Dan aku tidak bisa menunjukan padamu."

"Kalau gitu fotomu dengannya. Kamu hanya perlu menunjukkan nya."

"Baiklah."

Dian akhirnya menunjukkan fotonya bersama seorang pria yang tampak akrab. Sebenarnya itu temannya, hanya saja dia satu-satunya sahabat Dian. Dan dia memang sedang berkuliah di luar negeri.

Maaf Nathan. Aku meminjam potretmu sebentar. Jangan marah ya.

"Baiklah. Aku akan merebutmu darinya."

"Kamu pede sekali. Percuma saja. Hanya Dia-lah orang yang kusuka."

"Aku serius. Aku akan membuatmu suka padaku."

Percuma saja aku menolaknya. Dia sangat keras kepala. Lama-lama aku bisa gila terlalu lama bersama dengan nya. Sebaiknya aku pergi saja.

"Aku rasa pembicaraan kita ini tidak ada artinya sama sekali. Sepertinya aku harus kembali sekarang. Permisi!"

Joshua menahannya.

"Aku sangat yakin bisa membuatmu suka padaku, bahkan sebelum kekasihmu itu kembali."

Dian menepis tangan pria tersebut dan berjalan pergi meninggalkan restoran.

Setelah malam itu bertemu, entah kenapa akhir-akhir ini mereka sering bertemu. Namun Dian merasa pria itu sengaja mengikutinya. Dian selalu menghindar darinya bahkan sebelum dia datang mendekati dirinya.

"Apa sih maunya pria itu. Padahal hari ini aku punya janjian dengan teman-temanku."

Dian janjian bersama teman-teman nya untuk belanja bersama di mall. Namun dengan mall yang seramai dan sebesar itu, ia masih bertemu dengan Joshua. Makanya sebelum pria itu melihat nya, ia memilih untuk kabur.

"Dian!" Tak usah ditebak lagi. Dian sudah tahu suara siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Joshua. Dian sebenarnya ingin berjalan lurus dan berpura-pura tak mendengar nya. Namun suara pria itu semakin keras memanggilnya. Di tambah lagi orang-orang sekitar yang memperhatikan mereka.

"Iya, ada apa?"

"Ternyata aku tidak salah. Ini memang kamu."

"Iya, ada apa kamu memanggilku."

"Kamu pasti ingin menghindari ku lagi kan."

"Apa, tidak. Aku memang ingin ke arah sana. Lagian mall sebesar ini, wanita-wanita di sini pasti punya nama yang sama. Makanya aku nggak berbalik karena takutnya bukan memanggilku."

"Ya, anggap saja aku percaya, dengan alasan yang kamu buat barusan."

"Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Maaf aku ada janji temu dengan orang lain. Aku harus pergi sekarang."

"Tunggu dulu. Padahal aku ingin berbincang lama denganmu."

"Berbincang lama katamu? Aku tak punya waktu."

"Dian." Joshua menggenggam tangannya berharap ia berhenti.

"Apa-apaan sih." Dian menepisnya bahkan di depan umum tanpa ragu.

Dirinya tidak peduli jika Joshua merasa malu. Tapi dengan begitu Joshua bisa menjauh darinya dan merasa ilfeel. Bukankah Joshua pernah berkata, dirinya harus membuatnya ilfeel.

"Apakah kamu penguntit. Dimanapun aku selalu bertemu dengan mu. Berhentilah untuk mengikutiku. Jika tidak aku akan berteriak dan melaporkan mu pada polisi."

Mendengar teriakan Dian membuat orang-orang sekitar mall merapat padanya. Mereka menatap pada Joshua seolah-olah ia adalah pria jahat. Salah satu pria sebayanya datang dan mengancamnya.

"Hey. Berhentilah mengganggu gadis ini. Dia merasa tidak nyaman denganmu."

Melihat kerumunan orang yang semakin banyak membuat Joshua mengalah.

"Maafkan saya. Kalian bisa bubar. Sebenarnya kami ini adalah tunangan. Hanya saja Dian lagi marah dengan saya, makanya dia mengatakan hal seperti itu."

"Tunangan. Apa katamu. Itu boho..."

Joshua segera menunjukkan foto mereka bersama. Sebenarnya itu adalah foto yang diambil secara paksa saat pernikahan kakaknya Joshua. Dan saat itu Dian belum tahu kalau mereka akan dijodohkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!